
Hari ke tiga, di apartemen Raka, semua berjalan baik-baik saja. Ayah Sarah meskipun tidak fit tapi menurut dokter dalam kondisi yang cukup bagus. Besok akan di adakan tes lengkap untuk kesiapan melakukan kemotherapi pertama.
"Ayah, malam ini ayah harus makan yang banyak. Besok pagi dokter meminta ayah puasa untuk persiapan tes darah."
Ayah Sarah mengangguk dengan semangat, menatap pada semangkok sup ayam gingseng yang di buat Sarah dan cah sawi jamur yang tertata memikat di atas meja.
"Sarah juga sedang membuat sugar pie spesial buat ayah, siapa tahu ayah rindu dengan Kanada." Kata Sarah.
"Ayah tak pernah merindukan Kanada lagi, sejak ayah berada di sini."Sahut Ayah Sarah sambil memandang Sarah dengan perasaan sayang.
"Nak..." Tiba-tiba ayah Sarah seperti teringat pada sesuatu.
"Ya..."
"Bisakah kamu membuatkan ayah sesuatu besok pagi?"
"Apa?"
"Ayah sangat ingin makan sesuatu."
"Apa itu?"
"Orek tempe."
"Orek tempe?"
"Dulu ibumu sering membuatkan ayah orek tempe. Rasanya sedikit pedas tapi manis dan gurih."
Sarah tersenyum pada ayahnya, masakan sederhana itu dia pernah melihat mbok Yem membuatnya.
"Aku akan membuatnya setelah ayah periksa darah, ya...besok pagi ayah harus puasa dulu." Dara menyendok sup ke dalam mangkok.
Sang ayah menatap Sarah dengan tatapan sungguh berbeda, tapi senyum itu begitu bahagia.
Dengan lembut di tangkapnya tangan Sarah, tangan itu terasa dingin.
"Nak, saat ayah harus benar-benar pergi tak ada yang ayah sesali lagi. Aku tahu, kamu adalah perempuan yang kuat, tak ada yang bisa menghancurkanmu."
Sarah tercenung menatap mata yang semakin kuyu itu.
"Ayah harus segera minum obat, makanlah dulu, tidak usah berbicara macam-macam." Tegur Sarah, merasa tidak nyaman mendengar ucapan sang ayah.
Bunyi bell di pintu kamar mereka membuat Sarah melirik jam.
"Raka bilang kembali dari rumah papa mungkin jam sembilanan, ini baru setengah tujuh." Sarah sedikit heran.
Raka pamit sore tadi pulang ke rumah mengambil beberapa dokumen sekaligus beberapa barang Rae.
"Bukalah..." Ayah Sarah menggerakkan bahu kirinya yang terasa nyeri dengan hati-hati.
"Ayah ada tamu?" Sarah menatap sang ayah, dia yakin dirinya tak punya janji dengan siapa-siapa kecuali mungkin ayahnya sedang menunggu seseorang.
"Ya, aku mengundang papamu..." Kata ayahnya hampir serupa gumam, sambil mengunyah daging ayam dari dalam sop.
"Papa? bukankah papa belum pernah ke apartemen ini?" Sarah mengeryit dahi, sementara bell kembali berbunyi.
"Aku mengirim alamatnya lewat share loc"
"Ayah ingin bicara dengan papa? Kenapa ayah tak bilang. Kan Raka bisa menghubungi papa."
"Aku hanya ingin berbicara empat mata dengan papamu." Sahut Papa Sarah.
"Bukalah pintunya, tidak enak papamu menunggu begitu lama di depan pintu." Tegur ayahnya, tangan itu gemetar menyendok nasi ke mulutnya.
Sarah beranjak dan membuka pintu.
Papa angkatnya berdiri di sana, seorang diri. Dengan baju sweater warna Navy, dia begitu santai seolah sedang ingin bertamu ke rumah tetangga untuk bermain catur saja, dan memang di tangannya ada papan catur yang di tentengnya di tangan kirinya seperti sebuah buku.
"Papa..." Sarah mencium tangan papa angkatnya, dia masih bingung dengan kedatangan papanya ini.
"Apa kabar cucu papa?" Tanyanya sambil melangkah masuk.
"Dia baik, pa. Baru saja tidur di kamar."
"Oh, ayahmu di mana?"
"Lagi makan di dapur, papa mau makan juga?" Sarah mengikuti langkah papa angkatnya menuju meja makan di dalam dapur Sarah.
"Kebetulan, papa juga memang belum makan." papa angkat Sarah menarik kursi yang berhadapan dengan kursi ayah Sarah. kotak papan catur yang di pegangnya di lepas begitu saja di atas lantai, di bawah meja makan.
"Lama kita berdua tidak makan bersama, hampir tigapuluh tahun." Tiba-tiba ayah menyeletuk saat Sarah mrmberikan piring kepada papa angkatnya itu.
Dua kakak beradik itu saling pandang dalam beberapa lama. Sebuah kerinduan yang enggan untuk mereka masing-masing katakan menyeruak satu sama lain.
"Terimakasih sudah datang..." Ucap ayah Sarah lirih. Beberapa saat kemudian mereka berdua menikmati makan malam sederhana itu, sambil terlibat dalam pembicaraan ringan tentang kenangan-kenangan masa kecil mereka.
Lalu setelah mereka menyelesaikan makan malam, mereka berdua duduk berhadapan di tempat yang sama menghadap papan catur, setelah Sarah membereskan meja.
"Kamu menantangku bermain catur?" tanya Ayah Sarah, sedikit heran.
"Ya, dalam perjalanan kemari aku membelinya, aku tiba-tiba teringat terakhir kali kita bernain catur puluhan tahun yang lalu saat kita masih remaja, dan akulah yang telah kalah. Malam ini, tiba-tiba aku ingin membalas kekalahan itu." Papa angkat Sarah terkekeh.
"Kita tidak sempat lagi memainkan permainan ini, sejak aku menikah dan kita larut dalam kesibukan dunia." Ucapnya kemudian, terdengar lirih sambil menyusun bidak di atas papan.
"Catur adalah bukan hanya tentang kalah dan menang, tapi soal strategi untuk bertahan seperti halnya hidup, setiap langkah yang kita pilih menentukan bagaimana yang akan terjadi di depan nanti. Ini tentang tujuan hidup yang ditentukan oleh tujuan tindakan kita. Apa yang kita lakukan di masa lalu selalu mempunyai kaitan yang dengan apa yang terjadi di masa depan." Ayah Sarah berucap, mata yang nanar itu tidak bisa menyembunyikan sesal di matanya.
"Hakikatnya kita menggunakan pion untuk melindungi raja." Papa angkat Sarah menggerakkan sebuah pion untuk pertama kalinya.
"Pion mungkin kecil, tapi dia tak pernah mundur, hanya terus saja maju. Seharusnya aku dulu melakukan hal yang sama, meski aku bukan apa-apa aku tidak perlu bersembunyi, maka mungkin aku bisa melindungi apa yang sesungguhnya paling berharga bagiku." Ayah Sarah menatap kepada punggung Sarah yang sedang mencuci piring, dia seolah sedang menelan seribu sesal atas apa yang telah di perbuatnya kepada anak satu-satunya itu.
"Kita melangkah baik di kotak hitam maupun di kotak putih selalu mempunyai konsekwensinya sendiri. Terkadang pilihan kita membuat kita harus menanggung resikonya seumur hidup, hanya karena kita menyepelekan berdiri di tempat hitam ataupun putih."
Ayah Sarah membalas dengan sebuah gerakan pion, tetapi matanya tertuju pada bidak ratu.
"Bidak ratu, kenapa kita selalu merasa dia sangat penting? Dia bisa bebas berjalan ke segala arah, betapa sayangnya jika mati lebih dulu. Di dunia ini mungkin kita mempunyai seseorang yang menurut kita sangat berharga dan begitu penting, yang bahkan jika kita merasa tanpa adanya dia kita tidak bisa berbuat apa-apa. Padahal sesungguhnya, kita tetap bisa memenang permainan meski tanpa seorang ratu."
Papa angkat Sarah mengerutkan kening pada adiknya, dan urung menggerakkan sebuah bidak yang akan dijalankannya.
"Kita sebenarnya bermain catur atau sedang membicarakan apa?" Papa angkat Sarah melipat tangannya di atas dada.
"Kita berbicara tentang hidup kita yang sesungguhnya...dan tentang sebuah rahasia yang ingin kukatakan sekarang, entah kamu akan memaafkan atau membunuhku setelah mendengarnya. Tapi, aku tak ingin membawanya sampai aku mati..." Ayah Sarah menegakkan tubuhnya yang ringkih, sambil menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sangat pahit.
(Yukkkk di VOTE dong mumpung senin, biar semangat ini nulisnya ๐ mak othor berharap bisa selalu berusaha membuat novel ini bukan hanya sekedar bacaan tapi juga memberi kita motivasi dan inspirasi tentang banyak makna dalam hidup. ๐๐๐๐)
...Terimakasih sudah membaca novel iniโค๏ธ......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan๐...
...I love you allโค๏ธ...