
"Sayang, aku mau malam ini...tidur di peluk sampai pagi!"
"Hah!" Raka melongo mendengar permintaan istrinya yang tidak biasa.
"Pokoknya, kamu tidurnya tidak usah pakai baju..."
"Haaah...."Raka melongo double, menatap pada sang istrinya yang mulutnya meruncing, seperti burung yang sedang kesal.
Sarah bangun dari sebelah Rae, kemudian naik ke atas ranjang dengan wajah cuek, tak ada seberkaspun rasa kantuk di wajahnya itu.
Dia melepaskan baju piyamanya, satu persatu.
"Sayang..." Raka menatap tak berkedip pada sang istri yang sekarang hanya mengenakan pakaian dalam warna biru navy favorit Raka, sangat kontras di bawah lampu yang cahayanya orange remang-remang itu.
Sarah menyusup di dalam selimut tebal, menatap Raka dengan tatapan menunggu yang menuntut.
"Sayang, kemari..." Sarah memanggil dengan acuh, tak perduli wajah suaminya yang kebingungan.
Raka berjinjit hendak naik ke tempat tidur,
"Lepas bajumu..." Pinta Sarah, tanpa ekspresi.
"Sayang, kamu kenapa?"
"Lepas saja..." Sahut Sarah, pikirannya sedang gentayangan pada isi artikel yang di baca ya di google.
"Nanti aku masuk angin, sayang."
"Akh, nanti ku kerokin. Pokoknya buka bajunya. Biasanya juga sampai pagi tidak masalah." Sarah berucap setengah mengomel.
Raka menuruti permintaan Sarah dengan raut tak berdaya, tak biasanya sang istri seaneh ini.
"Sini."
Raka naik ke tempat tidur menyusup ke dalam selimut, hanya mengenakan pengaman segitiga.
"Sayang...kamu mau itu?" Tanya Raka sambil menunjuk dengan matanya ke arah bawah perutnya.
Sarah melotot pada Raka, dia teringat point nomor 6 di ciri-ciri suami selingkuh,
6.Penurunan hubungan intim secara seksual
Dia harus meyakinkan yang ini, sesuai atau tidak. Beberapa hari ini setelah percintaan panas di kamar mandi itu, Raka memang belum minta jatah lagi.
Sarah meletakkan pahanya di atas perut Raka, tapi matanya masih melotot kepada suaminya itu.
Di gesek-geseknya kakinya dengan wajah acuh, sementara Raka menatap ya dengan tegang.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Sarah mengernyit dahinya.
"Terangs*ng?" Tanya Sarah kemudian, alisnya bertaut.
Raka menggelengkan kepalanya dengan bingung.
"Kenapa? Sudah tidak menarik lagi? aku sudah jelek? sudah tidak cantik lagi?" Muka Sarah mengerut dengan kesal.
"Bagaimana si kukuk terangs*ng, kamu malah membuatnya takut, sayang..." Raka hampir tertawa melihat tingkah Sarah, yang begitu kekanakan.
"Memangnya kenapa? dia sudah tidak doyan istri? Sudah mau cari yang lebih muda dan cantik? Yang lebih fresh?" Cecar Sarah dengan wajah serius tapi seperti orang merajuk.
"Kira-kira bagusan mana, daun muda di luar atau istri yang baru melahirkan?" Pertanyaan Sarah yang sarat dengan nada cemburu itu hampir membuatnya ngakak, baru kali ini istrinya itu terlihat begitu cemburu saat berbicara.
"Jawab...jangan cengengesan begitu." Sarah mengaitkan kakinya di pinggang Raka, sementara tangannya bersiap di posisi mencubit perut suaminya itu.
"Ya, di mana-mana pasti bagusan istri lah...biarpun habis melahirkan, tetap lebih menarik istri sendiri."
"Bohong! Mana ada istri habis melahirkan lebih menarik dari gadis perawan." Sebuah cubitan singgah di kulit perut Raka yang polos itu.
"Kamu mau jawaban yang jujur apa yang enak di dengar?" Raka meringis di sela tawanya.
"Yang jujur!"
"Ya, mungkin gadis perawan..."
"Tuh, kan...semua laki-laki sama!" Sarah memberi cubitan selanjutnya lebih keras, sampai Raka benar-benar merasa sakit.
"Astaga, sayang...semua jawabanku tak ada yang pas. Tetap saja salah semua." Raka memeluk tubuh Sarah kuat-kuat, kepalanya menyusup di balik rambut sang istri, mulutnya menggigit kecil daun telinga Sarah hingga membuat Sarah terpekik.
"Sekarang, laki-laki memang pintar semua, nama perempuan di HPnya di bikinnya nama laki-laki, si Tini jadi si Tono, biar istri lihat tidak curiga. Anak gadis malah di bikin namanya bu Neneng, nek Saodah, bu Indah..."
Raka hampir tergelak mendengar suara Sarah yang mengomel panjang pendek di pelukannya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan sang suami.
"Kamu cemburu sama bu Indah yang kemarin telpon?" Raka bertanya sambil menahan tawanya.
"Siapa yang cemburu...? Aku kan cuma bilang, di sinetron suka begitu." Sarah mencibir, membalikkan badannya, menyembunyikan wajahnya yang merah padam.
"Tadi sebut-sebut nama bu Indah?"
"Ya, aku kan cuma asal sebut."
"Masa?"
"Memang ada cewek namanya bu Indah?"
"Ya pasti ada...nama Indah kan banyak. Di kontak HPku saja ada tiga nama bu Indah." Goda Raka.
"Mau ku kenalkan sama bu Indah yang mana?" Raka memeluk Sarah yang dengan muka masam memunggunginya.
"Malas..."Sarah menyahut, dia malu sendiri di tanggapi dengan begitu Santai oleh Raka, padahal dia berharap sang suami ngeles, sewot bahkan salah tingkah, supaya dia bisa mengamuk dengan leluasa.
Raka menarik tangan Sarah dan mengarahkan tangan istrinya ke bawah perutnya.
"Sayang, si burung kukuk ini bangun." Bisiknya.
Sarah sedikit mengejang, saat jemarinya menyentuh sesuatu yang mengeras di sana.
(Cut dulu, ya...🤭🤭 othor tidak lari kali ini untuk episode berikutnya, area sedikit panas😅
Suami istri marah tak perlu lama-lama, cari penyebabnya dan buktikan. Yang terakhir, semua masalah berat selesaikan di tempat tidur😆😆😆 supaya besok bangunnya adem🤭)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...