
Kehidupan tak pernah berhenti, meskipun ada yang datang dan ada yang pergi.
Sudah dua minggu setelah kepergian sang ayah, kehilangan itu masih terasa meski Sarah sudah bisa menekan rasa sedihnya dengan selalu berusaha ikhlas.
Sarah menatap layar handphonenya menatap pada foto ayahnya yang sedang tertawa saat dia memainkan kerincingan Rae, di hari-hari terakhir ketika mereka berada di apartemen Raka.
Tawa ayahnya di foto itu begitu lepas, seolah dia begitu bahagia. Rasanya tidak bosan menatapnya.
Meskipun Sarah hanya di beri oleh Tuhan sedikit kesempatan untuk merawat ayahnya di akhir penghujung hidupnya, tapi dia merasa sangat bersyukur. Pertemuan singkat itu telah merubah semua rasa benci dan sakit hatinya pada ayahnya itu. Dari semua yang dia tahu, ayahnya ternyata sangat mencintainya melebihi apapun, bahkan rela bersungkur di detik terakhir kesadarannya untuk memohon kebahagiaan untuknya.
"Sayang...kamu belum tidur?" Tiba-tiba Raka memeluk leher Sarah dari belakang, sebuah ciuman di daratkannya di rambut sang istri
Malam mungkin sudah larut tapi dia masih terjaga, dan dia tidak tahu mengapa matanya sedang enggan terpejam.
"Aku baru habis menggantikan pampers Rae dan menidurkannya kembali."Sahut Sarah sambil meletakkan handphonenya ke atas meja di sebelah tempat tidurnya.
"Oooh..."Raka kembali mencium rambut istrinya itu yang begitu wangi aroma mawar.
"Rae sudah tidur?" Raka melongokkan kepalanya ke box Rae. Anak itu tampak tidur nyenyak di balik selimutnya.
Sarah menganggukkan kepalanya, terasa hangat saat sang suami ini memeluknya dari belakang seperti itu.
Dia tak pernah merasa terlalu sedih, saat Raka berada di sampingnya.
"Sayang, apa yang sedang kamu fikirkan?" Raka membelai rambut istrinya yang kini bersandar di dadanya. Raka sendiri menyandarkan punggungnya di kepala tempat tidur.
"Aku hanya sedikit rindu pada ayah." Sahut Sarah pelan.
Raka memainkan rambut istrinya yang sudah panjang melewati bahu itu.
"Beliau sudah tenang sekarang, tak ada uang perlu kita risaukan lagi."
"Aku tahu. Aku hanya rindu."
"Kalau rindu, kirimkan do'a padanya."
Sarah menganggukkan kepalanya. Sejenak mereka berdua terpaku hening hanya desah nafas yang terdengar saling bersahutan.
"Aku juga sedikit mencemaskan papa." Tiba-tiba Sarah berucap lirih.
"Yah...aku juga memikirkannya." Raka menyahut sambil menghela nafasnya dalam-dalam.
"Aku tadi ke kantor, mencarinya ke ruangannya tapi beliau sudah tiga hari ini tidak turun kata sekretarisnya." Lanjutnya.
"Aku juga berusaha menghubunginya, tapi tidak di respon." Sarah meremas lengan Raka yang sekarang memeluknya.
"Aku sangat takut keputusannya untuk bercerai dengan mama membuatnya sangat terpukul. Tapi tampaknya dia sangat bersikeras ingin melakukannya." Desis Sarah.
"Papamu sudah cukup menderita menjadi orang yang tak berdaya selama ini, mungkin sekarang adalah waktunya untuk melepaskan semuanya. Karena tak ada yang berubah dari tabiat mamamu bahkan sampai sekarang. Memaksanya untuk tetap mempertahankan pernikahan yang telah menyiksanya bertahun-tahun itu, sama saja membuat papamu lebih menderita lagi." Tandas Raka sambil mengelus-elus bahu Sarah.
Sarah tidak menyahut, dia hanya diam karena tahu semua yang dikatakan Raka adalah hal yang benar.
"Sayang, setiap kesalahan di masa lalu mungkin memang bisa menjadi hantu untuk masa depan, tapi papamu tentu adalah orang yang sudah sangat dewasa untuk tahu mana yang harus di lakukannya dan yang terbaik untuk dirinya. Kita tentu hanya bisa mendukungnya."Raka menepuk bahu istrinya dengan lembut.
"Aku takut mama menjadi marah lalu berulah dan membuat papa menjadi lemah seperti biasa."
"Mamamu tak pernah belajar dari setiap kesalahannya, dia terlalu egois dan merasa dirinya paling benar. Jika dia tetap seperti itu, tak ada kebahagiaan untuk papamu, bahkan di masa tuanya."
"Menurutmu...apakah Sally bisa menerima perceraian Papa dan mama?"
"Kenapa kita harus memikirkan Sally?" Raka mengerutkan keningnya, Sarah tak lernah berubah, hatinya itu terlalu lembut untuk bersikap egois sebentar saja bahkan terhadap orang yang telah menyakiti dirinya.
"Biar bagaimanapun dia adalah adikku."Sergah Sarah pelan.
"Dia sudah cukup dewasa untuk mengurus dirinya sendiri, cukup mengerti memanajen emosinya. Tak ada yang perlu kita cemaskan. Dia bukan anak kecil lagi."Tangkas Raka.
"Cobalah kamu memikirkan dirimu saja, karena memikirkan perasaan orang lain itu melelahkan." Tambah Raka.
"Ayo kita tidur sekarang, sebelum Rae menjadi sadar kalau daddy dan mommynya ini masih terjaga." Raka mengecup lembut puncak kepala istrinya itu dan menurunkan kepalanya di bantal. Dia tidak ingin mendengar Sarah berbicara melantur ke sana kemari.
Sarah mengangguk, dia merapatkan tubuhnya ke badan suaminya dan memeluknya sambil memejamkan matanya.
Mereka berdua sama-sama saling memejamkan mata, tapi tak benar-benar tidur, larut dalam fikiran masing-masing.
"Sayang..." Tiba-tiba Sarah bersuara memecah hening, setengah berbisik.
"Hm..."
"Kamu belum tidur?" Sarah bertanya setengah berbisik.
"Belum."
"Kenapa?"
"Aku menunggumu tidur lebih dulu, aku tidak ingin melihatmu duduk malam-malam sambil memelototi handphonemu itu."Jawab Raka.
Sarah terdiam sesaat, dia menelan ludahnya, merasa berdosa membuat suaminya itu begitu mengkhawatirkan dirinya.
"Tapi aku belum bisa tidur..." Sarah memeluk pinggang Raka lebih erat. Seakan mencari kantuknya di sana.
Tiba-tiba Raka memiringkan badannya dan balas memeluk istrinya itu dengan dekapan yang tak kalah eratnya.
"Aku...aku akan menidurkanmu...apakah kamu bersedia?" Tanyanya pelan namun begitu tajam.
Sarah mendonggak pada wajah Raka, dia terlihat sedikit bingung mendengar pertanyaan sang suami.
"Menidurkan bagaimana?" Tanya Sarah sejurus kemudian dengan mata tak berkedip.
"Aku akan mengelusmu sampai kamu tertidur." Jawab Raka dengan mimik serius.
"Aku bukan Rae..." Sarah tak bisa menahan tawa kecilnya mendengar ucapan suaminya itu.
"Rae sangat mirip denganmu. Kalian berdua mempunyai banyak kesamaan termasuk menyukai sesuatu."
"Apa contohnya, sesuatu yang kami berdua sama-sama sukai?" Sarah menaikkan alisnya.
"Kalian sama-sama menyukai aku."
Jawaban Raka membuat Sarah sekali lagi tak bisa menahan tawa.
"Sayang, kamu terlalu pede." Sahut Sarah kemudian di sela tawanya. Rasa puas terpancar di wajah Raka melihat Sarah yang mulai bisa tertawa itu. Sejak ayahnya meninggal, Sarah tak pernah benar-benar tertawa seperti ini. Wajah cantiknya itu tertutup kabut duka yang membuatnya terlihat begitu murung.
Kemudian, tangannya mengelus pipi Sarah dengan punggung tangannya seperti yang sering di lakukannya saat menidurkan Rae. Sarah tersenyum, menatap sang suami yang tak mengalihkan pandangan dari wajahnya. Tatapan itu begitu hangat dan penuh cinta.
Sarah menikmatinya, bahkan ketika jemari itu turun ke bibirnya. Raka menelusuri permukaan bibirnya yang terkatup dengan telunjuknya.
"Sayang..." Suara Raka terdengar parau.
"Hm..."
"Bolehkah aku menciummu?" Tanya Raka hati-hati.
Sarah menganggukkan kepalanya, dan di jenak berikutnya, bibir suaminya itu menempel pada bibirnya. Nafasnya terasa hangat, sehangat perasaan Sarah sekarang.
(Terimakasih selalu bersama Sarah dan Raka melewati masa-masa sulit mereka. Lope2 buat semua reader, pembaca setia Menikahi Tunangan Adikku, tetap di novel ini, yaaaaa🥰🥰)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...