
"Sampaikan pada Mama, papa mengucapkan selamat untuknya. Semoga mama selalu bahagia bersama om Doddy." Suara Bram bergetar, sambil menepuk pipi Bella lembut.
"Kenapa kamu tidak katakan sendiri padanya?" Sebuah suara berat membuat Bram mendonggak, karena terkejut.
"Apa kamu terlalu takut untuk melakukannya sendiri?"
Bram berdiri dengan tegak, melepaskan tangan Bella bertepatan dengan tepuk tangan riuh para tamu setelah mendengar pidato Doddy. Selanjutnya suara lagu berkumandang dalam musik yang syahdu, pasangan pengantin itu turun berdansa, atas permintaan MC.
Bram menatap dari jauh bagaimana wajah Diah yang tersenyum malu-malu, di gandeng oleh Doddy. Sebuah pelukan dari laki-laki tampan yang kini menjadi suami dari mantan istrinya itu, membuat Bram mengalihkan pandangannya kepada laki-laki yang berdiri di depannya sementara kedua tangannya tersembunyi dalam saku celanannya, dalam wajah dingin menatap Bram.
"Raka..."
Ini adalah kali pertama dia berhadapan langsung sejak bepasan tahun silam, di bangku SMA. Dia hanya mendengar semua kabar tentang Raka setelah pertunangan mereka dan tentu saja dia tak pernah berniat untuk bertemu dengan Raka setelah dia melarikan tunangan laki-laki ini sebelum pernikahannya.
Bram sebenarnya adalah musuh terbesar dalam hidup Raka, yang pernah membuat Raka patah hati dan hampir terpuruk. Bram sudah tahu dia akan bertemu Raka di resepsi pernikahan mantan istrinya itu, dia sudah berbesar hati untuk menerima apapun yang mungkin terjadi.
Dendam dan sakit hati dari Raka padanya adalah hal yang wajar, setimpal dengan perbuatan keji yang telah dilakukannya pada laki-laki itu. Berselingkuh dengan tunangannya dan membawa lari pasangannya itu adalah perbuatan yang nyaris tak bisa di toleransi.
Bram tahu, dia tak bisa selamanya lari dari hal ini, auatu saat dia harus berhadapan dengan orang yang paling di hindarinya ini.
"Aku tahu kamu sangat membenciku." Bram menelan ludahnya yang terasa seperti batu sambil menoleh pada beberapa orang tamu yang tampak berdiri tak jauh dari mereka, mengambil minuman yang tersaji di meja saji. Dia takut suaranya menjadi terlalu keras.
"Senang jika kamu akhirnya menyadari, semua perbuatanmu bisa membangkitkan sakit hati dan kebencian orang lain." Raka menaikkan alisnya pada Bram. Sesaat kemudian Bella melepaskan tangan Bram dan berlari kecil menuju tantenya, saat adik dari Diah ini melambaikan tangan padanya dari jauh.
"Sayangnya, jangan terlalu berharap untuk bisa melihatku menunjukkan perasaan benciku padamu dan merasa sepadan jika aku menumpahkannya padamu. Aku benar-benar telah lupa semua yang telah kamu lakukan, bahkan dalam part kecil hidupku, aku tak pernah menganggap kamu cukup berarti untuk menyita perhatianku." Raka menggedikkan bahunya.
"Serpihan debu, hanyalah kotoran. Aku telah membersihkan lama supaya tak menggangguku. Seperti halnya dirimu, aku benar-benar tak berselera menjadi arogan dan merendahkan harga diriku dengan mempertanyakan apa yang kamu lakukan di masa lalu. Kehadiranmu meski telah mencuri sesuatu dari hidupku, aku tak pernah merasa benar-benar kehilangan. Karena batu akik yang kamu curi dariku telah di ganti Tuhan dengan berlian." Raka tersenyum sedikit sinis.
Wajah Bram memerah, sebagai laki-laki darahnya terasa naik sampai kepala saat di sebut sebagai pencuri dan perempuan yang pernah digilainya di samakan dengan batu akik, tetapi apa yang dikatakan Raka adalah benar adanya, jika dia harus menyela, Bram kehilangan kata untuk membela dirinya ataupun Sally.
"Kemudian, aku menyadari satu hal...dalam hidup, aku harus berjumpa dengan orang yang salah sebelum aku bertemu orang yang tepat. Dan aku sungguh senang, kamu membawa pergi orang yang salah dari hidupku, dengan demikian aku tak perlu menghabiskan waktuku bersama orang yang salah." Raka mengeluarkan tangannya dari sakunya, dengan tangan mengepal mendekati Bram.
Wajah Bram merah, terlihat tegang dan waspada.
Tangan Raka terangkat perlahan, kemudian meletakkannya di bahu Bram dengan sedikit kuat.
"Aku benar-benar menyesali yang telah terjadi. Aku tahu kamu tidak akan memaafkanku." Rahang Bram mengeras tapi Raka yang tepat di depannya hanya mengarahkan pandang pada Bram yang terlihat pasrah dengan apa yang akan dilakukan Raka padanya.
"Aku tak bisa mengatakan aku memaafkanmu, karena aku bukan hakim yang pantas menilai kesalahan orang. Aku punya Tuhan yang mengajariku tentang kasih, dia akan memberikan keadilannya padaku, aku cukup menjalani bagianku dan Tuhan akan melakukan bagianNya untuk membelaku. Kalau kamu ingin meminta maaf, maka mintalah pada Tuhan, jika kamu merasa perbuatanmu mungkin telah menyakiti banyak orang. Penderitaanku masih jauh tak sebanding dengan derita mantan istrimu..." Raka menepuk bahu Bram.
"Jadi, aku hanya ingin bertemu sekali saja denganmu dalam hidupku, untuk mempertegas satu hal, aku tak pernah mendendam apapun padamu, Bram. Jadikan hidupmu berguna paling tidak sekali saja, dengan begitu, penyesalanmu itu tidak sia-sia." Raka mundur, beberapa langkah tersenyum lebar, sebelum meninggalkan Bram yang terpaku tak bergeming. Ternyata, diperlakukan baik oleh orang yang telah jelas-jelas kita sakiti dengan jahat itu lebih menyakitkan daripada menerima sejuta makian.
Bram menatap pada Diah yang membungkuk bersama Doddy setelah menyelesaikan dansa mereka. Di sambut tepuk tangan para tamu.
Pandangan mereka sempat bertemu saat Diah mengangkat wajahnya, dan Bella menarik-narik tangan sang mama serta menunjukkan pada tempat di mana Bram berdiri.
Bram segera membuang muka, dan membalikkan badannya menuju pintu keluar, menyeka dua bulir bening di sudut matanya yang jatuh begitu saja.
Dia tahu, kehadirannya sudah bukan hal yang berarti bagi Diah. Perempuan yang pernah menemani hidupnya hampir sewindu itu, telah benar-benar bahagia. Tanpanya hidup Diah jauh lebih baik.
...***...
Doddy dengan tak sabar menarik tangan Diah masuk ke kamar hotel di mana perhelatan resepsi pernikahan itu baru saja usai.
Setelah serangkaian acara yang melelahkan bersama para tamu undangan, setelah magrib dilanjutkan dengan acara makan malam bersama dengan dua keluarga besar mereka.
Dan ketika jam hampir menunjukkan angka sepuluh, mereka baru benar-benar bisa masuk ke dalam kamar.
"Astaga sayang, aku lelah sekali..." Doddy merangkul Diah yang masih mengenakan gaun berwarna putih, gaun malam setelah setengah hari menggunakan gaun pengantin.
"Aku akan memijatmu malam ini untuk mengurangi lelahmu." Diah melepaskan pelukan Doddy dan mengulurkan tangannya melepaskan jas semi formal yang di kenakan Doddy untuk acara makan malam dengan keluarga.
"Benarkah?" Mata Doddy berbinar menatap Diah, rasa lelah segera menguap, menatap kepada sang istri. Pengalaman beberapa malam terakhir bersama Diah membuatnya menelan ludah, dia sedang tergila-gila dengan kemolekan tubuh istrinya itu.
(Yeeay...tetap Update meskipun selow, ya😅 sayang selalu buat semua reader novel ini❤️)
Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...