Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 238 CINTA TERBESAR


"Katanya, punggungmu lagi sakit?" Omel Sarah, tapi tetap pasrah membiarkan Raka menggendongnya menuju kamar.


Raka dengan cueknya, menjatuhkan istrinya di atas dipan kayu besar dengan bed empuk.


Tempat tidur itu begitu klasik, dari kayu oak.


"Aw...!" Sarah berteriak kecil.


Raka menarik sweater abu-abu yang digunakannya, menyisakan sebuah kaos tipis. Lalu dengan acuh tak acuh dia duduk di atas tempat tidur tepatnya di depan Sarah, menunjukkan punggungnya.


"Sentuh aku di sini..." Dengan santai dia menarik ke atas kaos tipisnya.


Sarah melongo melihat kelakuan suaminya.


Jemari Sarah terangkat, merayap di punggung suaminya dan memijatnya dengan lembut.


"Ugh...rasanya enak sekali." Raka terlihat begitu menikmatinya.



"Sayang..." Raka tiba-tiba memanggil Sarah.


"Hm..."


"Kamu ingat 5 tahun yang lalu saat kita di Leiden."


"Yang mana?"


"Saat kamu memelukku dari belakang pertama kali dan mengatakan...aku benar-benar menunggumu dan sudah lelah untuk menunggumu terus....kata-kata itu sampai sekarang masih terngiang di kepalaku. Itu adalah hal pertama yang membuat jantungku serasa lepas dari tempatnya." Raka terkekeh.


"Akh, jangan mengingatnya...aku malu sekali jika mengingat itu..." Sarah mencubit punggung Raka dengan wajah bersemburat merah jambu.


"Mau kah kamu melakukannya lagi?" Pinta Raka tanpa menoleh.


"Aku...aku tidak mau..."


Sebelum Sarah melanjutkan penolakannya, Raka telah menarik tangan Sarah ke bawah ketiaknya, menarik tubuh Sarah merapat ke punggungnya, membiarkan lengan Sarah mengait sampai bahunya.


"Sayang...kamu tahu tidak, dadaku berdebar keras saat itu, padahal aku cuma minum segelas coctail. Bukan karena pelukanmu yang begitu erat sehingga membuatnya sesak nafas, tapi luapan perasaan aneh yang tak bisa ku ungkapkan. Sejak itu aku cuma bisa berfikir, aku tak pernah ingin melepaskanmu lagi." Raka menciumi punggung tangan Sarah yang berada di bahunya dengan penuh kasih sayang.


"Gombal!" Sarah salah tingkah sesaat.


"Aku serius, sejak malam pertama terindah itu, kamu ku tandai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Aku tak akan melepaskanmu demi apapun seumur hidupku." Raka berbalik, lalu memeluk erat istrinya itu.


Cuaca yang dingin, salju yang turun terlihat dari jendela kaca, putih di antara temaram lampu teras kamar.


"Kenakan bajumu, sayang...udara akan sangat dingin." Sarah berbisik sambil menggosok-gosok punggung Raka yang hanya menggunakan kaos tipis itu.


"Aku tidak perlu baju lagi, karena kamu lebih hangat dari mantel." Raka menarik wajah Sarah, mengaguminya sesaat sebelum kemudian bibirnya mendekat, mendekati bibir Sarah yang terkatup karena tersenyum padanya.


Beberapa detik kemudian, bibir mereka beradu, kecupan Raka yang semula lembut itu menjadi sedikit panas.


"Sayang, anakmu sudah tiga tetapi kelakuanmu seperti baru jadi pengantin saja." Sarah menarik wajahnya dengan raut geli.


"Anakmu sudah tiga tapi rasanya aku jatuh cinta pada gadis kenarin sore yang bertemu denganku karena terpaksa menjadi pengantinku." Raka tertawa kecil, tangannya tak mau diam, menyusup ke balik mantel Sarah, berusaha melepaskannya.


"Sayang, ini terlalu sore untuk itu."


Bisik Sarah, dengan mata melotot.



"Sayang...tolong kasih tahu kukuk nakal itu, malam masih panjang...sabar sedikit, anak-anak saja belum tidur." Sarah mendorong tubuh Raka dengan halus, tetapi yang di dorong malah semakin lengket seperti perangko.


"Anak-anak sibuk dengan Kakek dan grandmanya...kita berdua bebas. Satu round sebelum makan malam." Bisik Raka dengan suara serak, khas daddy undur-undur yang sedang terbakar gairah.


Buk!Buk!Buk!


"Daddy...mommy! Daddy...." Suara riuh dari belakang pintu membuat Sarah dan Raka menggigit bibirnya masing-masing. Suara Rae, Rei dan pekikan Ry membuat Raka mematung di tempat.


"Astaga, anak-anak itu..." Raka menarik tubuhnya, meraih sweaternya dan terburu-buru mengenakannya.


Sesaat kemudian pintu terbuka lebar, tiga wajah manis itu berdiri di sana sebelum kemudian menghambur ke tempat tidur.


"Daddy, grandma bilang, dinner is ready, call mom and dad, please..." Rae berucap seperti orang dewasa dengan menirukan gaya Charlotte istri kakeknya.



"Okey, sayang...daddy coming." Raka turun dari tempat tidur sambil melebarkan bibirnya, meski matanya terpicing lucu seolah dia baru saja cancel dari satu game yang sangat di sukainya.


"Mommy, Ry makan coklat..." Ry memperlihatkan giginya pada Sarah dengan hebohnya, Rei sibuk sendiri memegang dua cupcake cokelat di tangannya.


"Kakek bilang, Cup cakenya boleh di makan setelah makan malam..." Dia menatap kue di tangannya dengan tatapan tak sabar.


"Ayo kita makan malam...sebelum kita menghias pohon natal malam ini." Sarah turun dari tempat tidurnya, sambil merapikan pakaiannya, meraih tangan anak-anak gadis kecilnya dan siap beranjak.


"Sayang...menghiasnya besok saja, natal masih tiga hari lagi. Kita harus cepat tidur malam ini " Raka mengedipkan matanya pada Sarah, memberi isyarat, tentang sesuatu yang lain yang kebih penting.


"Tapi daddy, kami mau menghias pohon natal." Si ceriwis Ry mengoceh sambil melompat-lompat, di ikuti oleh adiknya Rei.



Sarah tergelak melihat Raka yang akhirnya menyerah pada permintaan puteri-puterinya.


"Bulan madunya kapan bisa terlaksana sih, sayang...?" Raka mendahului keluar dari pintu, mengikuti Rae yang sudah menarik-narik tangannya.


Seulas senyum hadir di bibir Sarah, betapa lucunya melihat tingkah Raka yang tak kalah menggemaskan dari ketiga buah hatinya.


Tak ada hal yang lebih indah dari kebersamaan bersama keluarga kecil kita, di manapun itu.


Cinta terbesar ada di dalam keluarga kita sendiri.


Keluarga adalah segalanya, tetapi kadang-kadang bisa sulit untuk mengatakan betapa orang yang kamu cintai berarti bagi kita. Suami istri yang saling mendukung, adalah kekuatan terbesar untuk membangun keluarga yang meskipun tidak sempurna tetapi saling melengkapi.


Rumah haruslah menjadi jangkar sebagai penanda tempat pemberhentian kita karena di sana ada keluarga sebagai pelabuhan dalam badai, di sana juga ada atap tersedia untuk tempat kita berlindung.


Rumah adalah tempat yang menyenangkan untuk kita tinggali, melepas lelah dan beban dari sejuta aktivitas dan tekanan kehidupan karena hanya di dalam rumah kita sendiri, kita akan merasa dicintai dan kita bisa mencintai setulus hati.


Kehangatan dalam keluarga tidak diukur dari ukuran luas dan besarnya rumahnya, tapi luasnya dan banyaknya cinta serta kebahagiaan yang menempati rumah itu.



(Please VOTEnya yah, untuk ekstrapart selanjutnya, tentang Diah dan Doddy☺️ tetap di halaman ini saja, meskipun sudah tamat besok, tapi nantikan notifnya 😉🙏😅)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...