
Rapat komisaris dewan direksi dan CEO serta para manejer itu dilaksanakan di sebuah ruangan rapat gedung perusahaan Rudiath-Wijaya Group.
Tepat seminggu setelah sidang perceraian papa dan mama Sarah. Akhirnya mereka resmi berpisah. Tanpa banyak drama karena masing-masing diwakilkan oleh pengacaranya.
Papa sarah sebagai pihak penggugat, tidak terlalu banyak berbicara, karena draft yang di sepakati sudah jelas.
Hampir 80 persen aset mereka menjadi milik mantan istrinya dan puterinya Sally. Sebagai anak angkat Sarah bahkan tidak disebutkan namanya di dalam penerima warisan secuilpun, dan Sarah sendiri tidak mempermasalahkannya. Dia memiliki kehidupan yang layak bersama suaminya Raka dan tiga buah butik di kota berbeda hasil keringatnya sendiri, sedikitpun tak pernah berfikir untuk mendapatkan apapun dari perceraian orangtua angkatnya itu.
Papa Sarah hanya meminta satu villa di Surabaya untuk tempat tinggalnya dan sebuah villa di bali untuk tempatnya yang lain. Selebihnya dia hanya memegang sebuah deposito untuk hari tuanya dan kepemilikan saham 30 persen di Rudiat-Wijaya Group.
Setelah 33 tahun pernikahannya dengannya Mytha, dia mungkin kehilangan banyak dari hasil kerja kerasnya tapi dia merasa hidup lebih tenang.
Beberapa minggu terakhir, setelah meninggalnya Winarta, dia hampir tak bisa memejamkan matanya, saat memikirkan bagaimana istrinya itu tega melakukan hubungan terlarang dengan adiknya sendiri dan yang lebih dari itu, buah dari dosa mereka itu, Sarah telah menanggung penderitaan hampir seumur hidupnya dalam sakit hati pada ayah kandungnya serta kehilangan kasih sayang dari orangtuanya sendiri.
Banyak hal yang disesalinya dan tak mungkin diperbaiki, tapi setidaknya dengan bercerai dengan Mytha dia ingin menata hidup dan harga dirinya yang telah dijadikan Mytha sebagai sandera dan permainannya.
Pernikahan mereka hanyalah hubungan di atas kertas bahkan mungkin tanpa dilandasi cinta sedikitpun dari pihak Mytha.
Selama ini, Papa Sarah hanya merasa dirinyalah yang berjuang mempertahankan hubungan pernikahan mereka dengan selalu mengalah pada sikap keras sang istri yang kadang selalu ingin menang sendiri itu.
Tapi sekarang, dia benar-benar sudah lelah berjuang, melepaskan semuanya mungkin lebih menenangkan.
Suasana ruangan meeting tidak seperti biasanya karena pertemuan itu bersifat mendadak mengingat undangan yang diberikan khusus dari dua komisaris besar perusahaan, pak Wijaya dan pak Rudiath
Pada meja panjang itu terdapat kursi di kiri kanannya, yang telah di tempati oleh semua direktur cabang dari beberapa daerah. Mereka duduk rapi menunggu dengan sejuta pertanyaan di hati, rapat ini di luar jadwal dan tak biasa.
Di paling ujung meja dimana yang biasanya hanya ada dua kursi untuk pak Wijaya dan pak Rudiath sebagai pimpinan utama itu telah diletakkan tiga kursi.
Tak ada yang benar-benar tahu apa yang menjadi agenda pertemuan hari ini.
Yang pertama muncul dari pintu ruang meeting sebagai jajaran eksekutif, Edgar, senyumnya terlihat ramah pada semua orang. Dia memang terkenal lebih friendly bersama Raka di belakangnya. Dua bersaudara ini, adalah bagian penting yang menjalankan perusahaan selama ini. Tak ada yang bisa langsung berhadapan dengan dua komisaris besar perusahaan itu jika tidak melalui mereka.
Raka sendiri hanya menganggukkan kepalanya, nampak lebih tegang dari raut wajahnya, dia seperti tahu apa yang akan terjadi.
Setelah dua orang ini duduk di kursi mereka pada jajaran direktur.
Tidak lama, pak Rudiath papa Raka masuk di ikuti oleh Pak Wijaya papa Sarah yang langsung mengambil tempat di kursi utama yang berjejer tiga itu.
Dua orang petinggi ini menerima hormat dari semua orang.
"Silahkan duduk kembali..." Pak Wijaya mempersilahkan semua untuk kembali duduk.
"Terimakasih telah hadir pada meeting hari ini, meskipun di luar jadwal rapat dewan direksi tapi hari ini ada satu agenda penting yang ingin saya sampaikan." Pak Wijaya menarik nafasnya, sesaat dia melirik pada Raka, yang tampak diam tanpa ekspresi.
"Yang disampaikan pada hari ini tidak berhubungan langsung dengan pekerjaan kita secara umum. Tapi mengenai pengumuman resmi pemegang saham yang baru, yang akan duduk di kursi komisaris, yaitu ibu Mytha."
Kalimat itu baru saja selesai, Mytha, mama angkat Sarah masuk dengan kepala terangkat dalam balutan pakaian krem dan putih. Senyum sinis dan sedikit pongah menghiasi bibirnya.
Keterkejutan yang belum selesai atas pernyataan pak Wijaya, semakin menambah surprise ketika mereka tahu siapa orang baru yang akan duduk di kursi utama kosong itu, yang tidak lain mantan istri pak Wijaya.
(Yang ingin berkenalan dengan Edgar, kakak Raka, Papa Sarah dan papa Raka, malam ini othor kasih visualnya, ya...para jajaran cowok ganteng di MTA😅 Nantikan lanjutannya sebentar lagi, tentang drama apa yang akan terjadi di ruang rapat Rudiath-Wijaya Group😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...😊...