Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 212 KECEMBURUAN BRAM


Diah hampir terlonjak karena terkejut, matanya mendapati sesosok tubuh yang duduk di sana mengamati kedatangannya.


"Malam yang menyenangkan..." Nada suara itu begitu berat, sarat rada cemburu yang tak dapat ditutupinya.


"Mas?" Diah terpana pada sudut teras itu.


Bram duduk di sana dengan wajah masam dengan jambang yang tak terurus, badannya terbalut baju jeans. Mata coklat kebiruannya itu setajam elang.


"Dari mana saja?" Tanyanya tanpa menggubris tatapan terkejut Diah.


"Apakah sekarang aku wajib lapor padamu tentang semua kegiatanku?" Diah balik bertanya dengan raut kaku yang acuh.



"Apakah sangat sulit menjawab pertanyaanku?" mereka berdua saling melontarkan pertanyaan seperti tegur sapa yang begitu tak lazim.


Sesaat Diah terdiam, matanya bersinar dingin pada Bram.


"Dari tempat kerja." Jawab Diah, benar-benar acuh, tangannya sudah di gagang pintu, bersiap untuk masuk.


"Sejak kamu bekerja, sepertinya kamu semakin liar saja." Suara Bram seperti nada menggeram yang aneh.


"Oh, ya..." Diah urung masuk ke dalam rumah, sekarang dia berdiri di depan Bram yang duduk di kursinya dengan tatapan tajam mengamati dirinya.


"Sejak kapan kamu mulai perduli dengan diriku? Kamu sehat-sehat saja kan, mas?" Diah memicingkan matanya, di bawah lampu teras berwarna oranye itu mereka berdua saling mengawasi.


"Ini kedua kalinya kamu di antar oleh laki-laki itu. Kamu sepertinya sangat suka bersamanya...ck..ck...sekarang kamu bersikap genit, padahal belum menyandang status janda!" Dengan masih duduk di kursinya, kedua tangan Bram bersidekap di depan dadanya, matanya terpicing, berusaha menekan kecemburuan yang menggelegak di hatinya.


"Apakah ada yang salah, jika orang mengantarku pulang? Atau kamu mulai cemburu padaku?"Diah memicingkan matanya, sedikit mengejek.


"Kamu membuat dirimu terlihat murahan!" Bram berkelit, dia tidak sudi di sebut sedang di bakar cemburu, meskipun sebenarnya itulah kenyataan yang di rasakannya sekarang.


Rasanya saat melihat Laki-laki itu mengantarkan Diah dengan senyumnya yang ramah, dan Diah...Bram tak pernah melihat raut wajah istrinya itu sedemikan bersinarnya ketika meladeninya, dia tak bisa bohong dengan pancaran wajahnya. Ada kebahagiaan tersirat, yang tak pernah dilihatnya selama Diah bersamanya.


Adegan itu, benar-benar membuatnya sakit kepala seketika, darahnya terasa terpompa naik ke ubun-ubun. Emosi kelelakiannya menggelegak begitu saja. Fikirannya seketika berbaur dalam kecurigaan yang menggelegak,


ada apa dengan mereka? Apa yang mereka lakukan? apakah...apakah laki-laki itu menyentuhnya? Menciumnya?


Pertanyaan-pertanyaan itu berlompatan, membuatnya geram sendiri.


Wajah Diah merona mendengar perkataan Bram, dadanya sekarang bergemuruh tak karuan karena emosi yang di pendamnya.


"Oh, sekarang kamu mulai mengerti bagaimana menilai perempuan, mas..."Diah mencibir dingin.


"Aku menjadi heran, mas...sejak kapan kamu mengenal kata murahan dan mahalan? Selama ini kamu menggauli perempuan yang mengambil suami orang dengan terang-terangan tanpa rasa bersalah sama sekali, apakah kamu bisa menilai harganya? Aku rasa lebih baik menjadi murahan di matamu dari pada menjadi perempuan yang tak memiliki harga sama sekali."


Kalimat yang tajam menusuk itu membuat muka Bram seperti di sulut bara. Dia berdiri dari duduknya, seakan kegeraman hatinya begitu kuat merasuk melihat wajah tampa penyesalan Diah.


"Astaga, mas...bahkan kamu masih pasang badan membelanya?" Diah seakan terpesona melihat bagaimana cara Bram membela Sally.


"Sally jauh lebih berharga dari kamu bagiku."


Diah menelan ludahnya, betapa menyakitkan mendengar Bram membandingkan harga dirinya dengan Sally, seolah-olah dia tak berarti apa-apa bagi Bram.


Sebenarnya pernyataan itu sudah biasa di dengarnya dari mulut Bram, bertahun-tahun di belakang, tapi entah mengapa dia tak bisa terbiasa ketika sampai di kupingnya.


"Selama ini aib rumah tangga kita sudah berusaha ku tutupi dengan tidak melaporkanmu atas perbuatan kalian berdua. Jika aku keberatan, maka kalian berdua mungkin berada di balik penjara. Tapi aku tak mau mengumbarnya, karena bagaimanapun kamu adalah papa dari Bella, aku tak ingin psikisnya terganggu gara-gara papanya berada di balik jeruji dengan seorang perempuan pesakitan."


"Kamu sekarang menjadi kurang ajar setelah kamu bergaul dengan Sarah bin@l itu."


"Kamu tidak perlu membawa-bawa orang lain dalam kemarahan, mas. Ibu Sarah tidak layak di serapahi dengan kata bin@l karena aku mengenal perempuan lain yang benar-benar pantas di sebut bin@l! Coba lah menggunakan kewarasan mas sedikit, supaya mas bisa melihat kebin@lan perempuan yang sekarang menjadi teman berselingkuh mas!" Diah tampak meradang, mendengar ucapan Bram.


"DIAM!!!" Bram berteriak dengan suara berat yang penuh amarah.


"Siapa yang bertanya padaku tadi? siapa yang menyuruhku berbicara? siapa yang memulai? kenapa sekarang aku harus diam?" Diah mendonngakkan wajahnya pada lali-laki tinggi besar itu, matanya yang membulat itu dalam ekspresi yang tak kalah marahnya.



"Aku tidak suka kamu di pengaruhi oleh Sarah sehingga menjadi begitu tak terkendali seperti sekarang!"


"Aku tak memberikan diriku di kendalikan oleh siapapun, aku sekarang adalah karena mas yang membentukku." Sahut Diah sambil menggedikkan bahunya.


"Siapa laki-laki yang bersamamu itu?" Pertanyaan Bram membuat Diah terbungkam, dia sendiri tak tahu Doddy itu sebagai apa. Mereka hanya sua orang teman lama yang tak bisa di sebutnya sebagai teman karena dia hanya mengenalnya sekilas. Tapi beberapa hari terakhir ini, dia merasa ada sesuatu yang berbeda antara mereka, yang tak bisa di jabarkannya.


"Kamu tidak perlu tahu siapapun yang ku kenal, karena kita sebentar lagi bukanlah pasangan suami istri lagi." Sahut Diah sedikit gugup.


"Dia kekasihmu? Ternyata kamu tak lebih baik dari Sally, yang kau sebut-sebut itu! Kalian sama saja, bahkan kamu dalam masa idahmu pun bermain api di belakang. Karena itulah kamu ngotot ingin bercerai dariku, bukan? Bahkan Sally sepuluh kali lebih baik dari kamu yang munafik!" Dengus Bram, dia tak bisa menampik, rasa cemburu yang semakin menguat saat mengingat wajah laki-laki yang menatap istrinya dari balik pagar beberapa saat yang lalu.


Kalimat yang di ucapkan oleh Bram seperti bola pas yang langsung di lemparkan ke wajah Diah.


Amarah yang di tahan Diah sedari tadi, segera menyembur dari kepalanya.


Dengan wajah semerah kepiting rebus, Diah menantang mata Bram.


"Dengarkan aku baik-baik tuan Bram...!"


(ops....maaf lambat UP, akak sedang sibuk di real life😅😅😅 Bram yang cemburu padahal dia sendiri tak pernah menyadari perasaan istrinya, kadang-kadang ego lelaki itu tak bisa di pahami😅 Ikuti part selanjutnya, akak double UP yah🙏☺️)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....