Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 91 MENUNGGU KEJUTAN DARI SUAMI


"Selamat pagi, nyonya kesayanganku."


Perlahan Sarah membuka matanya, matanya mengerjap silau kepada cahaya yang bersinar menembus kaca dan tirai kamar.


Wajah Raka yang segar, menghadang pandangannya segera.


"Sayang, kamu sudah bangun?" Sarah memicingkan matanya. Kemudian dia menangkap tampilan sang suami yang sudah mandi dan berpakaian rapih malah.


Sarah menggeliat dengan malas, di usia kehamilan tiga bulan ini dia benar-benar malas bergerak, Sarah juga bingung. Bahkan keluar dari kamar saja rasanya begitu enggan.


"Ini sudah jam tujuh." Raka mendaratkan sebuah ciuman di dahi Sarah, kemudian menarik tangan Sarah untuk bangun.


Sarah terperangah lalu segera mengangkat badannya, bertahan di tangan suaminya itu untuk segera duduk.


"Sayang, kenapa kamu tidak membangunkan aku?" Sarah menatap Raka yang sudah mengenakan stelan warna biru gelap.


"Tidurmu nyenyak sekali, sepertinya kamu menikmati sekali bercinta di bawah shower. Mungkin lain kali bisa kita ulang kembali." Raka tertawa sambil mengedipkan mata.


Wajah Sarah bersemu merah,


"Kamu hampir mematahkan pinggangku." Sarah memanyunkan bibirnya kepada Raka lalu turun dari tempat tidur. Kakinya yang jenjang berjinjit-jinjit di atas lantai marmer.


"Tapi, kalau di ingat-ingat lagi, kamu lebih bersemangat dariku tadi malam." Raka tak tahan tidak mengacak rambut istrinya yang sudah acak-acakan itu.


Tapi rambut yang menjurai tak beraturan itu malah membuat Sarah terlihat semakin seksi.


"Kamu mau kemana, sudah siap-siap sepagi ini." Sarah mengernyit dahi.


"Aku akan berangkat ke kantor bersama papa, ada pertemuan dengan partner yang baru, soal rencana pembangunan komplek real estate di Bali."


"Kamu baru datang tadi malam dan langsung turun ke kantor?"


Sarah sebenarnya masih ingin bermanja-manja dengan Raka, dia masih betah di dekat suaminya itu.


"Aku langsung menemui seseorang siang ini."Jawab Raka.


"Siapa?"Sarah berdiri di depan Raka masih dengan baju tidur pendek, menggelung rambutnya keatas dengam sembarang.


"Rahasia..."Raka mengedipkan matanya dengan nakal.


"Kok gitu sih?"Sarah memicingkan matanya


"Nanti kamu akan tahu." Raka memencet hidung Sarah dengan telunjuknya.


"Perempuan, ya?"


"Punya suami ganteng memang susah-susah gampang, mau keluar pasti di kira mau ketemu perempuan."Raka nyengir.


"Ih, Geer!" Sarah mencubit perut Raka, bau parfum aroma oakmass, amber dan cedar yang klasik maskulin menguar sayup-sayup, Sarah tahu sekali ini aroma khas Raka dari Platinum Egoiste Chanell.


Sebelumnya aroma ini sangat di rindukannya jika berjauhan dengan Raka, tapi hari ini tiba-tiba kepalanya menjadi sedikit pusing menciumnya.


Alisnya bertaut menatap Raka, seperti tidak suka.


"Kenapa?"


"Aku merasa agak sensitif dengan bau-bauan beberapa hari terakhir ini."


"Terus?"


"Mungkin pengaruh hormon hamil ini, ya...? Aku tidak suka bau parfum." Sarah mengeluh, sambil merapikan kemeja Raka.


"Terus istriku ini suka bau apa? minyak kayu putih?" Raka tertawa menggoda Sarah.


"Aku suka bau badanmu yang original."


"Eh, kalau belum mandi bagaimana? kamu tetap suka?"


Sarah mengangguk malu-malu, dia benar-benar bingung, saat Raka belum mandi malah dia suka sekali mencium badan Raka. Bahkan kadang saat tidur dia menyusup di bawah ketiak sang suami.


"Astaga sayang, hormonmu ini benar-benar aneh." Raka tergelak sambil memeluk Sarah dengan gemas.


"Mandi sana, turun ke bawah cepat, kita sarapan. Mbak Marni sudah membuatkan sarapan kesukaanmu Waffle dan pancake."


"Nyonya muda yang lagi hamil ini selalu bangun kesiangan," Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, sambil menikmati pemandangan indah punggung Sarah dengan pinggul kencang yang menggoda.


"Aku tunggu di bawah, ya."


"Ya...!"


...***...


"Eh, kamu di rumah saja, kan?" Raka mengunyah waffle topping peanut butter kesukaannya.


"Aku menjenguk butik sebentar, sekalian mengantar sket desain" Sarah menjawab.


"Sayang, jangan terlalu berat kerja,lho. Perhatikan kesehatanmu dan bayimu." Mama mengingatkan.


"Iya, ma. Sarah cuma sebentar." Jawab Sarah, si mama ini memang sangat protektif terhadap Sarah di saat-saat hamil begini.


"Ngomong-ngomong, Raka belum kasih tahu kenapa pulang mendadak?" mama melirik Raka yang masih asyik mengunyah sementara matanya tak bisa berhenti menatap sang istri, mengagumi wajah Sarah yang tampak segar merona pagi ini.


"Raka ambil cuti kuliah, ma." Jawab Raka pendek.


"Tumben?"Mama menarik sudut bibirnya, pias senang yang kentara mendengar keputusan Raka.


"Mau fokus ngurus anak dan istri." Jawab Raka, sambil mengerling nakal pada Sarah. Yang di kerlingi tersipu.


"Mama dari kemarin malah mau mengajukan proposal, supaya kamu cuti saja sebelum kamu berangkat. Cuma mama tidak mau mendahului istrimu, kalian berdua kan sudah berumah tangga, jika keputusanmu sudah sepengetahuan dan di restui istri. Orangtua hanya mendukung dengan do'a." Mama nyengir begitu bahagia.


"Pakai proposal segala? seperti mau bikin pengajuan apa." Raka terkekeh.


"Ya, papa juga senang dengan keputusanmu, jadi Sarah juga selalu ditemani olehmu. Setidaknya ada beberapa proyek bisa di tangani olehmu dan Edgar. Papa ada rencana membawa mamamu liburan ke singapura sekalian check up kesehatan di sana." Papa menatap mama dengan mesra.


"Okey, pa...Raka always ready di samping istri."Raka menunjukkan sikap siap yang lucu, yang membuat ruang makan itu menjadi riuh.


"Sayang, jangan biarkan Raka itu keluyuran sampai malam-malam kalau kerja, dia suka lupa waktu kalau lagi hangout dengan teman-temannya."Mama mencondongkan kepalanya kepada menantunya itu seperti orang yang sedang berbisik.


"Iya, ma." Sarah melirik Raka, sang suami cuma tersenyum seperti mencibir melihat keakraban mertua dan menantu itu.


Sarapan pagi mereka begitu hangat dan menyenangkan, diselingi canda tawa yang tak pernah Sarah dapatkan selama bersama dengan keluarga angkatnya.


"Aku jemput kamu di butik makan siang nanti." Raka beranjak dari kursi meja makan sambil mencium pipi mamanya dan menyempatkan diri mengecup dahi sang istri.


"Tapi aku kan bawa mobil?"Sarah balik bertanya.


"Minta mas Ardi mengantarkan atau aku bisa minta Dea yang mengantarmu ke butik."Raka mengambil clucth kulit coklat yang ada di atas meja dengan handphonenya.


"Tidak usah. Nanti merepotkan, aku bisa naik..."


"Hey, istri harus patuh pada suami." Raka pura-pura mendelik sebelum Sarah melanjutkan ucapannya.


Sarah akhirnya mengangguk, tidak mau berdebat dengan suaminya yang ekstra cerewet sekarang.


"Kita akan bertemu seseorang saat makan siang." Raka mencium lagi pipi istrinya itu sambil berbisik.


"Siapa?" Sarah beranjak mengikuti Raka, mengantarkan suami berangkat


"Kamu akan senang."


"Siapaaa?"


"Rahasia, ini kejutan. Saat makan siang kamu akan tahu."


Raka mengedipkan matanya sebelum bergegas mengikuti langkah papanya menuju mobil yang sudah di parkir di depan teras.


(Apa ya kejutan dari Raka? Yuk tunggu episode berikutnya...😘😘😘)



...TERIMAKASIH SUDAH MENGIKUTI KISAH CINTA SARAH DAN RAKA🙏...


...Terimakasih untuk VOTE, LIKE, KOMEN dan DUKUNGAN semuanya, author tanpa readers bukanlah apa-apa☺️...


...❤️LOVE U ALL❤️...