
(Setelah part agak tegang dengan sang mantan, author yang baik hati dan tidak sombong ini mau kasih part romantis dulu, ya🤭Jangan lupa yang bawah usia dewasa wajib skip😅)
Raka menjelajah tubuh Sarah, dengan tangannya, penuh perasaan.
"Sayang, dokter Yogi bilang...,"
"Stt...!" Raka menempelkan telunjuknya di bibir Sarah.
"Dokter Yogi belum pernah menikah, dia tidak tahu rasanya, jadi pengantin baru." Seloroh Raka lalu memiringkan tubuh Sarah dengan hati-hati.
"Tapi, kita sudah lama menikah, bukan pengantin baru lagi."Sahut Sarah, meskipun dia tidak menolak ketika Raka mulai menciumi sekujur tubuhnya.
"Menikahnya sudah lama, tapi unboxing masih baru."Sempat-sempatnya Raka menyahut di sela kesibukannya.
"Em...tapi aku sudah hamil ini...."Sarah mengingatkan.
"Itu kan karena akunya yang topcer."Jawab Raka sekenanya.
"Bukan itu maksudku." Kilah Sarah.
"Lalu apa?"
"Bayinya bagaimana?"
Raka menatap wajah Sarah dengan sedikit ragu, lalu meletakkan wajahnya di perut Sarah.
"Sayang, papa mau mengintipmu sebentar, kamu tidur saja di dalam. Papa janji akan pelan-pelan dan sangat hati-hati."Ucap Raka seolah berbicara pada perut Sarah.
Sarah tidak bisa menahan tawa, dengan tingkah polah Raka.
"Stt...Dia bilang, ok!" Raka menaikkan kepalanya, dengan wajah serius, tentu saja membuat Sarah semakin tergelak.
Tiba-tiba Raka menyusup di dadanya dengan gerakan mendadak, Sarah melotot pada suaminya itu,
"Sayang, jangan di situ." Bisik Sarah lirih.
"Kenapa?"
"Payudaraku terasa sakit beberapa hari ini."
"Itu pasti gara-gara hormon itu lagi!" Rutuk Raka dengan muka kesal.
"Iya, kata mbak suster tadi pas aku tanya, karena efek hormon ini, aliran darah ke payudara akan meningkat terus...jumlah kelenjar susu bertambah dan lapisan lemak di payudara menjadi lebih tebal menyebabkan payudara terasa nyeri dan lebih sensitif saat disentuh...." Sarah menjawab dengan penuh penyesalan membuat Raka sedikit kecewa bermain-main di area favoritnya itu.
Tapi Raka tetap melakukan ritualnya, membuka kancing atasan Sarah satu persatu meskipun Sarah sedang berceramah dan memamerkan pengingatannya tentang cerita mbak suster, asisten dokter Yogi tadi.
Lalu mata Raka terpesona pada gundukan yang berdiri menantang wajahnya itu, menjulang kenyal dengan put*ng merah jambu sedikit mulai kecoklatan, menegang kencang.
"Tapi, berkat hormon aneh itu, setidaknya mereka berdua ini lebih besar dari biasanya." Raka terkekeh.
Sarah merengut masam pada suaminya itu, yang selalu saja menggodanya dalam setiap situasi.
"Sayang, boleh ya...,"Raka memandang gunung itu sambil menelan ludahnya sendiri.
"Boleh apa?"
"Mencicipinya sedikit."
"Memangnya ini permen?"
"Sepertinya, lebih menggoda dari permen." Keluh Raka
"Nanti sakit...." Sarah menggigit bibir bawahnya, saat Raka menarik pinggangnya.
Mereka berdua berpelukan dalam keadaan berbaring miring.
Dada Sarah benar-benar seperti belahan celah gunung, bersusun membentuk celah sempit di tengahnya.
"Aku akan pelan-pelan." Pinta Raka menghiba, kemudian di sambut anggukan kecil Sarah yang pasrah.
Raka mengulum put*ng yang mencuat itu dengan lembut bergantian, membuatnya semakin menegang. Lalu dengan lidahnya yang hangat, Raka memutarinya, menyesapnya dengan perlahan.
"Sayang, tidak sakit kan?" Raka menggumam sambil menarik mulutnya dari sana. Sarah tak menjawab hanya mendesah tak jelas, tapi tangannya menarik kepala Raka untuk kembali ke posisi semula.
"Aku mau lagi, sayang...." Bisik Sarah tanpa malu-malu lagi.
Raka tersenyum kecil, melihat istrinya yang menggeliat memeluk lehernya.
Lalu dengan patuh Raka melakukan permintaan sang istri, memainkan lidahnya di sana, sesekali mengulum dan menyesapnya dengan sedikit kuat.
Jemari Raka turun kebawah menyibak rok plisket yang dikenakan Sarah, menyusup di antara paha Sarah yang merapat. Mencari sesuatu yang sangat di inginkannya.
Sarah mengeluarkan suara desah yang berirama dengan nafasnya yang semakin tak beraturan. Sarah benar-benar menikmatinya, gairahnya seolah di bakar Raka dengan sempurna.
Raka menc*mbu istrinya itu dengan perlahan dan hati-hati seperti memegang porselen mahal. Pakaian Sarah yang berupa blouse press body itu, kancingnya sudah tidak lagi mengait pada tempatnya. Bra Sarah di tarik ke bawah dada membuat si bukit kembar itu menyembul penuh.
Raka menarik penutup segitiga Sarah hingga sampai pergelangan kakinya. Sementara Raka sendiri entah kapan sudah melepaskan pakaian bawahnya, meski kaos Tshirt atasannya masih melekat di badan.
Ketika Sarah tak lagi sanggup membuka matanya, Raka menciumi bibir setengah terbuka itu dengan rakusnya.
"Sayang, kita mulai, ya...." Bisik Raka dengan nafas tak kalah beratnya.
Sarah tidak mengiyakan, tapi desahnya menjelaskan dengan baik keinginan yang sama darinya.
Raka menembus lekuk itu dengan perlahan, Sarah menggigit bibirnya kuat-kuat menyambut sesuatu yang yang melesak membuat sekujur tubuhnya bergetar luar biasa.
Dan Raka melakukannya dengan perlahan dan lembut, menatap dengan seksama setiap perubahan wajah istrinya itu. Sangat takut setiap gerakannya menyakiti sang istri.
Ritme pelan itu, awalnya begitu menyenangkan tapi semakin lama, Sarah terlihat tak sabar.
"Sayang, biarkan aku menyelesaikannya." Sarah mendorong tubuh suaminya, membuat Raka terlentang di sebelahnya, lalu dengan tanpa memperdulikan wajah tercengang Raka, dia menyibak roknya, memposisikan dirinya di atas, dan pada detik berikutnya, Sarah benar-benar mempertunjukkan keterampilan naluriahnya.
Raka hanya bisa ternganga, menikmatinya dengan suara nafas tersengal. Dan di akhir pertarungan itu, mereka berdua terkapar. Seperti ikan yang terdampar di pinggir pantai.
Beberapa lama mereka berdua berbaring sambil berpegangan tangan sementara mata mereka terpejam sembari mengatur nafas.
Mereka menikmati kemesraan itu sebagai suami istri yang saling mencintai dan menginginkan.
Tak ada yang lebih sakral dari hubungan intim sepasang suami istri yang melakukannya dengan mencurahkan segenap kasih sayang di atas hubungan yang sah di mata Tuhan dan masyarakat.
Mereka melakukannya dengan tanpa rasa takut dan ragu, tanpa kebimbangan dan kerisauan.
Berbeda jika di lakukan oleh dua orang yang bukan pasangan sah, tentu saja berpacu dengan waktu, keadaan dan mempertaruhkan ketenangan karena perbuatan dosa hubungan terlarang selalu bukan hal menenangkan bathin jika di lakukan.
Raka membawa tangan Sarah yang sedari tadi di genggamnya, lalu meletakkannya ke dadanya yang masih berdebar keras.
"Sayang, ingatkah kamu saat pertama kali aku menciummu?" tanya Raka tanpa membuka matanya
"Kapan?"
"Waktu di dapur itu? Kamu tidak sengaja memelukku saat Deasy minta es cream?"
"Hm...itu bukan ciuman, itu tak sengaja!" Sarah menolehkan wajahnya kepada Raka dengan protes.
"Tahu kah kamu? Setelahnya, dadaku berdebar tak karuan bahkan untuk melihatmu rasanya gugup sekali." Raka menolehkan wajahnya je arah Sarah. Kemudian mereka saling menatap.
"Sepanjang malam, aku tak bisa tidur karena berada satu ranjang denganmu, meskipun si bocah manja itu berada di antara kita berdua.
Aku memejam mata tapi pikiranku melayang-layang tak karuan." Ucap Raka seperti seorang anak yang mengaku sebuah dosa.
"Sejak hari itu, aku menyadari perasaanku padamu tak sama lagi. Aku telah jatuh cinta pada istriku sendiri."
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru🙏...