
Dua minggu setelah pertemuan di klinik itu dengan Sarah, Diah begitu banyak diam, dia tenggelam dalam fikirannya sendiri.
Di tatapnya rumah cukup besar yang menjadi tempatnya sekarang. Di dalam rumah sebesar ini semuanya tercukupi memang, semua biaya hidup mereka hampir keseluruhan berkat dukungan mertuanya, seorang kontraktor pengadaan barang dan jasa, dimana menangani proyek-proyek yang berkerjasama dengan instansi pemerintah.
Bram suaminya sebenarnya adalah seorang pialang saham yang cukup kaya di awal-awal pernikahan mereka tetapi dua tahun terakhir suaminya itu hampir bangkrut terlilit hutang semenjak lari dengan Sally. Dalam pelarian mereka ke luar negeri, yang entah kemana itu selama beberapa bulan, Bram telah menghabiskan milyaran tabungannya karena pacar gelapnya itu tak membawa apapun selama dia kabur, meskipun konon perempuan yang digilai suaminya itu adalah salah satu anak seorang milyarder di kota ini.
Kehidupan mereka semakin sulit karena anak pertama mereka memerlukan perawatan intensive selama masa sakitnya sebelum meninggal, biayanya juga sangat banyak karena mertuanya membawa sang cucu ke Singapura dalam usaha pengobatannya, meskipun akhirnya Beni tak bisa bertahan dengan penyakit yang dideritanya.
Memang mertuanya tidak begitu saja lepas tangan, hampir semua biaya dikeluarkan oleh mereka tetapi tetap saja menguras tabungan yang dikumpulkan oleh Diah bertahun-tahun.
Diah hanyalah ibu rumah tangga biasa tanpa skill dan kemampuan, hidup hanya bergantung dari keluarga suaminya karena keluarganya sendiri hanyalah pegawai pemerintah yang pas-pasan, apalagi dia mempunyai 3 orang adik yang dua diantaranya masih sekolah, tentu saja tidak mungkin dia membebankan kesulitannya pada kedua orangtuanya.
Untuk biaya hidup sehari-hari mereka, Diah mengandalkan beberapa rumah kontrakan warisan dari mertuanya untuk Bram, itu saja harta mereka yang tersisa sekarang, adalah pemberian dari orang tua Bram, dengan dalih untuk jaminan hidup cucunya.
Sebagai orangtua, kedua mertuanya itu tahu sekali perangai anaknya itu, apalagi Bram adalah anak tunggal mereka, tetapi mereka tak berdaya karena memang sejak awal Bram hidup salah asuh oleh mama dan papanya yang terlalu memanjakan sang anak.
Sebagai orangtua, mereka memang selalu berusaha menegur Bram tapi menegur orang dewasa itu kadang lebih sulit dari menegur anak-anak, ucapan kita kadang hanya di anggap angin lalu, bersikap keraspun kadang kita mengalami perlawanan yang lebih.
Mertua Diah berjanji akan terus menyokong keluarganya dengan catatan Diah jangan pernah menceraikan Bram dan menutup mata untuk semua sikap Bram sampai suatu saat dia bertaubat.
Begitulah Bram, seorang suami yang tak pernah bisa bertanggungjawab terlebih tidak setia dalam rumah tangga, meskipun dari awal Bram sudah menegaskan dia tidak mencintai Diah, tetapi setidaknya dia mencintai anak-anak dan keluarganya, minimal itu sebagai alasannya untuk belajar memperbaiki sikap. Sayangnya, sampai hari ini, dalam lelah yang ditanggung Diah, dia tak pernah melihat ada sedikitpun niat dari Bram untuk benar-benar berumah tangga dengannya.
Pernah Diah berusaha belajar lepas dari sokongan orangtua bram, berfikir dengan mandiri dia akan bisa lepas dari dilema hidupnya itu, tapi sebagai perempuan lulusan SMA, dia tahu sangat susah bersaing untuk mencari kerja bahkan untuk menjadi pelayan toko saja orang akan berfikir dua kali karena dia sudah berkeluarga dan memiliki anak.
Diah masih saja duduk di kursi sudut rumahnya yang menghadap arah jendela, langit di atas mulai mendung, bulan november memang selalu identik dengan hujan.
Sore ini, dia tidak perlu menebak, hujan akan turun dan melihat awan yang begitu gelap mungkin saja akan hujan sepanjang malam.
Jemarinya merogoh ke dalam saku bajunya, memegang sebuah kartu nama berwarna cokelat dengan tinta nama bewarna emas yang beberapa hari ini begitu menarik perhatiannya, apalagi semenjak kepulangan Bram empat hari yang lalu ke rumah mereka setelah selama sebulan tak pernah pulang, insiden malam itu membuatnya semakin menguatkan hati untuk keluar dari bawah tempurungnya yang penuh dengan kepasrahan dan ketakutan itu.
Wajah Bram yang nanar hampir menyetub*hinya dengan paksa malam itu, masih terbayang jelas di ingatannya,
"Apa kabar Bella?" dia melemparkan sepatunya sembarangan sambil menghempaskandirinya diatas sofa. Wajahnya begitu kusut, rambutnya gondrong tak terurus.
"Dia sudah tidur." Diah menjawab, sambil melirik jam dinding yang menunjukkan jarum pendek hampir mengenai angka 11. Sudah cukup larut, menyambut kepulangan suaminya yang tak di sangka-sangakanya. Yang dia tahu, saat ini suaminya itu tinggal serumah dengan selingkuhannya, setelah bercerainya ayah dan ibu sang pacar. Menurut sopir keluarga mertuanya, perempuan itu sekarang sedang kaya raya karena menikmati warisan dari ayahnya yang luar biasa banyaknya.
Di sanalah sekarang Bram, hidup sebagai parasit serta pemuas nafsu sang pacar hampir tiga bulan ini. Meski terhitung dengan malam itu dia sudah pulang 3 kali dengan alasan mengambil sesuatu.
"Kenapa kamu pulang, mas?" Pertanyaan itu membuat Bram menoleh pada Diah dan menatap tajam perempuan yang masih menjadi isterinya itu.
Tiba-tiba dia berdiri, matanya yang memerah itu begitu lekat pada Diah.
Tanpa bicara dia merangsek memeluk Diah, dengan gerakan aneh dan liar berusaha menciumi leher dan wajah Diah yang saat itu hanya mengenakan sebuah daster tidur.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? lepaskan aku!!"
(akak double UP yaaa☺️, ditunggu kelanjutannya😅 jangan lupa lemparkan dukungannya untuk mak othor, siapa tahu sanggup crazy UP hari ini 😅)
...DIAH PITALOKA...
...BRAM GERALDO...
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......