Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EKSTRA PART. MEMUTUSKAN JODOH DARI MIMPI


"Diah..." Doddy menatap Diah dengan tajam, menggengam tangan Diah yang mengepal kuat.


"Apakah aku salah jika aku sekarang meragukan bahwa kamu memiliki perasaan yang sama denganku? Saat aku mendengarmu berkata sepasrah ini, aku tak yakin kamu juga mencintaiku sebesar aku mencintaimu. Kenapa aku...aku merasa bahwa aku hanya sedang berjuang sendiri..."


"Jangan...jangan katakan itu." Diah tanpa sadar meletakkan jemarinya di bibir Doddy, sikap refleks yang tak di sangka-sangka.


Mata Doddy tak berkedip, dia tak kalah terkejutnya dengan reaksi Diah.


Sebelum Diah menarik tangannya saat kesadaran membuatnya gugup sendiri, Doddy telah menangkap pergelangan tangannya. Sejenak suasana menjadi sedikit canggung


"Lepaskan..." Diah berucap pelan memecah hening,


"Jika kita terlalu lama berada di dalam mobilmu seperti, bisa menjadikan fitnah bagi orang yang melihat kita." Diah menundukkan wajahnya, menghindari tatapan Doddy.


"Aku hanya ingin mendengarmu, karena aku siap memperjuangkan hubungan kita jika kamu mencintaiku juga."


"Aku harap kamu lebih mendengarkan orangtuamu. Apapun yang mereka minta, lakukanlah..."


"Apakah kamu memintaku mendengarkan orangtuaku, bahkan jika itu berarti aku menikah dengan perempuan yang ada di mimpi mamaku?" Doddy menatap Diah dengan tajam, bahkan Diah menjadi meringis ketika tangan Doddy mencengkeram pergelangan tangannya dengan begitu kuatnya.


"Kenapa tidak? Jika dengan begitu kamu mendengar mereka." Jawaban Diah seketika membuat Doddy terhenyak dan melepaskan perlahan tangan Diah.


Sesaat mereka berdua saling memandang dengan kabut mendung yang bergelayut di pelupuk mata masing-masing. Banyak kata yang tak bisa mereka ungkapkan.


"Klek!" Kunci pintu mobil itu terbuka memecah keheningan. Saat Doddy menyentuh tombol kuncinya, seolah sebuah isyarat dia membebaskan Diah dari dalam penjaranya.


"Terimakasih, sudah mengantarku..." Diah berucap sambil duduk dengan tegak bersiap untuk keluar.


"Sebaiknya kita tak bertemu untuk sementara waktu." Lanjutnya kemudian sambil membuka pintu mobil. Doddy tak mengatakan apapun, kekecewaan seperti sedang membuatnya tak bisa berkata apa-apa.


Diah keluar dari dalam mobil Doddy dengan menyembunyikan rautnya yang sembab, matanya terpejam sesaat ketika menutup pintu mobil itu kembali, wajah suram Doddy yang beku hanya menatap ke depan tanpa bergeming.


Diah menunduk, dia tahu pamit bukanlah kata yang tepat sekarang, dia hanya harus berbalik dan pergi.


Tangan Diah terkepal, embun di matanya akhirnya mencair menjadi tetesan, pelupuk matanya terasa basah, betapa tak tega dia melakukan ini pada Doddy, tapi permintaan Mama Doddy tak bisa di abaikannya, karena dia tahu itulah yang terbaik bagi mereka berdua.


"Tolong maafkan aku..." Bisik Diah sambil membalikkan badannya.


Baru tiga langkah Diah berjalan,


Saat Diah berbalik, Doddy menghampirinya dan tanpa memberi kesempatan Diah mengatakan apapun, dia memeluk erat tubuh ramping Diah, hanya desah nafasnya yang terdengar satu-satu membelah senyap antara mereka berdua.


Diah terpana, dia merasa syarafnya mendadak berhenti merespon, pertama kali dalam hidupnya Doddy memeluknya. Doddy orang yang bisa menahan diri, Diahpun sangat pandai menjaga jarak supaya mereka tetap memegang prinsip sebelum mungkin halal menjemput mereka tidak melakukan kontak fisik yang berlebihan. Bahkan untuk sebuah pelukan setelah berbulan-bulan mereka mengikrarkan diri dalam sebuah hubungan, mereka tetap bisa menjaga diri masing-masing.


Apa yang di lakukan Doddy sekarang adalah sebuah kejutan, karena di luar kebiasaan Doddy.



"Kamu mencintaiku, kan? Kamu benar-benar ingin menikah denganku karena kamu mencintaiku, kan? Aku sangat berharap bahwa aku tidak sedang bertepuk sebelah tangan." Kalimat itu terdengar di ucapkan dengan nada hampir putus asa, Doddy bukan orang yang mudah menyampaikan isi hatinya tetapi sekarang dia seperti orang yang kehilangan dirinya sendiri.


Diah menggigit bibirnya, kedua tangannya mengepal, dia tak bergerak seperti patung, dan beberapa saat kemudian, air matanya mengalir deras di bahu doddy.


"Aku sangat mencintaimu, Fadjri..." Akhirnya Diah berbicara dengan suara gemetar. Doddy memejamkan matanya dan menangkupkan rahangnya yang terasa kelu, saat mendengar kalimat yang di ucapkan Diah.


"Aku...mencintaimu, aku bahkan baru menyadari bahwa seharusnya aku mencintaimu dari dulu. Malam ini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Jika aku bukan jodohmu pun, aku tak menyesal mengatakan padamu bahwa aku mencintaimu." Diah berucap lagi sembari mengangkat kedua tangannya dan membalas pelukan Doddy dengan gemetar.


"Aku hanya ingin mendengar itu sebagai alasan untuk memperjuangkan hubungan kita. Aku berjanji akan tak akan melepasmu, bahkan jika aku harus pergi ke Multazam, untuk memutuskan jodohku dengan perempuan di mimpi mamaku, aku akan melakukannya untukmu." Kata Doddy dengan suara yang serak.


Diah tertegun begitu lama, berusaha mencerna kalimat Doddy dengan benar.


"Maafkan aku..." Diah berkali-kali membisikkan kata itu, tanpa tahu apa yang bisa di katakannya lagi pada Doddy.


"Tunggulah di sini, aku pasti kembali padamu. Sampai waktu itu tiba, jangan pernah memalingkan hatimu dariku. Aku berjanji akan kembali dan meminangmu dengan mengucapkan qobul." Doddy melepaskan pelukannya perlahan, lalu mundur selangkah menatap Diah yang tak berkedip di tempatnya berdiri.


"Beristiqoruhlah sampai waktu itu tiba." Doddy berbalik dan berjalan masuk ke dalam mobilnya, tanpa mengucapkan selamat tinggal, meninggalkan Diah yang mematung dengan air mata yang turun sendiri tanpa di minta.



(Hm....kisah cinta mereka sebenarnya sederhana, tapi author ingin membuatnya menjadi kisah cinta yang indah dan tak terlupakan untuk para readers kesayangan.


Dalam cinta yang sesungguhnya, ada penerimaan, ada perjuangan, ada keikhlasan...jika sudah mampu melewati batasan itu maka seperti apapun perbedaan status kita, sesenjang apapun di mata orang lain, tak ada yang yang bisa membelokkannya. Doddy mungkin laki-laki idaman sempurna yang tak "pantas" jika di sandingkan dengan Diah, tetapi author ingin mengatakan, tak ada batasan untuk cinta๐Ÿ˜…)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor๐Ÿค— i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis๐Ÿ˜‚๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...