
Diah membalikkan badannya dan mereka berdua bertemu pandang tak berkedip.
"Kamu adalah suamiku sekarang, kamu boleh melakukan apapun padaku." Diah menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang telah kering.
"Suami tidak perlu minta ijin untuk menyentuh istrinya..." Ucap Diah, perlahan balas memegang tangan Doddy meskipun dia menjadi sedikit gemetaran.
Biasanya Bram akan mencumbuinya tanpa bicara, dengan kasar malah kadang-kadang. Bram tak pernah mengobrol panjang lebar dengannya, bahkan sering melakukan apa yang dia mau tanpa meminta pendapat Diah terlebih dahulu. Diah benar-benar merasa gugup saat diperlakukan dengan cara berbeda oleh Doddy.
Perlahan jemari Doddy naik ke pipi Diah, terasa bergetar saat dia membelai lembut pipi perempuan yang kini sah menjadi istrinya itu.
"Aku...aku kadang-kadang memelukmu malam-malam..." Ucap Doddy, dengan pengakuan yang malu-malu, atau sekedar mencari topik pembicaraan karena kecanggungannya sendiri.
"Aku tahu..." Sahut Diah, sekarang sedikit lebih berani. Dia tampak pasrah memberikan wajahnya pada Doddy, di elus-elus sedemikian rupa.
"Kamu tahu?" Wajah Doddy sekilas memerah.
Diah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, mereka berdua berbaring miring saling berhadapan meski masih berjerak beberapa jengkal.
"Kamu tidak marah?"
Diah menggeleng pelan.
"Tapi kamu tidak merespon apapun?"
"Karena aku merasa kamu hanya ingin memelukku saja." Diah tersenyum tipis. Bibirnya yang basah itu setengah terbuka.
Jemari Doddy singgah di sana, menyentuh bibir itu dengan lembut menggunakan telunjuknya seolah begitu takut melukainya.
"Selama di tanah suci, setelah kita menikah kamu sering diam-diam memelukku saat tidur. Tapi kita telah sama-sama berjanji tidak melalukan hubungan intim selama perjalanan ibadah. Aku menghormati kesepakatan kita berdua, karena itu aku tidak meresponmu." Jawab Diah, dengan senyum yang lebih lebar, sehingga telunjuk Doddy tergigit lembut di antara gigi putihnya.
"Can I kiss you?" Tanya Doddy dengan suara parau.
"You can kiss me how much you want..." Jawab Diah sambil memegang pergelangan tangan Doddy, menghentikan jemari Doddy yang membelai permukaan wajahnya dengan penuh perasaan itu.
Diah memejamkan matanya, seolah memberi kesempatan untuk Doddy menciumnya. Selama ini Doddy hanya mencium dahi atau pipinya, tapi untuk bibir mereka berdua benar-benar mahluk yang paling sabar di muka bumi untuk tidak melakukannya.
Hampir tak masuk akal bisa menahan diri tetapi saat mereka berkomitmen dengan sungguh-sungguh, mereka ternyata bisa menahan diri karena tak ingin mencenari niat ibadah mereka.
Sesaat Doddy terpana, menatap wajah Diah, sebelum kemudian perlahan dia mendekatkan tubuhnya lebih dekat lagi, tangannya turun sampai di leher Diah.
"Aku selalu ingin menciummu, Diah. Dari dulu..." Bisiknya, ketika wajahnya begitu dekat dengan wajah Diah.
Dengan gerakan lembut seperti takut memecahkan porselen, Doddy menempelkan bibirnya pada Bibir Diah. Hembusan nafas mereka berpadu, terasa hangat berbalas mengenai kulit masing-masing.
Dada Diah berdegup kencang tetapi jantung Doddy lebih tak karuan lagi, serasa darahnya naik ke kepala dalam sekejap.
Saat Doddy melepaskan ciuman yang hanya sepuluh detik itu, Diah menahan leher Doddy, matanya terbuka perlahan.
"I love you..." Ucap Diah dengan suara yang parau.
Diah merapatkan tubuhnya ke dada Doddy, sampai mereka hampir tak berjarak sama sekali. Sekarang tangan Doddy turun kepinggang ramping Diah, menariknya dengan seolah diluar kesadarannya.
Dengan tanpa aba-aba lagi, Doddy menciumi bibir Diah, sekarang tak hanya sebentar tetapi lebih lama dan sedikit lebih panas, dia melakukannya mengikuti nalurinya, sementara tangannya bergerak-gerak turun naik di punggung Diah.
Diah yang semula hanya menyambut pasrah ciuman Doddy, membuka mulutnya lebih memberi ruang ketika Doddy mengecap bibir bawah Diah seolah itu adalah permen gula yang manis.
"Akh..." Doddy tersengal-sengal sendiri saat melepaskan ciumannya.
"Kamu...kamu sangat cantik Diah..." Ucapnya sambil berusaha mengatur nafasnya sendiri, sekarang gairah sedang mulai membakarnya, keinginan untuk mencumbui iatrinya itu hampir tak bisa di kendalikannya.
"Oh, ya..." Diah mengerjab matanya, dia lebih mampu bersikap tenang meski dia sendiri merasakan gejolak yang luar biasa, seolah kepalanya berdenyut-denyut saat Doddy menciumi dengan lembut tetapi terasa sedikit panas tadi.
Dalam hal ini, Diah tentu saja lebih berpengalaman di banding Doddy.
"I'm serious my wife, I've never seen a woman more beautiful than you." Doddy menelan ludahnya sendiri, kerongkongannya terasa seret saat mengucapkannya.
"Layla pernah berkata, bahwa hanya Qays yang mengerti kecantikannya. Tentu saja aku cantik di matamu, karena perempuan akan selalu terlihat cantik di mata orang yang mencintainya." Diah tersenyum pada Doddy, dia tak menolak pujian yang diberikan suaminya itu.
"Seperti Qais Majnun mencintai Layla, aku berharap bisa mencintaimu dengan begitu besarnya. Bahkan aku tak tertarik pada perempuan lain, pandanganku tertunduk dan mataku terpejam kepada selain kamu." Doddy menaikkan helaian rambut Diah yang menutupi dahi istrinya itu dengan telunjuknya.
"Dulu, aku merelakanmu bersama oranglain jika itu membuatmu bahagia, meskipun aku tak pernah menghapus perasaanku padamu. Tapi, tahukah kamu, Diah di setiap doaku, aku sering menyebut namamu jika aku merindukan wajahmu." Doddy meraih pinggang Diah, menekannya pada tubuhnya sendiri lalu meneluk Diah dengan begitu erat, setelahnya tanpa berbicara lagi di jelajahinya wajah Diah dengan lebih banyak kecupan dan ciuman.
"Sekarang kamu adalah milikku, aku tak akan melepaskanmu lagi." Doddy tak lagi menahan tangannya untuk menjelajahi tubuh Diah, menyusupkannya ke balik baju perempuan yang kini hanya terpejam dengan suara desah halus yang membangkitkan gairah Doddy.
Kakinya perlahan mengait kaki Diah, mengunci setiap gerakan perempuan yang kini pasrah dalam pelukannya.
Tangan Doddy melepaskan kancing piyama tidur Diah dengan gemetar, sementara matanya tak lepas menatapi wajah yang kini mendonggak pasrah itu.
Ketika Dada Diah terbuka, sebagian membuat gunungan padat itu telihat menyembul benar-benar menggoda, Doddy meloloskan piyama yang dikenakan Diah melewati bahunya, dan sesaat kemudian matanya tak berkedip melihat pemandangan yang terpampang di depan matanya.
Diah membuka matanya mendapati Doddy seperti patung, seolah dia sedang tersihir.
"It's all right, it's all yours now..." Diah membimbing tangan Doddy pada tempat di mana mata Doddy tertuju.
(Hufs....Othor segera lanjutkan ya, tapi beri waktu othor istirahatkan jari dan otak othor sebentar🤣🤣 Jangan lupa VOTEnya yah, hari senin begini biasanya dah ada vote semua 😅 Othor ingatkan kembali, besok 14 pebruari, hari valentine dan jadwal resepsi Diah dan Doddy...😅
HAPPY VALENTINE semua😘😘 lanjutannya otewe di hari Valentine, double UP deh...asal di beri semangat othor rela begadang🤣 like dan komen positif kalian adah dukungan terbesar buat othor😘 )
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....
Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...