Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 209 BIARKAN AKU MENGANTARMU


Makan malam yang menyenangkan itu diselingi dengan obrolan ringan setelah membicarakan urusan strategi berikutnya setelah Mytha menjual saham itu kepada Sarah, yang sebenarnya dananya adalah berasal dari milik dari keluarga Rudiath.


Doddy hanya terlibat sebagai pion yang menjalan skenario itu, supaya Mytha dengan sukarela menyerahkan saham itu, karena demi apapun meski dia dalam keadaan tersulit sekalipun, Mytha tak akan menjual sahamnya, jika itu pada keluarga Rudiath.


Makanan penutup disajikan, setelah mereka menyantap menu utama.


Masing-masing menghadap semangkok dessert tiramisu dalam bahan dasar biskuit yang aroma kopinya menguar lembut berpadu dengan keju mascarpone.


Diah yang sedari tadi hanya menatap pada susunan biskuit yang di selanya terdapat krim kaku cantik sangat menggugah selera itu, tak sedikitpun membuka suaranya. Dia sendiri bingung mengapa dirinya menjadi begitu gugup saat berdekatan dengan Doddy.


"Bagaimana jika nanti sekali-kali, kamu datang ke rumah kami. Mungkin kami bisa menyambutmu untuk makan malam di rumah. Istriku ini sangat lihai membuat masakan enak." Raka menyentuh bahu sang istri dengan lembut, matanya memandang sesaat pada Sarah dengan bangga, dia senang memamerkan bagaimana hebatnya istrinya itu dalam hal memasak.


"Tentu saja...dengan senang hati saya akan menunggu undangan itu." Doddy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum sumringah.


"Akh, jangan memujiku begitu, sayang..." Sarah menyahut setengah berbisik pada suaminya.


"Eh, aku serius, lho. Masakanmu tiada duanya, swear!" Raka menyela dengan wajah serius.


"Doddy, nanti jangan lupa nanti bawa pacarmu...biar bisa kenalan dengan kami." Raka berucap sambil terkekeh.


Degh!


Entah mengapa jantung Diah serasa berhenti sejenak, dia tak bisa membohongi dirinya sendiri yang menjadi tegang menunggu tanggapan dari Doddy.


"Aku...aku belum punya pacar..." Doddy menyahut dengan raut malu-malu.


Jawaban dalam suara pelan itu, tak urung membuat Diah tanpa sadar menghembuskan nafasnya dengan lega.


Perasaan aneh itu, entah mengapa datang begitu saja tanpa bisa di tahannya.


"What?!" Raka seperti mendengar hal yang mustahil, saat Doddy yang notabene laki-laki idaman itu menyatakan dirinya belum memiliki pasangan.


"Kamu serius?" Raka mencondongkan kepalanya ke depan. Matanya terpicing dengan lucu.


"Aku benar-benar belum punya pacar." Jawaban itu terdengar di tekan sedemikian rupa, seolah berharap ada seseorang yang mengerti maksud pengumuman terselubung itu.


"Masa, sih? Kamunya terlalu pilih-pilih atau..." Raka mengerutkan keningnya pada Doddy, begitu penasaran dengan status laki-laki yang secara kualitas pria, dia masuk ke dalam jejeran kualitas premium ini.


"Masih belum kefikiran ke sana."


"Ya...paling tidak ada yang sedang dekat mungkin?"


"Aku tidak mudah dekat dengan orang." Sahut Doddy menanggapi Raka yang sedikit membuatnya salah tingkah.


"Tidak mudah dekat bagaimana? Kamu yang tidak mau mendekatkan diri sepertinya."


"Astaga, sayang...kamu kepo sekali." Sarah menyikut pelan suaminya, melihat Doddy yang wajah semakin merona.


"Eh, ini benar-benar suprise buatku, orang semapan Doddy masa sih belum laku." Raka meringis lucu pada sang istri.


Begitulah Raka, jika dia sudah merasa santai dan dekat dengan sesorang, ngomongnya itu suka santai kebablasan.


"Bukan...bukan begitu...memang masih belum ada yang pas saja." Sahut Doddy lagi, dia gelagapan sendiri.


"Mau kucarikan?" Raka melotot pada Doddy, dengan raut sok seriusnya.


"Ti...tidak usah." Doddy menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Sayang...memangnya kamu punya stok perempuan banyak?" Sekarang Sarah yang melotot lucu pada Raka.


"Eh, bukan begituuu..." Raka menyeringai pada Sarah. Doddy tak bisa menahan senyum melihat tingkah suami istri yang selalu harmonis itu.


"Dod, sepertinya kita perlu sekali-kali we time para lelaki. Biar kamu bisa mengakhiri masa jomblo ini. Aku akan memberi banyak tips buatmu." Raka terkekeh sambil menyendok dessert ke dalam mulutnya.


"Tips apanya? jangan macam-macam, deh!" Si istri di sebelahnya protes dengan raut galak tapi manja.


Doddy hanya masam mesem sambil melirik pada Diah yang menunduk di sampingnya, sibuk mengorek-ngorek piring dessert di depannya.


"Diah..." Panggilan Sarah mengejutkan Diah.


"Kenapa kamu lebih pendiam hari ini? kamu benar-benar sedang tidak enak badan sepertinya."Sarah yang sedari tadi memperhatikan Diah, mengernyit dahinya.


"Tidak, bu...saya hanya...saya hanya sedang..." Diah tak melanjutkan kalimatnya ketika melihat mata dua laki-laki yang bersama mereka menoleh kepadanya.


"Diah, sepertinya kamu perlu istirahat, mungkin kamu terlalu capek seharian ini." Sarah menatap asistennya itu sedikit cemas, melihat rona wajah Diah yang tak lepas dari semburat merah sepanjang makan malam.


"Aku akan menelpon pak Ardie untuk mengantarmu pulang." Sarah meraih handphonenya.


"Tidak usah, bu. Saya bisa pulang sendiri naik taksi." Diah menyahut dengan suara sedikit terbata. Setelah tak sengaja mendengar Doddy ini menyebut dirinya sebagai calon istri tadi, dia menjadi gugup sendiri berdekatan dengan Doddy.


"Astagfirullah...Astagfirullah..." Dia berusaha menenangkah jantungnya yang berdegup aneh dengan istigfar.


Dia ingat benar statusnya yang masih istri dari Bram sampai hari ini, meskipun dia sedang menjalani masa idahnya. Tapi rasanya tidak pantas jika dia tiba-tiba memikirkan laki-laki lain, meski itu hanya terlintas di kepalanya begitu saja tanpa niatan sama sekali.


Perhatian dan cara Fajri yang dewasa dan santun ini, membuatnya tak bisa mengelak, hatinya sedikit banyak tersentuh.


"Aku bisa mengantar Diah pulang, kami berdua satu arah." Tiba-tiba Doddy menyela, sebelum Sarah menekan tombol panggil pada sopir mereka pak Ardie.


"Saya bisa naik taksi..."Penolakan Diah sama sekali tidak diperhatikan oleh Doody maupun Sarah, suaranya tenggelam begitu saja.


"Eh, Kamu tahu arah rumah Diah?" Sekarang Sarah yang sedikit terpana pada Doddy.


"Em...iya...rumah kami satu arah, kami sudah saling mengenal dari masa SMA." Jawab Doddy, dia sungguh merasa seperti di skak oleh pernyataannya sendiri.


"Waaaah, Diah curang nih, masa tidak memberitahu aku kalau dia juga sudah kenal Doddy lama." Sarah tertawa senang, melihat pada Diah yang semakin menundukkan wajahnya, tersipu tak karuan.


"Teman satu kelas satu semester, sebelum aku pindah ke Jakarta. kami kenal tidak lama, kok." Doddy menyahut berusaha meluruskan keterangannya.


"Ternyata aku yang tidak peka jika kalian sudah saling kenal lama." Sarah menyeringai pada Diah.


"Hanya kenal sebentar, bu..." Jawab Diah tergeragap.


"Ya, tetap saja kenal, kan? Sikap kalian formal sekali jadi aku tidak menyangka sama sekali, lho." Sarah tertawa kecil.


"Berarti kita satu sekolah, dong?" Alis Raka bertaut, menatap kepada Doddy.


"Iya, Pak Raka adalah kakak kelas kami..." Jawab Doddy.


"Astaga, kenapa aku tidak pernah merasa bertemu kalian, sepuluh atau sebelas tahun yang lalu." Raka menggaruk-garuk jidatnya, berusaha mengingat-ingat pada memorry masa sekolahnya.


"Bagaimana kamu bisa ingat sayang, kamu sibuk tebar pesona." Tuduh Sarah setengah serius setengah bercanda.


"Eh, aku bukan orang seperti itu, lho ya." Raka melotot lucu pada istrinya.


"Diah saja kamu tidak kenal, padahal adik kelasmu."


"Ya, itu siswanya hampir ribuan, sayang...bagaimana aku bisa kenal semuanya. Lagian, suamimu ini sibuk belajar, jadi kadang tidak terlalu memperhatikan orang-orang." Raka menyahut dengan wajah soknya.


Mereka tergelak bersama, melihat bagaimana keakraban yang tiba-tiba terjalin begitu saja.


"Terimakasih jika bersedia mengantarkan Diah." setelah obrolan ringan yang penuh canda itu berakhir, Sarah dan Raka pamit segera pulang seperti halnya Doddy yang bersiap mengantarkan Diah.


...***...


"Aku sungguh bisa naik taksi saja..." Diah masih merasa tidak enak pada Doddy, saat dia telah duduk bersampingan di dalam mobil Doddy. Ini kali kedua dia berada di dalam mobil itu.


"Biarkan aku mengantarmu pulang..."



(Ehm...Senang rasanya menulis part-part yang manis, rasanya othor juga lagi sedang jatuh cinta☺️🤣 VOTEnya dong jangan lupa, biar mak othor bersemangat CRAZY UP hari ini😅😅😅 i love You my reder🥰🥰)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....