
Tiba-tiba dia berdiri, matanya yang memerah itu begitu lekat pada Diah.
Tanpa bicara dia merangsek memeluk Diah, dengan gerakan aneh dan liar berusaha menciumi leher dan wajah Diah yang saat itu hanya mengenakan sebuah daster tidur.
"Apa yang kamu lakukan, Mas? lepaskan aku!!" Diah berontak, merasakan cengkeraman Bram yang begitu erat di kedua bahunya.
Bram sama sekali tak bersuara, nafas mendengus begitu rupa membuat Diah merasa ngeri.
"Layani aku malam ini, Diah..."Ucapnya serupa geram di sela dengusnya.
"Aku tidak mau!" Tolak Diah, dia tiba-tiba jijik membayangkan setelah sang suami bergelut dengan perempuan lain sekarang datang padanya meminta pelayanan seorang istri.
Selama ini perasaan jijik itu dikuburnya dalam-dalam dalam kepasrahan, selalu berusaha menerima Bram kembali tanpa bicara, berharap suaminya itu pulang dengan kesadaran bahwa dia tak akan mengulangi hal yang sama.
Tapi dalam satu bulan terakhir, harapan itu terasa seperti hanyalah harapan semu, Bram benar-benar tak akan pernah menyadari apapun dari setiap luka yang ditorehkannya kepada Diah, selama ini.
"PLAK!"
Sebuah tamparan mengenai pipi Diah, terasa panas seperti tersengat ribuan tawon bahkan sejenak matanya berkunang-kunang, dia hampir terjatuh tapi lengan kirinya di cengkeram kuat oleh Bram.
"Kamu masih istriku, kewajibanmu adalah melayani suamimu!"
"Apakah kamu pernah memperlakukan aku sebagai istri? Apakah kamu pernah benar-benar menjadi seorang suami?" kedua tangan Diah mengepal dalam cengkeraman Bram, dengan wajah merah padam dan pipi kirinya membiru, Diah berusaha memberontak.
Selama ini, meskipun Bram berkelakuan seperti setan tapi tak pernah melepaskan tangan dan memukulnya tapi malam ini Diah benar-benar merasa dirinya hancur, hidupnya seakan-akan kehilangan arti lagi, saat pipinya itu di tampar oleh suaminya sendiri.
"Kenapa kamu begitu lancang sekarang Diah?" Bram menatap Diah dengan amarah, seolah amarah itu telah dibawanya sejak awal dan ketika menerima penolakan Diah amarah itu seperti lava di kawah gunung merapi, sampai pada titiknya untuk di semburkan. Diah adalah pelampiasan dari segenap kemarahan Bram yang sedang terkumpul dalam mangkok murkanya.
Meskipun Diah melotot padanya penuh perlawanan tapi Bram tetap memaksa Diah dengan menarik leher daster istrinya itu hingga robek memperlihatkan bahu Diah yang putih mulus meski dasar leher perempuan itu menggoa karena kurus.
Saat Diah berusaha menarik bajunya itu dengan gemetar, Bram mendorong Diah ke atas sofa dengan kasar, tak perduli kepala Diah membentur lengan kursi yang untung saja cukup empuk hingga tidak membuat Diah benar-benar kesakitan.
Tanpa memberi waktu Diah bangun kembali, Bram memeluk tubuh ringkih sang istri yang kurus karena menanggung sakit hati perbuatannya itu. Mulutnya menyesap dan menggigit leher Diah seakan ingin menunjukkan dominannya, laki-laki ini benar-benar seperti sedang kerasukan setan.
Daster yang dikenakan Diah sekarang hampir tak berbentuk, robek tercabik dibeberapa bagian, separuh buah dadanya menyembul, sementara bagian bawahnya tersibak hampir sepinggang.
"Jangan banyak bicara Diah, aku sudah muak dengan perempuan yang banyak bicara! setidaknya kamu menjadi penurut dalam hal ini saja!!!" Bram menggeram.
"Tidak sally, tidak kamu...semuanya bersikap seolah kalian adalah orang nomor satu! Aku ini laki-laki, meski mungkin aku tak punya apa-apa sekarang tapi jangan berteriak padaku!" Bentak Bram, mengoceh dengan suara tak jelas ujung pangkalnya, tampaknya dia baru saja habis bertengkar dengan pacar gelapnya itu, yang memeliharanya selama beberapa bulan ini.
"Meskipun aku sudah bangkrut, tapi aku masih punya ini!" Bram mengeluarkan alat vit*lnya itu di depan istrinya itu dengan muka merah padam, seolah dia benar-benar sedang gila.
Entah kekuatan dari mana, Diah dengan muka yang benar-benar jijik pada Bram, mendorong tubuh lelaki itu sekuat tenaga dari atas tubuhnya. Lalu berdiri sambil menutupi tubuhnya dengan sebuah taplak meja.
"Mas!! ini aku Diah! Bukan perempuan lacur selingkuhanmu itu...!!!"Akhirnya Diah berteriak keras dengan segenap kekuatan yang dihimpunnya. Selama ini dia tak pernah melawan pada Bram tetapi setelah pertemuannya dengan Sarah yang cuma beberapa menit itu entah mengapa dia mendadak mempunyai keinginan melawan yang tak bisa di jabarkan.
"Aku tidak sudi lagi, diperlakukan lebih rendah dari seorang pelacur olehmu! jangan samakan aku dengan setan betina yang menjadi temanmu berzinah itu!" Diah membeliak pada Bram yang terpana kepadanya. Seumur hidup perempuan yang telah dinikahinya tanpa perasaan cinta itu seperti peliharaan yang di cucuk hidung olehnya, menurut dan tak banyak bicara.
Dia begitu pasrah dan nrimo perlakuan Bram meski memakan semua ucapan kasar, umpatan sekaligus pengkhianatannya dan selalu melaksanakan semua tugas keistriannya bahkan saat di atas ranjang meski harus dia lakukan dengan sikap seperti gedebong pisang tak bernyawa.
"Diah? apa kamu sudah tidak waras?" Bram terkekeh sambil merapikan celananya, tiba-tiba tengkuknya meremang melihat tatapan Diah padanya, perempuan yang dia tahu selalu mencintainya itu.
"Aku sudah lama kehilangan kewarasanku sejak aku mengenalmu!"
(Tidak selamanya orang pasrah, ya kan😅 mudah2an bisa crazy UP hari ini yaaaah😂 Tuk kasih kopi, bunga, Vote untuk booster akak menulis☺️)
...Diah...
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......