
Doddy sudah menunggu Diah di lobby saat Diah turun dari lantai atas, di mana kantor Sarah berada.
Diah semula tak yakin dengan apa yang di katakan Doddy tadi malam, tetapi hari ini dia terpesona melihat laki-laki ini telah duduk di sofa tamu area lobby, dalam balutan stelan biru gelap yang terlihat rapih dan elegan.
Doddy tak menyadari kehadirannya karena sibuk dengan handphone yang sedang di pegangnya.
Dengan kikuk, Diah mendekat. Tanpa sadar menyeka rambut panjangnya ke belakang telinga, seperti seorang gadis muda yang sedang gugup mau bertemu dengan kekasihnya.
"Em...Assalamuallaikum..." Diah menyapa dengan suara pelan.
"Wallaikumsalam..." Doddy mendonggakkan kepalanya dengan tenang pada Diah yang berdiri tak jauh dari depannya.
"Maaf, membuatmu menunggu..."
"Aku baru saja tiba." Doddy berdiri dan tersenyum pada Diah.
"Bu Sarah dan Pak Raka sudah pulang?" Tanya Doddy sekedar basa basi.
"Bu Sarah jarang ke kantor sekarang, Pak Raka ada datang sebentar, tapi siang tadi keluar, ada meeting dengan relasi di luar sekalian makan siang. kamu ingin bertemu mereka?" tanya Diah sambil merapikan tali tas di bahunya.
"Tidak...cuma bertanya saja, kalau ada di sini, mungkin aku akan menyapa mereka sebentar. Takutnya terlihat kurang ajar, aku menculik pegawainya tanpa bicara."
"Aaa...ini sudah jam pulang." Sahut Diah malu-malu.
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang." Doddy mempersilahkan Diah berjalan lebih dulu menuju pintu.
"Kemana?" Diah bertanya penasaran.
"Sebentar lagi kamu tahu."
Diah menurut saja, dia tak lagi banyak bicara. Di dalam mobil pun Diah tak banyak bertanya, seperti halnya Doddy yang asyik di belakang stir.
"Aku sengaja datang hari ini, karena ingin melihatmu." Akhirnya kalimat itu di keluarkan oleh Doddy.
"Kalau kamu sibuk, seharusnya tidak perlu kemari. Pekerjaanmu lebih penting." Sahut Diah dengan bijak.
"Aku tahu pekerjaanku penting, tapi kadang-kadang masalah perasaan juga cukup penting." Jawaban itu terdengar datar tapi mampu membuat Diah tersipu sendiri.
Mereka berdua seperti pasangan yang baru saja bertemu karena dipaksa berjodoh, begitu canggung dan rikuh. Diah yang begitu membentengi diri jarena merasa statusnya tidak pantas untuk Doddy, sementara Doddy yang dingin dan tak banyak bicara itu sibuk tak terlalu pandai mengekspresikan perasaan.
"Aku ingin kamu mendengar ini..." Tiba-tiba Doddy menekan tombol play pada monitor di depan mereka, suara Doddy terdengar hangat memecah sunyi antara mereka, di ikuti suara alunan musik dan lagu yang mengalun,
Aku mengerti perjalanan hidup yang kini kau lalui
Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang menaklukankan hari-hari mu yang tak mudah
Biar ku menemanimu membasuh lelah mu
Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa
Biar ku lukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Hingga kau bahagia
Aku disini walau letih coba lagi jangan berhenti
Ku berharap meski berat kau tak merasa sendiri
Kau telah berjuang menaklukankan hari-hari mu yang tak indah
Biar ku menemanimu membasuh lelah mu
Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa
Biar ku lukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Hingga kau bahagia hah
Izinkan ku lukis senja
Mengukir namamu di sana
Mendengar kamu bercerita
Menangis tertawa
Biar ku lukis malam
Bawa kamu bintang-bintang
Hingga kau bahagia
Hingga kau bahagia
Lagu yang di lantunkan oleh Budi Doremi itu, sesaat membuat Diah terpaku.
Dan ketika lagu itu berakhir, Doddy mematikannya, seulas senyum tipis di bibirnya.
"Aku sudah pernah bilang, aku bukan orang yang bisa meramgkai banyak kata, tapi setidaknya lagu ini sedang mewakili perasaanku padamu, aku hanya mau mengatakan padamu, ijinkan aku melukis senja bersamamu..." Suara itu begitu lembut, dalam volume rendah tapi benar-benar menyusup sampai ke jantung Diah.
Tak pernah Diah melihat, tatapan semesra itu, yang dikirimkan Doddy lewat pandangannya.
Belum sempat Diah mengatakan apapun, mobil itu memasuki sebuah halaman mall.
"Kita sampai..." Doddy keluar dari mobil saat sudah terpakir tanpa memperdulikan wajah Diah yang bersemu merah.
Diah segera mendorong pintu mobil sebelum Doddy membuka pintunya, dia merasa tak enak jika selalu di bukakan pintu mobil terus, seolah-olah dia tuan puteri.
"Kenapa kita kemari?" Diah nampak bengong sendiri.
Doddy tak menyahut, tetapi tiba-tiba dia meraih jemari Diah, menggenggamnya lalu tanpa sempat Diah protes, Doddy sudah menggandengnya memasuki pudat perbelanjaan terbesar di kota ini.
Diah berjalan dengan wajah tersipu malu, merasa seperti pasangan remaja yang sedang di landa cinta.
Dada Diah sendiri bergemuruh kencang, seumur hidup Bram tak pernah melakukan ini padanya.
"Kita mau apa kemari?" Tanya Diah sambil berjalan mengikuti Doddy, berusaha mensejajari langkah laki-laki tampan itu.
Sesekali Diah melirik sekelilingnya, merasa takut jika orang menatap pada mereka. Tapi, tak ada yang benar-benar terlihat memperhatikan mereka dalam keramaian itu. Akhirnya Diah Pasrah saja di gandeng Doddy menuju lantai atas menaiki sebuah eskalator.
"Kamu tidak pernah kemari?" Tanya Doddy sambil mengernyit dahinya, telapak tangan laki-laki itu terasa hangat saat menyatu dengan telapak tangan Diah.
"Pernah, tapi dulu saat masih SMA." Jawab Diah polos.
Bukan karena dia tak punya uang tapi dia tak punya waktu untuk sekedar jalan-jalan, selama menikah dengan Bram. Jika tanpa kepentingan dia tak akan pergi meninggalkan anak-anaknya. Dunianya saat menikah begitu kecil, bahkan mungkin langkah kakinya bertahun-tahun bisa di hitung jumlahnya.
Mereka sampai di depan sebuah toko pakaian dengan brand terkenal, Doddy membawanya masuk.
"Aku ingin kamu memilih semua pakaian yang kamu suka." Di lepasnya tangan Diah yang berdiri mematung.
"Eh, kenapa begini? aku tidak ingin berbelanja" Diah menolak dengan raut terkejut.
"Aku akan membelikanmu semua barang yang kamu suka, aku ingin calon istriku berdiri dengan percaya diri di depan orangtuaku besok malam."
"Hah...besok malam? Bukankah kamu bilang bulan depan?" Diah terperanjat, matanya tak berkedip memandang Doddy karena terkejut.
"Mama dan papa menghadiri pernikahan Grace dan Dion lusa malam, Dion itu anak kolega papaku." Jawab Doddy dengan santai.
"Jadi kuputuskan mempertemukanmu dengan mereka besok malam, di rumahku pada saat makan malam. Bukankah lebih cepat lebih baik?" Nada bertanya itu sama sekali tak membutuhkan jawaban lebih lanjut, karena Doddy sudah memutar tubuhnya, berjalan menuju sudut toko duduk santai di sebuah sofa empuk itu.
"Mbak, tolong layani calon istriku ini, memilihkan beberapa baju yang cocok untuknya. Karena dia sudah cantik, aku mau dia tampil elegan dan anggun. Besok malam dia akan bertemu calon mertuanya." Doddy menyeringai pada dua orang pramuniaga yang segera menghampiri Diah, sementara Diah masih menatap Doddy dengan raut terkejut yang tampak nyata di permukaan wajah cantiknya.
(Yuuuuk VOTE mumpung senin nih😅, biar othor double UP hari ini🤗🤗 Siapa tahu ada readers kesayangan yang tidak sabaran ikut Diah kenalan sama mama Doddy😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...