Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 140 PACAR BARU RASA LAMA


Sarah menoleh ke jam dinding, sudah menunjukkan jam setengah 11 siang, pantas saja dia mulai merasa perutnya berbunyi.


Hampir setengah jam lebih Jen tidak kembali setelah ijin membawa baby Rae turun ke bawah tadi.


Mungkin Jen dan pegawai butik yang sering di sebut Sarah sebagai anak-anak itu sedang keasyikan bermain dengan Rae.


Dengan enggan Sarah meraih handphone, dia harus menelpon Jen, barangkali Rae lapar atau malah ketiduran sekarang.


HPnya berbunyi sebelum sempat dia menelpon Jen, matanya terpicing menatap siapa yang menelpon. Sebuah panggilan dari Grace.


"Hallo, Grace...ada apa?"


"Sar, kamu sudah dapat laporan yang ku titip dengan Jen?" Suara Grace yang riang seperti biasa, terdengar dari seberang.


"Ya, sekarang aku sedang memeriksanya." Jawab Sarah sambil menaikkan alisnya.


"Ooooh...kamu di mana sekarang?"


"Aku sedang di butik ini."


"Eh, kamu di butik? Coba bilang tadi, biar aku ke sana juga." Grace bersungut.


"Ayok, kebetulan, aku ada di Butik sekarang. Kita lama tidak bertemu, makan siang di resto depan, yuk." Ajak Sarah.


"Emmm...tidak bisa sekarang." Grace terdengar menyesal.


"Kok, tidak bisa?"


"Aku...aku..." Grace tampak terdengar ragu.


"Kamu kenapa?"


"Aku sekarang lagi bersama seseorang." Grace terdengar malu-malu.


"Bersama seseorang?"


"Em...kami berdua sedang ada janji dengan mamaku. Makan siang di rumahku." Jawab Grace, suara semakin malu saja.


"Waaaah....kamu sedang serius dengan seseorang, nih." Sarah terkekeh.


"Ah, aku juga pengen punya baby Rae seperti kamu." Sambut Grace sambil tertawa.


"Kalau mau punya Baby ya harus kawin, punya suami dulu. Jangan main-main melulu." Sarah tergelak.


"Ya, sepertinya dia serius, dan lagi mama sudah kenal juga. Ku rasa tidak ada salahnya, menjajali dengan serius."


"Kamu sekarang dengannya?"


"Iya..." Sahut Grace setengah berbisik.


"Kenalkan padaku." Goda Sarah.


"Kamu sudah sangat kenal dengannya." Pungkas Grace


"Itu Danis, ya? Bukannya kamu sudah putus sama Danis? " Tanya Sarah sedikit ragu.


"Atau jangan-jangan kamu comeback sama Danis, nih?" Sarah mengernyit dahinya. Dia tahu, Danis dan Grace telah berpacaran hampir dua tahun dan selalu putus nyambung tak jelas.


Danis adalah seorang model dan sedikit playboy memang, beberapa kali membuat masalah dengan Grace karena menjalin affair dengan sesama model.


"Bukan Danis..." Sahut Grace.


"Pacar baru?" Sarah merasa benar-benar ketinggalan informasi dari sahabat baiknya ini.


"Pacar baru, rasa lama." Tandas Grace setengah bercanda.


"Maksudnya?" Sarah menjadi semakin bingung.


"Aku berpacaran dengan...Dion."


Sarah hampir tersedak mendengarnya.


"Kamu berpacaran dengan Dion?" Sarah bertanya dengan raut surprise.


"Aku dari kemarin ingin memberitahumu, tapi sepertinya situasinya sedang tidak memungkinkan." Grace terkekeh.


Sarah masih melongo tak bisa berkata apa-apa,


dia benar-benar tidak menyangka Grace akhirnya melabuhkan hatinya pada Dion, mantan pacar sesaat Sarah.


"Sar...Dion ingin mau berbicara denganmu..."Tiba-tiba suara Grace terdengar sedikit bimbang.


"Berbicara denganku?" Sarah bengong mendengarnya, dia merasa tidak siap berbicara dengan laki-laki yang pernah di sakitinya karena kelabilannya pada saat di awal pernikahannya dengan Raka.


"Apakah boleh?" Tanya Grace.


"Oh, Iya...sebenarnya..." Sarah tergagap.


"Hallo..." Suara khas Dion di seberang telah menggantikan suara Grace.


"Oh, hallo, Yon...selamat, yaaaa..." Sarah menyambut dengan suara yang dibuat seriang mungkin, dia tak bisa bohong, merasa tidak enak jika berbicara dengan Dion. Dia masih merasa bersalah pada laki-laki yang pernah begitu keras mengejar cintanya itu.


"Terimakasih, Cay." Bahkan Dion tak pernah lupa dengan panggilannya kepada Sarah.


"Aku dan Grace, berencana untuk bertunangan di akhir tahun ini. Kami berdua mengharapkan kehadiranmu dan Raka." Suara Dion terdengar begitu tenang.


"Tentu saja, aku pasti yang pertama harus datang. Pokoknya, kabarkan hari dan tanggalnya, Aku dan Raka akan menghadirinya." Sarah merasa benar-benar bahagia, saat akhirnya Dion memilih Grace untuk menjadi orang yang akan mendampinginya.


Dua orang ini adalah orang terdekat dan terbaik yang pernah ada dalam kehidupannya.


"Terimakasih, Cay...do'akan aku dan Grace segera bisa membawa hubungan kami ke gerbang pernikahan." Dion terkekeh.


"Tentu saja, Yon...aku adalah orang yang paling bahagia mendengarnya. Do'aku kalian akan berbahagia selalu! Pokoknya aku berdo'a semua yang terbaik untuk kalian berdua." Sambut Sarah dengan riang.


"Okey, ini hampir sampai rumah Grace, doakan calon mertuaku itu tidak segalak biasanya, ya." Dion berucap sambil tertawa.


"Ih, tante Riana orang yang paling baik, mana pernah galak." Sarah menyambut selorohan Dion dengan tawa.


"Tapi dia suka galak kalau ketemu denganku, ceramahnya panjang dan lebar." Sahut Dion, membuat Sarah semakin tergelak.


"Ya, sudah...ini Grace..."


"Hallo, Sar..."Sekarang di seberang suara Grace kembali.


"Selamat, ya Grace....selamat. Pokoknya, kalian berdua ter the best..." Sarah benar-benar tak bisa mengungkapkan kebahagiannya untuk pasangan sahabat baiknya itu.


"Sttt....makasih ya, Sar...sudah dulu, ya. Nanti ku telpon lagi. Bye Sar."


"Bye Grace." Sahut Sarah sebelum panggilan itu terputus.


Sarah masih terpaku menatap handphonenya, dia benar-benar terharu. Sungguh dia selalu menganggap Dion adalah orang yang baik, teman yang baik buatnya. Terasa menyenangkan saat akhirnya Dion menyadari jodoh terbaik yang sunggu-sungguh mengerti dirinya adalah Grace, orang yang selalu ada di hampir semua musim hidupnya.


Sarah melirik ke Jam dinding, dia hampir setengah jam ternyata ngobrol di telpon dengan Grace dan Dion, wajah Rae membuatnya teringat kalau Jen belum kembali membawa bayi kesayangannya itu.


Sebelum Sarah memencet nomor kontak Jen, tiba-tiba Jen masuk menerjang pintu dengan raut merah padam, nafasnya terengah-engah,


"Mam...!!" Jen berteriak sambil mengatur nafasnya, dia seperti baru saja dikejar hantu.


"Kenapa denganmu, Jen?" Sarah berdiri tegak di depan meja kerjanya, bingung menatap Jen.


"Mam, dia...dia memaksa mengambil Rae dariku!" Jen menunjuk ke arah pintu.


"Dia siapa?" Sarah mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dimana sesaat kemudian pintu ruangan terbuka lebar dan di sana berdiri seseorang yang membuat Sarah terbeliak dengan tegang.


(Yeaaay, hari ini akak othor double UP untuk Sarah dan Raka😅 Senangnya, akhirnya bisa double UP🤭 Jangan lupa yang belum VOTE, untuk memberikan votenya buat novel ini, supaya othor semangat double UP lagi besok😆😆 Love You sekebon tetangga buat semua readers kesayangan❤️❤️)




...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...