
Mereka tiba di apartemen Raka menjelang sore.
Raka sepertinya suka sekali membuatnya berkeliling tidak jelas, membawa kopernya kesana kemari. Setelah turun dari kereta, Raka membawanya naik bus. Berapa kali halte, Raka tetap tidak membawanya turun.
Rasanya, mereka hanya berkeliling kota Leiden saja, berputar-putar menggunakan bus.
Di Leiden ternyata jika ingin travelling sangat mudah, selain mengandalkan aplikasi yang ada agar tidak tersesat, sepertinya dapat pula melihat papan informasi yang tersedia di tiap-tiap stasiun. Papan itu memuat informasi ihwal jenis kereta dan jadwal keberangkatan.
Di dalam pengamatan Sarah, semua kereta api, bus, dan trem juga selalu ada layar informasi yang menampilkan stasiun ataupun halte yang akan dilewati selanjutnya.
Sebenarnya, tak perlu khawatir terlewat stasiun ataupun halte yang dituju.
Sarah tahu semua itu biarpun dia baru pertama kali menjejakkan kakinya di kota Leiden, hanya saja dia malas ribut dengan si wajah dingin yang sok sibuk mengerjakan sesuatu dengan tablet yang di bawanya dalam tas tangannya.
Mungkin saja dia sedang asyik mengerjakan tugas di dalam bus, untung saja kota Leiden, benar-benar kota yang indah, begitu memasuki kotanya, saya langsung merasakan atmosfir historis masa lalu.
Mata Sarah dimanjakan oleh kanal, museum, dan kafe-kafe yang terpampang dari balik kaca bus.
Kota ini tidak terlalu luas. Yang membuatnya menjadi ramai, salah satunya adalah Universitas Leiden (Universiteit Leiden) yang cukup ternama, tempat Raka sedang menuntut ilmu, yang merupakan universitas tertua di Belanda, yang di datangi mahasiswa dari berbagai negara di penjuru dunia.
Selama ini, Sarah tidak pernah naik kereta api atau pun bus umum, fasilitas yang dipunyainya dari kecil membuatnya asing dengan kendaraan-kendaraan tersebut.
Tapi hari ini, dia merasa sensasi yang luar biasa dan menyenangkan. Dia merasa bebas dan segar, meskipun baru saja tiba, masih penat dengan belasan jam berada dalam pesawat.
Pemandangan yang di suguhkan oleh kota Leiden benar-benar setimpal dengan rasa lelahnya.
Apartemen Raka dari bangunan kayu yang klasik, cukup luas dan terkesan cukup sederhana, jika di lihat dari kemampuan finansial Raka tentu saja ini terasa senjang. Dia adalah salah satu anak orang terkaya di Surabaya tapi dia memilih hidup sederhana di kota asing ini.
Apartemen yang bersih itu ada dua lantai. Ruang bawah adalah ruang santai, meja makan dan dapur yang lengkap dengan perlengkapan memasak. Sementara kamar tidurnya ada di lantai atas.
Sarah menarik kopernya menuju kamar, ketika Raka menunjukkan tangga menyuruhnya membawa naik semua barangnya.
Raka benar-benar tambah parah, tak punya perasaan sama sekali, Sarah dengan susah payah membawa kopernya ke atas.
"Di sini tak boleh manja ya, harus lebih mandiri, kita jauh dari orangtua." Kata Raka sambil nyengir.
"Kita merasakan hidup sederhana di sini. Jadi jangan manja." Ucapnya di telinga Sarah sambil lewat menuju dapur sebelum Sarah menaiki tangga.
"Aku bukan anak manja...!" Sarah menjawab dengan wajah masam.
Lalu dengan wajah kesal menarik kopernya menuju ke atas.
Ketika dia membuka kamar di lantai atas, matanya sejenak berputar-putar terpana.
Kamar itu tidak luas, dan di dalamnya lah membuat Sarah bingung, kamar itu hanya berisikan satu tempat tidur ukuran besar, sebuah karpet tebal tidak terlalu besar nuansa oranye nampak kontras di atas lantai kayunya, sebuah lemari baju cukup besar menempel di dinding. Dan sebuah sofa bulat kecil di sudut jendela. Selebihnya tak ada furniture apapun.
Kamar ini dengan atap yang rendah, rasanya kalau tidur seperti berada di loteng saja.
Sempat terpikir olehnya bagaimana nanti mereka berdua berbagi tempat dengan ruangan seperti ini tapi kemudian Sarah tidak perduli lagi, di mana atau bagaimana nanti mereka tidur, yang pasti sekarang dia perlu mandi.
Di dalamnya ada sebuah wastafel, bathup, shower pada satu ruangan. Hanya ada tirai tipis yang memisahkan bathup itu dengan perlengkapan lain.
Benar-benar minimalis, Sarah benar-benar merasa begitu bertolak belakang dengan kehidupan Raka di Surabaya yang begitu lux dan mewah.
Dengan senyum lega, Sarah merendam dirinya di dalam Bathup. Membuang semua kelelahannya. Baru terasa badannya begitu pegal dan penat setelah perjalanan panjang ekstra keliling-keliling tak jelas tadi.
Sebuah ketukan di pintu kamar mandi membuat Sarah hampir terlonjak.
"Ya...!" Sarah yakin itu Raka, karena cuma mereka berdua yang berada di dalam apartemen ini. Dia sama sekali tak mendengar jika Raka naik ke atas, mungkin karena dia begitu menikmati berendam di air hangat ini.
"Aku ada urusan keluar, kamu makan saja, di meja sudah ku pesankan makanan untukmu. Kunci saja pintu tidak perlu menunggu aku pulang, aku punya kunci duplikatnya."
Lalu terdengar langkah menjauh dan menuruni tangga.
Usai bermalas-malasan di kamar mandi, Sarah turun ke bawah, menggunakan dress tidur yang panjang sampai semata kaki. Dia terbiasa kalau berbagi kamar dengan Raka selama menginap di rumah orangtua Raka, menggunakan pakaian seperti itu.
Di atas meja sudah tersedia sepiring sosis yang dipotong-potong bersama bermacam sayur yang di tumbuk kasar sepertinya.
Sarah tahu menu khas belanda ini, disebut stamppot. Meskipun belum pernah di makannya, hanya pernah dilihatnya via internet, karena Sarah suka memasak, jadi cukup sering melihat-lihat laman ulasan tentang makanan.
Sarah makan sendiri, pikirannya menerawang keliling dunia memikir nasibnya yang sengaja melemparkan dirinya ke tempat laki-laki yang dulu benar-benar sangat tidak di sukainya ini.
Dia merasa mungkin kedatangannya ini benar-benar tidak diinginkan oleh Raka, tidak ada kehangatan sama sekali di dalam penyambutannya.
Raka malah terkesan begitu acuh dan menjaga jarak.
Sebelum berangkat dia berfikir, Raka sedikit banyak akan menjadi lebih manis padanya dan jika memang dia mempunyai perasaan yang sama seperti perasaan Sarah sekarang tentunya Sarah akan berusaha lebih berani mengungkapkan isi hatinya kalau dia tidak ingin meneruskan rencana perceraian mereka.
Dia ingin Raka memberinya kesempatan untuk melanjutkan pernikahan mereka dan mengatakan dengan jujur apapun yang terjadi kalau dia baru menyadari bahwa hatinya telah menjadi milik Raka. Dia mencintai suaminya itu.
Tapi entahlah, apa yang dialaminya hari ini membuatnya menjadi bimbang bahwa mungkin dirinya telah terlalu tinggi berharap, dia hanyalah bertepuk sebelah tangan.
Sebuah ketukan di pintu menyadarkan Sarah dari lamunannya, Raka ternyata pulang lebih cepat dari perkiraannya. Mungkin dia bisa berbicara dengan Raka malam ini, menuntaskan semuanya, supaya dia tidak perlu merendahkan dirinya lagi di depan Raka.
Dengan langkah perlahan Sarah menuju pintu dan membukanya.
Dua orang yang berpandangan sama tercengang karena rasa terkejut.
Sarah mendapati seorang gadis tinggi berisi dengan rambut pirangnya yang bergelombang, berdiri di depan pintu, gadis itu pernah di lihatnya tiga hari yang lalu bergelayut manja di leher Raka, saat video call dengannya.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...