Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 109 AKU TAK MENGENALMU LAGI


"Sally?" Sarah terpana melihat sang adik yang menghadangnya itu.


"Senangnya jadi kamu...sekarang kamu memiliki segalanya...!" Nada Suara itu terdengar tinggi, penuh rasa dengki.


"Semua yang menjadi milikku telah kamu rampas! Tunanganku, kebahagiaanku dan sekarang bahkan papa juga telah kamu rebut dariku!!" Sally mendekat selangkah, tangannya berkacak di pinggangnya yang ramping.


"Aku tak mengambil siapapun darimu." Sarah mundur, menjauh dari hadapan pintu lift.


"Jangan sok tak tahu apa-apa, Sarah. Hari ini bahkan papa berteriak kepadaku dan hampir memukulku, hanya karena aku menyebut kamu perempuan ******. Papa tak pernah mencoba menamparku seumur hidupku, sampai hari ini, dia melakukannya hanya karena membelamu!" Mata Sally membeliak, amarah seperti sedang bergolak di hatinya.


Sarah tercengang menatap Sally, mencoba mencerna asal muasal kemurkaan adiknya malam ini.


"Sally tenangkan dirimu, tidak perlu terlalu berlebihan." Tegur Sarah dengan suara bergetar.


"Berlebihan? Aku berlebihan?" Sally terkekeh sambil menunjuk wajahnya sendiri.


"Papa tak akan keras padamu, jika kamu tidak memulainya." Sarah membela sang papa.


"Semua gara-gara kamu, Sarah! gara-gara kamu." Tuding Sally.


"Bahkan entah bagaimana caramu mengguna-gunai Rakaku, sampai-sampai aku menerima penghinaan yang luar biasa di Leiden! Aku sangat mengenal Raka, dia tidak begitu...dia sangat sayang padaku..."Suara geram Sally setengah meratap.


"Kamu tak pernah sadar, Sally. Tak pernah sadar sama sekali. Sekarang semuanya sudah tak sama lagi."Sahut Sarah dengan suara sedikit di rendahkan, ketika dua orang tamu keluar dari pintu lift tampak kebingungan melihat mereka berdua berdebat di depan lorong menuju pintu Lift.


"Aku sadar sepenuhnya, Sarah. Bahwa kamu sedang ingin membalas perlakuanku dulu. Kamu kakak yang jahat!" Sally berteriak kepada Sarah.


"Dan sekarang..." Sally menunjuk ke arah perut Sarah yang membuncit.


"Kamu bahkan segera mempunyai seorang bayi haram! Oh, kakakku yang manis, andai kamu tahu seberapa besar aku membencimu!!!"


Mata Sally yang besar dan merah itu berkaca-kaca menatap kepada Sarah.


Sarah mundur selangkah lagi, dengan reflek tangannya menutupi perutnya seperti sedang melindungi sesuatu.


"Sally, dengarkan aku. Kamu tidak harus berlaku seperti ini. Aku tak pernah mendendam apapun padamu. Raka bukan barang yang harus kita perebutkan lagi, dia telah memilihku, dia adalah suamiku dan dia adalah ayah dari calon anakku." Nada suara Sarah terdengar tajam dan lugas.


"Lihatlah dirimu Sarah...kamu menjadi besar kepala sekarang. Kamu menganggap dirimu lebih dari aku, padahal kamu hanyalah anak pungut!" Cerca Sally dengan tatapan memicing.


Sarah tak berkedip, dadanya seperti di hempas dengan batu. Perasaan siapakah yang tidak akan hancur mendengar perkataan sedemikian menyakitkan yang di ucapkan dengan sangat kasar.


Sarah mungkin hanya anak yang di adopsi karena di tinggalkan begitu saja, tapi rasanya ketika di sebut sebagai anak pungut, terasa begitu perih menusuk hati.


Tidak perlu di ucapkan, Sarah tahu diri siapa dirinya. Tapi dia tidak merasa pantas untuk di cerca.


"Sally! tolong jaga bicaramu!" Ucap Sarah getir.


"Aku tak perlu bersikap baik padamu, maling!" Teriak Sally ketus.


Sarah merasakan kepalanya berat mendadak, rasa pusing mendera, perdebatannya dengan Sally sungguh menguras tenaganya. Seorang pegawai hotel lewat, tampak sedikit bingung dengan dua perempuan yang sedang bersitegang itu. Dia segera turun sepertinya keributan itu, membuatnya segera menghubungi lobby untuk memanggil security.


Beberapa yang turun naik menggunakan lift, mengira sedang ada perkelahian dua orang perempuan karena sang istri yang mengamuk pada selingkuhan suaminya.


Orang-orang yang kebetulan lewat keluar atau masuk lift memandang heran pada mereka berdua. Tapi Sally benar-benar tak perduli.


Dia lebih mendekat lagi kepada Sarah, tatapannya penuh intimidasi.


"Aku benar-benar membencimu, Sarah. Aku membencimu...!!"Dia mendekat, sampai-sampai Sarah terdorong ke dinding, tak bergerak terjebak oleh Sally.


"Sally...ada apa denganmu? Aku adalah kakakmu?" Sarah mendorong tubuh Sally, supaya bisa menjauh. Rasa takut mendadak membuatnya tegang.


Wajah Sally benar-benar menunjukkan kebencian padanya.


"Aku bukan lagi adikmu, Sarah. Aku bukan adikmu lagi!" Teriak Sally.


Mata Sarah terasa panas, embun menghiasi matanya yang bening bulat itu, dia berusaha tidak menangis dalam rasa putus asa. Adiknya, yang dulu selalu disayanginya dalam keadaan apapun, membencinya begitu rupa karena menginginkan suaminya, sungguh menyakiti hatinya.


"Kamu anak pungut, bahkan ayahmu sendiri membencimu! Kamu..."


Muka Sally yang merah padam, mendelik pada Sarah, tangannya terangkat hendak menampar wajah Sarah, melampiaskan amarah.


"Dan aku lebih membencimu Sally!" Sebuah tangan kuat mencengkeram pergelangan tangan gadis itu, yang datang tiba-tiba dari sampingnya.


Mata Sarah yang memeluk dirinya sambil bertahan di dinding, sempat reflek terpejam, membuka mendengar suara laki-laki yang sangat di kenalnya.


"Jangan pernah mengangkat tanganmu lagi pada istriku. Jangan sekalipun kamu berani mencobanya lagi."


Raka menghempaskan tangan Sally dengan kasar, bahkan tubuh Sally terjajar beberapa langkah sampai di depan pintu lift.


Tepat saat seorang security dan dua orang pegawai hotel termasuk manejer hotel juga tiba dari pintu lift yang terbuka lebar.


Seorang pegawai hotel paling depan menahan tubuh Sally yang oleng hampir jatuh. Tapi dengan marah Sally melepaskan diri, dia menatap lurus tak percaya dengan perlakuan Raka padanya.


Raka meraih tubuh Sarah ke pelukannya, menenangkan istrinya yang gemetar.


"Jika kamu berani melakukannya lagi, maka kamu akan tahu, seperti apa kebencianku padamu, Sally. Aku cukup bersabar padamu, hanya karena memandang kakakmu yang menjadi istriku.


Tapi...kamu benar-benar tak punya rasa malu lagi. Hidupmu bahkan tak lebih berharga dari sampah di mataku." Raka benar-benar tak bisa menahan diri, kata-kata itu keluar begitu saja tak terkendali dari mulutnya.


"Cukup sudah kamu menghina Sarah, aku tak akan tinggal diam mulai sekarang jika kamu melakukannya. Bahkan aku tak mengijinkan lagi kamu mendekatinya." Raka mengacungkan jari telunjuknya kepada Sally, mengisyaratkan kesabarannya telah hilang.


"Maaf pak Raka, Ada apa ini, ya...? " Manajer Hotel yang datang itu cukup mengenal Raka sebagai salah satu pemilik hotel itu, bertanya dengan pias bingung dan serba salah. Ayah Sally juga adalah salah satu pemegang saham, yang notebene pemilik hotel ini juga.


"Putri pak bos ini sedang mabuk, tolong urus dia. Suruh seseorang mengantarnya pulang." Jawab Raka kemudian sambil membimbing Sarah menuju pintu lift yang di bukakan oleh salah satu pegawai.


"Kamu jahat, Raka...! Kamu Jahat...!!!" Sally berteriak kepada Raka, air mata turun seperti hujan. Tangannya meraih pundak Raka, berusaha menahan laki-laki, mantan tunangannya itu.


"Jangan berani menyentuhku dengan tangan kotormu itu. Tak pantas kamu melakukannya pada suami orang lain." Raka menepisnya tanpa perasaan.


Sarah tak bisa berkata apa-apa, air matanya turun tak kalah derasnya, hatinya benar-benar terluka dengan kata-kata dan perlakuan Sally padanya.


"Aku tak mengenalmu lagi..." Kalimat terakhir itu keluar dari bibir Raka sebelum pintu lift tertutup, membawanya dan Sarah.


Sally terduduk di atas lututnya, dia menangis sejadi-jadinya, seperti seorang anak yang di tinggal mati ibunya. Dia tak punya rasa malu lagi, orang yang dicintainya telah menghinanya di depan orang banyak. Dia tak perduli pada mata yang menatapnya di sana, karena dia benar-benar putus asa dan terluka.



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...