
Sehabis makan malam, Sarah dan Raka bersantai sejenak di ruang keluarga bersama papa dan mama.
Raka tampak serius sekali membicarakan sesuatu dengan papa, sementara Sarah tampak sedang mendengarkan mama memberikan wejangan bagaimana menjaga kehamilan, apa-apa saja yang boleh dan tidak dilakukan, makanan minuman apa yang harus di hindari.
Mama memang sangat berpengalaman seperti tentang itu.
Sayangnya, Sarah sedikit tidak fokus dengan semua yang dijelaskan mama, matanya beberapa kali mencuri pandang pada Raka yang tengah berbicara dengan papanya.
Sarah tahu benar, ada sesuatu yang menganjal di fikiran suaminya itu. Tidak biasanya dia bersikap begitu pendiam sehabis pulang dari berburu cendol tadi. Wajahnya sedikit murung.
Dia mengurung dirinya di dalam kamar kerjanya di sebelah kamar sepanjang sore hingga malam.
Jika tidak Sarah naik dari dapur untuk menyuruhnya mandi sebelum turun makan malam, mungkin dia sampai sekarag masih berada di dalam ruangan itu.
Sarah tak tahu apa yang membuat sikap Raka mendadak berubah aneh seperti itu tapi dia berharap bukan karena Raka ambil hati dengan tingkah cerewetnya yang telah menyusahkan suaminya itu sepanjang siang ini.
Jam dinding menunjukkan jam 09.32 WIB, ketika tiba-tiba Raka berdiri dari duduknya.
"Sepertinya, Raka harus naik lebih dulu, mata Raka sudah tak mau kompromi."Kalimat itu tentu saja tidak sesuai dengan kondisi wajah Raka yang masih kelihatan segar, hanya saja dia terlihat tidak terlalu bersemangat.
"Sayang, aku naik duluan ya."Raka menepuk bahunya lembut ketika lewat dimana Sarah sedang duduk bersama mama di sebuah sofa bed tempa mama biasa bersantai.
Sarah mendonggak kepada wajah murung Raka, tapi sang suami segera mengalihkan wajahnya dan mencium pipi mamanya,
"Selamat malam, ma." Raka berucap pendek sebelum kemudian menaiki anak tangga tanpa menoleh lagi.
"Sayang..." Mama memanggil Sarah, memecah keheningan.
Sarah yang masih tercenung menatap ke arah tangga segera mengalihkan pandangan pada mama.
"Ya, ma..."
"Ada apa dengan kalian?"
Pertanyaan mama tentu saja membuat Sarah merasa kebingungan.
"Kalian bertengkar?" mama mengernyit dahinya.
"Tidak, ma...kami tidak sedang bertengkar." Jawab Sarah sambil menggelengkan kepalanya. Dia sendiri merasa bingung dengan sikap Raka yang mendadak begitu aneh.
"Raka sepertinya sedang mempunyai sedikit masalah kalau begitu." Mama menepuk punggung tangan Sarah yang bertaut di atas pangkuannya sendiri.
Sarah tidak menjawab, hanya menunduk sedikit membiarkan matanya menjelajahi ujung jari kakinya.
"Kamu mencemaskan suamimu?" Pertanyaan lembut mama begitu pelan tapi serasa menjalar sampai ke relung hatinya.
Sarah mengangkat wajahnya, dia sekarang tak harus menyembunyikan kekhawatirannya di depan mama, orang tua ini bahkan mungkin sudah lebih tahu bagaimana isi hatinya sekarang.
"Tidak perlu mencemaskan hal-hal yang masih belum kamu tahu pokok permasalahannya. Jika dia memilih diam tak membicarakannya padamu, mungkin itu memang bukan masalah yang harus melibatkanmu. Biarkan dia memikirkan jalan keluarnya sendiri. Seorang suami diam bukan berarti dia mengacuhkanmu, tapi bisa saja dia hanya sedang perlu waktu untuk memecahkan sendiri masalahnya." Mama tersenyum menenangkan Sarah.
"Tapi, dia bisa membicarakannya padaku, ada apa, meskipun aku mungkin tak bisa membantu, supaya aku tidak bingung sendiri." Sarah menyahut dengan suara gamang.
"Laki-laki adalah manusia dengan ego tertinggi, mereka bukan orang yang peka terhadap hal-hal yang melibatkan perasaan. Kadang mereka bahkan tidak sadar kita sedang menangis di belakang punggung mereka, karena mereka terlalu fokus dengan diri sendiri dan fikiran mereka. Tapi, jangan pernah menghakimi mereka untuk kelemahan mereka yang satu ini, karena begitulah laki-laki diciptakan, menanggung beban tanggungjawab sebagai kepala keluarga. Memastikan keluarganya baik-baik saja, itu lebih penting bagi mereka daripada sekedar melihat atau memperhatikan perasaan orang meskipun mungkin itu adalah istrinya."
"Jangan bertanya, jika mereka tidak sedang ingin membicarakannya, karena kita tidak akan mendapat jawaban kalau kita mendesak mereka apalagi jika bersikap dengan curiga. Tunjukkan rasa perduli saja, sampai mereka sadar, kita sedang ada di samping mereka dan siap untuk mendengarkan jika mereka perlu tempat untuk membagi beban." Senyum mama merekah ketika mendapati mata bulat Sarah menatapnya tak berkedip.
"Sebagai seorang istri, kadang memang kita merasa cemas, itu hal yang wajar...tapi jangan sampai kecemasan kita membuat kita menyimpan kecurigaan tanpa alasan atau bahkan menuduh hal-hal yang belum tentu kebenaran. Bara yang kecil jika di tiup akan menjadi besar. Jangan melakukan hal yang tidak perlu. kadang sedikit cemburu mungkin bisa dikatakan sebagai tanda cinta, banyak cemburu bisa jadi malapetaka."
Sarah sekarang benar-benar termangu menatap mama, bahkan hal yang sekecil itu dia tahu, bahwa sebersit cemburu sempat menyinggahi benaknya atas sikap yang aneh Raka sepanjang sore ini.
"Tenang saja, sayang...mereka akan baik-baik saja, selama mereka tahu, kita mencintai mereka. Nanti, dia akan berbicara sendiri, hanya mereka sedang perlu waktu."
Sarah menganggukkan kepalanya, sekarang dia merasa lebih tenang.
"Naiklah ke atas, mama tahu sekarang fikiranmu sekarang sedang ada di sana, di kepalamu hanya ada wajah suamimu itu, tentunya..." Mama terkekeh menggoda.
Sarah tersipu mendengar ucapan mama, tapi dia tidak bisa berkelit. Hatinya seperti ditelanjangi oleh ibu mertuanya itu.
Sarah pamit kepada mama dengan malu-malu.
"Sarah naik dulu, ma." Di kecupnya pipi wanita yang baik hati ini, sekarang perasaan lebih tenang.
Sarah membuka pintu kamar yang tidak terkunci. Kamar itu sepi, lampu terang benderang. Dan di atas tempat tidur, seprai masih licin rapi menunjukkan tempat tidur kosong itu belum di tiduri sama sekali.
Sarah mengganti pakaiannya dengan dress tidur tipis. Menuju kamar mandi, membersihkan wajahnya dan menyikat gigi. Ketika dia kembali, Raka masih belum masuk ke dalam kamar.
Lalu, dengan sedikit ragu, Sarah mengetuk pintu ruang kerja Raka.
"Ya..." Suara berat Raka dari dalam ruangan itu membuat Sarah sedikit gugup.
Sarah membuka pintu perlahan, berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyum.
Raka duduk di belakang meja kerjanya yang temaram, wajahnya yang muram itu terpantul oleh cahaya lampu meja. Raka segera melipat laptopnya dan mengarahkan pandangannya kepada Sarah.
"Sayang, belum tidur?" tanya Sarah.
"Belum mengantuk." Jawab Raka, pendek.
"Tadi, kamu naik cepat karena mengantuk, kukira sudah tidur." Sarah mendekat mencairkan suasana.
"Ada sedikit pekerjaan yang belum selesai jadi aku selesaikan dulu sebentar."
"Sayang...jangan memforsir dirimu terlalu keras, menjadi lelah dan sakit tidak sebanding dengan semua usahamu." Sarah berdiri seperti arca yang cantik, dengan dress pendek tipis di seberang meja kerja Raka, seperti siluet dalam temaram.
Raka menatap lurus kepada Sarah, begitu dalam dan lama dalam keheningan.
"Sayang, kita harus bicara...." Akhirnya suara Raka terdengar serak, memecah sepi.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru...