Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 135 DIA BERHAK BAHAGIA


"Kita sebenarnya bermain catur atau sedang membicarakan apa?" Papa angkat Sarah melipat tangannya di atas dada.


"Kita berbicara tentang hidup kita yang sesungguhnya...dan tentang sebuah rahasia yang ingin kukatakan sekarang, entah kamu akan memaafkan atau membunuhku setelah mendengarnya. Tapi, aku tak ingin membawanya sampai aku mati..." Ayah Sarah menegakkan tubuhnya yang ringkih, sambil menelan ludahnya yang tiba-tiba terasa sangat pahit.


Papa angkat Sarah menyandarkan punggungnya di kursi makan itu, menatap lurus ke wajah adiknya yang kini terlihat lebih tua dari dirinya, selaksa penderitaan telah membuatnya merenta lebih cepat.


Ayah Sarah memegang bidak raja miliknya sendiri.


"Sebenarnya tak ada yang istimewa dari seorang raja kecuali dia terlihat lebih tinggi dari yang lain, entah itu pion, menteri atau bidak apapun dari tempat yang berlawanan bisa saja membuatnya mati. Seperti kegagalan kita dalam hidup ini bisa berawal dari apa saja meskipun kita merasa kita begitu tak terkalahkan. Kita bisa di jatuhkan bahkan dari hal yang menurut kita begitu sepele.


Dan aku...telah mengalaminya, mengalami kegagalan hidup hanya karena hal yang ku anggap begitu sepele." Ayah Sarah mengerjapkan matanya yang mengabur oleh air. Ada yang terasa perih di sana.


"Aku tahu, kamu menghilang begitu lama, hanya karena seorang perempuan dan frustasi karena di tinggalkan mendiang istrimu. Tapi untuk hal itu aku tidak mempermasalahkannya sekarang, apalagi Sarah telah begitu berlapang dada menerimamu kembali. Lupakan saja masa lalu itu, tidak perlu melihat ke belakang lagi." Suara papa angkat Sarah begitu tenang dan berkesan sangat menghibur.


"Aku tidak akan pergi begitu lama jika hanya karena hal itu..." Ayah Sarah menyahut getir.


"Apa maksudmu?"


"Aku hanya tak ingin membuat segala sesuatu berantakan karena ulahku..."


"Apa yang tidak ku tahu, Winarta?" Papa Sarah menyorongkan tubuhnya ke depan dengan alis berkerut.


"Aku pergi karena satu alasan."


"Kenapa?"


"Karena istrimu."


Jawaban pendek ayah Sarah membuat Papa Angkat Sarah tercengang, sejenak dia mematung menatap ke arah adik kandungnya itu.


"Karena Mytha?"


Ayah Sarah bungkam seribu bahasa, tapi matanya menatap begitu dalam dengan matanya yang cekung kepada kakaknya.


"Kenapa dengan Mytha?" Pertanyaan itu bergetar sampai di telinga ayah Sarah.


"Karena dia, sangat ingin menghancurkanku..."


"Kenapa? ada apa antara kamu dan Mytha?"


"Aku dan Mytha, melakukan satu kesalahan di masa lalu...yang mungkin tak termaafkan."


"Apa maksudmu?!"


"Saat aku mabuk di pesta ulang tahunmu."


Papa angkat Sarah menegang dinatas kursi, wajahnya merah hampir membiru.


"Apa...apa yang terjadi?" Pertanyaan itu meluncur dengan gemetar sementara kedua tangannya nengepal di atas meja.


"Kami melakukan hubungan tak senonoh di dapur rumahmu." Pengakuan itu seperti petir yang menyambar muka papa Angkat Sarah.


Bahkan, tanpa sadar dia berdiri dari duduknya dengan wajah membara antara marah dan tak percaya.


Ayah Sarah diam, menunduk di tempatnya, dia tampak sudah siap dan pasrah dengan reaksi papa angkat Sarah itu.


Semua masalah, pada akhirnya harus di hadapi. Dia sudah lelah berlari, dia letih menghindari untuk ketakutan hari ini.


Sekarang, dia tak sanggup lagi untuk terus mencoba bersembunyi, karena pengorbanannya sungguh terlalu besar untuk memeluk ketakutan ini sepanjang hidup.


Dia mungkin akan di benci dan di tinggalkan, dia mungkin akan di pukul sampai mati, tapi setidaknya dia tak perlu takut lagi.


"Jangan bercanda Winarta! Meskipun Mytha bukan ibu yang baik, tapi sebagai istri dia tidak pernah mencoba mengkhianatiku."


"Bahkan, karena aku menolaknya untuk melakukan hal itu lagi, dia menjebakku dalam sebuah kamar dan mengambil foto seolah kami berdua berselingkuh darimu." Suara ayah Sarah tak lagi gamang, sekarang dia mengucapkannya tanpa gemetar lagi.


Ketakutan seseorang ketika sampai pada puncaknya, yang tersisa adalah keberanian.


"Winarta!"


"Dia mengatur pernikahanku dengan adik sepupunya yang bahkan semua orang tahu, jal*ng dan liar itu, kamu tahu mengapa, Wijaya? Karena dia ingin menutupi hubungan kami di baliknya, dia mengatakan, setelah aku menikah maka kami berdua tetap bisa melakukan perselingkuhan di belakangnya."


Papa angkat Sarah terjajar ke belakang, hingga kursi di belakangnya itu terjatuh.


Sarah berlari dari kamar, beberapa lama dia meninggalkan mereka berdua di dapur untuk menjenguk Rae yang sedang tidur sendiri. Suara kursi jatuh itu membuatnya cemas.


Papa angkat Sarah yang berdiri gemetar membuat Sarah sejenak terpana.


"Papa kenapa?" tanyanya dengan khawatir.


"Jangan mengada-ngada."


Ayah Sarah menatap kepada Sarah yang berdiri memegang lengan papa angkatnya itu, menahannya supaya tetap berdiri tegak.


"Kamu tahu kenapa, bahkan saat anakku yang masih merah telapak kakinya itu kutinggalkan padamu?" tanya ayah Sarah, dia tetap duduk tak bergeming di kursinya.


"Semua karena Mytha...dia membayar semua biaya perawatan Viani selama sakit dan koma di rumah sakit, dia membayar semua biaya perawatan Sarah sesaat setelah di lahirkan, dengan sebuah perjanjian bermeterai, bahwa aku menyerahkan bayi kami ke dalam pengasuhannya."


Sejenak ayah Sarah mengatur nafasnya yang memburu, dia tampak begitu lemah, karena emosinya yang terkuras.


"Untuk seorang sopir, uang 180 juta itu terlalu berat untuk membuatku bisa berfikir waras, apalagi saat kehilangan isteriku. Kebodohanku yang terbesar adalah meninggalkan bayiku pada Mytha! Aku yakin, dia tak pernah memperlakukan Sarah dengan baik untuk dendam kesumatnya padaku."


Ayah Sarah mengangkat wajahnya yang pucat, airmatanya meleleh di pipinya.


Papa angkat Sarah menatap nanar dari tempatnya berdiri, dia tidak menangis, atau mungkin dia bingung dengan apa yang di dengarnya.


Lututnya gemetar tapi Sarah memeluk papa angkatnya itu dari belakang.


"Papa..." Sarah menahan tubuh papa angkatnya yang begitu shock.


Ayah Sarah beranjak dari kursinya, dia berjalan dengan terhuyung-huyung mendekati Kakaknya yang mematung dengan bibir kelu. Matanya sekarang nyalang tak berkedip pada adiknya itu.


Ada kemarahan, ada luka, ada sakit hati, ada rasa iba, ada rasa benci yang semuanya menyatu di mata itu.


"Aku meminta maafmu, untuk semuanya...meskipun aku tahu ini tak termaafkan..."Ayah Sarah tersungkur di depan kaki kakaknya.


"Ayaaaah...!" Sarah terpekik karena terkejut dengan apa yang di lakukan ayahnya.


"Aku tahu, aku tidak pantas mendapat maafmu, untuk semua dosa yang kulakukan padamu. Sebagai adik aku sungguh malu mengakui bahwa aku adalah saudara yang bej*t. Aku tak akan membela diriku atas apapun yang telah ku lakukan, aku siap di hukum olehmu." Ayah Sarah membungkuk memegang buku kaki kakaknya.


"Hanya, jangan pernah timpakan dosaku pada anakku. Tolong...aku mohon, jangan pernah ceraikan Sarah dari suaminya. Dia berhak bahagia." Airmata seorang ayah luluh lantak, pada saat dia mencium kaki orang yang telah mengasuh anaknya itu.


Dia mencium dengan ikhlas kaki papa angkat Sarah dalam permohonan terakhir yang bisa di lakukannya. Permohonan untuk kebahagiaan anaknya.


Ayah Sarah tak sadarkan diri dalam keadaan bersimpuh dan mencium kaki papa angkat Sarah, tanpa pernah mendengar apakah dirinya di maafkan atau tidak.



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...