Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 235 AKU JUGA MINTA MAAF


Sarah menatap gadis yang kini duduk meringkuk di ujung ruangan besar itu.


Dia seperti seseorang yang begitu ketakutan.



"Sally..." Sarah memanggilnya dengan sedih. Sudah seminggu sejak pemakaman mamanya, Sally tak berkata sepatah katapun, kecuali memanggil nama mamanya.


Sally menatap kosong pada Sarah seperti anak kecil yang gugup.


"Sarah, pergilah...nanti mama marah kalau kamu masuk ke kamarku." Usirnya sambil mengibaskan tangannya seakan menyuruh Sarah segera keluar.


"Sally, jangan begini terus..." Sarah mendekat tetapi Sally semakin merapat ke sudut. Bersembunyi di balik rambutnya yang berantakan.


"Mama datang...mama datang...!" Sally menunjuk ke arah pintu. Sarah menoleh, tak ada seorangpun di sana kecuali papa yang berdiri di dekat bed tidurnya.


"Mama datang, dia mencarimu Sarah...mama akan menghukummu!" Teriaknya dengan keras..


Sarah tak bisa menahan rasa sedihnya melihat keadaan Sally yang semakin tidak baik itu.


"Nak..." Wijaya mendekati anaknya itu dengan perlahan.


"Maafkan papa." Dia berjongkok memegang bahu Sally untuk berdiri bersamanya.


"Papa...mama tidak suka Sarah! Suruh Sarah pergi." Dia memeluk papanya dengan wajah takut dan memelas. Semua kenangan dan ingatan masa kecilnya sepertinya sedang bermain di kepalanya, tak bisa di filternya dengan benar.


"Maafkan papa yang telah menutup mata untukmu selama ini. Maafkan papa yang telah membuatmu harus begini. Papa telah mengabaikanmu begitu lama." Pelukan itu begitu lebar dan kuat, merengkuh tubuh ringkih Sally yang belum sampai dua minggu sudah menjadi begitu ringkih.


"Papa...Sally sayang papa, Sally takut mama..." Dia memeluk leher papanya dengan manja.


Betapa terenyuh hati Sarah melihat keadaan Sally sekarang yang tak menyisakan sedikitpun tentang kepongahan, keangkuhan dan segala hal yang membuatnya menjadi perempuan cantik yang manja.


"Sarah...dua minggu lagi papa akan kembali ke Kanada. Papa akan berkonsultasi dengan psikiater bagaimana cara supaya bisa membawa adikmu bersamaku. Aku akan merawatnya di sana. Banyak hal yang telah ku lewatkan tentang adikmu ini. Aku akan menebusnya, dengan menjaganya sepanjang sisa hidupku." suara Papa Sarah terdengar serak, terus memeluk Sally yang bergelayut di lehernya sambil memainkan telinga sang papa seperti anak kecil yang sedang bermain dengan papanya.


Dokter mengatakan Sally mengalami gangguan mental karena berbagai hal sehingga berpengaruh pada emosi, pola pikir, dan perilakunya.


Semua waham atau delusi muncul dimana dia meyakini sesuatu yang tidak nyata atau tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Semua itu tumpang tindih dengan halusinasinya dimana dia merasakan sensasi seolh melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu yang sebenarnya tidak nyata.


Hal tersebut membuat suasana hatinya berubah-ubah dalam periode tertentu. Perasaan takut, cemas dan sedih yang berlangsung hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun itu terakumulasi dengan semua sikap yang bertentangan dengan hatinya karena dipaksakan untuk bersikap arogan oleh sang mama.


Dua pribadi yang muncul bergantian sewaktu-waktu, kemanjaan yang nyaman, rasa tunduk yang tak terkendali, ketergantungan yang berlebihan. Sakit, dendam, baik dan buruk bahkan tak lagi bisa di bedakannya.


Perilaku Sally menjadi cenderung tidak wajar, seperti berteriak-teriak tidak jelas, berbicara dan ketakutan bahkan tertawa sendiri adalah manifestasi dari semua emosinya.


Sarah hanya menunduk, dia tahu inilah akhir dari semua kemelut kehidupan keluarganya. Mereka telah sampai pada titik, bertanggungjawab atas semua perkara yang di ciptakan, semua berkaitan, tak ada yang luput dari kesakitan dan karma di dunia. Cepat atau lambat.


Hukum Tuhan selalu ada, tetapi percaya atau tidak percaya, hukuman itu tidak hanya menunggu roh kita bertemu sang penciftanya saja tetapi saat kita berada di duniapun kita akan menanggungnya, dalam bentuk sebuah karma.


Semakin kita berusaha menyakiti orang lain, semakin kita menggali hukuman untuk diri kita sendiri.


"Aku juga minta maaf..." Bisik Sarah, sambil memeluk papanya dan Sally.


Hidup akan terus berjalan, meski kaca mungkin sudah retak tetapi mempertahankannya supaya tidak berkeping adalah hal terbaik meski mungkin takdir yang tertulis tak mungkin diperbaiki dengan jari.



(Ini sketsa wajah author, hi..hi jadi malu🤭 Salam kenal dari akak author, ya buat para readers kesayangan...jangan lupa tetap di novel ini, meskipun beberapa episode lagi tamat, tapi ekstrapartnya sudah siap lho akan akak post setelah tamat...jadi jangan unfav, ntar Diah sama Doddy kecewa, lho😅😅)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....