Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 104 MELEPASKAN AKAR PAHIT


Raka melepaskan pelukannya, menggandeng tangan istrinya itu dengan mesra menuju sofa tamu, di mana laki-laki berwajah sedikit menegang itu berdiri dengan kikuk.


"Maaf sayang, jadi kamu yang harus kemari gara-gara aku tidak bisa jemput, ada beberapa klien yang datang, dan ini juga ada yang tamu mau bertemu." Ucap Raka dengan raut penuh sesal.


Laki-laki dengan pakaian rapi dan penampilan macho itu mencuri pandang kepada Sarah yang berjalan dalam langkah pendek itu, berusaha menyembunyikan tatapan terpesona dan terkejut dalam waktu bersamaan.


"Sayang, ini adalah arsitek yang menangani rumah kita, pada draff awal proposal dia sudah di rekomendasi oleh Home Arch . Tapi karena aku sudah membatalkan kerjasama yang melibatkan ibu Tania, rasanya aku perlu kamu memeriksanya." Raka menarik tangan Sarah.


"Perkenalkan ini istri saya, Sarah..."


Raka melingkarkan tangannya di bahu Sarah dengan santai.


Laki-laki itu menjulurkan tangannya dengan ragu, tapi Sarah sama sekali tidak memberi respon untuk menyambutnya.


Sarah memalingkan wajahnya dan menatap kepada Raka sambil tersenyum.


"Aku sudah mengenalnya, sayang...namanya Egi Prasaja."


Laki-laki bernama Egi itu menurunkan tangannya yang mengambang di udara karena di acuhkan oleh Sarah begitu saja, wajahnya memerah merasa seperti dipermalukan dengan sengaja.


"Oh, ya...kamu mengenalnya?" Raka menaikkan alisnya seolah itu begitu surprise, padahal dia tahu benar inilah laki-laki brengsek yang menjadi mantan pacar istrinya itu di masa lalu.


"Ku harap, dia masih mengenalku, sayang. Ataukah mungkin aku terlalu jelek sehingga sangat mudah di lupakan." Sarah tertawa kecil serupa sindiran.


"Hey, istriku ini adalah perempuan tercantik di dunia, yang mengatakan nyonyaku ini jelek mungkin dia harus berhadapan denganku." Raka terlihat begitu serius sambil dengan sengaja menyeka helaian rambut Sarah yang jatuh di dahinya, kali ini sungguh dengan cara seperti seseorang yang begitu mengagumi wajah istrinya itu.


"Pak Egi, maaf kalau boleh tahu, sejak kapan telah mengenal istri saya?" Raka mempersilah Egi duduk, dan menarik Sarah duduk merapat kepadanya. Kemesraan itu membuat Egi seperti di dudukkan di atas bara.


Egi merasakan jantungnya berdegup di bakar perasaan aneh, saat melihat Raka memperlakukan Sarah dengan begitu lembut dan protektif.


"Oh, iya...Sarah eh ibu Sarah ini...saya mengenalnya sebagai teman kuliah." Egi menyahut terbata-bata.


"Oooh, teman. Syukurlah hanya teman, pak Egi. Maklumlah, istri saya ini perempuan yang sangat istimewa, dia cantik, pintar dan sangat baik. Jadi kadang-kadang saya sedikit naif, takut sekali jika banyak yang mencintainya di masa lalu. Pak Egi tahu sendiri kan, orang seperti istri saya ini, pasti banyak yang menyukainya." Raka terkekeh sambil menyentuh dagu Sarah lembut.


Wajah Sarah merona, dia tidak tahu apakah Raka sedang berakting atau benar-benar sedang cemburu pada Egi, tapi sikap Raka menjadi sedikit aneh.


Handphone Raka tiba-tiba berbunyi, saat melihat nomor kontak yang menelpon, Raka mengambilnya.


"Eh, maaf , aku tinggal sebentar, aku harus menerima telpon dari seorang kolega. Ada sesuatu yang harus di diskusikan." Raka beringsut, memegang bahu istrinya sesaat,


"Silahkan kalian ngobrol dulu."


Lalu terdengar Raka menyambut telpon, menyambut dalam bahasa inggris yang fasih, nampaknya koleganya itu dari luar negeri, sebelum dia menyelinap ke balik pintu ruangan.


Sarah menatap sesaat kepada Egi, semua kenangan tentang laki-laki di depannya ini tiba-tiba berlompatan, tiba-tiba rasa muak menyusup ke kepalanya. Mengingat bagaimana Egi memberinya harapan dan menghempaskannya begitu saja.


Kemudian, mengingat Tania dan Raka bermain di belakang punggungnya, perutnya mendadak menjadi mual. Siapapun tidak akan merasa senang saat berhadapan dengan orang yang telah mencuranginya.


Dia sesungguhnya tidak mempunyai perasaan apa-apa lagi pada Egi, tapi sedikit banyak tetaplah tidak menyenangkan berhadapan dengan orang yang telah mengkhianati kita.


"Sarah...aku benar-benar minta maaf." Itulah suara pertama Egi, memanggil namanya setelah sekian tahun menghilang dengan bersikap seolah-olah tidak mengenal Sarah, setelah berselingkuh dengan temannya sendiri.


"Oh, maaf untuk apa, ya?" Sarah mengerutkan keningnya.


"Aku benar-benar menyesal kalau pernah..."


"Aku sudah melupakannya, jangan kuatir." Sarah menyela sambil tersenyum datar.


"Karena aku tak pandai mengingat hal-hal yang tak penting dalam hidupku."Kalimat itu seolah membakar telinga Egi seketika.


"Jika kamu masih marah karena aku pernah menyakitimu, aku memahaminya..."


"Tidak perlu bersikap seolah kamu mengerti tentang perasaan oranglain, karena seorang pengkhianat tak akan punya tenggang rasa untuk hal semacam itu. Bodoh jika aku memelihara kemarahanku untuk orang seperti itu." Sarah menghela nafasnya dengan santai.


"Aku tidak punya waktu untuk mengingat masa lalu, karena aku telah mempunyai kehidupan yang luar biasa bahagia bersama orang yang mencintai saya dengan benar. Jangan terlalu tinggi menilai masa lalu kita, karena antara aku dan kamu, ku anggap tidak lebih dari sebuah pengalaman buruk. Itu saja." Nada yang mengalir dari kalimat panjang itu, benar-benar tanpa rasa sama sekali.


Egi menatap tak percaya pada Sarah, begitu banyak perempuan polos yang di kenalnya dulu telah berubah.


"Oh, iya...aku juga ingin jujur padamu tentang satu hal, aku tidak suka kamu terlibat dalam kehidupanku bahkan dalam hal sekecil apapun. Terlebih untuk merancang rumah masa depan yang akan aku tinggali bersama suami dan anak-anak saya kelak."


"Maaf, harus meninggalkan kalian sebentar, untunglah kalian sudah saling mengenal." Raka meletakkan ponselnya di atas meja kembali.


Egi tampak benar-benar salah tingkah.


"Sayang, kamu mau melihat proposalnya?" Tanya Raka tiba-tiba, meraih sebuah proposal.


"Aku tidak berminat lagi." Tiba-tiba Sarah menyahut tajam. Bahkan tanpa melihat proposal yang ada di tangan Raka.


"Aku mau menunda pembangunan rumah ini sampai setelah aku melahirkan saja." Suara Sarah hanya dalam volume rendah saja, tapi membuat Egi merasa langitnya bergoncang.


Proyek ini begitu di harapkan Egi, bahkan saat bosnya pak Agra mengatakan terancam batal karena ulah Tania, dengan besar hati dia berusaha membujuk Kliennya ini kembali yang tak pernah Tania ceritakan kalau boss besar yang di sebut-sebut oleh Pak Agra itu adalah suami Sarah!


"Kenapa begitu?"Raka mengernyit dahi, melihat Sarah yang menatapnya tanpa ekspresi.


"Aku hanya tidak ingin saja. Apakah perlu alasan, saat kita tidak menginginkan sesuatu lalu tidak mau melanjutkannya? Tidak semua hal perlu alasan, jika kita tidak menginginkannya. Bukankah begitu pak Egi?" Sarah melemparkan senyum sinisnya pada laki-laki yang pernah mempermainkan hatinya ini.


Egi menundukkan wajahnya, tidak pernah menyangka menerima perlakuan sesinis ini dari Sarah, yang dia tahu cenderung pasrah dan tak banyak bicara.


Tak ada sedikitpun sisa kepolosannya di masa lalu, Sarah sudah bukan orang yang sama lagi.


"Jika tidak ada hal yang penting sayang, aku akan menunggu di lobby. Segeralah turun, karena aku tidak mau terlalu menunggu lama." Sarah melingkarkan tangannya di leher Raka, tersenyum manja pada suaminya itu didepan mata kepala Egi, lalu melenggang menuju pintu keluar tanpa menunggu jawaban apapun dari Raka.


Saat Sarah benar-benar sudah keluar, Raka mengalihkan pandangannya kepada Egi dengan sorot mata yang tajam. Semua sikap ramah yang ditunjukkannya sedari tadi berubah drastis, menjadi tatapan seseorang pada musuhnya.


"Aku mencintainya dan nafasku terasa sesak saat memikirkan ada orang yang tega menyakitinya." Suara itu terdengar begitu dingin dari mulut Raka.


Tiba-tiba dia berdiri, menarik kerah baju Egi, menariknya supaya berdiri sejajar dengannya.


Raut wajahnya mengeras, menunjukkan kelebat rasa tak suka yang kentara.


"Aku tahu benar siapa dirimu." Suara Raka terdengar menggeram. Wajah Egi merah padam, tak menyangka mendapat perlakuan sekasar ini dengan mendadak dari Raka.


"Tidak ada kerjasama apapun yang akan terjadi antara kita." Raka melepaskan cengkeramannya.


"Aku orang yang tidak suka pada laki-laki pengecut yang tidak setia, apalagi tega mengkhianati perempuan. Laki-laki semacam itu tidak lebih dari sampah." Raka menepuk-nepuk bahu Egi seolah-olah sedang membersihkan sesuatu, kemudian dengan elegan menyerahkan proposal dari atas meja ke tangan Egi.


"Aku tidak berharap bertemu denganmu lagi." Ucap Raka, lalu berjalan menuju pintu dan membukakannya, mengusir tamunya itu dengan terbuka.


Egi tak pernah merasakan perlakuan seperti ini, di mana dirinya merasa di rendahkan secara bertubi-tubi serta dipermalukan oleh perempuan yang dulu pernah dicampakkannya.


Raka berdiri dengan kaku, menunggu laki-laki yang dibenci dan di cemburuinya diam-diam karena pernah menyakiti dan mencintai istrinya di masa lalu itu keluar dari ruangannya.


Dia sebenarnya sudah tahu, Egi adalah kekasih Tania yang direbutnya dari Sarah di masa lalu, hanya saja dia tak ingin istrinya itu merasa canggung dan bersalah padanya jika dia bersikap mengenalnya.


Raka hanya ingin memberikan kesempatan kepada Sarah untuk menuntaskan sakit hatinya yang mungkin masih bersisa, dengan begitu dia berharap istrinya tidak menyimpan apapun lagi yang menjadi akar pahit dalam hatinya saat melangkah kedepan bersama Raka.


Membebaskan perasaan dendam dan sakit hati, hanya dilakukan dengan berani menghadapinya dan menyelesaikannya.


Dan satu hal yang mungkin bisa kita ingat sebagai pegangan ketika hati kita tergoda untuk berbuat curang terhadap pasangan kita, seseorang yang meraih kebahagiaannya dengan mengkhianati orang yang mempercayainya, tidak akan pernah benar-benar bahagia pada akhirnya.


Orang yang tidak setia akan menerima pengkhianatan yang sama pada waktunya


Bagaimana dia mendapatkannya, begitu pula dia akan kehilangan, karena itulah karma sebuah perbuatan.


(Yang ingin berkenalan dengan Egy, akak kasih visualnya ya😀 Gantengan mana dengan babang Raka? cocokan mana sama Sarah, Egi apa babang Raka?😅


Oh, iya maaf telat UP, author rempong sedikit sibuk di kehidupan nyata hari ini, jadi nulisnya malam-malam. Untuk membayarnya part kali ini akak panjangin dua kali dari biasanya, biar puas membacanya🤣)


Jangan lupa vote, like, komen, dan semua bentuk dukungan untuk novel ini. Nantikan episode selanjutnya yang lebih seru.



...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...