Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EKSTRA PART. IJIN B3RCINTA


"Hari ini adalah hari pertama kita berada di rumah sendiri." Doddy menyambut pakaian yang di angsurkan Diah kepadanya.


Doddy baru saja keluar dari kamar mandi dan dia masih saja merasa tak biasa di layani oleh Diah.


"Ya, rasanya menyenangkan." Diah menyahut dan mengambil handuk dari tangan Doddy.


"Lebih menyenangkan lagi, setiap hari melihatmu begini." Sahut Doddy, sambil memandang punggung sang istri yang berjalan menuju kamar mandi, mengantarkan handuk yang dipakai Doddy.


Doddy mempunyai kebiasaan selalu keluar membawa handuknya, sebelum dia merasa tubuhnya benar-benar kering, dia tetap memakai handuknya. Itu adalah kebiasaannya dari kecil, sefikit aneh menurut Diah tapi itulah suaminya itu.


Banyak hal-hal aneh dan sifat atau kebiasaan seseorang akan keluar saat mereka sudah menikah dan benar-benar tinggal bersama.


"Apakah kamu sudah makan malam?" Tanya Diah saat kembali lagi setelah mengantarkan handuk Doddy, suaminya itu baru pulang dan langsung mandi.


"Sudah. Aku makan di resto setelah bertemu EO untuk melihat ballroom yang di pakai untuk resepsi." Sahut Doddy sambil mengenakan T'shirt yang diberikan Diah tadi.


"Oh..." Diah menatap Doddy, yang ditatap ternyata sedang memandang dirinya.


Diah sudah keluar dari apartemen Sarah sebagai tempat tinggalnya setelah bercerai dari Bram.


Hari kedua kepulangan mereka dari Umroh Doddy telah memindahkan semua barang-barang Diah dan Bella.


Di Surabaya orangtua Doddy memang mempunyai rumah pribadi, beberapa hunian real estate yang menjadi aset.


Rumah keluarga Doddy yang satu komplek dengan keluarga Wijaya kadang-kadang merupakan tempat mereka pulang jika sedang berada di Surabaya dan sekarang rumah itu dipilih Doddy untuk menjadi tempat tinggalnya dengan Diah. Doddy menyukai lingkungannya yang asri, di dalam salah satu permukiman orang kaya di Surabaya.


"Terimakasih...sudah membawa kami berdua Bella kemari." Diah buru-buru mengalihkan pandangannya dari tubuh sang suami, dia masih begitu sungkan melihat Doddy bertelanjang dada di depannya.


"Itu sudah kewajibanku sebagai suami. Sekarang ini adalah rumahmu. Apa yang aku miliki, itu adalah milikmu." Doddy tersenyum sambil merapihkan rambutnya.


"Maafkan jika aku tadi melewatkan makan malam, setelah dari kantor Raka aku langsung memeriksa semua persiapan untuk resepsi pernikahan. Sepertinya mama benar-benar bekerja keras untuk melaksanakan resepsi itu." Doddy tertawa kecil.


Mama Doddy mengatur semua rencana resepsi mereka sepulang Umroh dengan meminta sekretaris pak Ferdian mengurus semuanya termasuk Wedding organizer ternama yang di tunjuk membuat acara itu berlangsung eksklusif.


Doddy dan Diah sepenuhnya menpercayakan semua itu kepada sang mama yang begitu antusias, mereka hanya terlibat dalam mencocokkan pakaian saja dan beberapa detil termasuk undangan tamu.


Mama Doddy sangat kooperatif meminta Diah memilih beberapa macam souvenir dan jalan acara yang mungkin ingin di tambahkan Diah tetapi Diah benar-benar blank soal itu.


Diah merasa sangat awam di dunia orang kelas atas, dia tidak terlalu tahu bagaimana yang cocok dengan selera para tamu, dengan bantuan mama Doddy, semua hal terasa sangat ringan, tak ada yang oerlu dia kuatirkan lagi.


"Tidak apa-apa, yang penting kamu sudah makan...tidak masalah di manapun." Sahut Diah sembari merapikan sepray yang sudah licin itu, dia selalu saja salah tingkah setiap akan menaiki tempat ridur bersama Doddy.


Bukan karena dia tidak tahu cara melayani suami tetapi karena dia masih begitu canggung kepada Doddy, dia takut terlalu agresif dan membuat kesan yang salah, Diah benar-benar tak berani memulainya.


Setelah menikah mereka memang tidur satu ranjang tetapi selama umroh mereka bersepakat untuk tidak melakukan kontak fisik berlebihan, tetapi sekarang mereka telah kembali ke tanah air, tak ada yang membuat mereka harus menunda malam pengantin mereka.


"Aku harap begitu..." Diah naik ke tempat tidur dengan hati-hati.


"Diah..." Tiba-tiba Doddy memegang lengan Diah.


"Aku tiba-tiba ingat apa yang di katakan Raka tadi pagi." Ujar Doddy terdengar sedikit canggung.


"Yang mana?" Diah masih terlentang sambil menarik selimutnya dengan gugup.


Diah merasa tubuhnya seperti di setrum. Biasanya mereka berdua akan mengobrol sebelum tidur bahkan kadang Doddy memeluknya diam-diam saat dia mulai terlelap.


Tapi kali ini berbeda, Doddy memegang tangannya dengan begitu erat, membuat telapak tangannya yang dingin itu menempel di kulit Diah yang lembut.


"Soal sorga dunia itu, bagaimana rasanya? aku sedikit penasaran..."Suara Doddy sedikit tertahan, dia sedikit ragu mengutarakannya.


"Ah..." Diah menggigit bibirnya sendiri, tiba-tiba dia merasa tegang sendiri.


"Apakah...apakah kita boleh melakukannya? Eh...apakah kamu siap kita melakukannya?" Pertanyaan yang terdengar serak dan sedikit gugup itu keluar dari bibir Doddy, membuat Diah serasa kejang. Lebih serupa permintaan ijin.


Doddy benar-benar tidak berpengalaman.


Diah membalikkan badannya dan mereka berdua bertemu pandang tak berkedip.


"Kamu adalah suamiku sekarang, kamu boleh melakukan apapun padaku." Diah menelan ludahnya untuk membasahi kerongkongannya yang telah kering.


"Suami tidak perlu minta ijin untuk menyentuh istrinya..."



(Lanjutannya malam ini, yaaa...othor lagi tarik nafas dulu, makan dulu...baru nulis lagi😅 part agak hot ini, jadi perlu ekstra imajinasi🤣)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia, kalian adalah kesayangan othor🤗 i love you full....


Jangan Lupa VOTEnya yah untuk mendukung novel ini, biar othor tetap semangat menulis😂🙏🙏🙏


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...