Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
BAB 160 ANTARA PENTING DAN UTAMA


Sarah menatap ruangan komisaris yang di wariskan papanya itu padanya. Ruangan besar itu, dua kali lebih besar dari ruangan Raka. Ruangan papa Sarah ini bersebelahan tepat dengan ruangan papa Raka, karena pada lantai yang sama.


"Aku tidak mau menempati ruangan ini..." Sarah berucap dengan ragu sambil berbalik kepada Raka.


"Kenapa?" Raka mengerutkan keningnya.


"Aku lebih menyukai ruanganmu." Jawab Sarah pendek.


"Ibu komisaris mau bertukar ruangan?" Goda Raka, membuat Sarah cemberut.


"Jangan memanggilku seperti itu, atau malam ini daddy undur-undur kubiarkan tidur di luar."


"Eh, kok jadi serius begini ancamannya?" Raka tertawa melihat istrinya yang semakin masam saja wajahnya.


"Kamu sekarang adalah bosku, lho." Raka mengedipkan matanya dengan genit.


"Hey, sayang... aku kan sudah bilang jangan panggil aku boss!"


"Boleh dong, sekali-kali menggoda boss sendiri." Raka terkekeh.


"Punya boss secantik ini, tidak heran bawahan bisa betah sampai bela-belain ronda di kantor." Lanjut Raka sambil mesem-mesem.


"Tidak lucu, akh!" Sarah menyahut dengan kesal kepada Raka.


"Tenang saja, di kantor kamu adalah atasanku tapi di rumah kamu tetap adalah istriku, jadi mommy undur-undur tetap jadi bawahan daddy ya...apalagi kalau kukuk sudah lapar..." Raka tergelak.


"Urusan kukuk selalu nomor satu." Sarah menarik sudut bibirnya, manyun.


Ini adalah hari pertama Sarah mulai turun ke kantor secara resmi.


Sebenarnya Sarah enggan menerima tugas ini dan lagi dia sama sekali tidak berpengalaman di bidang property seperti ini, apalagi perusahaan ini sangat besar, dia tidak tahu harus mengerjakan apa.


Jika urusan mendesain pakaian dan mengurus butik, Sarah mampu memikirkannya tapi menangani perusahaan sebesar ini dia merasa buta huruf sama sekali.


"Aku mau pulang saja." Sarah merapikan rambutnya yang hitam, setengah merajuk kepada Raka.



"Sayang..." Raka tiba-tiba memeluk Sarah dari belakang.


"Papa telah mempercayakanmu tugas ini, jadi belajarlah menjalaninya supaya papa tak menyesal telah menyerahkan tanggungjawab sebesar ini kepadamu."


"Tapi, kesepakatannya kan' aku cuma atas namanya saja, yang menjalankannya kamu, sayang..."


"Aku tidak tahu apa-apa soal pekerjaan ini."


"Aku akan mengajarimu pelan-pelan, tenang saja gurumu yang ganteng ini sudah punya lisensi sabar menghadapi kecerewetan mommy undur-undur."


Sebuah cubitan mendarat di pinggang Raka.


"Aku tidak pernah cerewet tapi kamu sering membuat kesal."


"Iya...iya..." Raka tertawa di telinga Sarah sambil mempererat pelukannya.


"Aku bukan orang yang cepat belajar."


"Aku akan bersabar membimbingmu, sayang...jangan sampai mamamu membuatmu kalah."


Sarah sejenak terpaku, dia tahu Raka benar, dia tak boleh pasrah saja, jika tak ingin pengorbanan papanya ini sia-sia. Meskipun dia tahu, Raka akan melakukan apapun untuk mengerjakan bagiannya tetapi jika dia tak tahu apa-apa, maka mama angkatnya itu akan selamanya menganggapnya tidak becus.


"Satu saja masalahnya sekarang yang paling sulit di atasi, kalau ada kamu di sini, bisa susah konsentrasi." Raka menggoyang-goyangkan badan Sarah dalam pelukannya dengan sayang.


"Sudah ku bilang kan, aku pulang saja."


"Maksudku, kalau kamu di sini, aku akan sibuk memandangmu, lupa membaca proposal atau dokumen pekerjaan."


Sarah tersipu malu dengan pipi yang seperti baru saja di cubit, mendengar kelakar suaminya itu.


"Aku nantinya, tetap akan lebih banyak di rumah dari pada berada di kantor, Rae lebih penting bagiku." Ucap Sarah kemudian dengan lirih dan terdengar serius.


"Itu sudah pasti sayang, Rae adalah hal terpenting bagi kita berdua. Semua pekerjaan ini mungkin penting tapi anak lebih utama. Kita bekerja sekuat tenaga demi masa depan anak, jika anak dan keluarga terlantar karena pekerjaan, maka segala sesuatunya akan menjadi sia-sia." sahut Raka dengan bijak.


"Seorang istri boleh bekerja dan berkarier tapi jangan melalaikan tugas utamanya sebagai ibu. Aku tidak akan melarangmu andai kamu berambisi menjadi perempuan mandiri sekalipun, hanya satu pintaku jangan menelantarkan aku dan Rae. Karena jika kami kehilangan perhatian dan kasih sayang darimu, mungkin akan menjadi peluang celah hubungan kita menjadi renggang."


Sarah terdiam mendengar kalimat panjang yang di ucapkan oleh Raka, sebagai seorang istri dia berusaha mencerna setiap permintaan dan teguran sang suami, karena di dalam berumah tangga meskipun dia mampu menunjuk arah sebuah kapal tetapi tetap saja seorang suami adalah nahkodanya.


"Sayang, jujurlah padaku...apakah sebenarnya kamu keberatan jika aku berada di posisi ini?" Sarah mendonggak mencari wajah suaminya itu denagan raut yang bimbang sekaligus penasaran.


(Part ini, kita ngadem dulu dari mak lampir🤣 Otewe double UP, yaaa...😅)



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya...😊...