
Perjalanan menuju Bandara Juanda terasa begitu cepat meskipun Raka sudah menyetir dengan agak kecepatan lebih rendah dari biasanya.
Dia tak bisa menyembunyikan kegelisahannya, pias yang sedikit muram itu menghiasi wajahnya tampannya. Tentu saja Raka sedang tak nyaman dan menjadi kalut karena sebentar lagi harus berpisah dengan Sarah.
Raka menatap ke depan dengan sedikit tegang, sebentar-sebentar melihat kepada Sarah yang duduk tenang disampingnya.
"Sayang, tetap konsentrasi, lampunya sudah hijau, kamu malah bengong begitu...."Sarah menegur sang suami, karena suara klakson mobil yang di belakang, meminta Raka segera menjalankan mobil. Lampu merah telah berganti lampu hijau tanda jalan, tapi Raka tak menyadarinya.
Raka menghela nafasnya.
"Kenapa ya, aku kemarin begitu bodoh, memilih sekolah di saat begini? Bikin masalah saja." Raka mengeluh sendiri.
"Yang ngotot pergi ke Leiden, sekolah dan meninggalkan istrinya tanpa perasaan itu siapa?" Sarah balik bertanya sembari terkekeh setengah menggoda.
"Kenapa kamu tak menahanku, kan katanya sudah jatuh cinta padaku sebelum aku pergi?" balas Raka dengan wajah cemberut.
"Memangnya aku siapa waktu itu? Wajahmu yang sok dingin itu selalu saja membuatku kesal dan takut. Seperti setiap saat bersiap-siap memakanku, jika aku salah bicara. Matamu itu akan menatapku dengan tajam seperti alergi melihat makanan seafood." Sarah tertawa kecil, mengingat kenangan-kenangan awal pernikahan mereka berdua.
"Hah...memangnya aku sekejam itu?" Raka memasang wajah terperanjat seolah dia benar-benar tak menyadari apa yang sudah diperbuatnya.
"Dulu, kamu juga pernah bilang...Sarah, jangan pernah berpikir, kamu bisa benar-benar bisa menggantikan Sally. Aku sama sekali tidak tertarik padamu, kita hanya menikah pura-pura, dua tiga tahun paling lambat aku akan menceraikanmu...! Setiap kali berbicara, kamu selalu membuatku seperti parasit kecil yang menjengkelkan, tapi tak bisa kau lepaskan." kalimat Sarah yang setengah menggodanya itu membuat wajah Raka merah padam.
"Akh...jangan mengungkit-ungkit itu lagi."Raka merengut seperti begitu kesal.
Dia merasa sakit sekaligus malu dengan apa yang telah dilakukannya pada Sarah.
Sarah tertawa tanpa sedikitpun marah atau dendam, meskipun dia pernah merasa begitu terhina dan terabaikan.
Dia seperti sedang memutar kembali sebuah pita kaset film di memorrynya, mengingatnya dan menertawakannya.
Tiba-tiba Sarah mencubit lengan Raka dengan mata cantiknya yang bulat melotot,
"Waktu itu, rasanya aku ingin sekali mencubitmu seperti ini. Dan akan menyenangkan sekali ku fikir kalau bisa memukulmu sekalian." Sarah tergelak, membuat Raka menjadi semakin cemberut saja.
"Kamu hanya mengingat hal-hal yang jelek tentang aku." Raka mengeluh, dengan raut yang tampak sedih.
"Memangnya, ada hal-hal yang baik yang bisa ku ingat saat kita berdua menjadi orang asing yang terjebak dalam perkawinan yang terpaksa itu?" Sarah mengernyitkan dahinya.
"Banyak..." Raka menjawab dengan bersemangat
"Apa contohnya?" Sarah tampak berusaha mengingat.
"Emmm..." Raka berpura-pura sibuk membelokkan mobil di perempatan, sambil mengernyit dahinya.
"Aku pernah menyelamatkanmu di pesta ulangtahun Alex dari si Dion mesum itu. Dia menculik istri orang dengan tidak tahu malu."Raka seolah-olah mengingat dengan keras.
Sarah memukul bahu Raka dengan muka kesal,
"Memangnya aku ngapain dengan Dion, cuma memenuhi undangan ulang tahun saja!" Sarah berkilah dengan muka merona.
"Terus, aku memelukmu di atas tempat tidur waktu mama datang mendadak supaya mama tidak curiga kalau kita tidak tidur seranjang, itu bukan suatu penyelamatan?"
"Itu memang kamunya yang mesum!"
"Eh, ada lagi....waktu aku memegangmu karena tersandung kaki Deasy. Dengan sigap aku memelukmu supaya tidak terjatuh, malah kamu menciumku. Aku curiga kamu sengaja untuk yang itu..." Raka sekarang yang terkekeh senang melihat wajah Sarah yang semakin merona. Wajah muramnya sesaat menguap entah kemana, mengingat kenangan-kenangan mereka berdua di awal pernikahan, sedikit banyak mengalihkan rasa sedih untuk perpisahan yang sebentar lagi terjadi.
"Aku tidak menciummu!" Sarah mencubit pinggang Raka dengan gemas.
"Eh, sayang...kamu tahu tidak, dua hal yang ku ingat dari kamu sampai sekarang, yang tak bisa kulupakan?" Tiba-tiba Raka bersuara dengan serius
"Apa?"
"Saat melihatmu pertama kali menggunakan handuk di kamar hotel dengan wajah merah padam dan begitu galak, menatapku seperti orang baru saja di gerebek. Dadaku berdegup kencang ketika kamu mengusirku keluar, bahkan satu malam aku tidak bisa tidur, karena posemu yang menggoda itu memenuhi kepalaku..." Raka melirik istrinya yang tersipu malu. Entah sungguhan atau tidak yang di ucapkan Raka, tapi Sarah merasa benar-benar malu mengingat kejadian itu.
"Katakan berapa lama kamu berada di pintu waktu itu, menontonku dengan tak tahu malu begitu?" tanya Sarah dengan mimik masam, peristiwa itu masih menyisakan penasaran di hatinya.
"Emm...dari mulai kamu keluar dari pintu kamar mandi, aku sudah di sana."Jawab Raka, sambil menaikkan alisnya.
Sebuah pukulan kecil segera mendarat di bahu Raka,
"Kamu pasti sengaja!" tuduh Sarah dengan muka kesal. Raka tertawa senang, melihat istrinya yang semakin merah wajahnya.
"Dan...satu momen lagi yang sampai sekarang masih terbayang-bayang," Raka melanjutkan dengan senyumnya yang semakin lebar.
"Saat pertama kali kita tidur di dalam ranjang yang sama, karena ulah si cerewet Deasy itu. Kamu membuatku satu malam tak bisa memejamkan mata. Bahkan sampai malam berikutnya." Raka mencuri pandang pada wajah merah Sarah.
"Kenapa?"
"Malam itu aku hampir lupa diri, untung saja ada Deasy, kalau tidak....mungkin saja terjadi hal-hal yang sedikit kriminal di sana. Besoknya naik headline berita, seorang suami mati di cekik karena mencoba memperkosa istrinya." Raka tertawa berderai, tentu saja dia hanya bercanda, hanya bagian tak bisa tidurnya itu yang sungguhan tapi candaan Raka membuat Sarah sekali lagi mencubitnya dengan gemas.
Dia tak akan mau mengatakan pada Raka, kau diapun tak bisa tidur semalaman, jika Raka tahu, tentu saja dia akan besar kepala dan menuduh Sarah telah jatuh cinta lebih dulu dari dirinya.
"Hal-hal seperti itu saja yang kamu ingat."Sarah merengut.
"Aku mengingat hal lain lagi yang lebih lucu...."
"Apa?"
"Kamu ketakutan setengah mati saat melihatku reaksi alergi setelah kamu memaksaku menelan sup kepiting buatanmu." Wajah Raka memerah karena tertawa.
"Aku tidak mau mengingat yang itu!" Sarah menutup wajahnya dengan kedua tangannya, lalu keduanya sama-sama tertawa. Mereka menertawakan banyak hal lucu yang telah mereka lakukan, ketika mencoba menjalani pernikahan pura-pura sebagai dua orang asing yang tak memiliki perasaan apa-apa.
Atau...
Mungkin tepatnya, dua orang asing yang diam-diam sudah jatuh cinta satu sama lain tapi tak menyadarinya.
Flashback kisah perjalanan pernikahan mereka, saat di jalani terasa pahit, tapi ketika di kenang kembali, entah mengapa menjadi terasa manis.
Tak terasa mereka sudah sampai halaman parkir Bandara Juanda, Raka memarkir mobil di tempat yang nyaman, supaya saat pulang Sarah bisa keluar dari tempat parkir itu dengan mudah.
Sarah memang sengaja, ingin mengantarkan sendiri Raka berangkat. Dia ingin menikmati setiap momen kebersamaan mereka, sebelum menjalani istilah LDR dengan suami tercintanya itu.
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I Love You...all🌹🌹❤️...
...Nantikan episode selanjutnya, yang lebih seru...😘😘😘...