
Acara tujuh bulanan Sarah di laksanakan di dua tempat. Untuk prosesi tujuh bulanan dilakukan di rumah orang tua Raka pada siang harinya tepatnya pada sabtu siang jam 11.00 WIB sampai tahapan prosesinya selesai.
Dan malam harinya di laksanakan acara syukuran tujuh bulanan yang di helat dalam pesta jamuan makan bertempat di ballroom Hotel Rudiat Wijaya yang baru saja dibuka.
"Untuk acara malamnya lebih resmi, sayang...ada beberapa tamu undangan dari rekan bisnis dan teman-teman kita." Kata Raka pada Sarah, malam hari sebelum acara tujuh bulanan itu di helat.
"Aku akan mengundang Grace, Jen dan semua karyawan butik, apakah boleh?" Tanya Sarah.
"Tentu saja boleh sayang, semua orang boleh kamu undang...kecuali..." Raka tampak ragu melanjutkan kalimatnya.
"Kecuali?" Sarah mengernyit dahinya, menatap Raka.
"Kecuali si Dion itu..." Raka mengerling setengah menggoda Sarah, meskipun sebenarnya dia tak bisa menyembunyikan rasa kurang nyamannya saat menyebut nama Dion.
"Memangnya ada kepentingan apa aku mengundangnya?" Sarah balik bertanya dengan wajah cemberut.
Raka terkekeh dan memeluk ibu hamil cantik dengan perut yang sudah membusung besar meskipun dia sedang berbaring.
"Sayang, anak kita sudah besar, ya...wajahnya mirip siapa? mirip aku atau mirip kamu?" Raka mengelus perut istrinya.
Tiba-tiba perut Sarah bergerak-gerak, seolah merespon Raka tentu saja Raka girang bukan main.
"Daddy di sini, Sayang...!" Raka memeluk perut Sarah, beberapa hari belakangan Sarah juga merasakan bayi di perutnya sangat intens bergerak. Kadang-kadang dalam satu jam bisa berkali-kali si bayi melakukan gerakan-gerakan kecil. Tentu saja, sensasi itu sangat menyenangkan bagi calon ibu ini.
...***...
Pada prosesi Tingkeban, Sarah tampil begitu cantik dengan pakaian kebaya tradisional yang disiapkan secara khusus oleh mama.
Pertama kali melihat sang istri dalam balutan kebaya sederhana itu, Raka benar-benar tak berkedip.
"Apakah aku baru saja melihat bidadari?" Ucap Raka di telinga sang istri sambil menyambut tangan sang istri.
Sarah tersipu, wajahnya merah merona membuatnya semakin cantik saja.
Menurut mama Raka, Tingkeban adalah salah satu tradisi slametan yang dilaksanakan pada usia kehamilan tujuh bulan. Upacara Tingkeban ini hanya dilakukan bila anak yang dikandung merupakan anak pertama bagi si ibu.
Makna Tingkeban sendiri bahwa pendidikan bagi sang anak telah ditanamkan sejak anak masih berada dalam rahim bundanya.
"Tujuan acara ini adalah agar bayi dalam kandungan dapat lahir dengan sehat dan selamat." Kata Mama, menjelaskan dengan antusias pada Raka.
Pada acara Tingkeban ini hanya di undang keluarga-keluarga dekat saja, sayangnya keluarga Sarah tak hadir di sana.
Sarah telah menelpon sang papa sehari sebelumnya, dan papa hanya bilang akan mengusahakan datang. Mamanya sama sekali tak mau berbicara dengan Sarah.
Untuk Sally, dengan pertimbangan tidak mau memperkeruh suasana, Sarah tidak mengundangnya.
Ada rasa sedih saat melakukan siraman, tujuh kerabat dekat yang melakukannya tanpa ada mama dan papa Sarah. Untunglah, ada beberapa sepupu dan saudara dari mamanya yang telah meninggal bisa hadir, mengobati perasaan Sarah yang terkucil.
Perhatian dan kasih sayang dari papa, mama, Edgar dan Lila memang sungguh luar biasa, mereka membuat Sarah tetap merasa terhibur di manapun dia berada.
Setelah cara siraman yang cukup menguras emosi Sarah, dilanjutkan dengan acara brojolan yang dipimpin langsung oleh mama Raka selaku nenek si jabang bayi.
Sarah hanya memakai kain jarik yang disertai dengan sepotong tali yang disebut letrek. Mama memasukkan tropong atau telur ayam dari atas jarik hingga jatuh sampai bagian bawah. Setelah itu, brojolan dilanjutkan dengan dua buah kelapa gading yang juga dibrojolkan dari jarik. Kemudian mama menangkap kelapa gading dari bawah jarik dan menyerahkannya pada Raka.
Sarah hampir tak bisa menahan tangisnya saat Raka memotong tali letrek dengan keris sebagai pertanda suami yang dapat memotong alang rintang.
Sungguh, banyak hal yang telah dilewati untuk sampai berada di tempat sekarang dia berdiri bersama Raka, dan dia berharap sang suami tetap teguh membuang semua penghalang rumah tangga mereka.
Pada prosesi angreman, Sarah dituntun ke ruang lain untuk berganti baju dengan tujuh macam kain jarik. Pada prosesi ini Sarah di suapi oleh Raka dengan nasi tumpeng dan bubur merah putih.
"Ini menandakan si ibu yang akan selalu menjaga si anak dan juga ayah yang akan selalu menghidupi keluarganya." Mc acara menjelaskan.
Raka melirik pada Sarah,
"Tentu saja aku akan bekerja keras menghidupimu dan anak kita." Raka berbisik kecil, Sarah menanggapinya dengan lirikan geli.
Ada hal yang lebih lucu saat prosesi memecah kelapa gading.
Ketika mama menyerahkan dua kelapa kepada Raka. Dia di siruh memilih salah satu kelapa untuk dipecahkan.
"Aku harus pilih yang mana?" Raka bingung sendiri. Pada kelapa itu di gambari tokoh wayang yang tidak Raka tahu maksudnya apa.
Dia meminta pertimbangan Sarah, sang istri malah menggedikkan bahu, seolah pasrah padanya.
Lalu dengan ragu dipilihnya sebuah kelapa dan memecahkannya, disambut sorak dan tepuk tangan yang hadir.
"Sang ayah ternyata memilih kelapa bergambar tokoh wayang Kamajaya, diharapkan jabang bayi yang lahir nanti adalah putera yang tampan dan perkasa." Sambut MC acara, ketika kelapa itu pecah menghantam lantai.
Raka langsung melompat kegirangan seperti euforia seorang pemain bola yang baru saja mencetak gol. Tanpa Sadar Raka memeluk Sarah dan menciumnya bertubi-tubi di depan orang banyak,
"Sayang, apa ku bilang...? anakku laki-laki!"
Suara tawa dan sorak menyadarkan Raka, wajahnya langsung merah padam. Dia tak sadar menciumi istrinya di depan orang banyak. Di lihatnya Sarah, hanya memejam matanya dengan pias merona karena malu dengan tingkah sang suami yang membuat semua orang tertawa geli.
Prosesi tujuh bulanan Sarah berjalan dengan meriah dan luar biasa, dia dan Raka mendapatkan banyak sekali kereweng atau uang-uangan dari tanah liat, hasilnya menjaja rujak pada tamu undangan yang hadir, sebagai simbol sang anak akan mendapatkan rejeki yang banyak dalam hidupnya.
"Sayang, kamu adalah penjual rujak tercantik yang pernah aku lihat. Aku bersedia seharian makan rujak buatanmu." Raka mencolek pinggang sang istri.
Acara tujuh bulanan Sarah, selesai sebelum sore. Tak ada sirat kelelahan di wajahnya.
Suatu pengalaman yang luar biasa, sebagai orang tua mereka menjalankan prosesi sakral itu sebagai bentuk do'a dan harapan yang besar pada sang bayi. Kelahiran bayi ini begitu di nantikan oleh Sarah dan Raka.
(Terimakasih atas kehadiran semua readers pada acara tujuh bulanan Sarah, ya...🙏🤗tolong isi komen kehadiran di bawah untuk menerima amplop dari Sarah dan Raka berisi lope-lope 😆
Author mencoba menulis jalan acaranya sedikit detil, supaya para readers serasa hadir di acara siramannya😅😅 Semoga tradisi yang luar biasa penuh makna ini tetap lestari.
Mohon maaf jika dalam penulisan deskripsi susunan acaranya mungkin ada kekeliruan, maklum author bukan orang Jawa asli🙏😅)
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...