Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 203 AKU MENGINGATMU


Diah menghimpun semua memorrynya, tapi tak sekelebatpun dia mengingat pernah bertemu laki-laki tampan ini di dalam sepuluh tahun terakhir hidupnya.


Kehidupannya hanya berputar dan bermuara pada Bram semata, bahkan sekelilingnya tak ada yang penting baginya.


"Aku memang orang yang tak cukup menarik untuk di ingat, tapi...tapi kamu adalah orang yang paling sulit untuk di lupakan..."


Diah terkesiap mendengar apa yang dikatakan oleh Doddy. Dia sama sekali tak bisa mengalihkan pandangannya dari laki-laki yang duduk di sampingnya itu.


"Aku adalah temanmu satu kelas saat masa orientasi siswa. Aku pernah duduk di sebelahmu dalam acara bazar siswa, karena kita satu kelompok. Aku adalah orang yang sering melihatmu menangis di belakang rak buku perpustakaan." Ucap Doddy kemudian, membuyarkan rasa bingung dari pandangan mata Diah.


Seketika, semua ingatan masa lalu berlompatan seperti pita kaset yang kusut. Diah susah payah mengingat sosok Doddy dengan mencoba mengais masa lalu. Kemudian sejumput ingatan itu berlabuh pada seorang remaja pendiam yang dulu bahkan tak pernah menarik perhatiannya.


"Aku...memang hanya satu semester berada di sekolah yang sama denganmu. Tapi aku mengingatmu dengan baik." Ucap Doddy sambil tertawa kecil, melihat Diah tampak sudah menemukan satu bagian puzzle yang hilang dari kisah mereka.


Ingatan Diah terarah pada seorang pemuda lugu dan culun, dia tak banyak bicara, tapi dia sangat perhatian pada Diah. Penampilannya selalu rapih dengan tubuh kurusnya, dia sangat pintar matematika. Mereka satu kelas malah, meskipun hanya satu semester yang singkat.


Sayangnya, Diah telah terlanjur jatuh cinta pada Bram, kakak kelasnya yang populer dan tampan itu dari pertama dia melihatnya. Tak ada yang penting dan menarik selain Bram.


"Kamu...kamu...Fajri?" Bibir Diah gemetar menyebutnya.


Doddy menarik sudut bibirnya, senyumnya mengambang melihat bagaimana susah payahnya Diah berusaha mengingat keberadaannya dari sekilas masa lalu perempuan yang selalu di sukainya sejak dulu itu.


"Dulu, aku suka di panggil dengan Fajri." Doddy tertawa kecil.


"Entah mengapa saat aku pindah sekolah ke Jakarta semua orang lebih senang memanggil nama depanku, Doddy. Tapi nama panggilanku di rumah tetap Fajri, mamaku tetap suka memanggilku Fajri." Seloroh Doddy.


Diah masih tercengang dalam rasa tak percaya, Fajri dulu tidak setampan ini, dia sangat culun dan lugu. Tak banyak bicara dalam kepintarannya. Dia dan Fajri remaja itu, selalu di sandingkan sebagai ikon kelas karena kepintaran mereka.


"Dulu..." Doddy menerawang, sambil tersenyum samar.


"Ada seorang gadis terpintar dan tercantik di kelasku, yang tak pernah bisa kukalahkan saat berdebat bahasa inggris, aku kesal bukan main dengan gadis rambut pendek ini. Satu malam aku belajar demi bisa mengalahkannya dan...dan...sedikit mencari perhatiannya." Doddy terkekeh, terdengar garing seakan dia malu sendiri pada dirinya.



"Tapi, ketika Pak Waluyo masuk ke dalam kelas, memberikan kesempatan aku untuk berdebat dengannya, semua yang ingin ku ucapkan hilang menguap entah kemana. Pelajaran yang membuatku tak tidur satu malam itu, tak ada satupun yang sangkut di otakku. Itu rasanya memalukan sekali."


Doddy tertawa di belakang setir, seperti orang yang sedang bermain dengan kenangannya, mentertawakan kebodohannya.


Diah sekarang seperti melihat sebuah film yang di putar di otaknya.


Pada seorang Doddy yang dikenalnya sebagai Fajri itu.


Ya, dia sekarang mengingatnya dengan jelas, sepuluh tahun yang lalu Doddy adalah anak lelaki yang suka menghabiskan waktu di perpustakaan sekolah, dengan tubuh kurus jangkung dan poni yang menutup sampai alisnya.



Ketika berbicara dengan Diahpun dia akan menundukkan kepalanya.


Diah bahkan tak punya tempat untuk mengingat anak itu. Baginya teman kelas biasa yang suka bersikap sok pintar saja.


"Aku...aku mengingatmu." Ucap Diah lirih.


Doddy menoleh sesaat pada Diah, melemparkan senyumnya dengan raut lega.


Sejak pertama bertemu di meeting yang di atur oleh Sarah beberapa hari sebelumnya di kantor Rudiath-Wijaya Group, Doddy telah mengenal Diah sejak pandangan pertama.


Meski dalam penampilan Diah yang lebih dewasa dan jauh berbeda, Doddy tak bisa melupakan mata yang bersinar cerah dan menyipit manis ketika dia tersenyum itu. Meskipun mata itu sekarang terlihat redup tapi Doddy tahu dia tetap Diah Pitaloka yang dikenalnya dulu.


Diah, dia pintar dalam semua pelajaran, dia menguasai hampir semua hal.


Doddy, tak pernah bisa menarik perhatian gadis itu. Dia selalu sibuk mengagumi kakak kelas mereka, Bram, siswa tampan dan ada di barisan terpopuler di sekolah mereka.


Semua hal tentang Diah diketahui oleh Doddy dari tanggal lahir sampai dimsum makanan favorit kesukaannya di kantin sekolah. Bahkan dia tahu, Diah suka mengoleksi novel-novel romantis.


Betapa sesungguhnya menyakitkan, bertahun-tahun Doddy berusaha move on dari Diah setelah dia pindah sekolah, sempat mencoba menjalin hubungan dua kali dengan perempuan lain saat di kelas tiga SMA dan waktu kuliah, tapi tetap saja sekelumit kisah sendiri yang hanya dia yang tahu itu membuatnya menyadari dia tak pernah bisa berpaling dari masa lalunya.


Dia jatuh cinta pada Diah, meski hanya sepihak.


Cinta memang aneh, bahkan meskipun dia hanya merasakan sendiri tapi begitu sulit melupakan itu.


Sungguh lucu dunia ini, dia perlu sepuluh tahun untuk membuat Diah sekedar mengingat keberadaannya dalam hidup perempuan itu.


Dan, dalam sepuluh tahun yang hilang itu, Diah bukan lagi perempuan yang sama. Dia tak bisa meraihnya, seperti dia adalah bintang yang sangat jauh.



Tak ada yang bisa menahan sang waktu, tak ada yang bisa membalikkan takdir.


Diah sekarang adalah seorang istri dari laki-laki lain, laki-laki yang mungkin adalah cintanya dari masa remaja itu. Meski mungkin dia tahu sedikit tentang rumah tangga Diah yang sedang dalam masalah, sehingga membawanya menjadi asisten Sarah, teman kecilnya di masa lalu, Doddy tak berhak berada di sana.


"Terimakasih sudah mengingatku." Doddy tersenyum lebar.


Hari ini, dia mengantarkan Diah, hanya ingin membuat perempuan itu mengingat tentangnya sedikit saja, meski mungkin tak dapat dimilikinya.


Semua telah jauh berbeda, dunia mereka sekarang bukanlah dunia remaja yang sederhana lagi.


"Kamu boleh memanggilku Diah lagi..." Diah tersenyum pada Doddy, tepat saat mobil itu berhenti di depan gedung besar, Rudiath-Wijaya Group.


Sejenak Doddy terpaku menatap ke depan, dadanya berdesir lembut tapi dia tahu itu harus di tepisnya jauh-jauh.


Dengan cepat dia turun dan akan membuka pintu mobil untuk Diah, di saat yang sama Diah juga membuka pintu itu dari dalam.


Diah berdiri di belakang pintu mobil dan sementara Doddy berada di baliknya.


Beberapa detik mereka terpaku, seperti dunia sedang tiba-tiba berhenti. Wajah mereka terpisah hanya beberapa jengkal.


Doddy dan Diah segera tersadar dan saling membuang tatap, lalu berusaha bersikap normal.


Di seberang gedung itu dari sebuah meja kafe terbuka di sudut depannya, duduk seorang laki-laki yang menatap nanar adegan itu.


Dadanya seperti ditimpa batu, melihat perempuan yang telah di sakitinya bertahun-tahun keluar dari sebuah mobil mewah bersama seorang pria.



(Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita, besok atau sepuluh tahun lagi. Tapi, kehidupan seperti puzzle, ada kalanya dia mengembalikan masa lalu kita, seperti menyatukan puzzle yang hilang. Eeeeeh...jangan lupa VOTEnya yah, bunga dan kopi juga,πŸ˜… siapa tahu akak bisa double UP lg hari iniπŸ˜…πŸ˜…πŸ˜…)


Love you all, my readers...


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama RakaπŸ€—...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....