Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 85 SALING MERINDU


Sarah membalikkan badannya perlahan, menatap langsung pada mata laki-laki yang masih duduk di samping anaknya itu.


"Tidak pernah ada cinta, yang memberikan hati dan tubuhnya pada orang yang berbeda." Sarah medesis dengan gemetar.


"Kamu tak tahu rasanya, Sarah. Mencintai orang lain, tapi tak bisa melepaskan yang lainnya."


"Entahlah Bram, aku tak bisa mendeskripsikan dirimu secara pantas, kamu tidak hanya egois tapi serakah dan jahat, Bram." suaranya Sarah terdengar serak.


Bram terdiam, dia menoleh pada Bella yang menatapnya dengan Sarah bergantian, perdebatan itu memang tak di mengerti gadis kecil itu, tapi dia tahu papanya tampak begitu gusar.


"Papa...kenapa tante ini marah-marah dengan papa?" Bella kecil ini bertanya sambil menyeka bibirnya yang belepotan.


Sarah tersadar, dirinya mungkin terlalu terbawa emosi, sehingga tidak menyadari sitiuasi.


Dengan volume suara yang diturunkan, Sarah berucap,


"Baik kamu dan Sally tidak pernah mengerti arti cinta yang sebenarnya karena ***** telah membutakan mata dan hati kalian.


Jika kamu benar-benar mencintai Sally, kamu tidak akan menghancurkan masa depannya dan menodainya dalam statusnya sebagai tunangan orang lain! Jika Sally mencintai tunangannya, dia tidak akan menyerahkan kesuciannya padamu dan meninggalkan tunangannya sendiri seperti sampah." Tidak keras memang, tapi terdengar menggeram.


"Orang yang benar-benar mencintai, tak akan bisa menerima sentuhan orang lain tanpa merasa bersalah pada pasangannya. Bukan cinta namanya jika kalian masih bisa menyakiti orang yang kalian anggap sebagai cinta." Dua bulir bening jatuh di sudut mata Sarah, tanpa di sadarinya.


"Jangan pernah katakan cinta lagi, dengan menggunakan mulut busukmu itu. Mendengar orang sepertimu mengatakannya, aku benar-benar merasa jijik, Bram.


Orang yang tak menghargai cinta tak akan pernah memahaminya. Jadi berhentilah mengatasnamakan cinta, untuk setiap dosa yang telah kalian perbuat." Sarah tak pernah semurka ini kepada orang lain tapi Bram benar-benar memantik setiap kemarahan dan luka di hatinya.


"Satu yang harus kau ingat, jauhi adikku! Kembalilah kepada keluargamu, jadilah sedikit tahu diri dengan bertanggungjawab. Lihatlah wajah tanpa dosa di sampingmu ini, dia tak layak menanggung dosa seorang ayah yang tak punya hati dan kesetiaan sama sekali!" Sarah menunjukkan jarinya pada putri Bram yang nampak semakin bingung menatap Sally sambil menyendok es creamnya yang telah meleleh.


Sarah dan Bram saling bertukar tatap dengan tajam, beberapa saat, sebelum kemudian Sarah membalikkan badannya dengan muka merah merona karena emosi.


Dia meninggalkan cafe di sudut ruang tunggu itu dengan dada yang rasanya ingin meledak.


...***...


Sarah duduk terpekur di dalam kamarnya, menatap pada foto pernikahan di atas kepala tempat tidurnya.


Mengingat kembali satu kalimat terakhir Bram.


"Sally menyerahkan tubuhnya padaku tapi diam-diam memberikan hatinya pada orang lain...."


Sarah menepis segenap rasa bersalah dihatinya, dia sama sekali tidak merebut Raka dari siapapun, sama sekali tidak!


Tuhanlah yang menentukan jalannya untuk bertemu cinta, pada saat dia menganggap ujian hidupnya begitu berat.


Dia sendiri tak pernah tahu ketika cinta itu datang menyapanya dengan tiba-tiba, mengikat kakinya tak lagi bisa lari.


Dan yang terbesar dari perasaan itu, dia tak punya kerelaan melepaskan orang yang di cintainya itu pada siapapun.


Sarah mengais setiap sudut di hatinya, mencari kesalahan apa yang mungkin telah dilakukannya pada sally, tapi kemudian dia merasa, dirinya hanya menerima takdirnya.


Jikapun Sally ternyata baru menyadari, dia menyimpan hatinya pada Raka, maka itupun bukanlah kesalahannya.


Tapi, andai kata, Raka ternyata memilih Sally di kemudian hari, maka dia tak akan berbicara apa-apa lagi. Di mana Raka merasa bahagia, maka di sanalah dia menggantungkan do'anya, seperti itulah besarnya cinta pada suaminya itu. Tapi selama Raka mencintai dirinya, maka dia akan mempertahankan Raka, bahkan jika harus berperang melawan adiknya sekalipun.


Diliriknya jam di dinding, sekarang waktu menunjukkan hampir jam 12 malam, matanya belum mengantuk, fikirannya sedang berkecamuk tak menentu. Pertemuannya dengan Bram benar-benar menganggunya, apalagi tempat tidur besar ini, begitu dingin. Tak ada lagi Raka berbaring di sana, yang biasanya tersenyum menggodanya.


Sarah menghitung jarinya, dari keberangkatan Raka, mungkin sang suami masih dalam pesawat, karena dari jakarta ke amsterdam perlu waktu kurang lebih 15 jam.


Rasanya begitu aneh, Raka baru saja berangkat tadi pagi tapi rasanya suaminya itu telah pergi sangat lama.


Rindu? Apakah ini yang namanya rindu? mengapa perasaan ini begitu berat dan mengganggu?


Dulu dia bisa merasa rindu kepada Raka tapi jika dia mengalihkan perhatiannya, maka kerinduan itu akan menguap sementara.


Tapi saat ini, tak ada apapun yang bisa mengalihkannya dari bayangan wajah Raka.


Sarah berbalik, mengambil posisi untuk segera tidur. Mengharapkan Raka datang di antara bunga mimpinya. Ditariknya selimut dan meletakkan tangan di perut.


"Anakku, sayang...mari kita jemput papamu dalam mimpi." Bisiknya dalam hati. Di pejamkannya mata sambil membisikkan do'a untuk seseorang yang telah membawa hatinya itu ke benua seberang.


Bunyi ponsel Sarah membangunkannya, tangan sarah bergerak ke meja di samping tempat tidurnya, tanpa membuka matanya. Dia masih sangat mengantuk, tadi malam dia baru bisa terlelap setelah sangat larut.


Dia membuka matanya sedikit, melihat ke layar ponsel. Seketika matanya menjadi terbuka sempurna melihat wajah foto profil kontak yang sedang dalam panggilan itu. Wajah tampan suaminya yang sedang tertawa, saat mereka berada Keukenheof berlatar tulip aneka warana.


Raka sedang memanggilnya dalam panggilan video.


Sarah segera duduk, tanpa sempat merapikan rambutnya yang acak-acakan,


"Hallo, Sayangku...Indonesia sudah pagi lho, sekarang...."Senyum sumringah itu seketika seperti booster pagi yang menyenangkan.


"Sayang, kamu membangunkan aku." Sarah melirik ke jam dinding sudah hampir jam 7 pagi. Ternyata, dia benar-benar kesiangan. Untung saja dia punya mertua yang sangat baik, tak akan mempermasalahkan jam berapapun dia bangun.


"Aku sudah di Amsterdam, karena di sini tengah malam ketika pesawatnya sampai jadi menginap di hotel sampai besok pagi. Sekarang sedang jam 2 pagi di sini. Aku tidak tahan ingin menelponmu"


Wajah tampan Raka benar-benar mengobati semua kerinduannya, sampai-sampai dia hanya melongo menatap layar ponsel.


Hari pertama LDR sudah seperti ini, bagaimana aku bisa melewati hari sampai lima-enam bulan ke depan? keluhnya dalam hati.


"Sayang, kamu tidak apa-apa?"Raka mengernyit dahinya melihat pias Sarah.


"Oh, aku lagi mengumpulkan kesadaranku. Sayang, kamu mengganggu tidurku saja, aku baru saja bermimpi sedang di peluk seseorang."


"Di peluk seseorang? Belum 24 jam suamimu ini pergi, kamu sudah memimpikan orang lain?" Raka melotot di seberang sana.


"Ya, laki-laki dalam mimpiku ini aneh sekali, dia suka memelukku diam-diam saat aku sedang tidur dan yang paling aneh, kadang berbicara dengan perutku, mengoceh sendiri."Sarah tergelak.


Wajah Raka cemberut menatap istrinya yang tertawa lepas itu, tapi matanya berbinar bahagia. Andai saja tak terpisah ruang mungkin sekarang bibir mulut yang tergelak itu akan di bungkamkannya dengan seribu ciuman.


"Sayang, aku tak bisa tidur..."Raka berucap dengan wajah memelas.


Sarah menghentikan tawanya, dan menaikkan alisnya sambil menyibak rambutnya.


"Kenapa?"


"Aku merindukanmu...."


"Aku juga rindu."


...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...❤️...