
"Ehm..." Sebuah deham menyadarkan dua orang yang sedang dimabuk hayalan itu.
"Selamat malam..." Doddy berdiri di seberang meja dalam balutan jaket warna abu-abu gelap dan kaos hitam.
Dia nampak santai dan elegan.
"Pak Doddy..." Ibu dan anak itu berbarengan berdiri, menyambut kedatangan laki-laki muda itu.
"Terimakasih atas undangannya." Tanpa berniat untuk menanggapi berlebihan penyambutan itu, Doddy mengambil tempat duduk di kursi seberang meja.
Restoran yang di pesan Mytha adalah ruangan privat sehingga hanya mereka bertiga yang menghadap meja cukup besar itu.
Di atas meja itu telah tersedia menu pembuka, appetizer dihidangkan dalam porsi kecil dengan hiasan cantik dan menarik. Hidangan khas italia, bruschetta, roti tak seberapa besarnya itu tampak menggugah selera dipanggang dengan olesan bawang putih dan minyak zaitun, topping sayur dan daging cincangnya di tata sedemikian rupa. Mata Doddy tertuju ke sana seoerti sengaja menghindari bertatapan dengan dua wanita yang duduk kembali dengan sikap bersemangat.
"Aku tak menyangka, kau melakukan hal tadi..." Mytha menyeringai tanpa ingin menyembunyikan rasa puas di wajahnya.
"Saya hanya melakukan sesuai dengan prosedurnya, jadi saya rasa tidak perlu berlebihan menanggapinya." Doddy tersenyum sambil duduk menyandarkan punggungnya dengan santai di sandaran kursi.
"Tapi aku tetap berterimakasih dengan apa yang kamu lakukan, bahkan Sarah dan Rudiath sekalipun tidak berkutik denganmu." Mytha menyahut dengan senang, merasa Diddy adalah orag yang bisa di ajak bekerja sama.
"Mereka hanya mengerti saja, bahwa saya tidak salah mengeluarkan pendapat, semuanya berdasar. Saya rasa, saya tidak berpihak pada siapapun." Sahut Doddy dengan santai.
"Tapi kamu telah membuka peluang untuk Sally..."
"Saya rasa, Sally pantas di beri kesempatan..."
Senyum Sally segera merekah mendengar kalimat yang di ucapkan oleh Doddy.
"Oh, ya...saya minta maaf jika pada pertemuan pertama kita kemarin saya sedikit berlebihan, tapi saya agak introvert dan sangat memegang prinsif saya soal perempuan. Semoga kita tidak salah paham." Tiba-tiba Doddy mengarahkan pandangannya kepada Sally.
"Oh, tentu saja...saya mengerti soal itu. Kita baru pertama kali bertemu setelah sekian lama, wajar saja menjadi agak canggung." Sally menyahut sambil menegakkan duduknya sehingga berkesan seolah membusungkan dadanya, yang hanya terbalut gaun malam dengan pundak terbuka itu.
"Kalau boleh saya tahu, apakah alasan sehingga saya mendapat kehormatan menerima undangan dari ibu Mytha dan ibu Sally, untuk menghadiri dinner malam ini?" Doddy mengalihkan pandangannya pada meja makan yang tertata mewah itu.
"Tentu saja, merayakan pertemanan kita. Setelah ini kita mungkin akan menjadi rekan bisnis yang solid."Sahut Mytha sambil tertawa kecil.
"Oh, ya...senang rasanya, saya newbi dalam perusahaan ini dan kemudian mendapat kepercayaan yang demikian besarnya dari ibu Mytha." Doddy berseloroh dengan alis yang terangkat.
"Ayolah, mari kita rayakan ini, sebaiknya kita mencicipi appetizer ini, sebelum kita mengobrol lebih lanjut." Mytha mempersilahkan Doddy menyentuh makanan di depannya.
Sally berdiri dengan sikap menggoda yang kentara, menuangkan segelas anggur ke dalam gelas kaca di depan Doddy.
"Terimakasih. Tapi Saya tidak biasa meminum anggur saat makan malam." Tolak Doddy dengan halus.
"Oh, ya..." Sally melongo pada eksekutif muda ini, rasanya tak percaya anak muda seperti Doddy tidak menyukai anggur.
"Saya, lebih suka air putih saja." Doddy meraih sebuah botol mineral yang tersaji di atas meja dan menuangkan sendiri ke gelas yang lain.
Tangan Sally terhenti di udara, sesaat menatap penolakan halus yang di berikan oleh laki-laki ini, bahkan dia menunjukkan gestur tubuh yang jelas, bahwa dia tak ingin di layani oleh Sally.
Dengan sedikit rikuh Sally kembali ke tempat duduknya.
"Apakah aku bisa memanggilmu hanya dengan Doddy saja?" Tiba-tiba Mytha bertanya, sambil menelan potongan roti di dalam mulutnya.
"Tentu saja, silahkan panggil saya dengan bagaimana enaknya saja." Doddy menganggukkan kepalanya sambil meletakkan gelasnya di atas meja.
Sesaat hening menyelimuti ruangan itu, hanya suara piring di letakkan dan langkah kaki para pelayan yang hilir mudik.
"Ibu Mytha..." Tiba-tiba Doddy berbicara.
"Ya."
"Apakah benar, ibu Mytha sedang kesulitan keuangan kembali?" Pertanyaan itu di sampaikan dengan begitu halus dan sopan.
Kepala Mytha langsung tegak dengan mata terpicing pada Doddy.
"Apa maksudmu?"
"Saya hanya mendengar kabar dari seorang teman di pertemuan kemarin, saya sebenarnya tidak tertarik untuk ikut campur karena ini privacy. Tetapi..." Doddy merekatkan jemarinya dengan bertopang pada siku di atas meja.
"Karena kita sekarang adalah kolega bisnis, tentu tak salah jika saya berniat membantu anda, sebagai rekan, jika saya bisa." Kalimat itu terdengar manis.
Mytha, mau tidak mau mengerutkan keningnya, pandangannya sekarang tertuju pada Doddy dengan serius sekali.
"Apakah yang kamu ketahui tentang aku?"
"Saya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ibu Mytha dan tidak pantas jika saya bersikap penuh keingin tahuan secara berlebihan tentang orang lain. Hanya saja, karena ibu sendiri mengatakan kita adalah twman sekarang, bukankah wajar jika saya menawarkan diri meringankan kesulitan Ibu Mytha, jika saya mampu melakukannya, kenapa tidak?" Doddy menggedikkan bahunya.
"Ayahmu menceritakan banyak hal tentang aku?"
"Maaf, ibu Mytha, saya harap ibu Mytha tidak berprasangka dulu, ayah saya bahkan tak berada di Surabaya selama sebulan ini. Beliau berada di Jakarta, karena semua urusan pabrik di sini, saya yang mengurusnya termasuk pelimpahan saham yang anda jual kepada beliau."
Ibu Mytha menunjukkan rasa tertarik pada arah pembicarAn mereka.
"Daripada anda menawarkan kepada orang lain yang tak di kenal, kenapa tidak kepada saya..." Doddy tersenyum dengan sikap yang misterius.
"Saya rasa, saya bisa tetap membantu anda, sekaligus tetap memastikan Sally di beri kesempatan untuk bergabung. Bukankah itu adil?"
Mytha tampak menatap kepada Doddy.
"Kamu ingin membeli saham milikku?"
"Saya hanya merasa, saya mampu membantu anda keluar dari kesulitan yang sedang anda hadapi..." Doddy menghela nafasnya sambil menunggu jawaban dari Mytha.
"Mama ingin menjual saham lagi?' Sally melotot pada ibunya.
"Sally kamu tidak perlu ikut bicara ini bukan hal yang kamu mengerti." Mytha mengangkat telapak tangan ke arah Sally, tanpa menoleh sedikitpun pada anaknya itu.
"Lanjutkan Doddy..." Perintahnya, meminta Doddy kembali berbicara.
(Doddy bukan orang yang mudah goyah dengan prinsif hidupnya, tapi soal kedzaliman Sally, mungkin dia mau tidak mau untuk terlibat lebih dalam atau ada alasan lain di baliknya☺️ Tunggu besok lanjutannya ya😁,)
Yeay...akhirnya akak crazy Up meski UPnya di jam kunti🤧
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....