Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 190 KISAH USANG


Bram berdiri mematung di dalam kamar mereka yang sepi. Di setiap sudut kamar besar itu setiap kenangan itu berlompatan.


Ini malam kedua, dia berada di kamar yang jarang sekali ditidurinya itu, setelah Diah memberikannya kejutan, permintaan talak itu.


Dua hari ini, Diah di rumah orangtuanya dan dua hari ini pula dia tak kembali ke apartemen tempatnya dan Sally tinggal bersama.


Bram bergelung di atas tempat tidur, hampir tak pernah keluar kecuali dia lapar. Bik Irah selalu setia menyiapkan makan pagi, siang dan malam di atas meja, meskipun kadang dia hanya menyentuh makan siangnya saja.


Seperti hari ini setelah dia makan siang, dia terus berada di atas tempat tidur. Berbaring dengan mata nyalang memandang langit-langit kamar. Dia kadang tertidur sesaat, kemudian terjaga kembali.


Di kepalanya dipenuhi bayangan wajah Diah. Hanya wajah Diah!


Entah mengapa, setiap sudut hatinya terasa hampa, flashback semua kejadian bertahun-tahun ke belakang seperti terus membayang, dia terpukul dengan kekejamannya sendiri. Sekelumit kisah usang, yang bahkan dia sendiri sekarang merasa nyeri mengingatnya.


"Kenapa yang harus ku lihat malam ini adalah kamu..." keluhnya pada Diah setengah menggumam, dimalam ketika dia merenggut kegadisan Diah.


Gadis polos itu hanya diam saja, mengagumi wajah Bram yang kusut seperti spray yang tak pernah disetrika.


"Diah, namamu Diah, kan?" Dia bahkan lupa-lupa ingat dengan nama gadis yang sedang mengantarkan HPnya yang tertinggal di meja saji tempat pesta perpisahan siswa-siswi sekolahnya itu di selenggarakan.


Bram memang telah lulus setahun sebelumnya, tapi dia menemani Dena sepupunya datang ke pesta itu, tepat saat pesta pertunangan Raka dan Sally kekasihnya dihelat.


Hatinya sedang hancur, dia dilanda emosi yang tak terkira, tapi dia sungguh tak bisa berbuat apa-apa, bukan hanya karena orangtua Sally yang tak pernah melihat kepadanya tetapi Sally menerima begitu saja pertunangan itu.


Disanalah dia bertemu dengan Diah, setelah setahun tak pernah bertemu, karena dia memang telah lulus lebih dulu.


Diah adalah adik kelasnya, gadis itu cukup pintar di kelas, jadi sering di manfaatkan oleh Bram untuk membuat tugasnya ketika dia masih bersekolah, Diah menurut saja apalagi dia adalah teman Dena, adik sepupu Bram.


Diah, waktu itu berambut pendek dan begitu pemalu. Wajahnya manis, meskipun tidak secantik dan penuh aksi seperti Sally yang begitu fashionable.



Sayangnya, Diah bukan type Bram. Gadis lurus yang terlalu baik dan pintar tidak menantang untuk Bram.


"De...Dena akan pulang di antar Brian. Di..dia menyuruhku menyampaikan pesan ini untuk kakak sekaligus mengantarkan ponsel kakak yang tertinggal."


Mata Bram yang setengah mabuk memandang kepada Diah, dari atas sampai bawah, menatap betapa polosnya gadis ini.


Tiba-tiba rasa bencinya pada Sally menyeruak, rasanya sakit melihat begitu berbedanya Diah dengan gadis yang selama ini menjadi kekasihnya.


"Naiklah..."


"Eh, aku harus kembali ke dalam."


"Naiklah, aku akan mengantarmu pulang."


"Aku bisa naik taksi..."


"Diah, naiklah...aku ingin bersamamu malam ini." tatapan tajam Bram dari belakang setir mobil sambil membuka pintu mobil, membuat Diah tercenung dengan gugup.


Bram tahu benar, Diah adalah pengagum rahasianya, yang selalu menyukainya.


Dena, sepupunya itu sudah berapa kali berusaha menjodohkannya dengan Diah, dengan alasan Diah sangat menyukai Bram sejak lama, cuma dia begitu pemalu menurut Dena.


Bram tidak pernah tertarik dengan Diah.


Dan malam itu, terbersit niat jahat Bram, untuk menjerat Diah sebagai pelampiasan kekecewaannya saat memikirkan pada malam yang sama Sally sedang bertukar cincin dengan raka di sebuah gedung besar, Ballroom hotel milik keluarga mereka.


Seperti di sihir, gadis muda yang tak punya pengalaman itu naik ke mobil Bram. Sepanjang jalan yang diam, dia gemetaran di samping Bram, entah dia takut atau dia begitu gugup, sungguh Bram tak perduli. Dia hanya sedang mencari ketenangan dirinya setelah menengak beberapa botol minuman di sebuah bar seberang aula hotel tempat perpisahan sekolah itu di laksanakan.


"Diah, kita lama tidak bertemu, ya..." tegur Bram.


Diah hanya menganggukkan kepalanya sambil menunduk, lampu dari jalanan menyorot waja gadis ini berkali-kali. Bram tahu dia sedikit tegang.


Diah menyebutkan sebuah alamat. Bram hanya manggut-mannggut, sementara dia menyetir mobil itu menuju sebuah hotel.


"Aku lapar, kita makan dulu." Dalih Bram. Diah sama sekali tak menjawab.


Dia menurut saja saat Bram membawanya ke sebuah resto yang terletak di rooftoop sebuah hotel.


Beberapa saat mereka berada di sana, Bram memang benar-benar lapar, apalagi hari sudah hampir tengah malam.


"Kepalaku sakit sekali." Keluh Bram. Diah tampak semakin tegang menatap wajahnya.


"Aku akan menginap di sini saja malam ini, sepertinya aku tidak kuat untuk menyetir." Tambah Bram. Dia telah turun sebentar, memesan kamar hotel saat mereka berdua sedang makan malam tadi.


Mungkin benar, kepalanya pusing tapi dia tidak mabuk terlalu parah, masih ada separuh kesadarannya. Sayangnya, otaknya yang sedang di landa amarah pada Sally


"A..aku bagaimana?" Diah yang lugu itu kebingungan.


"Kamu pulang naik taksi, apakah tak apa-apa?" Tanya Bram.


"Tak apa-apa, aku bisa pulang sendiri."


"Aku menyesal Diah, tak bisa mengantarmu sesuai janji. Daripada terjadi apa-apa pada kita berdua, sebaiknya aku tidak menyetir dulu." Bram berdiri, tetapi kemudian terduduk lagi di kursi setelah nampak oleng.


"Bisakah kamu mengantarku ke kamar, sebentar?"


Diah yang manis itu menurut saja, ketika dia merengkuh pundak Diah untuk menyandarkan tubuhnya seolah-olah dia takut jatuh, meminta gadis itu mengantarnya ke kamar yang sudah di pesannya.


Diah membaringkan Bram di atas tempat tidur.


"Diah..." Bram memegang lengan Diah. Menahan gadis itu beranjak.


Wajah mereka bertemu pandang sesaat, dengan rikuh Diah menunduk.


"Apakah kamu sudah mempunyai pacar?" Tanya Bram tiba-tiba.


Diah tergagap, saat jemari Bram membuat kulitnya terasa hangat terbakar secara mendadak.


"Aku...aku..."


"Maukah kamu jadi pacarku, Diah?" Tanya Bram tiba-tiba. Matanya yang merah menatap lurus ke mata gadis polos yang tak pernah mempunyai kekasih sampai di penghujung dia duduk pada bangku sekolah menengah atas itu.


Diah membuang wajahnya, menggigit bibirnya dengan gugup, dia takut tetapi dia tak bisa menolak saat lelaki yang di sukainya begitu lama itu menyentuhnya.


Bram duduk di pinggir tempat tidur, memegang kedua lengan Diah,


"Aku ingin...kamu menjadi kekasihku..." Bisik Bram, lelaki yang sudah berpengalaman menahlukkan perempuan itu, menghadapi gadis sementah Diah tentu saja berada di atas angin, apalagi dia tahu benar Diah jatuh cinta padanya.


"Tapi...kamu mencintai Sally..." Diah menundukkan wajahnya.


"Dia sudah meninggalkanku...dia mencampakkanku." Wajah Bram mengeras dalam kesedihan yang tak bisa disembunyikannya.


Diah terdiam, sesaat dia melirik kepada Bram sambil menunduk persis di depan lelaki yang di pujanya itu.


"Maukah kamu menjadi kekasihku?" Tanya Bram sekali lagi, pertanyaan itu menggantung di udara,


(Ufs...kita flasback dulu ya, bagaimana awal penderitaan Diah☺️ Siapa tahu ada yang penasaran bagaimana awal Diah menyerahkan dirinya kepada Bram. Awalnya aja sih, karena itu yang paling di ingat Bram🤭 Sekedar flashback, kebodohan seorang remaja yang kemudian mempertaruhkan masa depannya demi berharap cinta. Tetapi semua muara cerita tetap berpusat pada Sarah dan Raka, ya😅)



...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....