Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 95 MENDENGARKAN TANPA MENGHAKIMI


"Kamu mengenal Tania lama?" Akhirnya Raka tak tahan untuk tidak bertanya kepada Sarah.


"Teman kuliah." Jawab Sarah pendek, matanya tertuju ke arah jalan raya.


"Lama berteman?" Tanya Raka lagi, sesekali melirik Sarah dari belakang stir.


"Ya, hampir separuh masa kuliahku, berteman dengannya." Jawab Sarah sambil menggedikkan bahunya, begitu cuek seolah semuanya tidak penting.


"Kalian tidak terlihat akrab." Raka menyahut tiba-tiba.


Sarah dan Raka bertemu pandang, sebelum dengan jengah Sarah membuang muka kembali ke arah jalan raya yang ramai.


"Kenapa kamu sangat tertarik mengenai pertemananku dengan Tania?"Tanya Sarah tiba-tiba.


"Apakah salah?"Raka balik bertanya.


"Itu masa lalu."Sarah menjawab acuh, dia sama sekali tidak berselera membicarakan Tania.


"Sayang, Aku tidak terlalu banyak tahu tentangmu, dengan mendengarmu dari masa lalu setidaknya aku akan lebih mengenal istriku." Raka tersenyum melihat ke istrinya.


"Apakah itu penting?"Tanya Sarah dengan tak senang.


"Kenapa tidak? seorang istri adalah teman hidup untukku di masa sekarang dan di masa datang. Tahu tentang masa lalumu bukan berarti aku keberatan untuk hal-hal yang sudah terjadi. Tapi semakin aku tahu, maka akan semakin sedikit kesalahanku selama bersamamu ke depan, karena aku menjadi mengenalmu lebih dari cukup."Raka berucap dengan santai.


"Apakah dalam rumah tangga, menjadi penting masa lalu pasangannya?"Sarah mengernyit dahinya, sekarang dia benar-benar melihat suaminya itu dengan mata bulat yang penasaran.


"Masa lalu memang tidak penting, tapi penerimaan kita terhadap masa lalu menentukan masa depan kita. Setiap orang melihat kita dari sisi berbeda, alangkah baiknya pasangan kita tahu dari pernyataan kita, sebelum tahu dari orang lain dengan versi yang berbeda." Raka menyentuh paha Sarah dan menepuknya pelan, dia sama sekali tidak berniat menyinggung sang istri.


"Aku tidak pernah menyembunyikan apa-apa darimu." Sarah terlihat sewot.


"Aku tahu, sayang...tak ada yang kita tutupi saat kita berdua memulai pernikahan kita dari awal kembali dengan sebenar-benarnya. Hanya, ketika bisa mendengarmu bercerita tentang apa saja yang mengganjal di hatimu, membuatku merasa diriku begitu penting bagimu. Seperti superhero, meskipun mungkin hanya mendengarkan." Raka terkekeh mencairkan suasana.


Sarah terdiam, lamat-lamat di tatapnya Raka yang menyungging senyum kepadanya seperti tak menanggapi wajahnya yang masam. Mata Raka melirik sesaat kepadanya, meskipun dia tetap memegang setir dengan santainya.


"Kalau keberatan juga tidak apa-apa sayang, aku cuma sedikit ingin tahu. Sedikit saja." Raka menjentikkan jari tangannya dengan jenaka.


"Tapi jika sayangku ini tidak mau membicarakannya, tidak perlu diceritakan. Semua tidak sepenting dirimu yang sekarang." Raka mengedipkan matanya seperti biasa, membuat Sarah gemas ingin mencubitnya.


"Sayang, kalau kamu tidak ingin memakai jasa home Arch punya Pak Agra, kita bisa cari yang lain."Tawar Raka hati-hati.


"Bukan begitu...." Sarah menyela dengan ragu, dia merasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri, menjadi terlalu berlebihan menanggapi keingintahuan Raka.


"Kalau menurutmu, Perusahaan pak Agra itu adalah perusahaan yang tepat untuk kita, aku tidak masalah, hanya saja..." Sarah tampak ragu-ragu.


Sesaat dia menunduk, meremas jemarinya.


"Aku cuma merasa tidak tahu harus bersikap bagaimana untuk memperlakukan Tania." Sarah menghela nafasnya.


"Dia telah membuatku pernah merasa sangat kecewa, karena pengkhianatannya di masa lalu." Lanjut Sarah dengan suara getir.


Raka terlihat mendengarkan dengan santai tanpa bertanya dan menghakimi.


"Dia dulu adalah sahabatku, sangat dekat bahkan lebih dekat dari aku dengan Sally.


"Tania ada saat aku tertawa, dia juga ada saat aku menangis. Kemudian, dia memperkenalkanku pada seorang kakak tingkat..." Sarah menghentikan ceritanya, melirik kepada Raka, melihat ekspresi sang suami.


Raka tersenyum kecil, mengisyaratkan tidak ada yang membuatnya terganggu, padahal secara naluriah laki-laki, dia merasa sedikit cemburu pada siapapun yang dekat dengan kekasihnya itu jika sebangsa laki-laki, meskipun itu hanya bagian kecil dari masa lalunya.


"Dia yang jadi mak comblangnya, dia yang jadi penasehatnya, tapi dia malah berselingkuh dengan teman dekatku itu..."


"Pacar?" Raka menyela dengan masam mesem membuat wajah Sarah memerah.


"Tuh, kan...!" Sarah merengut.


"Aku malas menceritakannya padamu, nanti jadi masalah. Nanti kamu menyimpannya di hati, nanti kamu sok cemburu, nanti kamu menghayalkan kelakuanku macam-macam, padahal itukan cuma masa lalu?" Sarah terlihat gusar melirik kepada Raka.


"Sayang, kalau pacaran itu namanya pacar, kalau berteman itu namanya teman, aku cuma meluruskan...." Raka tergelak melihat sang istri yang nampak kesal.


"Terus? Mereka berdua pacaran dibelakangmu?"Raka mengerling nakal, seolah pembicaraan mereka itu hanya guyonan di warung kopi.


Sarah menganggukkan kepalanya.


"Waaah, mereka berdua memang kurang ajar, sayang." Raka menimpali dengan gemas.


"Itu namanya teman makan teman, model kanibal begitu tidak pantas di lestarikan. Jauh-jauh saja, sayang. Wajarlah kamu kesal sampai mogok ngomong tadi sama si Tania itu." Raka menggeleng-gelengkan kepalanya, seakan memberitahukan sang istri, dia di pihak Sarah sepenuhnya.


"Yang membuatku marah bukan soal dia merebut pacarku..." Sarah mengeja kata pacar itu dengan malu-malu, merasa sungkan dan tak enak kepada suaminya.


"Tapi, Tania mengkhianati kepercayaanku. Dia membuatku sedih, kehilangan seorang teman satu-satunya." Sarah menyudahi ceritanya, dia tak ingin mendramatisir kisah itu dengan sikap yang berlebihan, toh semuanya hanya masa lalu.


"Tania itu benar-benar keterlaluan, dia tidak pantas berteman dengan istriku yang baik ini." Raka melirik Sarah dengan senyum lebar.


"Sepertinya, aku harus berterimakasih dengan mantan pacarmu itu." Raka menghentikan mobil tepat di depan pagar rumah mereka, membunyikan klakson sampai pak Dudung muncul membuka pagar. Pembicaraan tentang Tania ini membuat Sarah hampir tidak menyadari, mereka sudah sampai rumah.


"Hh...!" Sarah mendelik kepada Raka, dengan mimik kesal.


"Kalau tidak karena kebodohannya melepaskanmu dan lari pada si genit Tania, tidak mungkin aku mendapatkan istri secantik ini." Raka sempat-sempatnya mencolek dagu Sarah sebelum menginjak pedal gas masuk ke pekarangan.


Sarah mencibir sambil tersipu, Raka selalu punya cara untuk membuatnya kembali bahagia. Tak ada masalah yang terlalu besar saat di sikapi dengan kejejujuran. Tak ada masa lalu yang tak bisa di terima jika kita mencintai orangnya bukan kehidupannya.


Menjadi suami istri adalah pengejawantahan dari dua raga yang mengarahkan visi menjadi satu hati. Dua orang dengan hati yang sama, tak akan pernah berselisih paham untuk waktu yang lama.


Berbicara dengan jujur adalah kunci semua hubungan, entah itu pertemanan ataupun percintaan.


Sarah bersyukur, dia bisa mengeluarkan semua hal yang mengganjal di hatinya tanpa ada alasan untuk meredam dan menyimpannya sebagai rasa kecewa lagi.


Raka menerima apapun dirinya, bahkan jika dia mempunyai hubungan dengan orang lain sebelum dirinya, tanpa mengungkit apa dan bagaimana yang terjadi.


Suami yang menghargai istrinya, merasa cukup dengan apa yang keluar dari bibir sang istri, sebagai hal yang perlu di dengar dan dipercayai.


(Yuuuuk, pantengin Raka dan Sarah di episode selanjutnya, saat Sarah memeriksa kandungannya tanpa Raka😅 kesel gak bumil di suruh periksa sendiri, padahal si abang sok berjanji siaga 86☺️☺️ Part yang adem-adem dulu yaaa🤭 Jangan lupa Votenya, pleaseeeee🥺 lope-lope buat semua readers tersayang)