Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
BAB 7 RANJANG PENGANTIN MERAH JAMBU


Raka meneguk wine dari gelasnya dengan muka merah padam, matanya memandang suasana bar hotel yang tidak terlalu ramai.


Beberapa meja masih terisi kelompok orang dan pasangan-pasangan yang larut dalam suasana.


Masih terbayang kejadian di dalam kamar tadi, sungguh dia tidak menyangka gadis aneh itu tiba-tiba muncul dan berjalan dengan santainya hanya dengan menggunakan handuk di depan matanya.


Raka sendiri bingung kenapa dia tidak langsung menegurnya, saat tubuh semampai putih mulus itu seperti fashion show tanpa menyadari keberadaannya.


Sebenarnya Raka tahu kalau Sarah berada di kamar mandi, dia hanya mau memasukkan beberapa berkas ke dalam brankas, itu adalah dokumen yang diberikan ayahnya tadi untuk diperiksa, sementara tiga hari terjebak di dalam suasana bulan madu ini, rencananya dia akan bekerja dari kamar hotel.


Sekarang suasananya menjadi sangat kikuk, Sarah pasti berprasangka Raka sengaja masuk dan mempermalukan Sarah. Atau mungkin Sarah berpikir Raka mau mengambil keuntungan dari status palsu mereka.


Raka merasa serba salah, harus bagaimana berhadapan dengan Sarah. Tentu saja dia akan menyalahkan Raka atas kejadian itu.


You promised the world and i fell for it


I put you first and you adored it


Set fires to my forest


And you let it burn


Sang off-key in my chorus


'Cause it wasn't yours


I saw the signs and I ignored it


Rose-colored glasses all distorted


Set fire to my purpose


And I let it burn


You got off on the hurtin'


When it wasn't yours, yeah


We'd always go into it blindly


I needed to lose you to find me


This dancing was killing me softly


I needed to hate you to love me


To love, love,


To love, love,


I needed to lose you to love me


I gave my all and they all know it


Lagu Selena Gomez "Lose You To Love me" memenuhi ruangan bar,


terdengar begitu menusuk telinga sampai ke dalam hati Raka.


"Kau janjikan dunia dan aku pun tergoda


Ku prioritaskan dirimu dan kau sangat suka


Kau nyalakan bara di hutan ku


Dan kau membiarkannya


Menyanyi fals di bagian chorus ku


Karena itu bukan bagian mu


Kulihat pertanda dan aku mengabaikannya


Semua gelas berwarna mawar pun pecah


Kau nyalakan bara pada tujuanku


Dan kubiarkan saja


Kau suka cita menyakiti


Ketika yang kau sakiti bukan dirimu sendiri


Kita selalu mengamatinya membabi buta


Aku harus kehilanganmu agar bisa temukan diriku sendiri


Aku harus membencimu agar bisa mencintai diriku sendiri,


Untuk bisa mencintai


Aku harus kehilanganmu untuk bisa mencintai diriku sendiri


Kuberikan segalanya dan mereka semua tahu


Lalu kau hancurkan diriku dan kini semua orang tahu


Yah, lirik lagu itu begitu tepat dan sempurna menggambarkan perasaan Raka saat ini, begitu mudah Sally mencampakkannya seolah-olah dia memang layak menerimanya.


Raka menelan ludah nya sendiri dengan getir, dia melirik jam tangannya, sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Raka harus kembali ke kamar, dia belum membersihkan badannya setelah acara padat seharian, bahkan dia belum berganti pakaian dari acara resepsi tadi.


Sekarang Sarah pasti sudah tidur dengan nyaman diatas tempat tidur besar itu. Dia hanya perlu masuk, mandi dan berganti pakaian, lalu tidur di kamar tamu.


Besok pagi dia sudah berjanji sarapan bersama papa dan mamanya.


Raka akhirnya memutuskan kembali ke kamar, jika pun Sarah masih belum tidur dan marah padanya, dia akan bersikap cuek saja.


Setelah membuka pintu kamar, dengan mengendap dia masuk. Raka terkesima mendapati Sarah sudah tidur di atas kursi sofa ruang tamu.


Gadis itu seperti peri yang kelelahan, tampak nyenyak, dibungkus oleh selimut tebal sambil memeluk sebuah guling di dalam keremangan lampu.


Raka tidak menyangka, Sarah memilih tidur di atas sofa, sebagai laki-laki seharusnya dia lah yang tidur di sana.


Raka masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan dirinya seadanya, rasanya terlalu malam untuk mandi. Raka benar-benar lelah, yang ada di pikirannya adalah tidur segera.


Setelah berganti baju bersih, Raka bersiap mengistirahatkan tubuhnya yang letih.


Ranjang pengantin itu begitu mengundang untuk ditiduri.


Raka sesaat menikmati keindahan penataannya, seharusnya di sana dia dan Sally menghabiskan malam pengantin dengan penuh kemesraan.


Raka akan menggendong tubuh istrinya ke tempat tidur yang bernuansa romantis itu kemudian membaringkan perlahan diatas sepray sutra yang lembut dan licin. Kulit halus sang istri akan menyatu dengan rona kain merah jambu peach itu tentu akan memberikan kesan yang sangat menggoda.


Betapa dramatisnya ketika jemari Raka menyusuri setiap lekuk tubuh sang istri dan membelainya dengan lembut dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


Dengan tangannya sendiri, dia akan melepas satu persatu kain yang melekat pada tubuh istrinya.


Tak akan dibiarkannya, sang istrinya membuka matanya barang sekejap, setiap sentuhannya akan memanjakan sang istri sampai dia tidak ingat berada di mana. Dan kehangatan malam pertama yang diberikannya, tidak akan dilupakan istrinya seumur hidupnya.


Raka menyeringai sendiri, saat tersadar dari khayalannya. Betapa bodohnya pikiran itu.


Dia adalah pria yang dicampakkan, laki-laki malang yang memalukan.


Status itu memang layak disematkan padanya, bagaimana tidak, pengantin wanita yang sebenarnya meninggalkannya.


Atau lebih tepatnya, melarikan diri dari pernikahan dengannya.


Dan Raka, sebagai pengantin yang malang, dengan tanpa malu tetap menjadikan dirinya mempelai di hari terkutuk itu, berdiri seperti orang bodoh, mengucapkan janji pernikahan dengan seorang wanita lain.


Wanita asing yang dipaksa menemani dirinya membohongi dunia.


Kebohongan itu dia lakukan di atas alasan tak punya pilihan lain, tetapi sebenarnya jauh di lubuk hatinya yang terdalam dia menyadari, semua dilakukannya karena keegoisannya, ketakutannya dan ketidaksanggupannya menghadapi kenyataan yang sebenarnya.


Sebagai laki-laki, Raka merasa dia sangat pengecut dan begitu rendah.


Raka menghela nafasnya panjang-panjang,


ranjang pengantin nuansa merah jambu di hadapannya itu seperti menertawainya dalam hening.


Tidak ada dan tak akan ada yang terjadi di sana. Bahkan Raka pun tak akan menyentuhnya.


Dengan enggan Raka mengambil sebuah bedcover cadangan dari lemari. Lalu meletakkannya diatas lantai yang beralas permadani persia mahal itu.


Setelah mengambil bantal, mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur, Raka berbaring terlentang di sana sambil mendekap dadanya.


Dipandangnya langit kamar yang gelap, semua kejadian dan peristiwa berputar di dalam kepalanya. Semua hal mengulang seperti kilas balik sebuah film.


Sampai pada satu kejadian, tiba-tiba ingatannya seperti bergerak lamban enggan untuk segera usai. Kejadian pada saat Sarah berjalan ke arahnya, dengan memegang buket mawar berwarna krem di kelilingi oleh bunga baby’s breath berwarna putih.


Dalam balutan gaun pengantin sederhananya, dia seperti melayang di atas tanah.


Di saat itulah, pertama kali Raka melihat dengan seksama pada sosok Sarah. Perempuan itu begitu cantik, anggun dan menawan.


Dia akan tampak sempurna mengenakan apa saja, bahkan jika yang dikenakannya hanyalah sehelai kain murahan.


Tanpa di iringi oleh seorang bridesmaid ataupun ayah yang mengantarnya menuju tempat Raka berdiri dengan sunggingan senyum tipis di bibir tetapi tatapan kosong dan hampa, dia berjalan dari pintu.


Langkahnya pelan seperti melayang, dagunya agak terangkat, bahkan dari ekspresi itu siapapun tak bisa menebak apakah dia bahagia atau kah marah dengan pernikahan itu.


Raka memandang ranjang pengantin di tengah ruangan itu, ranjang pengantin itu menjadi begitu suram, dingin dan menyedihkan. Kedua mempelai yang seharusnya malam itu menghabiskan waktu di atasnya, terbaring di tempat yang berbeda di dalam kamar yang sama. Larut dalam pikirannya masing-masing. Dan tertidur dalam kelelahan raga, hati dan jiwa.