
"Diah? apa kamu sudah tidak waras?" Bram terkekeh sambil merapikan celananya, tiba-tiba tengkuknya meremang melihat tatapan Diah padanya, perempuan yang dia tahu selalu mencintainya itu.
"Aku sudah lama kehilangan kewarasanku sejak aku mengenalmu!"
Diah yang setengah tel*njang akibat perlakuan Bram itu, menatap nanar pada Bram.
"Apa yang kamu cari lagi dariku? Mungkin perempuan selingkuhanmu itu sedang membuangmu sehingga kamu berfikir memungut kembali barang usang yang telah kamu tinggalkan? Binatang sekalipun tak akan memperlakukan pasangannya seperti yang telah coba kamu lakukan sekarang! mas tahu apa artinya itu? aku sedang mengatakan apa pada mas? aku sedang mengatakan bahwa ahlak mas lebih rendah dari binatang." Betapa kejam dan menusuk kata-kata Diah itu, yang serta merta membuat amarah Bram tersulut kembali, tangannya terangkat, dia bersiap hendak memberi pelajaran pada istrinya yang dianggapnya sangat kurang ajar itu.
Bukannya menghindar, Diah malah melepaskan kain taplak meja yang menutupi tubuhnya yang terbalut daster robek-robek itu, lalu dengan dagu terangkat menyongsong tamparan itu.
Sekarang Bram yang terkesima dengan sikap Diah, kakinya seperti terpaku di lantai dan tangannya terangkat tinggi melayang beku di udara.
"Pukul saja mas! Pukul saja! Karena hanya tubuh buruk ini yang kupunya sisa dari semua derita yang telah kamu timpakan kepadaku. Jika kamu merasa berhak memukulku, maka pukullah, sepuasmu! Aku lebih suka kamu memukulku dari pada kamu menyetubuhiku seperti setan!" Diah berkacak pinggang menantang, tanpa rasa takut.
Bram mundur selangkah, sikap Diah benar-benar menakutinya sekarang.
"Kamu...kamu tidak takut padaku?"
"Aku tidak takut lagi padamu, mas!"
"Apa kamu lupa jika kamulah yang mengemis-ngemis cintaku? Kamulah yang memintaku melakukan apa saja apadamu asal aku tetap disampingmu?"
"Aku tidak lupa! bahkan aku mengukir momen itu sebagai hal yang tak akan aku lupakan seumur hidupku, kamu tahu kenapa mas? supaya aku ingat, merendahkan diri untuk mencintai orang yang tak punya hati itu adalah perbuatan mengutuk diri sendiri!"
"Kamu berani bercerai denganku?" tanya Bram sambil berusaha terlihat mengejek, padahal dirinya begitu gentar dengan sikap Diah yang berubah 180 derajat dari Diah sang istri yang dikenalnya selama ini.
"Haruskah aku takut?" Diah balik bertanya, nadanya lebih megejek dari Bram.
"Aku baru bertemu dengan sedikit kewarasanku beberapa hari ini, mas...dan ketika aku memikirkan perceraianku denganmu secara sungguh-sungguh sebenarnya tidak sehoror yang kubayangkan sebelumnya! Aku tanpamu tidak serta merta membuatku mati. Aku tetap saja hidup. Bukankah begitu? Lalu menurutmu, apa aku takut bercerai darimu sekarang?"
Bram hampir kehilangan kata-katanya, Diah seperti orang yang sedang berada pada titik ketakutan terendah emosinya, yang pada akhirnya membuat Diah menjadi berani tanpa memikirkan apa-apa lagi.
"Kamu selama ini hanya hidup bergantung dari belas kasihan orangtuaku, camkam itu!"
"Jika aku jadi kamu, aku lebih malu lagi, karena istri dan anakku dipelihara oleh orangtuaku bukan oleh diriku sebagai suami." Diah menyeringai, semua hal yang ada di hatinya, terpendam begitu lama terasa seperti menghambur begitu saja keluar.
Bram tercengang, betapa tidak setelah pertengkarannya dengan Sally hari ini, dia merasa sebagai laki-laki dia kehilangan tempat. Sally yang dominan dan selalu bersikap keras sejak dulu, sebenarnya Bram tak mempermasalahkannya. Dia sudah mengenal watak Sally itu sejak dia memacarinya waktu remaja. Tapi, sekarang Sally semakin menjadi, sejak dia mewarisi harta papanya, dia semakin semena-mena pada Bram, seakan Bram ada sebagai piaraannya. Di perlakukan sesuka hatinya.
Dan Sally bahkan terang-terangan mengatakan dia sangat menginginkan Raka mantan tunangannya itu, di sela permainan panas mereka di ranjang. Dia tanpa malu lagi mengatakan, jika ada laki-laki yang ingin dijadikannya suami, dia ingin Raka!
"Aku tak pernah mencintaimu, Diah...aku tak pernah menginginkanmu! Aku juga membencimu Diah, membenci dirimu yang murahan itu." Bram tiba-tiba tergelak, dengan begitu dia merasa menang, menghempaskan perasaan Diah adalah keahliannya, dengan mengingatkan perempuan ini bahwa dia menikahi Diah karena terpaksa.
Pias wajah Diah mengeras, matanya tak berkedip menatap Bram. Rasa luka dan sakit hati seolah menyaru sebagai dendam yang tak dia tahu rasanya lagi.
Jika dulu dia masih bisa menangis untuk melawan rasa sakit itu sekarang dia merasa hatinya kebas, hampa bahkan dia tak mengerti seperti apa rasanya.
Rasa sakit yang tertinggi adalah, saat kita tak lagi merasakan apa-apa bahkan ingin menangispun sudah tak ada rasa dan air mata.
"Aku bersyukur mendengarnya, mas. Setidaknya aku tidak merasa bersalah sedikitpun atas apa yang terjadi setelah ini. Terimakasih atas semua luka ini." Diah berucap tanpa ekspresi.
Malam itu, Bram pergi lagi, dengan membawa kemurkaannya, dan Diah tak perlu menebak kemana suaminya itu pergi.
...***...
Diah menggigit bibirnya, meraih ponselnya yang berada di atas meja sudut. Derai hujan membuat telinga pekak, udara dingin menguar dihantar lewat jendela yang terbuka, bahkan titik hujan di bawa angin sampai ke pipi Diah.
Sebuah helaan nafas berat, mengakhiri lamunan panjangnya.
Setiap orang akan bertemu dari batas kemampuan diri sebagai manusia meski dia mungkin adalah orang yang punya stok sabar terbanyak di dunia, luka yang ditoreh berulang-ulang dan begitu dalam, suatu saat akan mengumpulkan sakit itu menjadi dendam, setidaknya membalas rasa yang sama, meski mungkin dengan cara yang berbeda.
Dengan tanpa ragu kemudian Diah mendikte dalam hati angka-angka di bawah nama Sarah Davieka Wijaya itu untuk dirinya sendiri sambil memencet tuts demi tuts keyboard handphonenya dan ketika tulisan berdering itu muncul dirinya telah mantap mengakhiri masa berkabungnya untuk derita yang selama ini di tanggung olehnya.
Bangkit sekarang baginya, bukanlah sebuah pilihan tetapi keharusan,
"Hallo?"
"Hallo...mbak Sarah?"
"Ya, saya sendiri. Ini siapa?"
"Saya, mbak. Saya Diah."
...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka🤗...
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya......