Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 125 KETAKUTAN TAK BERALASAN


Mata ayah sarah terpejam, airmata yang dibendungnya sedari tadi akhirnya tumpah ruah di pipinya. Rasa haru biru itu membuatnya hampir tak bisa bernafas.


Seumur hidup dia sangat memimpikan bayi perempuan kecil yang menangis di dalam gendongannya di depat jasad sang istri, 26 tahun yang lalu, memanggilnya dengan kata "ayah"


Orang tua yang hampir putus asa itu memeluk tangan sang anak dengan jari-jari yang gemetar.


"Anakku..." Suaranya hampir tak terdengar karena airmata yang jatuh di separuh wajahnya.


Dipejamnya mata mencoba meresapi semua pertemuan yang menjadi impiannya bertahun lamanya itu.


"Apakah ayah tahu, aku tak pernah berhenti memikirkan ayah sepanjang hidupku. Selalu bertanya-tanya dalam hati, kenapa aku ditinggalkan oleh ayah." Sarah bergumam di sela isak yang di tahannya.


Ayah Sarah merenggang pelukan Sarah dari belakang itu, lalu berbalik dan memeluknya dengan erat.


"Aku juga tak pernah berhenti memikirkanmu, nak..."


"Aku minta maaf... "Sarah terisak dalam pelukan ayahnya.


"Minta apa untuk apa? jangan membuat ayahmu ini merasa malu."


"Aku minta maaf telah mengira ayah tak pernah memikirkanku."Bisik Sarah.


"Aku yang seharusnya seribu kali minta maaf padamu, nak..."Tukas sang ayah tanpa berusaha membuang air matanya yang menggenang. Dia rela terus membuang air matanya demi untuk memeluk putrinya ini.


"Tidak ayah...aku tidak akan bertanya lagi, kenapa ayah harus pergi. Aku tidak akan bertanya lagi kenapa aku di tinggal sendiri. Aku hanya mau ayah tetap di sini dan jangan pernah pergi lagi." Sarah mengucapkan semuanya dengan tulus, dia berjanji mengubur semua kenangan buruk masa lalunya itu.


Dia tidak ingin tahu lagi alasan apa yang membuat ayahnya itu harus meninggalknnya, entah karena benar-benar benci ataukah ada sesuatu di baliknya yang tak mau ayahnya ungkapkan.


Apalah artinya sebuah masa lalu jika dia telah bertemu dengan masa depan yang bahagia, biarlah semua tertinggal di belakang sebagai kenangan buruk dan pembelajaran hidup.


Mbok Yem selalu benar, ketika mengatakan bahwa semua hal mungkin terjadi dengan suatu alasan. Dia tidak perlu menyimpan dendam untuk rasa sakitnya, karena memaafkan membuat hidupnya menjadi lebih mudah. Sekarang adalah waktunya, berdamai dengan hati dan berdamai dengan kenyataan. Tuhan tak pernah menutup matanya, hanya mungkin memberi sedikit waktu untuk mengajari kita menjadi lebih tangguh dan lebih dewasa dalam menghadapi hidup.


Setiap ujian yang berhasil kita lalui akan membuat kita naik kelas untuk menjadi bijak.


Setelah pertemuan yang mengharu biru bersama sang ayah, Raka datang menjemput mereka dan mengajak istri dan mertuanya itu makan siang di restoran favorit Sarah.


Mereka berbicara dengan begitu akrab, Raka selalu berusaha membuat cair suasana, membuat mereka menjadi tak berjarak. Tak ada yang menyinggung tentang dulu dan masa lalu.


Tidak ada lagi pertanyaan mengenai kenapa dan di mana?


Raka adalah penengah yang baik tanpa terlalu banyak ikut campur karena dia tahu masalah keluarga dan orang tua adalah hal yang sensitif bagi pasangan. Jadi tetap di koridor, menjadikan semuanya baik-baik saja.


"Ayah bisa tidur di rumah dengan kami dan bertemu dengan Rae..." Tawar Raka.


"Ayah menginap di hotel saja, tidak enak datang sekarang ke rumah kalian. Kesannya terlalu mendadak. Ayah juga bingung mau ngomong apa, mendadak muncul seperti hantu begini, takutnya nanti membuat salah paham saja." Ayah Sarah tampaknya mengerti dengan posisinya.


"Mama dan papa bukan orang yang suka menilai orang dari pertama kali bertemu, mereka pasti bisa mengerti."


"Bukan soal mereka yang bisa mengerti atau tidak, nak Raka...tapi ini tentang ayah." Ayah Sarah menghela nafasnya dengan berat.


"Sikap ayah selama ini yang mengabaikan darah dagingnya sendiri, sudah membuat ayah malu sampai tak berani menghadapi orang tuamu. Tapi, ayah berjanji...suatu saat ayah akan datang ke rumahmu dengan kepala terangkat tinggi dan penuh keberanian, mengatakan bahwa aku adalah ayah Sarah yang bisa di banggakan anakku ini." Ayah tersenyum pada Sarah yang tak lepas menandang wajah sang ayah, seolah ingin melukisnya untuk di letakkan di ingatannya terdalam.


"Aku akan selalu merasa bangga pada ayah..." Sarah mendesah, entah mengapa dia sangat ingin mengucapkan kata-kata itu.


"Nanti sekembali ayah dari Kanada, ayah tahu akan mencari siapa." Ayah Sarah tersenyum lebar.


"Lega rasanya, melihat Sarah mendapatkan suami sebaik nak Raka ini. Ayah manapun di dunia akan merasa tenang, jika putrinya mempunyai pendamping seperti nak Raka."


Raka tersipu sambil melirik Sarah,


"Tuh, kan sayang...ayah bilang apa, aku suami ter the best. Di jaga dengan baik, sayang...di rawat...nanti hilang, rugi lho. Barang langka ini..." Kelakar Raka sambil mencolek pinggang istrinya itu.


Sarah merengut mendengarnya dan ayah tertawa melihat polah jenaka Raka.


Itu adalah tawa pertama sang ayah sejak Sarah melihatnya.


Terdengar begitu merdu dan menyenangkan di telinga Sarah. Tawa seorang ayah, dia benar-benar mendengar tawa seorang ayah yang bahagia.


"Haruskah ayah kembali besok?" Tanya Sarah kemudian.


"Ya, Sayang, tiketnya sudah ayah pesan untuk keberangkatan besok...ayah harus kembali. Hampir sebulan ayah meninggalkan pekerjaan ayah berkeliaran di sini. Seharusnya dari tiga minggu yang lalu ayah sudah melakukan ini. Datang dengan berani kepadamu, supaya tidak membuang waktu percuma seperti gelandangan." Ayahnya terkekeh.


"Apakah sangat penting?" pertanyaan Sarah terdengar tiba-tiba.


Ayah Sarah menatap mata anak perempuannya itu, terliahat sorot kecewa di sana.


"Penting? Ya, pentinglah...ini urusan pekerjaan. Ayah harus bertanggungjawab dengan beberapa karyawan dan atasan yang sedikit cerewet di tempat kerja ayah.


Tapi...mereka tetap sepenting dirimu sekarang. Ayah hanya mengurus sesuatu sebentar, ayah akan sering pulang ke Indonesia setelah hari ini." Ucap Ayah Sarah, menenangkan kilat kekecewaan yang tertangkap di bola mata bening milik Sarah.


"Oh, Iya...aku belum bertemu cucuku juga, jadi aku pasti tidak akan betah terlalu lama di sana, aku penasaran setampan apa cucuku itu. Apakah setampan kakeknya ini?"


Sarah tertawa mendengarnya,


"Aku bisa mengirimkan foto dan videonya untuk ayah kalau soal itu." ucapnya.


"Ya...ya...tapi tidak se real jika aku menggendongnya. Sebenarnya, aku sudah meminta nomor kontakmu dari papamu, tapi sanpai sekarang tak pernah berani menelponmu. Ayahmu ini memang pengecut." Ayah Sarah tertawa sendiri, mengingat ketakutannya jika Sarah ternyata menolak dan membencinya itu.


Tapi ketakutannya tak beralasan, Sarah adalah anak terbaik yang di berikan Tuhan padanya dengan hati yang seputih salju. Dia tak pernah menyimpan rasa benci di atas kekecewaannya pada orang lain.


Dia selalu berusaha mengerti tanpa meminta alasan.


(Maafkan akak yaaaa, kemarin gak UP, akak benar-benar sibuk😓😓😓 Mulai besok akak akan UP normal lagi 🤗🤗🤗 Lope2 buat semua readers kesayangan jgn lupa vote dan dukungannya. Makasiiiiih all❤️)




...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you all❤️...