Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 228 AKU TELAH MEMBALASNYA


(SALLY)


Sepeninggal Bram, sejenak Sally berdiri dengan wajahnya yang pucat pasi.


Begitu Bram pergi, semua emosi Sally tertumpah, air matanya luruh seperti air hujan.


Entah apa yang di tangisinya, entah apa yang di sesalinya.


Saat Bram benar-benar sudah pergi, Sally merasakan lututnya goyah.


Tangannya segera bertahan pada pintu kamar mandi.


Pintu itu di ketuknya kemudian,


"Keluarlah!" Panggilnya sambil menghapus air matanya dengan punggung tangannya sendiri.


Pintu itu terbuka perlahan, laki-laki muda berwajah polos itu tampak masih menyiratkan ketakutan, kepalanya celingak-celinguk bersikap waspada.


"Dia sudah pergi..." Sally melangkah menuju tas tangan di atas meja samping kepala tempat tidurnya.


Buk!!


Segepok uang di lemparnya ke kaki berondong tampan itu.


"Kenakan pakaianmu dan pulanglah, tugasmu sudah selesai." Sally berucap kemudian setengah mengusir, matanya beralih dari tubuh polos anak lelaki yang mungkin hanya seumur sembilan belas sampai dua puluh tahun itu kepada seonggok pakaian yang di lempar berhamburan itu.


Dengan malu-malu dia meraih pakaiannya yang bertebaran itu, Sally melucutinya macam singa kelaparan saat mereka bercumbu beberapa saat yang lalu.


Tak pernah dia melihat cara bercumbu sekasar dan seberingas itu dari seorang perempuan yang pernah menyewanya selama ini.


Hanya saja dia heran, perempuan cantik yang menyewanya malam ini, tampak tak menikmati percintaan mereka, meski Agil, gigolo tampan ini sudah mencumbuinya dengan maksimal. Bahkan mereka berdua hanya melakukan foreplay yang panjang sampai basah berkeringat tanpa boleh melakukan hubungan intim pamungkas.


Percintaan itu terkesan seolah memang sedang menunggu seseorang datang.


Agil yang tak paham ini, mengira kak Sally yang cantik ini sedang mengundang seseorang untuk bersama-sama dalam adegan threesome, kadang-kadang tante-tante kesepian yang menyewanya suka melakukan hal yang aneh-aneh.


Tapi yang dilakukan Sally, dia seolah mengulur waktu, dan ketika lampu ruang tengah menyala, terlihat dari celah bawah pintu, Sally malah makin menggila, dia melepaskan cel@n@ d@la@m Agil yang masih tersisa di bagian bawah pusarnya, lalu dengan gerakan tergesa dia merenggut bra dan segitiga warna abu-bu yang melekat menutupi bagian terakhir yang tersembunyi dari tubuhnya.


"Lakukan sekarang!" Kalimat itu serupa geraman, pinggangnya di tarik kasar sehingga benda tumpul yang sedari tadi tegak menantang, melesak di antara paha Sally, bahkan sama sekali tak mengenai apapun.


Saat Agil berusaha memperbaiki posisi, Sally memeluknya erat, mendes!s dan mendes@h, tak urung membuat Agil tak bisa menahan lenguh yang keluar dari mulutnya, Sally terlihat seperti cacing kepanasan dalam sekejap.


Saat itulah, pintu kamar itu terbuka dan seorang laki-laki dengan jaket denim berdiri di tengah pintu. Ketika Agil menoleh dalam rasa terkejut, lampu kamar itu menyala terang, membuat dirinya terkejut seperti baru saja di gerebek hansip.


Wajah merah padam, mata yang membeliak penuh amarah dan tangan yang terkepal itu masih membayang di benak Agil, wajah yang membuat dia melompat dari atas tubuh Sally dan setengah berlari menuju kamar mandi untuk menghindari amukan laki-laki yang mungkin suami atau kekasih perempuan yang menyewanya itu.


Bahkan jika dia jujur, Bram tiba tanpa sempat terjadi hubungan intim yang sesungguhnya.


"Kenapa kamu masih bengong begitu, cepatlah berpakaian dan pergilah, aku mau tidur." Sally duduk dengan tubuh masih hanya tertutup kain selimut, menyalakan rokoknya dan mengisapnya panjang-panjang sebelum asap itu membumbung dari sela bibirnya ketika kepalanya mendonggak ke atas langit-langit sambil menghembuskannya.


Dengan tergesa tanpa banyak komentar, Agil mengenakan pakaiannya, bahkan celana jeansnya di pakainya tanpa menarik resletingnya.


"Kak Sally..." Agil memanggil dengan wajah takut-takut pertengkaran sepasang kekasih karena kehadirannya itu masih membuatnya gemetar.


"Hm..." dengan kaki yang di silangkan sedemikan rupa, menyingkap paha dari sela selimut yang tersampir asal-asalan itu Sally mengernyitkan keningnya.


"Ini terlalu banyak, kak..." Ucapnya sambil menggenggam gepokan uang yang mungkin berjumlah sepuluhan juta itu, sedikit gemetar.


Tarif Agil selama ini, paling tinggi adalah setengahnya, itupun long time sampai pagi.


"Terimakasih, kak...terimakasih..." Agil mengantongi uang itu ke dalam saku jaketnya, mengambil handphonenya yang berada di atas meja di samping Sally duduk.


"Aku...aku permisi, kak..." Agil bersiap untuk pergi, rasanya ada senang, takut bercampur gugup saat dia mngakami kejadian subuh ini.


Selama dia menjadi gigolo untuk membiayai kuliah dan juga tiga adik-adiknya yang masih SMA dan SMP itu, tak pernah ada klien yang begitu baik dan royal seperti kak Sally yang di kenalnya beberapa jam yang lalu lewat tante Sita, yang biasa menjadi penawar jasanya, meski sebenarnya Agil tak memberi service yang sesungguhnya.


Semenjak kedua orangtuanya meninggal karena kecelakaan tenggelamnya kapal saat pulang dari kalimantan, mereka telah yatim piatu.


Agil telah menjadi tulang punggung keluarganya tanpa sepengetahuan adik-adiknya pekerjaan sebenarnya adalah apa.


"Gil! Namamu Agil, kan?" Sally memanggil nama pemuda itu.


"Ya..."


"Kamu naik apa kemari tadi?"


"Grab, kak."


"Kamu boleh pinjam mobilku untuk pulang, subuh begini tak ada grab..." Sally menunjuk kunci kontak mobil di atas meja sebelahnya.


"Oh, tidak usah kak...aku akan menelpon seorang teman untuk menjemputku." Agil menolak dengan segan, segera keluar dari ruangan kamar itu dengan terburu-buru.


Sikap Sally meskipun baik padanya tetapi membuatnya bergidik, mata itu begitu merah, entah karena mengantuk atau karena kemasukan asap rokoknya sendiri, terlihat nyalang dan sedikit menakutkan.


Sally tak menyahut, bahkan tidak menoleh pada kepergian anak muda yang telah di sewanya untuk menjadi partner ranjangnya malam ini.


Tarikan nafas Sally terdengar keras dan berat, tak bisa di bedakan antara kelegaan dan rasa sedih yang mendalam.


Wajah Bram lewat di depan matanya, terlihat tampan dan menyenangkan. Sementara senyum hangat Raka berkelebat menindih bayangan Bram.


Sally menaikkan kakinya ke atas kursi, meringkuk seperti anak kecil yang kedinginan.


"Mama...mama..." Bibirnya bergerak serupa getaran, sisa pontong rokok di tangannya jatuh ke atas lantai marmer.


"Aku telah membalasnya, aku telah membalas Bram, laki-laki yang kata mama tak berguna itu, laki-laki jahat yang meninggalkanku...! aku telah membalasnya..." Ucapnya dalam suara gemetaran, seakan sedang berbicara dengan seseorang.


Seringai aneh Sally berubah menjadi senyum sedih yang memilukan dalam beberapa jenak berikutnya.


"Mama...aku mau Raka..." Desisnya kemudian, matanya mengerjap-ngerjap mengeluarkan air bening yang tiba-tiba membanjiri kelopak matanya.


Kedua tangan Sally memeluk lututnya, lalu menyungkupkan wajahnya diantara lututnya. Tangisannya pecah, bahunya yang kurus dan terbuka itu bergoncang-goncang.


"Mama...mama...aku rindu Sarah..." Tiba-tiba kalimat itu terdengar dari sela isaknya, sebuah kalimat yang sungguh kontra dengan kebencian yang ditunjukkannya pada kakak angkatnya itu!



...Agil & Sally...


(Meskipun Agil cuma cameo dalam part ini, othor kasih visualnya juga, ya๐Ÿ™๐Ÿ˜


Ikuti kisah selanjutnya, ketika Mytha tahu semua saham yang di gadaikannya telah berpindah ke tangan Raka, bagaimana nasib Sally yang jiwanya tergoncang dan labil itu๐Ÿค”


Apa yang terjadi? seperti apa endingnya, tetap tunggu part berikut, malam nanti, yaaaa๐Ÿ™๐Ÿ˜)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama Raka๐Ÿค—...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya....