Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 200 LUPA RASA


"Saya akan segera berangkat, bu. Siapa yang akan menerima surat ini nanti?" Tanya Diah, sambil memeluk map itu di dadanya.


"Pak Doddy Alfajri. Nanti ku kirimkan nomor kontaknya ke WAmu, supaya kamu bisa menghubunginya jika sampai kantor pak Doddy."


Diah sejenak tercenung, entah apa yang ada di kepalanya, tapi kemudian menganggukkan kepalanya.


"Sekarang sudah lewat siang, kamu sudah makan?"


"Sudah." Jawab Diah dengan cepat.


"Aku dan bapak akan langsung pulang nanti, tolong kamu siapkan ruangan meeting besok pagi dengan Ryan, ya...sebelum semuanya tiba."


"Baik, bu." Diah menganggukkan kepalanya.


Tiba-tiba Sarah berdiri dari duduknya dan mendekati Diah yang berdiri dan memegang lengan Diah sebelum Diah mengucapkan kata pamit mau pergi.


"Diah, apakah kamu tidak apa-apa?" tanya Sarah sambil menyelidik wajah Diah.


"Aku...aku tidak apa-apa." Diah menjawab dengan sedikit bingung, mendapati Sarah meneliti raut wajahnya.


Sarah menghela nafasnya dan menatap lekat pada wajah yang masih menyisakan keruh itu, meski mungkin lebih cerah dari pertama kali sarah melihatnya.


"Kamu telah bekerja denganku selama dua bulan ini."Ucap Sarah lembut.


"Apakah kamu ingat pada apa yang kukatakan dulu, saat pertama kali kamu datang padaku?"


Diah mengangkat wajahnya dan membalas tatapan Sarah.


"Jangan pernah mengasihani dirimu sendiri dengan bersikap selalu kita adalah korban, karena itu membuat kita merasa tak berdaya. Jika kita memang harus menghadapinya, hadapilah...entah harus sesakit apa. Karena semua yang kita hadapi hari ini akan terlewati saat kita bertemu hari besok. Biarkan kita menoleh pada masa lalu dengan kepala tegak bukan dengan penyesalan lagi." Sarah memegang lengan Diah dengan lembut.


"Yang sudah lewat biarlah dia berlalu, jadikan saja sebagai pembelajaran hidup. Jangan pernah mengulang kesalahan yang sama jika kita tahu itu salah...mari menata hidup lebih baik ke depan." Lanjut Sarah.


"Aku dan Bram akan benar-benar berpisah sebulan lagi." Suara Diah terdengar lirih. Setegas-tegasnya dia meminta perceraian pada suaminya, tetap saja dia adalah seseorang yang terluka. Dia perlu seseorang tahu bahwa dia benar-benar sedang di ujung kesakitan dalam pernikahannya yang gagal.



Selama ini, Sarah telah menguatkannya untuk bangkit dari keterpurukan, mengajarnya berani berdiri di atas kakinya sendiri tidak lagi bergantung pada orang lain.


"Apakah kamu takut berpisah dengan Bram?" Tanya Sarah sambil menatap langsung kepada mata perempuan tang berkaca-kaca itu. Dia hanya berusaha tegar, walau sesungguhnya dia sedang rapuh.


Diah mengerjap matanya yang terasa perih,


"Apakah kamu masih mencintainya?" Tanya Sarah lagi.


Sesaat Diah terdiam, mata itu bersinar nanar pada satu-satunya teman sekaligus Bosnya yang begitu mengerti dirinya itu.


"Aku tak tahu lagi rasanya cinta, aku tak ingat lagi perasaan itu bagaimana..." Bibir Diah menyahut gemetar.


"Jika kamu merasa hatimu cukup besar untuk memaafkan Bram dan kembali padanya, belum terlambat. Tapi, tanyakan lagi benar-benar pada hatimu, apakah kamu bisa menerimanya seperti sedia kala setelah kamu disakiti dan dikhianati begitu dalamnya. Semua tak pernah sama lagi, saat pernah ada perempuan lain dalam pernikahanmu. Setiap saat ingatan itu pasti kembali, apakah benar kamu bisa menjalani hidup yang seperti itu?"


Diah menggelengkan kepalanya, menggigit bibirnya.


"Berdirilah dengan tegak, Diah...jangan takut, kamu punya Tuhan yang menjaga dan mencukupkanmu. Jangan menyiksa dirimu untuk laki-laki yang tak pernah menghargaimu. Hiduplah dengan harga diri yang kau junjung tinggi sebagai perempuan yang tak lagi di injak-injak. Katakan pada dirimu sendiri, semua akan baik-baik saja..." Sarah memeluk Diah yang matanya tiba-tiba berembun.


"Aku tidak takut apapun lagi..." Sahut Diah dengan yakin, setetes bulir bening yang sempat jatuh di hapusnya dengan punggung tangan, sesaat sebelum Sarah melepaskan pelukannya.


"Kamu boleh pindah ke apartemenku di dekat butik. Jika kamu memerlukan tempat tinggal setelah keluar dari rumahmu yang sekarang."


Diah mengangguk, seulas senyum tipis di bibirnya.


"Sekarang aku harus mengantar surat ini, sebaiknya aku segera pergi." Diah membungkukkan badannya dengan rikuh. Dia merasa lega, setelah menumpahkan kegelisahannya menjelang sebulan penjatuhan talak lanjutannya. Tidak ada mediasi atau usaha untuk saling memperbaiki, bahkan sekarang Bram telah tinggal kembali dengan Sally.


...***...


"Bu Diah, saya baru mendapat telpon bapak sudah tiba di bandara, saya akan menjemput pak Rudiath dulu. Ibu Diah bisa tunggu saya di sini jika sudah selesai urusannya. Atau nanti di jemput sopir kantor?" Pak Ardi berhenti tepat di depan sebuah gedung 5 lantai yang merupakan alamat kantor cabang perusahaan pak Ferdian. Di sini lah Doddy berkantor jika berada di Surabaya.


"Tidak usah menjemput saya, pak. Saya bisa pulang sendiri naik taksi." Sahut Diah sambil turun dari mobil menenteng tas dan map dari Sarah.


Pak Ardie mengiyakan, dia juga sedang terburu-buru karena harus menjemput Pak Rudiath yang baru saja tiba di bandara.


Begitu Diah menjejakkan kaki lantai dasar, resepsionis menerimanya dan seorang laki-laki kelimis berpakaian rapih mengantarnya ke ruang Pak Doddy yang berada di lantai teratas.


"Pak Doddy telah menunggu anda..." Kata laki-laki itu ramah.


Saat ruang kerja Doddy terbuka, laki-laki itu segera berdiri dari duduknya menyambut Diah.


"Terimakasih sudah datang kemari, bu...Diah..." Cara Doddy melafalkan panggilan Diah terdengar aneh, seolah begitu sungkan.


Mereka memang sudah bertemu dua kali di kantor tetapi hanya sekilas saja. Dan lagi tak pernah berbicara lebih dari dari beberapa kata. Itupun Diah menyambutnya sebagai tamu dengan sikap sangat formal.



"Terimakasih, pak...saya di minta oleh bu Sarah untuk mengantarkan ini..." Masih dalam keadaan berdiri, Diah mengansurkan map di tangannya.


"Ya, ibu Sarah telah memberitahukanku kamu mengantarkannya. Silahkan duduk." Doddy mempersilahkan Diah duduk di kursi sofa tamu sambil menerima dokumen yang di serahkan Diah.


Diah sejenak ragu, tapi Doddy tampak seperti tak memperhatikannya, dia duduk di salah satu sofa itu, matanya tertuju pada map yang di pegangnya dan membukanya, meneliti lembaran di dalamnya dan sebuah kertas yang di lipat rapih.


Dengan canggung Diah duduk di seberang meja tamu di mana Doddy tampak mengerutkan kening membaca isi surat dalam lembaran yang berlipat itu.


Tak lama dia mengangkat wajahnya, tersenyum pada Diah.


"Aku akan menyiapkan lembaran yang ibu Sarah minta, kamu bisa menunggunya." Ucapnya. Diah hanya menganggukkan kepalanya, dia tak menyangka surat Sarah itu ada balasannya. Dia mengira hanya mengantarkannya saja.


Mata Doddy tertuju ke jam dinding, keningnya berkerut sedikit.


"Bisakah kamu menunggu di sini?"


"Aku...aku bisa menunggu di luar." Jawab Diah terbata-bata.


"Aku hanya sholat sebentar, nanti aku kembali..." Sahut Doddy sambil berdiri.


"Aku bisa menunggu di bawah, mungkin kalau ada mushola di bawah...saya juga akan sholat." Sahut Diah, dia benar-benar tak enak jika menunggu sendiri dalam ruangan kerja Doddy itu.


"Kebetulan kalau begitu, kita berdua bisa sholat di sini."


"Di sini?"


Doddy menunjukkan sebuah pintu yang terhubung di dalam ruangannya.


"Di dalam sini ada musholla..."



(Readersku, maafkan othor lambat up yaaaa, ketiduran🤣 baru liat Bab ini belum di UP ternyata, perasaan sudah UP🤭 nantikan lanjutannya hari ini yaaaah...šŸ˜…)


...Terimakasih sudah membaca novel ini dan selalu setia mengikuti perjalanan hidup Sarah dan kisah cintanya bersama RakašŸ¤—...


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan, ya.....