
"Kenapa denganmu, Jen?" Sarah berdiri tegak di depan meja kerjanya, bingung menatap Jen.
"Mam, dia...dia memaksa mengambil Rae dariku!" Jen menunjuk ke arah pintu.
"Dia siapa?" Sarah mengalihkan pandangannya ke arah pintu, dimana sesaat kemudian pintu ruangan Rae terbuka lebar dan di sana berdiri sesorang yang membuat Sarah terbeliak dengan tegang.
"Mama..." Sarah terpana, tangannya mengepal sperti patung dengan mata yang melotot tak berkedip pada bayinya yang tampak sedang bergerak-gerak tak nyaman.
"Hallo, sayang...apa kabarmu?"mamanya menyeringai, sambil menggoyang-goyang Rae yang berada di dalam gendongannya.
"Senang sekali bisa melihatmu lagi, Sarah." Matanya yang berbinar itu, sedikit melirik kepada Sarah lalu berpindah menatap baby Rae yang menggerak-gerak kaki tangannya dengan gelisah itu.
"Lihat, nenek datang untuk menjengukmu, sayang...ini nenekmu. ini nenek yang sangat merindukanmu." Nada suaranya seperti ejekan.
"Mama...!" sarah memeutar mejanya dengan tegang, dia maju mendekat hendak mengambil Rae yang mulai merengek.
"Sttt...Lihat dia begitu senang dalam genggaman neneknya. Dia juga sedang merindukan neneknya." Mama angkatnya itu mundur selangkah, menghindari Sarah, matanya berbinar aneh. Membuat Sarah gemetar karena mencemaskan Rae.
"Mama, berikan Rae padaku." Pinta Sarah, suaranya bergetaran.
"Hei, kenapa wajahmu setegang itu Sarah, aku ini mamamu, nenek dari anakmu. Kenapa matamu melotot begitu seperti baru saja melihat hantu?" Cibir mamanya.
"Mama, ku mohon..." Sarah mengulurkan tanganya pada mamanya, sementara Rae mulai menangis.
"Mama, bolehkah aku memegang keponakanku juga?" Tiba-tiba Sally muncul di belakang sang mama.
Sarah terkesiap melihat Saly yang tiba-tiba saja berada di sana.
"Sayang, cobalah pegang dia...kamu pasti menyukainya. Dia sangat mirip dengan kakakmu yang merasa dirinya cantik itu. Benar-benar menggemaskan" Mama menyerahkan baby Rae kepada Sally.
Tangisan Rae semakin menjadi ketika sudah berpindah ke gendongan Sally.
"Cup...cup...sayang... ini tante, sayang...jangan menangis." Sally mengayun-ngayunkan Rae seolah ingin menenangkan bayi yang sedang menangis itu. Tapi pias wajahnya terlihat ironis dengan kalimat yang dilontarkan dari mulutnya.
"Sally, ku mohon...berikan anakku padaku." Sarah mendekat tapi mamanya berdiri menghalangi.
"Kenapa kamu begitu takut, Sarah...seolah kami akan mencelakai anakmu? kami hanya datang menjengukmu saja. Tadi, tidak sengaja lewat depan butikmu, kami mampir. Sungguh beruntung kami bisa berjumpa denganmu." Mamanya tertawa kecil melihat mata Sarah yang sudah berkaca-kaca.
"Mama, kasihanilah aku..." Sarah menautkan jemarinya di depan dada seperti memohon, tak pernah dia merasa setakut ini terhadap mamanya itu.
"Sayang...ini hanya mama, bukan hantu!" mamanya menepuk pipinya, dengan puas melihat ketakutan yang tersirat di mata Sarah.
"Sarah, aku pernah melakukan hal sama padamu, memintamu mengembalikan Raka padaku...apakah kamu tahu bagaimana rasanya?" Sally menunjukkan seringai di wajahnya, saat dia menatap Sarah dari belakang punggung sang mama.
"Rae tidak tahu apa-apa, berikan dia padaku sekarang, Sally...tolonglah."
"Aku tidak melakukan apa-apa pada keponakan manisku ini." Sally tertawa, sementara Rae tangisan Rae semakin keras.
"Kumohon, jangan sakiti Rae..." Sarah hendak merebut Rae, tapi mamanya mendorongnya kebelakang dengan kasar, hingga Sarah terjatuh.
Sarah benar-benar seperti tak berdaya, airmatanya keluar menatap kepada sang mama dan Sally bergantian. Jen tampak tegang di sudut ruangan, meremas HPnya yang ada di genggamannya melihat Sarah yang mulai menangis.
"Sarah, mama hanya ingin bicara sebentar denganmu." Mama Sarah menatap dengan tajam.
"Papamu menggugat cerai, kamu pasti tahu. Itu bukan hal penting bagiku!" Hardiknya pada Sarah.
"Berpuluh tahun aku hidup dengan orang bodoh karena aku terjebak dengan muka polosnya itu. Tapi ternyata menikah dengannya hanyalah seperti hiasan, tanpa ada tantangan sedikitpun. Hanya saja aku tidak terima dia menceraikan aku karena membela dirimu, anak haram yang berharga dan si l*knat s*tan Winarta itu!" Sambungnya dengan nada tinggi sarat dengan kebencian.
"Aku hanya mau kamu katakan pada papamu yang sama bodohnya denganmu itu, hentikan urusan gugatan ini. Dia kira dia nisa hidup tanpa aku di dunia ini! Aku tidak suka dipermalukan dan di buat seolah-olah kalah darinya. Atau kamu dan papamu itu tak akan pernah tenang sepanjang hidup kalian!" Sembur mama Sarah dengan jemari teracung.
"Dan, sampai kapanpun...aku tak pernah rela Raka menjadi suamimu, Sarah. Karena Raka adalah milikku! Sampai kapanpun aku akan berusaha merebut apa yang menjadi hak milikku!" Tuding Sally menambahkan dari belakang sang mama.
Sarah bangkit dengan mukanya yang merah padam, entah mengapa hatinya yang biasanya selalu berusaha mengalah dan mengerti itu menjadi hambar dan dingin.
Menerima semua penghinaan atas ayahnya yang telah meninggal, atas papa yang telah dengan tulus merawatnya dan mendengar bagaimana Sally menginginkan suaminya membuat perasaannya tak lagi lembut.
Apalagi nalurinya sebagai seorang ibu, melihat bagaimana Sally dan mamanya berusaha mengancamnya dengan menggunakan anaknya, kemarahannya terasa naik sampai ujung rambutnya.
"Sejak hari ini, aku tak akan lagi menghormatimu mama, selayaknya selama ini aku berusaha melakukannya!" Suara Sarah terdengar keras dan dalam.
Tanpa menoleh, dia mengibaskan tubuh sang mama yang menghalangi jalannya, Sarah tak pernah semarah ini dalam hidupnya.
Mamanya terjajar ke samping hampir terjatuh tapi tertahan oleh pegangan kursi sofa tamu.
"BERIKAN ANAKKU PADAKU!" Mata Sarah membulat seperti akan keluar.
Sally mundur satu langkah, sambil berusaha memeluk Rae yang menangis keras di dekapannya.
Sarah merangsek dan merebut anaknya itu dengan kasar. Dan Sally tak bisa melawan kekuatan Sarah saat dia mencoba mempertahankan Rae tangan Sarah terangkat,
"PLAK!!" Telapak tangannya menampar pipi Sally dengan keras. Seketika karena kesakitan Sally melepaskan tangannya, dan di detik berikutnya Rae telah berpindah kedalam pelukan Sarah.
Sally meringis sambil memegang pipinya yang memerah oleh cap tangan Sarah. Dari sudut bibirnya terlihat ada sedikit Darah yang keluar.
Sarah benar-benar memukul Sally dengan sangat keras.
"Jen, bawa Rae keluar!"
Jen tergopoh-gopoh mengambil Rae yang menangis dengan keras lalu membawa anak itu keluar dari sana dengan ketakutan. Dia tak pernah melihat pertengkaran antara ibu dan anak seperti ini.
"Beraninya kamu!" Mama Sarah meraung melihat Sally, anak kesayangannya yang kesakitan setelah di tampar oleh Sarah.
Dia hendak balas memukul Sarah tapi Sarah berbalik dan dengan cepat menangkap tangan mamanya yang sudah teracung tinggi itu. Mata Sarah menyorot tajam menembus mata sang mama yang membeliak padanya.
(Sebagai manusia, selalu memiliki batas kesabaran, meski sebenarnya sabar itu tidak ada batasnya. Orang yang terlihat lemah dan tak berdaya, jika di tindas terus menerus, dia bisa melawan dengan sangat keras. Bagaimana kisah Selanjutnya, nanti kan di episode selanjutnya🤗🤗🤗 Pendukung Sarah muncullah🤭🤭🤭 Ayo unjuk jari di kolom komen, akak author lagi rajin up ini...tak sabar mau menindas si nenek Mytha dan Sally yang tak tahu diri😅😅😅)
...Mytha...
...Sally...
...Sarah...
...Terimakasih sudah membaca novel ini❤️......
...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...
...I love you all❤️...