Menikahi Tunangan Adikku

Menikahi Tunangan Adikku
EPISODE 139 BIARLAH TUHAN YANG MEMUTUSKAN


Sarah memeluk Rae sambil memeriksa beberapa laporan keuangan yang baru di antarkan oleh Jen.


Hampir satu bulan dia tidak memperhatikan butiknya, untung ada Grace dan Jen yang menghandel selama dia sibuk dengan kehidupan pribadinya.


Raka mengantarkan mereka ke butik atas permintaan Sarah, dia tak ingin meninggalkan Rae karena berfikir selama ayahnya di rawat di rumah sakit, dia selalu meninggalkan Rae dengan mama dan suster saja.


Ke butik juga rencananya hanya sebentar, sambil menunggu Raka menjemput sementara dia sendiri ada sedikit urusan dengan klien.


Raka juga sedang sedikit kewalahan, karena Dea, asistennya mengajukan cuti mulai hari ini selama sebulan. Setelah sekian bertahun-tahun, gadis periang itu mengajukan cuti, tentu saja Raka tidak bisa menolak tetapi yang membuat Raka mengomel bukan masalah cutinya tetapi masalah alasannya.


"Dia cuti selama sebulan karena Dokter Yogi meminta dia untuk membantunya mengurus rumahnya dan beberapa kucing peliharaan dokter itu, sementara dia kembali ke Jerman untuk suatu pertemuan!" Raka nampak manyun, dia tidak terima merasa urusan pekerjaannya itu tak lebih penting dari beberapa ekor kucing.


"Dia tidak pernah cuti selama tiga tahun, sejak bekerja denganmu. Biar saja, tidak usah di lebih-lebihkan begitu, sayang..." Tegur Sarah.


"Kalau dia cuti karena liburan aku tidak masalah, lah ini demi kucingnya si Yogi." Raka geleng-geleng kepala.


"Hush, dia lagi kasmaran dengan dokter Yogi, biar sajalah. Seperti tak pernah kasmaran saja." Ledek Sarah sambil tertawa.


"Kasmaran sih kasmaran, tapi jangan membabi buta begitu." Tuding Sarah, sepanjang pagi dia sibuk bolak balik melihat list jadwal meeting.


Biasanya kalau ada Dea, dia tidak perlu melakukannya, akan ada Dea yang seperti weker, berbunyi mengingatkan dirinya tentang jadual dan segala macam agenda.


"Memangnya kamu tidak pernah kasmaran sampai membabi buta?" Tanya Sarah, sambil merapikan kerah kemeja Raka.


"Aku orangnya pakai logika."


"Masa..." Sarah terkekeh.


"Memangnya kapan aku pernah membabi buta?"


"Itu, balik dari Leiden dalam seminggu, cuti kuliah sampai berhenti...bukan karena kasmaran?"


"Itu karena aku lebih mengutamakan istri dan anakku, daripada yang lain." Raka membela diri.


"Karena kamu mencintaiku, kan?" Sarah bergelayut manja di leher suaminya.


"Ya, pastilah, karena cinta..." Raka menyosor di bibir Sarah yang menyeringai.


"Karena kamu kasmaran dengan istrimu, kan?" Lanjut Sarah lagi dengan jenaka.


Raka mengernyit dahinya, terjebak dalam pertanyaan sang istri.


"Ya...bisa disebut begitu, tapi tetap saja soal kasmaran, kamu lebih membabi buta." Raka memencet hidung Sarah.


"Kok, aku?" Sarah manyun, bibirnya di monyongkan tapi malah membuatnya kelihatan seksi.


"Yang nekad, mendatangi suaminya keluar negeri sendiri meskipun tak pernah ke Belanda, sampai nyasar dengan bule setengah nyentrik itu siapa? bukannya kasmaranmu lebih ekstrim?" Raka tergelak.


Wajah Sarah menjadi bersemu merah, dengan masam dia melepaskan diri dari pelukan suaminya itu.


"Kita kan berbicara soal Dea yang mengambil cuti, apa hubungannya denganku?" Sarah pura-pura kesal.


"Ya...ya...kakak kesayangan Dea ini, selalu saja membela Dea, makanya dia jadi besar kepala sekarang." oceh Raka. Sarah hanya tersenyum sendiri. Dia tahu Raka menyayangi Dea seperti adik sendiri, hanya saja dia merasa belum siap anak itu cuti ataupun berhenti. Meskipun Dea sudah mengaudisi dan melatih seorang asisten baru untuk menggantikannya sementara tapi Raka merasa Dea lebih mengerti dan cekatan dalam bekerja, selain itu sudah sangat dekat dengan seluruh keluarganya.


(Tentang cerita Dea yang tinggal di rumah dokter Yogi, merawat kucing sang dokter akan ada dalam novel my Dokter, i love youšŸ˜… genrenya komedi romantis)



"Mam...Baby Rae kasihkan aku aja yang pegang..."Pinta Jen yang gemas dengan bayi mungil yang suka tertawa itu. Dia ceria seperti daddynya. Jarang menangis kecuali lapar ataupun merasa tak nyaman.


"Dia sebentar lagi tidur." Sarah meletakkan jari telunjuknya di bibirnya sembari berbicara dengan suara setengah berbisik.


"Tapi belum tidur itu..." Jen tampak gemas melihat Rae yang merem melek di pelukan mommynya.


Sarah melirik pada Rae dan pada beberapa dokumen yang harus di tanda tanganinya, dia akan kesulitan jika sambil menggendong Rae melakukannya.


"Oke, kamu jaga Rae dulu ya, sebentar. Aku harus memeriksa laporan ini sekaligus menandatanganinya." Sarah memberikan Rae kepada Jen, yang di sambut Jen dengan sumringah.


"Jen bawa ke bawah ya, Mam...anak-anak pasti heboh melototi baby Rae..."


Belum sempat Sarah menyahut, Jen segera membawa Rae yang tertawa lucu di dalam gendongan Jen.


Handphone Sarah berbunyi, Raka sedang memanggil.


"Hallo..." Sarah menyambutnya dengan mengaktifkan loadspeaker.


"Sayang, sepertinya aku telat menjemput kalian berdua."


"Maksudnya?" Sarah mengerutkan keningnya.


"Setelah meeting ini, papamu memanggilku ke ruangannya." Jawab Raka.


"Papa ada di kantor?" Sarah tiba-tiba merasa lega, mendengar ada kabar dari papanya.


"Ya, aku bertemu dengannya tadi sebentar di lobby. Dia memintaku bertemu dengannya setelah meeting."


"Apakah papa baik-baik saja?" Tanya Sarah, beberapa hari ini dia sangat mencemaskan papanya.


"Papamu beberapa hari kemarin tinggal di Villa Bali, dia menenangkan diri di sana. Minggu depan di jadwalkan sidang cerai."


Sarah terdiam, dia merasa sedikit sedih dengan keadaan papanya, mungkin dia sedang merasa sangat tak berdaya sekarang, di tengah badai yang sedang menyelimuti kehidupannya.


"Papamu baik-baik saja, tapi sepertinya beliau sangat ingin membicarakan sesuatu denganku."


"Oh, tidak apa-apa. Kami berdua Rae baik-baik saja di sini. Aku bisa makan siang di kantor dengan anak-anak."


"Baiklah kalau begitu."


"Sayang..."


"Ya."


"Katakan pada papa, aku ingin bertemu dengannya." Suara Sarah terdengar lirih, dia merasa sekarang keluarga satu-satunya yang ada pertalian darah dengannya hanya papanya itu.


"Nanti akan ku sampaikan." Sahut Raka dari seberang.


"Oke, sayang...aku hanya mau mengabarkan itu. Tunggu, aku menjemputmu dan Rae, ya." Tambahnya lagi.


"Ya..."


"See you , sayang..."


"See you..."


"I love You."


Klik. Sambungan terputus.


Sarah menghela nafasnya, setidaknya sekarang dia tahu papanya ada kabarnya meskipun tidak baik-baik saja. Diam-diam dia berjanji dalam hati akan merawat papanya itu, andau saja nanti dia benar-benar telah berpisah dari mamanya.


Dia tidak akan ikut campur dalam setiap keputusan papanya karena dia tahu, orang tua itu cukup tahu apa yang kini di alaminya. Dia pantas memilih jalan hidup yang menenangkan dirinya di masa tua.


Sarah tidak bisa menebak seperti apa reaksi dari mama angkatnya itu, ataupun seperti apa Sally menyikapi gugatan cerai papanya pada sang mama.


Sampai hari ini dia tidak pernah bertemu mereka. Sarahpun tidak berusaha mencari tahu karena Raka tidak mau Sarah terlibat dengan apapun yang berhubungan dengan dua orang itu.


"Mereka bukanlah orang yang pantas menerima rasa pedulimu. Tidak perlu merasa berhutang apapun lagi pada mereka, karena kamu telah membayar lunas dengan penderitaan yang telah kamu terima. Selebihnya biarlah Tuhan yang memutuskan."


Dia selalu mengingat apa yang di ucapkan oleh suaminya itu.


(Yuk dukung novel ini dengan VOTE ya, biar othor tambah semangat...mumpung senin ini🤣 Love You all my readers)




...Terimakasih sudah membaca novel iniā¤ļø......


...VOTE, LIKE dan KOMEN kalian selalu author nantikan😊...


...I love you allā¤ļø...