
Dua puluh tahun yang lalu Bright Property hanya sebuah perusahaan property yang baru memulai karir.
Kemudian Adrian Chandra bertemu dengan Jacquin Cokro, berkembang menjadi kekasih, lalu setelah ibu Winda meninggal, mereka akhirnya berhubungan secara terang-terangan.
Kakak ipar Jacquin Markus adalah seorang gangster, dengan koneksi seperti ini, bisnis Adrian bisa menerobos kesulitan bisnis dan terus meningkat.
Bias dikatakan selama beberapa tahun ini, kalau Bright Property mengalami masalah, semuanya dibantu oleh Markus, bahkan preman yang dia miliki juga berasal dari Markus.
Juga karena adanya dukungan dari Adrian, membuat daerah kekuasaan Markus semakin lama semakin luas.
Dengan adanya semua faktor ini, Adrian baru bisa sampai ke tahap sekarang.
Namun, semua ini hanya permukaan saja.
Sebenarnya Adrian terus dikendalikan oleh Markus.
Ini juga salah satu alasan kenapa Adrian rela mengalihkan 20% sahamnya untuk Heru Lumawa.
Saham Adrian di Bright Property, yang mana bisnis keluarga, sebenarnya hanya 38%, namun Markus malah memiliki 40%, saham tersebut.
Secara prosedur Adrian adalah Direktur Bright Property, namun kalau ingin dikatakan dengan kasar dia itu tidak lebih hanya sebuah boneka.
Selama ini, agar bisa lepas dari kendali Markus, Adrian sudah memikirkan berbagai cara, namun pada akhirnya dia tetap tidak bisa lepas dari kendali Markus.
Barusan Jacquin mengatakan kalau dia ingin meminta bantuan kakak sepupunya, Adrian bisa merasakan, mungkin kejadian ini akan menemukan titik balik.
Heru pernah mengatakan, dia sedang diincar oleh seorang saingan yang begitu kuat dan tidak terkalahkan, namun dia tidak yakin saingan yang dimaksud ini berniat mengincar dirinya atau Markus.
Markus sudah bertahun-tahun di dunia gangster, semua hal kotor sudah pernah dia cicipi, ada begitu banyak musuh, meskipun ada pun musuhnya tidak mungkin mengincar Adrian sebagai gantinya.
Paling tidak ini adalah perkiraan Adrian.
Namun tidak peduli apapun yang terjadi, asalkan kakak sepupu Jacquin bergerak, maka pasti akan menyulut emosi orang itu, bahkan kemungkinan besar kedua belah pihak akan terluka.
Pada saat itu dipihaknya ada Heru, kebetulan dia bisa menunggu sambil menikmati hasil.
Saham 20% sama sekali bukan masalah, asalkan masalah bisa diselesaikan dengan lancar, maka saham yang dimiliki Markus bisa dia ambil alih.
Dengan demikian dia akan bisa menjadi Direktur Bright Property yang sesungguhnya dengan nyaman!
......
Rumah Keluarga Ningrat.
Di dalam rumah yang luasnya 90 meter persegi penuh dengan bau obat, dan di atas sofa ruang tamu berbaring seseorang yang terbungkus seperti mumi.
Di sampingnya duduk Milan dan Wanda.
Wajah Milan begitu muram dan mengerikan, seolah setiap saat akan menggila, sementara Wanda hanya menundukkan kepala dengan ekspresi yang begitu campur aduk.
“Martin, ayo ngomong, Wanda satu tahun lagi akan lulus, sekarang lu malah gak kerja, gue mau tanya, bagaimana nasib kuliah keluar negeri Wanda!”
Martin yang berbaring di atas sofa mengerang kesakitan, berkata dengan nada bicara yang lemah, “Kontrak kerja sama gagal, kamu tanya sama aku, lalu aku harus tanya pada siapa?”
Ucapan yang begitu tidak bertanggungjawab sontak membuat Milan murka, “Kontrak, kontrak, kontrak lagi! Martin, Martin, lu mau sampai kapan begini terus hah?”
“Aku begini juga untuk kalian!” Martin bagaikan habis tersengat oleh lebah, langsung memaki dengan tidak jelas, “Santo bajingan, Thomas brengsek! Pecundang kalau dendam ini tidak dibalaskan, Thomas si anak haram itu, tunggu…”
“Pa, Thomas sudah menyelamatkan nyawamu.” Wanda yang sejak tadi diam langsung bersuara.
Asal mula masalah sudah dia pahami sepenuhnya sekarang, ini semua karena ketamakan Martin, sehingga jadi seperti ini.
Perusahaan besar seperti Bright Property bagaimana mungkin bisa dijatuhkan oleh bukti kecil seperti itu.
Thomas sudah berjanji padanya, dia akan membantu Keluarga NIngrat melewati masa sulit, dan pada saat ini Martin melimpahkan semua kesalahan kepada Thomas, Wanda sungguh tidak tahan melihatnya lagi.
Dan ucapan Wanda ini malah membuat Martin emosi, dia mengabaikan tubuhnya yang kesakitan, dan langsung duduk di sofa.
Dia membentak dengan penuh amarah, “Dia menolongku? Dia yang menolongku? Wanda! Dia yang berniat jahat, bekerja sama dengan Santi dan menjerumuskanku!”
“Dia dendam pada keluarga kita membatalkan perjodohan, dan dia ingin membalas dendam padaku, kamu sudah sekolah tinggi-tinggi, masa hal seperti ini saja tidak paham!”
“Pa! Kenapa papa bicara begitu tentang Thomas! Dia sudah membantu keluarga kita berapa kali, jadi orang punya perasaan sedikit bisa gak?”
“Punya perasaan? Kamu bicara soal hati nurani denganku?” Martin benar-benar dibuat murka, ucapannya juga menjadi kasar, “Wanda, kalau mau diusut, biang masalah ini itu kamu! Kalau bukan karena kamu yang menyetujui pembatalan perjodohan ini, mana mungkin semua ini terjadi? Sekarang kamu mau bicara hati nurani dengan papamu ini, lalu di mana hati nuranimu?”
Wanda terdiam.
Karena ucapan Martin ini membuatnya tidak bisa membalas, dan kenyataannya memang begitu.
Kalau dulu dia tidak materialistis, membatalkan perjodohan dengan Thomas dan memilih berpacaran dengan Ivan, maka Martin tidak akan berkenalan dengan Ivan.
Masalah kontrak ini tidak akan terjadi padanya.
Kesimpulannya, penyebab utama semua masalah di keluarga ini.
Bukan martin, melainkan dirinya.
Kalau dia masih berpacaran dengan Thomas, dan setelah lulus kuliah langsung menikah, dalam sekejap menjadi istri Thomas.
Dia bisa tinggal di villa mewah itu, dan uang yang tidak akan habisnya, ini adalah kehidupan yang dia impikan selama ini.
Namun apa daya Tuhan suka bercanda dengannya.
Thomas yang dia yakini tidak berguna seumur hidup ini malah menjadi jauh lebih kaya daripada Ivan.
Hanya karena mobil sport Ivan menghalangi jalannya, dan dia bisa langsung menghilang mobil kesayangan Ivan sampai menjadi lempengan besi rongsokan.
Enam miliar… hanya untuk melampiaskan kekesalannya.
Sampai pada saat itu, dia baru sadar, keegoisannya dan materialistisnya membuatnya kehilangan apa saja.
Wanda hanya tersenyum pahit dan berkata, “Pa, semua salahku, namun ini bukan saatnya mencari siapa yang benar dan salah, Thomas pernah berkata, dia akan membantu kita menyelesaikan masalah, jadi… aku mohon pergilah dari sini sebentar, ya…”
Dia masih ingat, ketika di pabrik tua itu Thomas sempat mengatakan kalau dia tidak ingin melihat Martin lagi, dan memintanya pergi sejauh mungkin.
Wanda bukan orang bodoh, dia tahu kenapa Thomas melakukan semua ini.
Tujuannya melakukan hal ini pun demi keselamatan Martin.
Wanda berencana seperti ini, pertama-tama meminta Martin menghindar, sedangkan dia tinggal di asrama kampus untuk sementara waktu. Setelah Thomas menyelesaikan semuanya, maka semua akan baik-baik saja.
Namun saran Wanda malah dibayar dengan sebuah tamparan keras oleh Martin.
“Plaaakkk!”
“Aaaa, Martin! Kenapa Wanda dipukul?!”
Melihat Martin main tangan, Milan segera maju dan menghadang dengan tubuhnya.
“Pergi? Kenapa aku harus pergi! Hanya karena satu kata dari Thomas? Atas dasar apa aku harus pergi!” Martin berteriak semakin keras dan penuh amarah.
Sebenarnya dia juga takut Keluarga Chandra membalasnya!
Tetapi, dia harus ke mana?
Atas dasar apa dirinya Martin Ningrat harus kalah dari Tanto Widjaja?
Atas dasar apa dia harus kalah dari seorang anak haram?
Amarah dalam dirinya membuatnya merencanakan sebuah rencana baru.
Apa yang dia lihat siang ini, membuat Martin yakin satu hal, Thomas bekerja sama dengan Santo, Bright Property, karena ingin melawannya sudah pasti bukanlah hal yang mudah.
Saat ini dia bisa membalas kesalahan dengan jasanya.
Karena dia tahu, kelemahan paling mematikan yang dimiliki oleh Thomas.
Lagipula, dia didorong oleh Thomas dan Santo, dia hanya pion yang malang saja…
Melihat dia masih berguna, dan juga sikapnya yang begitu tulus, jadi dia ingin membayar kesalahannya.
Adrian pasti tidak akan menolak bantuannya.
Dan pada akhirnya, dia pasti akan mendapatkan kekayaan yang besar dari semua ini…
Memikirkan hal ini Martin langsung tersenyum licik.
“Thomas, lu yang mendesak gue ke jalan buntu, jangan salahin gue tidak berperasaan, ini semua karena lu!”
Kasino Lotte
Dalam sebuah kamar.
Di atas ranjang, ada sepasang pria dan wanita yang merangkul dengan mesra tanpa busana.
Pria itu berusia sekitar 45 tahun, meskipun sudah di usia ini, namun tubuhnya masih begitu gagah.
Di tubuhnya ada puluhan bekas luka yang tidak beraturan, membuat orang yang melihatnya langsung bergidik.
Dan wanita yang bersandar di dalam pelukannya…
Adalah Jacquin, istri Adrian Chandra.
Jacquin mengusap matanya yang memerah dan berkata dengan penuh kebencian, “Kak, kejadiannya begini…”