Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Pikiran Kakak Beradik


Ketika Thomas di perjalanan pulang, dia berpikir sejenak, lalu memutuskan untuk menelepon Martin Ningrat.


“Halo? Om Martin?”


“Oh, ah, Thomas ya.” nada bicara Martin terdengar begitu canggung.


Thomas tahu jelas apa yang terjadi, namun dia memilih untuk berpura-pura bodoh.


“Begini, barusan aku ke rumah Om… Tante Milan mengatakan akan membatalkan perjodohan kami.”


“Apa? Membatalkan perjodohan?”


“Ehm, iya, sekarang surat perjanjian pembatalan perjodohan ada di tanganku, namun, aku tetap ingin menanyakan pendapatmu.”


“Ini…” Martin terdiam sejenak, lalu berkata perlahan. “Thomas, kamu adalah anak yang baik, kelak kamu pasti akan menemukan gadis yang jauh lebih baik dari Wanda, Om percaya, kelak kamu pasti akan sukses. Namun kejadiannya sudah sampai seperti ini, Om rasa membatalkannya adalah jalan terbaik.”


“Oh iya, Om akan mengikuti sebuah rapat, sebentar lagi Om akan pergi dinas untuk beberapa waktu, kalau tidak ada urusan lain, sudah dulu ya.” Setelah Martin mengatakannya, dia langsung mematikan ponselnya.


Maksudnya adalah, urusan ini cukup sampai di sini saja, dia juga tidak berharap Thomas datang ke tempat kerjanya untuk mengadu, dia tidak ada di sana.


Inti dari maksud mereka, Thomas mengerti. Intinya adalah merasa dirinya miskin dan rendahan bukan?


Thomas merasa kecewa sepenuhnya, dalam hati dia bersumpah, mulai hari ini dia tidak akan membiarkan siapa pun memandang rendah dirinya.


“Ferrari sangat hebat ya? Kalau begitu aku akan membelinya untuk menyilaukan mata kalian!”


Begitu memikirkannya, Thomas langsung melakukannya, dia tidak lupa kalau kakeknya yang loyal itu pernah mengatakan, uang 20 miliar ini…


Hanya uang jajannya bulan ini.


Thomas mengangkat ponselnya dan menelepon Luna.


“Luna, aku sekarang berada di depan gerbang kompleks, turunlah dan temani aku membeli barang.”


“Hah?”


“Uhm, nanti kita bicarakan di luar, aku tunggu kamu di sini.”


Uang 20 miliar ini tidak mungkin Thomas biarkan diam di bank begitu saja.


Seorang pria miskin yang mendadak kaya, apa yang paling diinginkan? Thomas tidak tahu, namun dia tahu dirinya memiliki keinginan untuk menghamburkan uang yang begitu besar.


Setelah belasan menit, Luna keluar dengan gaun panjang yang dibelikan oleh Thomas semalam. Rambutnya dikuncir kuda, dipadukan dengan sepasang sepatu kets putih. Bagaikan sekuntum lotus yang begitu indah dan bersih.


“Kak, hari ini kamu tidak bekerja?” tanya Luna dengan heran.


“Hmm, aku mengundurkan diri.” Thomas mengusap dagunya, dalam hati berpikir dia harus menceritakan uang 20 miliar di tangannya dengan cara apa.


Menyimpan rahasia ini seorang diri sungguh menderita. Kalau tidak berbagi kebahagiaan ini pada seseorang, dia bisa gila karena menahan ini. Luna adalah tempat bercerita yang paling tepat.


Dia tidak pernah menyembunyikan apa pun pada Luna, mereka tumbuh dewasa bersama, sama sekali tidak ada rahasia yang tidak bisa mereka bagi.


“Kamu mengundurkan diri?” Luna merasa terkejut.


Thomas kehilangan pekerjaan, itu artinya biaya berobat ibunya akan putus, bahkan untuk membayar uang sewa rumah juga akan bermasalah. Dia tahu kondisi ekonomi keluarganya, bisa dikatakan tidak memiliki tabungan sama sekali.


“Kalau tidak begini saja Kak, tahun pertama kuliahku masih belum begitu padat, aku akan bekerja paruh waktu di waktu senggang…”


“Bicara apa kamu? Kamu kuliah saja yang benar, supaya kelak menjadi orang yang berguna.” Thomas celingak-celinguk melihat sekeliling, lalu mendekat ke telinga Luna, “Aku akan memberitahumu sebuah rahasia, namun kamu harus mempersiapkan dirimu, jangan sampai terkejut.”


“Baiklah, katakan saja.”


“Uhm, begini, pagi ini ada seorang pak tua yang menemuiku, dia mengatakan kalau dia adalah kakek kandungku.”


“Astaga, benarkah?”


“Tentu saja benar, dia bahkan mengambil rambutku untuk melakukan tes DNA.” Ketika mengatakan ini, Thomas mengeluarkan bukti pemeriksaan tes DNA dari saku bajunya.


“Meskipun di atasnya tidak ada namaku, namun aku merasa hal ini benar adanya.” Thomas menambahkan.


“Apa yang bisa ditipu dariku?” Thomas berdecak lalu kembali berkata: “Sebenarnya aku sempat merasa curiga juga, aku juga sempat berpikir sepertimu, namun pak tua itu memberikanku uang 20 miliar, sehingga aku langsung percaya. Kamu bayangkan saja, meskipun aku dijual juga tidak akan menghasilkan uang sebanyak itu.”


“Uhm, sepertinya masuk akal juga…” Luna tiba-tiba tercengang, lalu dia berkata dengan wajah yang begitu terkejut. “Dua puluh….”


Thomas sudah bersiap sejak awal, dia langsung membungkam mulut Luna dengan tangannya. “Sssttt, bukankah hanya 20 miliar saja, jangan berteriak sekencang itu, seluruh orang yang ada di sini akan mendengarnya.”


Sebenarnya, Luna tidak jauh berbeda dengannya dulu.


Luna segera sadar, lalu mengulurkan tangannya memegang kening Thomas, “Tidak benar, Kak, kamu tidak demam sampai otakmu juga rusak kan.”


“Serius, kalau tidak percaya kamu lihat saja sendiri.” Thomas mengeluarkan ponselnya dengan senang, lalu membuka mobile banking.


Yang muncul di layar adalah angka 2 yang diikuti 10 angka nol di belakangnya.


“Astaga~!” kali ini Luna mau tidak mau harus percaya, karena kenyataan sudah terpampang jelas di hadapannya.


“Kita kaya, kita kaya, kita benar-benar kaya raya…” Luna sungguh merasa terkejut dan girang bukan main.


“Benar, kita sudah kaya sekarang.” Memiliki tabungan sebanyak 20 miliar, ini membuat Thomas merasa begitu lega.


Hanya memikirkan adik juga ibunya, kelak tidak perlu lagi memikirkan makanan juga tempat tinggal, Thomas langsung merasa begitu berterima kasih kepada kakeknya ini.


“Kak, kamu memiliki uang 20 miliar sekarang, bagaimana kamu menghabiskannya?” tanya Luna lirih.


“Tentu saja membeli sebuah mobil terlebih dahulu, lalu membeli sebuah rumah, lalu memindahkanmu ke kampus ternama, dan yang terakhir mencarikan rumah sakit terbaik untuk mengoperasi ibu.” Thomas mengungkapkan apa yang dia pikirkan.


“Tidak, Kak, kalau kamu ingin membeli rumah dan mobil, beli saja, aku sudah kuliah tahun pertama, kalau ingin pindah ke kampus lain, itu akan membutuhkan uang yang banyak, kita tidak bisa sembarangan menghamburkan uang ini, kita harus sedikit lebih hemat, kamu jangan lupa, Kakak ipar sedang menunggumu untuk menikahinya.”


Langkah kaki Thomas langsung terhenti.


“Ada apa?”  Luna sangatlah peka, dia langsung merasa ada yang tidak beres dengan sikap Thomas.


“Uhm, begini…”


Thomas tersenyum pahit, lalu menceritakan semua yang terjadi hari ini sekali lagi dengan begitu mendetail.


“… Huh! Dasar manusia tidak tahu diuntung! Keluarga Ningrat memang keluarga tidak tahu diuntung!” Luna merasa begitu kesal, tangannya mengepal erat dan kedua matanya memerah.


“Demi membantu Keluarga Ningrat, ayah sampai mempertaruhkan nyawanya, Kakak juga harus bekerja begitu keras, setiap bulannya membiayai uang kuliah kakak ipar, bagaimana mereka bisa melakukan hal ini!”


“Tidak, mulai sekarang, wanita itu sudah bukan kakak iparmu lagi.”


“… Benar, wanita jahat!” Luna begitu kesal, dadanya yang tumbuh dengan sempurna itu tidak hentinya naik turun karena kesal, “Kak, kita tidak bisa membiarkan mereka begitu saja, kita harus membuat Keluarga Ningrat memuntahkan uang 400 juta itu!”


“Sudahlah, tanpa uang 400 juta itu kita tidak akan mati kelaparan, anggap saja membeli sebuah pelajaran.”


Luna menghela nafas dan berkata: “Oh iya, masalah ini jangan diberitahukan pada ibu terlebih dahulu, juga mengenai kakekmu dan uang 20 miliar ini, aku takut jantung ibu tidak kuat menerima kejadian-kejadian menggemparkan ini.”


“Baiklah, aku mengerti Kak.” ucap Luna dengan patuh.


Begitu membicarakan tentang penyakit ibunya, suasana hati yang berbunga-bunga tadi langsung menghilang. Baik Luna maupun Thomas tahu kalau ibu mereka mengidap penyakit jantung, meskipun tidak terlalu parah, namun ini adalah sebuah bom waktu yang tidak bisa diprediksi kapan bisa kambuh secara tiba-tiba.


Setiap harinya, Thomas harus berangkat kerja, Luna baru bisa pulang ketika akhir pekan. Meskipun ibunya mengenakan alat monitor yang terhubung dengan ponsel mereka, namun itu hanya alat untuk mendeteksi saja.


Mereka tahu, kalau sampai suatu hari penyakit Silvia kambuh, meskipun mereka segera berlari pulang juga tidak akan sempat.


Setelah berjalan dengan hening sesaat, Thomas berkata, “Kalau tidak begini saja, kakekku itu kaya, mungkin dia memiliki status juga kedudukan yang cukup tinggi, bagaimana kalau aku meneleponnya dan menanyakan rumah sakit mana yang bisa mengobati penyakit ibu.”


Mata Luna langsung berbinar dan berkata, “Iya benar! Kak, cepat telepon kakekmu!”


Tetap di ruang tamu yang begitu mewah itu, Chandi duduk bersandar di sofa kulit asli yang mahal itu sambil melamun.


Dia melirik kepala pelayannya dengan wajah murung.


“Yanto, coba kamu katakan kenapa cucuku itu masih belum meneleponku?”