Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 122


Makan tidak ya pilnya?


Godaan Pil penyebrang meridian sungguh sangat kuat bagi Thomas.


Sehingga.


Makan, Thomas tidak yakin setelah memakannya akan muncul efek samping seperti apa, karena kondisinya berbeda dengan petarung normal lainnya.


Tidak makan, dia juga merasa sayang sekali.


Thomas tidak berani membawanya, kalau sampai ketahuan oleh petarung kuat yang mengejar, kemungkinan dia akan mati lebih mengenaskan lagi.


Setelah menimbang sesaat, Thomas membuka kotak kayu.


Sebutir pil berwarna hijau muda yang begitu lembab muncul dihadapannya, aroma herbal yang harum menyerbak, membuat sekujur tubuhnya terasa begitu segar.


Dia membuka mulut, dan ketika akan memasukkan pil tersebut ke dalam mulut, Thomas tiba-tiba menghela nafas, dan pada akhirnya mengembalikannya ke dalam kotak kayu.


Terakhir menutupnya kembali.


"Haih, sial, makan gak nih?" Thomas sangat galau.


Ilmu tidak boleh sembarang berlatih, barang tidak boleh sembarang makan.


Tapi kalau gak dimakan rasanya sangat bersalah pada diri sendiri.


Thomas bukan orang yang ragu dalam melakukan segala sesuatu.


Namun kalau sampai dia makan dan terjadi sesuatu, dia tidak bisa memuntahkannya lagi.


Namun ada suara lain dalam hatinya yang memberitahunya, kedua pendekat itu mencapai puncak tahap ketiga, mereka tidak membutuhkan pil ini.


Mereka memperebutkannya pasti untuk generasi dibawah mereka.


Yang artinya pil ini sudah pasti barang bagus.


Sampai mempertimbangkan hampir tiga jam lamanya, Thomas membangunkan Winda.


"Kenapa, sudah waktunya ya?" tanya Winda dengan mata mengantuk.


"Iya." Thomas mengangguk lalu berkata, "Winda, pegang tongkat ini, tapi ingat ya, tidak perduli apapun yang terjadi nantinya, usahakan untuk tidak bergerak sebisamu."


Tentu saja Winda paham apa yang Thomas maksud, sehingga dia langsung menyetujuinya, "Baiklah, aku mengerti, kamu juga tidurlah selagi memungkinkan."


"Hm."


Thomas tersenyum lalu berbaring di tanah, selagi Winda sedang mengalihkan pandangan ke tempat lain, dia membuka kotak kayu dan melemparkan Pil penyebrang meridian ke dalam mulutnya.


Dalam waktu sekejap Thomas langsung merasa ada rasa mentol seperti daun mint yang menjalar dalam dadanya.


Dan pada akhirnya berubah menjadi aliran yang segar, berbaur dengan air liur sampai ke lambung.


Thomas sulit menggambarkan perasaan macam apa ini, rasa segar dan sedikit pedas membuat pil ini seperti perpaduan pedang kecil yang tidak terhitung jumlahnya.


Begitu sampai di lambung langsung menyebar menyusuri arah energi murni dan mulai menjalar di dalam meridian.


Karena energi murni yang bergerak secara otomatis, Thomas sama sekali tidak perlu sengaja menuntunnnya, hanya perlu memejamkan mata dan bersemedidan memperhatikan energi murni yang sudah berpadu dengan kekuatan Pil penyebrang meridian.


Semua meridian yang sebelumnya begitu keras bagaikan benteng yang kokoh.


Saat ini langsung berubah bagaikan tahu yang begitu diterobos langsung terbuka.


Thomas merasa begitu nyaman sampai rasanya melayang.


Ini bukan hanya memberikan kenyamanan pada meridian, namun juga memberikan kenyamanan dalam hatinya, setiap meridian dan pembuluh darah diterobos dengan mudahnya.


Sebenarnya, aliran darah dan meridian yang tidak lancar bukan karena tersumbat.


Melainkan pada meridian yang akan dilewati seperti ada jaringan yang menghalangi energi murni untuk melewatinya.


Misalnya pada dua meridian Ren dan meridian Du, bukan karena mereka tidak bisa dilewati, melainkan jaringan yang terbentang terlalu sempit.


Kalau meridian memang tidak bisa dilewati, bagaimana mungkin manusia bisa hidup.


Thomas merasa begitu lega, meridian yang tersumbat terasa berkurang banyak, membuat sekujur tubuhnya terasa seperti melayang, sementara energi murni dalam tubhnya juga mengalir dengan riang gembira.


Sampai meridian Ren dan meridian Du diterobos, Thomas tanpa sadar mendesah.


"Nyaman sekali!"


Namun kekuatan Pil penyebrang meridian tetap memiliki batas.


Semua meridian inti sudah dilancarkan, yang tersisa hanya meridian yang sedikit lebih kecil, namun energi murni Thomas bisa bergerak dengan sendirinya sehingga tidak perlu terlalu diperdulikan.


Lalu, Thomas membuka matanya dengan begitu nyaman.


Dia merasa sekujur tubuhnya bagaikan berbaring diatas busa yang empuk, bahkan begitu embuk dan kenyal...


......


Namun Thomas langsung tercengang.


Entah sejak kapan dia memeluk Winda dan berbaring bersamanya dia lantai.


Meskipun malam hari remang-remang, namun Thomas bisa melihat wajah Winda yang merona merah.


"Hah! Kenapa bisa begini!"


Thomas berseru kaget, dan segera turun dari tubuh Winda yang lembut.


"Mana kutahu! Kamu tiba-tiba memelukku, aku di..."


Merasakan amarah Winda, Thomas segera menjelaskan, "Aku hanya memelukmu, aku sama sekali tidak melakukan apapun!"


"Kamu..."


Apanya yang tidak melakukan apapun, kedua tangannya yang kurang ajar tadi...


Begitu melihat kondisi yang tidak beres, Thomas melirik jam tangan digitalnya dengan perasaan bersalah, lalu berkata, "Hah, sudah jam 4.30, kita harus segera melanjutkan perjalanan!"


Setelah memegang perut, dia berkata sambil tersenyum, "Bagaimana kalau kita makan dulu sebelum pergi?"


Didalam ranselnya masih ada beberapa makanan kering dan dua botol air mineral, Thomas melihat Winda tidak menolah, dia langsung membuka ransel dan membagi makanan sama rata lalu mulai memakannya.


"Kita masih punya dua botol air, sekarang kita minum satu botol dulu, satu botol lainnya simpan dulu, takutnya nanti kita tidak bisa menemukan sumber air di perjalanan."


Ucap Thomas sambil mengunyah makanan.


Teori ini Winda paham, hanya saja perasaannya sedang kacau sekarang, perkembangannya terasa terlalu cepat.


Sebenarnya dia memiliki perasaan khusus pada Thomas.


Dia tidak tahu perasaan ini muncul sejak kapan, mungkin sejak di rumahnya, atau mungkin sejak malam itu ketika di Tasty...


Winda sangat terbuka, dia berani mempertanggungjawabkan apa yang dia lakukan, Dia suka merealisasikan apa yang dia pikirkan, namun ini tidak berarti dia akan gegabah dalam urusan perasaan.


Sebaliknya dia sangat berhati-hati.


Ini karena pengaruh keluarganya sejak kecil.


Dia tidak lupa bagaimana ibunya dikecewakan, dan pada akhirnya berakhir dengan penuh kebencian.


Sehingga dia selalu berharap bertemu dengan orang yang tepat.


Dia tidak perduli dengan status sosial orang itu.


Sebenarnya Winda tahu Thomas tidak sengaja, karena dirumahnya Thomas sudah pernah memperlihatkan siis ini padanya.


"Anak ini... biasanya terlihat begitu normal, kenapa begitu tidur begitu tidak bisa diam!"


Seketika, wajahnya langsung merona merah.


Setelah merekka berdua selesai makan sudah jam 5 pagi.


Saat ini di ufuk timur sudah muncul cahaya keputihan yang redup.


Setelah menentukan arah, Thomas mengandalkan ingatannya tentang rute wisata, alu membawa Winda berjalan keluar.


Bali, mungkin meruapkan tempat yang berbahaya dulunya, namun setelah perkembangan selama puluhan tahun lamanya, sebagian besar tempat di sini sudah berubah menjadi destinasi wisata.


Dan yang harus Thomas lakukan adalah mencari tempat yang berpenduduk dari tempat yang tidak berpenduduk.


Ini tidak terlalu sulit.


Setelah berjalan sesaat, melihat Winda tetap diam tidak bersuaran, Thomas tidak hentinya mencari topik pembicaraan demi memecah kecanggungan.


"Hehe, semalam hampir dibuat mati ketakutan olehku ya, dikira akan bertemu macan tutul, tapi kalau dipikir lagi sekarang, mana mungkin nasib kita sebaik itu!"


"Kalau macan tutul sebanyak itu, mana mungkin menjadi binatang yang dilindungi, iya gak Win?"


Thomas menoleh sambil tersenyum.


Namun.


Detik berikutnya.


Thomas langsung menelan ludah dengan kaki lemas dan hampir terkulai lemas di tanah.


Merasakan ada yang aneh, Winda langsung menoleh.


"Aaaa! Macan... macan tutul!"


Winda terkejut sampai blank.


DIatas pohon yang jaraknya sekitar 5-6 meter ada seekor macan tutul yang sedang tengkurap di atas dahan, sorot matanya yang tajam sedang mengamati Thomas dan Winda.


"Jang... jangan lari, begitu lari maka habislah kita, kalau tidak lari, dia tidak akan berani menyerang kita..." suara Thomas terdengar bergetar.


Baru selesai mengatakannya.


Macan tutul itu langsung berdiri, dia merenggangkan tubuhnya dan langsung melompat turun dari pohon.


Thomas dibuat ketakutan sampai rasanya mau pingsan.