
Lahir di dunia ini sudah 22 tahun lamanya, dan Thomas baru kali ini mendengar permintaan yang begitu tidak masuk akal untuk yang pertama kalinya!
Apa-apaan menyuruhnya menjadi penjamin, lalu memohon Bos Santo untuk melepaskan Wanda?
Begitu Luna mendengarnya, dia sontak kesal sampai tertawa, "Hei Milan kamu sedang bercanda ya! Ini adalah hutang Ivan yang terus mempersulit kakakku, bisa-bisanya kamu meminta kakakku menjadi penjamin? Sudah gila yah kamu!"
"Bicara apa anak ini! Bicaranya sama sekali tidak ditakar! Kakakmulah yang sudah mempersulit Tuan muda Ivan, memesan ruang VVIP itu terlebih dahulu, karena tuan muda Ivan kesal makanya melakukan hal yang begitu gegabah. Kalau mau dibahas lagi, kakakmu juga harus bertanggungjawab atas hal ini bukan? Kalau bukan karena Thomas, tidak akan ada masalah seperti malam ini!"
Milan merasa ucapannya sedikit keterlaluan, bagaimanapun sekarang dia membutuhkan bantuan mereka, sehingga dia bicara dengan nada bicara yang sedikit melunak, "Thomas, kamu bantu Wanda dengan menjadi penjaminnya dulu, nanti tante akan meminta tuan muda Ivan untuk menebusmu, bagaimana? Kamu tidak percaya pada tuan muda Ivan, apakah kamu juga tidak bisa percaya pada tante? Begini saja, bagaimana kalau kita buat surat perjanjian?"
Surat perjanjian? Begitu membicarakan tentang surat perjanjian, Ivan langsung teringat pada surat perjanjian pembatalan perjodohan yang diberikan oleh Milan.
"Kau, kamu benar-benar tidak masuk akal! Jelas-jelas ini semua salah kalian, bisa-bisanya melimpahkan semuanya pada kakakku!"
Luna sama sekali bukan tandingan Milan yang pandai bersilat lidah.
Namun, itu karena Luna sedang emosi, begitu dia berpikir dengan tenang, masalah membantu atau tidak, semua keputusan ada ditangan Thomas, dan dia hanya tersenyum dengan dingin.
"Milan, karena kamu percaya pada tuan muda Ivan itu, bukankah tidak perlu kakakku yang menjadi penjamin, kamu juga bisa bukan?"
"...Apa?" Milan langsung tercengang.
"Maksud adikku adalah, Tante Milan, kalau tante bersedia menjadi penjamin Wanda, aku bersedia mencoba menjamin Wanda." Ucap Thomas dengan dingin.
Milan membelalakkan kedua mata dengan mulut menganga lebar, namun sama sekali tidak ada yang bisa dia ucapkan.
Thomas melihat kedua suami istri Keluarga Ningrat ini hanya tersenyum dengan kecewa, semua amarah yang terkumpul dan terpendam dalam dirinya seolah terlampiaskan melalui kesempatan ini.
Hanya dengan berbuat seperti ini, dia baru bisa lepas sepenuhnya dengan Keluarga Ningrat.
Thomas diam sejenak lalu berkata dengan tenang, "Bantuan sudah kuberikan, ini adalah pilihan Wanda, asal muasal masalah ini seharusnya kalian tahu dengan jelas. Ada lagi, Om Martin, Tante Milan, ini adalah yang terakhir kalinya aku memanggil kalian seperti ini."
"Dulu, kenapa ayahku bisa meninggal dalam kecelakaan, aku rasa kalian tahu jelas penyebabnya. Ketika keluarga kalian jatuh bangkrut, ayahku yang menolong kalian, lalu setelah ayahku meninggal, aku yang memikul tanggungjawab itu, dan tujuanku melakukan semua itu bukan karena mengincar perjodohanku dengan Wanda, itu kulakukan demi hubungan baik kedua keluarga."
"Hari ini aku tidak ingin mencecar siapa yang benar dan salah, aku hanya ingin memberitahu kalian, Keluarga Widjaja kami tidak pernah berhutang apapun pada keluarga kalian. Mengenai masalah Wanda, aku tidak punya kewajiban untuk membantu, karena Keluarga Widjaja dan Keluarga Ningrat, sudah tidak ada hubungan apapun setelah aku menandatangani surat perjanjian pembatalan perjodohan itu."
"Bagus! Benar sekali apa yang kamu katakan!" Luna bertepuk tangan dengan senang.
Dia sungguh merasa senang, jarang sekali kakaknya begitu cerdas, sampai menjabarkan semua masalahnya sekaligus.
Martin dan Milan sampai tercengang karena terkejut.
Mereka sama sekali tidak menyangka mulut Thomas tiba-tiba menjadi begitu tajam, langsung membuat mereka kehabisan kata-kata!
Pada saat ini Dimas mendekat dengan tubuh membungkuk hormat, “Tuan muda, mobilnya sudah siap, kita pulang sekarang?”
Thomas mengangguk, lalu pergi dengan menggandeng tangan Luna.
Apa yang harus dikatakan sudah mereka katakan dengan jelas, ucapan yang tadi diucapkan cukup untuk melampiaskan amarah yang mereka pendam selama dua hari ini.
Martin dan Milan melihat Thomas pergi dengan mobil Range Rovernya.
Perasaan mereka berdua saat ini sungguh tidak karuan, sama sekali tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi.
Mereka merasa lebih kecewa lagi ketika Thomas dan Luna yang duduk di kursi belakang Range Rover, lalu mobil yang dikendarai Dimas itu perlahan menjauh.
Setelah sesaat Milan bertanya, “Martin, mobil itu berapa harganya?”
Mungkin selain Thomas, tidak ada pria manapun yang tidak mengerti mobil, dan tentu saja Martin adalah orang yang mengerti tentang mobil.
Nada bicaranya terdengar rasa cemburu yang tidak mudah disadari, “Mungkin, Range Rover yang dia naiki itu berkisar di angka 6 miliar.”
“Kalau begitu, mobil yang dinaiki Thomas jauh lebih mahal dari mobil Tuan muda Ivan?”
“Hmm.”
“Kalau begitu, bagaimana dengan Wanda kita…?”
......
Kali ini Thomas sudah melampiaskan semua amarahnya, ini pertama kalinya dia merasa begitu lega setelah sekian tahun lamanya.
Dia tidak ingin mengejar semua dendam dan juga budi di masa lalu, daripada mengejar semua itu, lebih baik dia menyambut hidup yang jauh lebih indah.
Tiba-tiba Dimas bertanya, “Tuan muda, Anda mau pulang kemana?”
“Apanya yang mau pulang kemana? Tentu saja aku mau pulang, ini juga sudah larut malam.”
Thomas tidak terbiasa dengan panggilan ini, sehingga berkata, “Dimas, kamu bisa tidak jangan memanggilku tuan muda? Panggil saja seperti biasa, panggil aku Thomas.”
“Hehe.” Dimas menghindari topik ini lalu bertanya lagi, “Tuan muda, yang kutanyakan adalah, Anda mau pulang ke rumah yang mana.”
“Apanya yang rumah yang mana? Dimas, kamu mabuk ya! Kami cuma punya satu rumah!”
“Tuan muda, Nona, beberapa hari yang lalu ketika Tuan besar datang, dia membeli sebuah rumah di kaki gunung, tidak jauh dari sini, Anda bisa pindah kesana kapanpun Anda mau.”
“Apa?” Thomas membelalakkan matanya dengan besar.
Dalam hati berpikir kakeknya yang loyal ini sungguh keren, apakah dia adalah dewa yang tahu kalau dia ingin membeli rumah, sehingga membelikannya lebih dulu untuknya?
Beberapa tahun lalu ada pembangunan skala besar, beberapa perusahaan kontraktor mulai membangun villa disana.
Gunung dan rumah yang dibicarakan Dimas, sudah pasti lokasi itu.
Kalau begitu, Chandi membelikan sebuah villa? Dia sungguh kaya raya!
Luna juga terpikirkan tentang hal ini, sehingga dia berseru dengan suara yang tertahankan, “Astaga! Villa?!”
“Ehem, baiklah kalau begitu.” Thomas melihat jam tangan, sekarang baru jam 10 malam, ibunya juga sudah tidur jam segini.
Sebenarnya kondisi penyakit Silvia cukup stabil sekarang, dia juga sering pulang ke rumah tengah malam, sehingga tidak perlu terlalu khawatir.
Lalu dia berkata, “Kalau begitu, kita pergi lihat dulu, namun setelah melihatnya aku masih harus pulang.”
“Uhm, baik Tuan muda.”
Dimas tersenyum lalu menancap gas, mobil Range Rover melaju di jalan raya menuju ke jalan gunung.
Tidak sampai setengah jam, mobil yang dikendarai Dimas perlahan berhenti di depan villa yang luasnya mungkin bisa mencapai ribuan meter persegi.
“Astaga! Oh my God!” Luna sungguh tercengang setengah mati dibuatnya.
Meskipun dia sudah tahu kalau kakek Thomas sangat kaya, namun pemberiannya yang begitu loyal membuatnya sungguh terkejut.
“Villa ini harganya paling tidak juga puluhan miliar ya kan!” Thomas menjulurkan kepalanya keluar dari jendela mobil, dia sungguh merasa begitu kagum.
“Uhm, sedikit lagi mencapai 400 miliar.”
......
Siapa yang tidak ingin hidup mewah, dan ketika semuanya tiba-tiba datang menghampirinya, semua jauh melampaui batas yang bisa Thomas bayangkan.
Dimas memencet sebuah remote, gerbang villa terbuka, dan mobil berjalan masuk ke dalam pekarangannya.
Begitu turun dari mobil, Thomas begitu senang sampai sulit mengendalikan diri, ada perasaan menggebu yang bergejolak dalam hatinya.
“Aku sudah memutuskan, mulai besok aku harus bangkit dan melakukan hal yang besar agar bisa sukses!”
“Kak, apa yang kamu katakan bagus sekali!” Luna juga ikut terbawa suasana.
Dan kedua kakak beradik ini segera menyadari sesuatu, saat ini Dimas sedang menatap mereka dengan tatapan kebingungan.
“Ada apa?” tanya Thomas dengan bingung karena ditatap seperti itu.