
“Kalau begitu, aku akan menelepon Kak Santo sekarang juga, aku akan menyuruhnya tidak perlu membantu kalian. Mengenai uang 400 juta ini, biar aku yang gantikan, dengan demikian, anggap saja kalian tidak pernah meminta bantuanku, dan aku akan menganggap kejadian ini tidak ada, win win solution.”
Setelah Thomas mengatakannya, dia mengeluarkan ponsel.
Sejujurnya, akhirnya Thomas merasakan sendiri apa itu air susu dibalas air tuba.
Dia akui, memesan ruang VVIP1 ini memang dia sengaja, namun ruangan ini memang harus dipesan!
Santo cendana, merupakan satu-satunya orang berkuasa di Jakarta.
Dia tahu Santo berkali-kali membantunya, mungkin karena dia sudah menebak statusnya.
Jadi, dia sebenarnya bisa membiarkan Martin memesan ruangan biasa seharga 2 jutaan.
Bahkan dia bisa saja memanggil Santo datang ke restoran sate yang ada di pinggir jalan.
Dan begitu Santo tahu ini adalah undangannya, dia pasti akan datang.
Namun meskipun pada akhirnya Santo membantu, tentu saja kesan yang ditinggalkan Thomas akan buruk, bahkan mungkin membuatnya tidak senang!
Memangnya ada orang yang meminta bantuan dengan cara seperti itu? Paling tidak, Thomas belum pernah mendengarnya.
Martin hanya memikirkan uang 400 juta yang dikeluarkan, namun dia tidak memikirkan bantuan Thomas yang bisa dia pakai akan semakin berkurang.
Dan lagi kalau bukan karena Thomas, Martin sama sekali tidak mungkin bisa bertemu dengan Santo.
400 juta sama sekali bukan angka yang besar bagi Thomas sekarang, namun uang 400 juta ini sama sekali bukan kewajiban Thomas untuk membayarkannya untuk Martin!
......
Setelah mendengar Thomas mengatakan ini, ekspresi Martin dan Wanda tiba-tiba berubah pucat.
“Ah… Thomas, semua salah Tante Milan, kamu jangan dengarkan dia bicara sembarangan! Jangan telepon ya!” ucap Martin dengan nada memohon.
Dia memang sangat tidak senang dengan apa yang Thomas lakukan, namun di sisi lain, dia juga tahu jelas, dengan uang 400 juta untuk menggantikan 20 tahun penjara, rasanya ini bukan apa-apa.
Namun hatinya tetap merasa tidak senang, Thomas sekarang sudah menjadi konglomerat, uang 400 juta hanyalah uang receh baginya, namun bagi Martin uang 400 juta sudah setara dengan setengah nyawanya.
“Hehe, Martin, jangan pura-pura lagi, gue rasa lu juga mikir begitu ya kan!” Luna kembali berkata dengan sinis.
Thomas berkata, “Dulu demi kontrak itu, Keluarga Ningrat membatalkan perjodohan dengan Keluarga Widjaja, karena ini akan membuat keluarga Ningrat melambung tinggi. Sekarang kontrak ini menjadi duri dalam daging, kalian nyari gue, minta bantuan gue, gue juga udah bantu. Namun pada akhirnya malah tetap menjadi sasaran kebencian kalian, kenapa?”
“Thomas, kami tidak membencimu… kalau kamu tidak percaya, aku bisa bersumpah sekarang juga!” ucap Martin dengan wajah tersenyum.
Milah juga menyadari apa yang terjadi, “Iya, Thomas, semua salah mulut Tante yang gak ada rem, mulut kurang ajar, mulut kurang ajar…”
Dia mengatakan ini sambil mengikuti cara Martin, dia menampar wajahnya perlahan sambil meminta maaf.
“Tepat sekali, apa yang dikatakan adik gue memang benar, gak perlu pura-pura lagi, emangnya gue gak bisa lihat, seberapa kalian tunduk sama gue sekarang, maka sebesar itu juga kebencian kalian.” Ucap Thomas sambil menggeleng.
Dan di saat bersamaan, dia diam-diam melirik ke arah Silvia.
Thomas malas meladeni pasangan suami istri ini, dia mengatakan ini untuk di dengar oleh Silvia, agar dia melihat dengan jelas sebusuk apa keluarga ini. Asalkan Silvia benar-benar paham, maka dia tidak akan memiliki niatan untuk membela anggota Keluarga Ningrat.
Meskipun hari ini Silvia bersikap begitu tenang, namun Thomas bisa melihat, sikapnya ini karena masih memandang hubungan kedua keluarga.
Mengikuti arah Thomas memandang, Martin juga menyadari ekspresi Silvia yang begitu buruk, tentu saja Milan juga melihatnya.
Perasaan pasangan suami istri ini langsung berubah tegang!
Milan segera berkata dengan wajah tersenyum, “Silvia, Silvia, Thomas masih muda, tidak pengertian, ucapannya, jangan kita masukkan ke dalam hati…”
Silvia mengangkat cangkir tehnya, lalu menyeruputnya, setelahnya meletakkannya di atas meja, kemudian mengangkat wajahnya dan berkata perlahan, “Martin, apakah kamu dendam pada Thomas?”
“Gak, bukan begitu, bicara apa kamu!” Martin tercengang, dia langsung merasa ada yang tidak beres dengan situasi ini.
“Baiklah, kita kesampingkan dulu masalah ini, ketika itu kalian membatalkan perjodohan, karena memandang keluarga kami miskin, sehingga berniat mencari menantu yang lebih kaya, iya kan?”
“Ini… bicarain apa sih kamu!”
Begitu melihat masalah semakin rumit, hati Martin juga ikut gemetar.
Milan tidak berani bersuara lagi.
“Ada hal yang tadinya tidak ingin kukatakan, namun karena hari ini semua sudah membuka omongan, maka sekalian saja.” Silvia terdiam sejenak, lalu berkata dengan datar, “Ketika itu bisnismu mengalami kebangkrutan, kamu menggendong Wanda datang ke rumah kami dan ingin menjodohkannya dengan Thomas, oleh karena itu Tanto baru meminjamkan uangnya padamu, masih ingat gak?”
Kali ini Martin dan Milan diam seribu bahasa.
“Tanto punya team supir, demi menutupi hutangmu, akhirnya team ini juga raib, iya kan?”
......
“Intinya, Keluarga Widjaja sama sekali tidak berhutang pada keluarga kalian, namun kalian tetap membenci dan dendam pada Thomas, baiklah kalau begitu, ayo kita hitung-hitungan.”
Silvia mengeluarkan sebuah buku catatan using dari dalam tasnya dengan tenang, lalu meletakkannya di atas meja.
Siapa yang menyangka malam ini Silvia datang tidak dengan tangan kosong.
“Hutang keluarga kalian pada Tanto selama ini semuanya aku catat di buku ini, aku sudah hitung, total hutangnya 1,269, 610.000, ini masih belum termasuk biaya hidup yang diberikan oleh Thomas untuk Wanda selama beberapa tahun ini.”
“Kenapa hutangnya bisa begitu banyak!” Luna terkejut sampai membelalakkan matanya besar-besar, dia merebut buku catatan itu dan membukanya, lalu bertanya dengan penasaran, “Ma, kenapa di sini ada uang 10 ribu?”
“Modal usaha keluarga Ningrat dipinjam dari ayahmu, hutang setelah bisnisnya gagal juga ayahmu yang bayar, kalau dihitung tidak banyak, mengenai uang 10 ribu ini, ketika itu Martin tidak punya uang sepeser pun, lalu Wanda ingin makan kue keranjang, uang ini dipakai untuk menukar kue keranjang kakakmu…” Silvia menjelaskan dengan santai, lalu melirik kearah pasangan suami istri Martin dan Milan.
Ekspresi Martin saat ini seburuk habis makan kotoran.
Lalu berkata dengan penuh emosi, “Silvia Lionita! Kamu bahkan menghitung semua uang receh ini! Kejadian yang kamu ceritakan itu sama sekali tidak pernah terjadi, aku sama sekali tidak pernah berhutang pada kalian, kau, kau, kamu mengarang!”
Wajah Silvia tetap begitu tenang, “Aku adalah istri Tanto, tentu saja aku paham sifatnya, setiap uang miliknya yang keluar masuk selalu aku catat. Kamu bilang aku mengarang, namun sepertinya kamu lupa, dulu setiap kali kamu datang meminjam uang pada Tanto, kamu selalu meninggalkan kwitansi pinjaman uang. Meskipun Tanto selalu membuang kwitansi itu setelahnya, namun aku selalu memungutnya kembali.”
“Martin, meskipun kamu sahabat Tanto, tetapi coba kamu tanya pada hati nuranimu sendiri, kenapa Keluarga Widjaja bisa menjadi seperti ini, lalu kenapa Tanto bisa mati, aku yakin hatimu tahu jawabannya… dulu aku selalu mendengar Tanto bercerita, ketika berada di markas militer, pernah sekali salah melempar granat, kamu yang mendorongnya dan menolong nyawanya, sehingga tidak peduli semiskin apa pun Keluarga Widjaja, tidak akan meminta uang pada keluarga Ningrat, termasuk beberapa tahun ini juga seperti itu.”
“Namun, sebesar apa pun budi itu, pasti ada hari dimana lunas dibayarkan, nyawa Tanto diselamatkan olehmu tanpa sengaja, namun dia mati karenamu, aku rasa sejak tanto meninggal, kami tidak lagi berhutang pada Keluarga Ningrat, menurutmu benar tidak?”
Mendengar ini, Thomas tiba-tiba paham, kenapa Tanto dan Silvia bisa begitu murah hati pada Keluarga Ningrat. Rela hidup susah namun tetap menjaga kehidupan keluarga Ningrat.
Namun seperti yang Silvia katakan, sebesar apa pun budi itu, pasti akan lunas terbayar. Martin tersentak. Gawat!
Ternyata kwitansi yang dia berikan pada Tanto, semuanya jatuh ditangan Silvia!
Kali ini habislah sudah! Bukan hanya masalah kontrak yang tidak bisa diselesaikan, malah muncul hutang baru sejumlah 1,2 miliar!
Dia benar-benar menyesal sampai rasanya ingin membenturkan kepala ke dinding! Kalau dia tahu akan terjadi masalah seperti ini, tidak seharusnya dia memperlihatkan perasaan tidak senang sama sekali!
Kalau Silvia serius, bahkan masih memegang kwitansi pinjaman… maka hutang ini, tidak akan bisa dielakkan!
Martin berteriak dengan penuh amarah, “Silvia… kamu, mau apa? Pada saat seperti ini, mau apa kamu mengatakan semua ini? Aku masih punya sebuah rumah, apakah kamu mau aku menjual rumahku untuk membayar hutang keluarga Widjaja? Apa maksudmu melakukan hal ini?”
“Aku tidak punya maksud lain, dan pada dasarnya tidak berniat menyuruh keluarga kalian membayar hutang…” Silvia menghela pelan, namun ucapannya malah menjadi semakin tajam, “Tapi, Thomas memberikan bantuan yang begitu besar, pada akhirnya malah membuat kalian membencinya, aku sebagai seorang ibu, aku tidak mengizinkanmu mengganggu putraku!”