Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Aku Sedang Menolongmu!


 “Ini milikmu?” Dimas berbalik dan memperlihatkan senyuman mengejek.


Kepala security hanya bisa mengangguk dengan wajah ketakutan, lalu menggeleng dengan sekuat tenaga.


Dia sudah ketakutan sampai wajahnya sepucat mayat.


Dan kelima anak buahnya sudah bersembunyi di balik kerumunan sejak tadi.


“Ku Kembalikan, jangan sembarang taruh.” Dimas melemparkannya.


Pada saat ini, semua orang yang menonton baru sepenuhnya sadar.


Tidak ada satupun yang tidak berseru. Ini benar-benar dewa!


Satu lawan 16, bahkan sama sekali tidak terluka, apakah ini yang disebut pendekar?


Di antara mereka ada yang tiba-tiba ingat, mereka lupa merekam video kejadian tadi, membuat mereka merasa sangat kesal dan menyayangkannya.


Thomas juga akhirnya sadar dari rasa terkejutnya, pengawal yang diutus oleh kakeknya memang tidak kaleng-kaleng.


Mungkin ketangkasannya sudah setara dengan tentara khusus!


Kuat! Benar-benar kuat!


Ada pengawal seperti Dimas di samping, membuatnya merasa sangat aman.


Namun, sebelum mereka mulai membicarakannya, terdengar suara sirine mobil polisi yang berhenti di depan gerbang kampus.


Semuanya segera menyingkir dan memberikan jalan, ada seorang pria paruh baya berusia 50 tahunan dengan 8 orang polisi datang dengan gagah.


Dia melihat ke sekeliling dan berkata dengan tegas, “Bawa semua orang terkait!”


Di bawah kerjasama para mahasiswa, bahkan keenam security juga dibawa untuk dimintai keterangan.


Thomas, Luna dan juga Dimas ikut dibawa ke atas mobil polisi.


“Luna, aku jamin kalian tidak akan bisa pergi semudah itu!” ada senyum dingin diwajah Keiro.


Kakeknya punya koneksi yang sangat luas, dia punya kenalan orang dalam, ingin keluar dari sana hanya butuh hitungan menit, namun Luna dan pria ini juga pria sebesar batu itu tidak akan bisa keluar dengan semudah itu.


“Keiro, gue percaya hukum itu adil, orang kayak elu pasti akan dapat ganjarannya!” ucap Luna dengan sinis.


Begitu mendengar ucapan ini, jantung keenambelas mahasiswa itu dan juga keenam security itu langsung bergemuruh.


Tuan muda Keiro ini mengancam dan memaksa Luna di hadapan umum, bahkan menggunakan kelulusannya sebagai ancaman.


Sehingga mereka tidak bisa tinggal diam.


“Tuan muda Keiro, Anda harus bersaksi untukku tentang hal ini, aku sama sekali tidak tahu apa pun, aku hanya melihat ada orang yang membuat onar di depan gerbang kampus, sehingga berniat menghentikannya!”


Kepala security segera menjelaskan posisinya.


Dia bisa berada di sana, semuanya karena demi keamanan kampus, dan lagi dia tidak berani menyinggung pria bertubuh besar itu, juga kedua anak muda ini.


Siapa yang tahu latar belakang dan juga backing yang mereka miliki? Dia hanya seorang karyawan saja!


Intinya dia hanya ingin menjaga keamanan, sama sekali tidak memihak pada siapa pun.


Keiro berkata dengan acuh, “Tenang saja, ini tidak ada hubungannya denganmu!”


“Tuan muda Keiro, masih ada aku, aku juga sama sekali tidak tahu apa pun, aku mendengar ada yang membuat keributan di kampus sehingga aku juga maju untuk menghentikan, iya kan?” Ketua tim taekwondo juga segera menjelaskan.


Kemudian kelimabelas anggota tim taekwondo lainnya juga ikut menjelaskan pada Keiro bahwa masalah ini tidak ada hubungannya dengan mereka, dan alasan mereka sama dengan apa yang disampaikan Ketua tim mereka.


Mereka semua tidak tahu kondisi yang sebenarnya terjadi, mendengar ada teman yang terluka, sehingga mereka mau untuk membantu.


Dan ekspresi Keiro perlahan berubah menjadi begitu buruk.


Apanya yang menjaga keamanan kampus, apanya yang berniat membantu? Semua kejadian ini berawal karena dia ingin melecehkan Luna.


Sekarang mereka menggunakan berbagai macam alasan untuk cuci tangan, jelas ini karena mereka tidak ingin bersaksi untuknya.


Melihat lagi kakak beradik yang begitu tenang ini, entah kenapa dalam hatinya muncul perasaan tidak enak.


“Takut apa? Ini juga bukan yang pertama kalinya, kakek gue pasti bisa membereskannya!”


Kecuali si Luna nggak mau lulus kuliah, bukankah pada akhirnya dia tetap harus menuruti kemauan gue?


Begitu memikirkan hal ini, dia mengamati sekujur tubuh Luna dengan berani, dan semua rasa kesalnya langsung dilupakannya.


Thomas melihat jelas reaksi Keiro, ketika dia melihat tatapan Keiro itu, api amarah langsung membara dalam hatinya.


“Dimas, gue kesel banget sama ini bocah, gimana dong?!”


“Tuan muda, ini masalah gampang.”


Begitu Dimas mengatakan ini, satu kaki Dimas langsung melayang ke wajah Keiro dengan secepat kilat, dan belum sempat membalas, dia sudah jatuh pingsan.


Ketika mobil polisi tiba di kantor polisi, Keiro juga sudah sadar, dai memperlihatkan wajahnya yang merah dan masih ada bekas tendangan, lalu berteriak dengan keras, “Tolong! Orang ini memukul orang lagi!”


Namun, kali ini teriakannya tidak digubris, semuanya langsung dibawa turun dari mobil polisi.


Polisi meminta keterangan Thomas, Luna juga Dimas terlebih dahulu, setelahnya melepaskan mereka.


Sementara keenambelas mahasiswa juga keenam security itu dijemput pulang oleh keluarga dan juga temannya setelah membayar uang jaminan.


Hanya Keiro yang diborgol.


“Kenapa! Mereka yang memukul orang! Kenapa mereka gak ditangkap!”


Keiro panik, dia tidak menyangka akan berakhir seperti ini, orang dalam yang dia kenal itu malah berpura-pura tidak kenal dengannya saat melihatnya.


Dan yang paling kacau, kakeknya sampai sekarang masih belum datang juga!


Jam 7 malam, setelah keluar dari kantor polisi, Thomas dan yang lainnya naik taksi dan kembali ke depan kampus.


Lalu membiarkan Dimas mengantar mereka pulang.


Di jalan, Thomas bertanya: “Dimas, tadi itu jurus apa, apakah elu pendekar shaolin yang melegenda itu?”


Luna juga sangat penasaran, “Dimas, aku sungguh tidak menyangka kamu sehebat itu!”


Dimas melihat Thomas dari kaca spion dan tersenyum, “Mau belajar? Aku ajari.”


“Apa? Lu mau ajarin gue? Ok!” Thomas langsung menyetujuinya.


Belajar sedikit ilmu bela diri tidak buruk, paling tidak kalau bertemu kejadian seperti ini suatu hari nanti, dia bisa menghadapinya.


Kalau untuk sehebat Dimas sih dia tidak pernah berharap ke sana.


    ......


Di sisi lain.


Setelah orang Keluarga Ningrat makan siang dengan Ivan, Martin dan Ivan menandatangani surat kontrak proyek properti.


Dan akhirnya Martin bisa merasa lega sekarang!


Akhirnya dia menjadi  perwakilan proyek properti yang sah.


Ivan juga menepati janjiya, melalui rapat direksi Bright Property, dia memberikan saham sebesar 5%.


Mulai hari ini, dia adalah pemilik saham Bright Property.


Oleh karena itu dia merasa begitu senang, orang mengatakan putri membawa berkah untuk ayah, rasanya ucapan ini memang tidak salah!


Setelah berpisah dengan Ivan, dia menyuruh Wanda dan Milan pulang terlebih dahulu, sementara dia ingin pergi minum-minum yang puas.


Sehingga dia pergi ke rumah temannya.


Pada dasarnya dia memang pebisnis, dia merasa harus lebih hati-hati, sehingga dia berniat mencari sesuatu yang lebih menguntungkan dalam surat kontraknya.


Dan tepat sekali, temannya ini adalah seorang pengacara.


Dan begitu temannya melihat surat kontrak ini, alisnya langsung mengkerut, “Martin, dalam kontrak ini ada banyak masalah.”


“Benarkah? Masalah apa?” begitu Martin mendengarnya dia langsung merasa penasaran.


“Ada banyak sekali masalah, salah satunya tertulis, kamu mungkin akan masuk ke dalam penjara…”