
Ketika Thomas mendekat, Ivan langsung sadar. Dia bukan kakak sepupu Wanda, melainkan mantan tunangan Wanda.
Mengenai kondisi Thomas, dia sudah mendengar garis besar ceritanya dari Wanda dan Milan, kalau ingin dikatakan secara terang-terangan, dia itu tidak lebih dari seorang pria miskin.
Pertama kali melihat Thomas, Ivan sempat mengira dia datang untuk mencari masalah. Sehingga dia sama sekali tidak bicara.
Bagaimanapun merebut calon istri orang lain terdengar sangat tidak pantas. Kalau masalah ini sampai menjadi keributan besar, ini akan menimbulkan efek buruk bagi keluarga besarnya.
Ivan adalah seorang anak konglomerat sejati, jika membicarakan pangkat dan kedudukan, dia sangat pantas.
Namun yang tidak pernah dia sangka adalah. Dia bernegosiasi dengan manager restoran sejak tadi, dan yang memesan Ruang VVIP restoran ini ternyata seorang pria miskin!
Ivan tidak bisa menahan amarah ini! Pacarnya sekarang adalah mantan tunangan Thomas. Sekarang untuk memesan ruang di restoran juga harus berebut dengan Thomas?
Dia hanya seorang pria miskin! Siapa yang tahu uang yang dia miliki itu datang dari mana, atas dasar apa dia boleh berebut dengannya?
Dia hanya tersenyum dingin dan merangkul pinggang Wanda, dia berkata dengan ekspresi kaget yang dibuat-buat, "Loh, Wanda, bukankah dia mantan tunanganmu?"
Begitu mendengar ini, ekspresi wajah Martin, Milan juga Wanda langsung berubah.
Mereka tiba-tiba sadar, ternyata Tuan Chandra ini masih mempermasalahkan tentang hal ini! Berikutnya, mereka melampiaskan seluruh kemarahan mereka pada Thomas di saat bersamaan. Dasar pria miskin pengacau, apa yang ingin dia lakukan sekarang?!
Martin mengamati Thomas dari atas sampai bawah, lalu berkata dengan gemas, "Thomas, kamu dapat uang dari mana? Anak muda jangan terlalu memaksakan kehendak!"
”Begini! Kami dan Tuan Chandra ingin membicarakan urusan penting, kamu berikanlah ruangan ini, lain hari Om akan berterima kasih padamu secara langsung."
Bertukar ruangan? Dalam hati Thomas tertawa dingin. Kalau yang mengatakan hal ini adalah orang lain, dia pasti akan menyetujuinya dengan senang hati.
Bukankah hanya sebuah ruangan, itu bukan apa-apa.
Namun... sekarang Martin memintanya bertukar ruangan dengan nada bicara orang tua.
Begitu membayangkan semua perbuatan Keluarga Ningrat padanya, juga kematian ayah asuhnya, Thomas langsung merasa begitu muak.
Atas dasar apa? Bertukar kamar untuk mendukung Keluarga Ningrat? Thomas bertanya pada dirinya sendiri, dia bukanlah orang yang bisa berlapang dada seperti itu, sebaliknya, dia sangat memperhitungkan masalah ini!
"Tidak bisa Om Martin, karena ruangan ini kami yang memesannya terlebih dahulu, maka kalian pilih saja ruangan yang lain, gonta-ganti ruangan sangat merepotkan!" Thomas melambaikan tangannya dengan tidak sabar, lalu berkata pada manager restoran, "Tolong antar kami kami ke ruangan yang sudah kami pesan."
"Thomas! Kau..." Martin merasa sangat marah, namun dia tidak bisa mengatakan apa pun.
Memang benar ruangan ini dipesan olehnya terlebih dahulu, kalau dia tidak ingin mengalah juga tidak bisa disalahkan, namun yang membuat Martin kesal adalah Thomas ini sama sekali tidak memandangnya sebagai orang yang lebih tua.
Ketika Martin dan Thomas sedang berbicara, muncul pemikiran yang berbeda dalam benak manager restoran.
Pemuda yang bernama Thomas ini, tidak punya latar belakang juga tidak punya uang. Berbeda dengan Tuan Chandra. Dia adalah putra tunggal Direktur Bright Property, merupakan tokoh yang sangat terkenal di Jakarta, tidak ada yang tidak mengenalnya.
Manager restoran ini langsung mengambil kesimpulan. Dia tersenyum ramah kepada Thomas dan berkata, "Tuan, saya mewakili Restoran Tasty meminta maaf pada Anda."
"Tuan Chandra ini adalah tamu VIP kami, dia memiliki hak untuk memilih ruang yang diinginkan, sehingga mohon maaf sekali lagi, bisakah kalian memilih ruangan yang lain?"
Luna yang berada di samping merasa sangat puas ketika melihat situasi yang dihadapi oleh Keluarga Martin, namun siapa yang menyangka manager restoran malah memihak pada Tuan Chandra, ini membuatnya langsung merasa kesal.
Ekspresi manager restoran langsung berubah, dia berkata dengan nada merendahkan, "Nona, meskipun kamu mengadukan kami juga tidak ada gunanya, Tuan Chandra adalah tamu VIP, ini adalah kenyataan yang tidak bisa dirubah. Meskipun kamu berdiri di hadapan pemilik Restoran Tasty, hasilnya juga akan sama."
Ketika Ivan mendengar ucapan manager restoran, dia langsung tersenyum. Memang benar seperti itu! Di dunia ini, tentu saja orang kaya yang selalu didahulukan.
Namun pada saat bersamaan dia dibuat terkejut oleh kecantikan Luna juga karakteristiknya. Dia refleks melirik Wanda dan menimbang dalam hati, sebaiknya ini dibicarakan nanti saja, karena dia memiliki urusan penting yang harus dia dahulukan.
Pada saat ini, Dimas yang berdiri di belakang Thomas dan Luna tersenyum tipis, dia berjalan ke samping Thomas dan berbisik, "Tuan muda, menurutmu apa yang harus kita lakukan?"
Mau bagaimana? Masih bisa apa lagi? Karena manager restoran sudah berkata demikian, itu artinya ruang VVIP ini tidak berjodoh dengan mereka.
Dan ketika Thomas menoleh, dia melihat senyum Dimas yang diarahkan padanya, seketika langsung memahami sesuatu.
Kalau begitu, tidak ada salahnya dia sedikit menyombong kali ini, biar ketiga orang anggota Keluarga Ningrat tahu, apa arti salah menilai orang!
Thomas berpura-pura berpikir lalu berkata, "Aku tetap pada ucapanku sebelumnya, aku mau Ruangan VVIP ini."
"Hm, baiklah, tunggu aku satu menit." Dimas langsung pergi setelah mengatakan ini.
Semua ini dilihat jelas oleh ketiga anggota Keluarga Ningrat, Ivan, juga manager restoran itu, termasuk beberapa resepsionis yang sedang bertugas.
Ivan hampir tertawa sedikit lagi. Sementara orang lain juga memiliki pemikiran yang tidak jauh berbeda dengannya.
Tuan muda? Ini sungguh menggelikan! Dasar orang miskin, demi harga diri, bisa-bisanya berakting seperti ini.
Jangan-jangan dia mencari aktor dadakan? Aktingnya sungguh jelek! Tapi baiklah, lihat saja lelucon yang akan mereka pertunjukkan nantinya!
Dan mereka semua begitu kompak, selain kedua kakak beradik ini, wajah semua orang terlihat seperti sedang menunggu lelucon.
Dimas mengeluarkan ponsel dan berjalan keluar, setelah beberapa langkah, dia kembali lagi. Ketika dia menjauh, dia memang mengatakan sesuatu, namun karena suaranya yang tidak kencang, tidak ada yang mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.
Ketika dia kembali ke depan Thomas, Dimas berkata pada Thomas sambil tersenyum, "Tuan muda, sudah beres."
"Apa…? Pffth! Hahahaha..." Ivan akhirnya tidak bisa menahan tawanya, dia tertawa dengan kencang sambil memegangi perutnya, sama sekali tidak memperhatikan imagenya lagi.
Namun apa daya! Ini sungguh... sungguh konyol! Orang yang suka berpura-pura dia pernah lihat, namun kalau berpura-pura sampai seperti ini, dia benar-benar baru kali ini melihatnya.
Apakah sudah satu menit? Dia terus menghitung mundur waktu, telepon ini hanya setengah menit!
Baiklah! Kita lihat saja bagaimana dia mundur nantinya! Ivan tidak sabar melihat pertunjukan seru kali ini!
Pikirannya tidak jauh berbeda dengan apa yang Martin pikirkan. Dia tidak menyangka putra asuh temannya akan berubah menjadi seperti ini.
Milan hanya tersenyum dingin, dalam hati berpikir: dasar orang miskin, memang sudah takdirnya hidup miskin seumur hidup, untuk mataku jeli sehingga menghentikan perjodohan ini tepat waktu.
"Untung sekali! Kalau sampai memilih seorang pria miskin untuk menjadi suami, bagaimana caraku hidup nantinya?" Wanda sungguh merasa trauma, dan di saat bersamaan, dia menatap Thomas dengan ekspresi yang begitu merendahkan.
Namun tepat pada saat ini, telepon di meja resepsionis tiba-tiba berdering.