Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 81 Tidak Sengaja Bertemu


Saat ini Luna sedang mendiskusikan list belanjaan yang ada di tangannya dengan Silvia.


Barang bermakna yang ada dalam rumahnya tidaklah banyak.


Thomas memberikan perintah, sisa barang lainnya tidak akan digunakan, selebihnya beli yang baru.


Sebenarnya ini adalah cara pikir yang umum saat seseorang pindah rumah.


Villa ini mencapai angka ratusan miliar!


Tidak mungkin membeli furniture dan perlengkapan yang murah.


Ini akan menjadi tidak pantas, bahkan terlihat sangat pelit.


Dan juga Thomas sudah mengirimkan uang 2 miliar ke rekening Luna.


Luna bukan orang yang boros dalam menggunakan uang, namun dia mengerti prinsip ini.


Sebaliknya Silvia, melihat Luna membeli barang-barang yang begitu mahal dan bermerek bagus, dia langsung mengomentari.


“Ma, kakak adalah cucu konglomerat, yang dia tempati saat ini adalah villa mewah, masa masih mau pakai barang murahan? Itu tidak pantas, kalau sampai kedatangan tamu, bukankah kakak akan ditertawakan. Lagian juga kakak sudah memberikan 2 miliar padaku, kalau sisanya aku kembalikan pasti kakak tidak akan mau menerimanya, lebih baik kita bantu kakak pakai uangnya, lalu dipakai untuk hal yang seharusnya.”


Setelah Silvia pikir-pikir, ini cukup masuk akal juga, sehingga dia menyetujui keputusan Luna.


Ketika kedua ibu dan anak ini mengobrol, Wanda berada tepat di belakang mereka.


Baru ingin menyapa, Wanda malah mendengar apa yang dibicarakan mereka tanpa sengaja.


Termasuk uang 2 miliar…


Wanda refleks mengerem dengan kuat.


Thomas memberikan uang 2 miliar untuk shopping kedua ibu dan anak ini?


Wanda langsung berubah pikiran.


Bukan masalah sindiran Luna pada saat melihatnya saat ini.


Dia hanya punya 160 juta, bagaimana mungkin bersaing dengan uang 2 miliar, bukankah ini sama dengan minta dipermalukan!


Setelah dipikir-pikir, dia memutuskan untuk tidak muncul untuk sementara.


Karena uang 2 miliar dan juga villa yang dikatakan oleh Luna menarik perhatiannya.


2 miliar bukanlah angka yang besar, Wanda tahu Thomas pasti mampu memberikannya.


Namun villa mewah?


Begitu mendengar ini, jantung Wanda langsung berdeguh dengan kencang.


Luna cepat atau lambat harus menikah.


Setelah dia menikah, lalu dia menikah dengan Thomas, bukankah dia akan langsung menjadi pemilik villa ini?


Dalam mimpi pun dia ingin tinggal di dalam villa mewah.


“Tidak bisa, gak boleh sampai ketemu dengan Luna sekarang, ikuti mereka diam-diam dulu, sisanya nanti baru dipikirkan setelah menemukan villa milik Thomas.”


Saat ini, Wanda langsung mengambil sebuah keputusan.


Silvia dan Luna berkeliling di mall.


Luna membawa list belanja bagaikan kapten yang sedang menunjuk para tentara, dan Silvia hanya sesekali memberi pendapat dari samping.


Setelah keluar dari mall, mereka naik taksi online yang sudah di pesan.


Wanda melihat ini segera mengikuti dari belakang.


Wanda mendapati rute mobil yang ada di depannya menuju ke rumah tempat tinggal mereka, membuatnya merasa heran, barang yang  mereka beli begitu banyak, memangnya rumah jelek itu muat.


Dan begitu sampai ke kompleks tempat tinggal mereka, Wanda baru saja mendekat, dia sudah mendapati di bawah rumah susun yang mereka tinggali ada sebuah mobil truk yang sedang memuat barang yang akan mereka pindahkan.


“Mau pindah rumah?”


Meskipun Wanda tidak merasa heran, namun dia sangat terkejut dan… hatinya begitu tergelitik.


Inilah yang disebut berkah keluarga.


Apa yang membuat Keluarga Widjaja begitu beruntung?


Asal memungut seorang anak saja mendapatkan anak konglomerat!


Inilah alasan mengapa Wanda tidak pernah menganggap Thomas.


Itu karena Thomas adalah anak pungut.


Namun anak yang dibuang oleh orang tuanya ini.


Wanda sungguh merasa begitu menyesal.


Kalau dia tahu ada hari ini, maka dia tidak akan memiliki niatan lain, bahkan tidak mungkin mendesak Milan menyuruh Thomas untuk menandatangani surat perjanjian pembatalan perjodohan.


Sebaliknya, dia pasti akan begitu tulus dan setia pada Thomas, menjadi seorang kekasih yang penurut.


Begitu mengingat semua kebaikan Thomas terhadapnya, membuat Wanda begitu menderita.


Sebagian besar furniture dan barang sehari-hari di rumah Keluarga Widjaja dibuang ke tong sampah oleh


Lalu mobil mulai bergerak, sementara Wanda sudah lebih dahulu memesan taksi online dan menunggu di dekat sana.


Setelah mobil truk yang membawa barang Keluarga Widjaja keluar, Wanda langsung menyuruh supir taksi mengikuti dari belakang.


Truk berjalan menjauh dari pemukiman, menyusuri jalan di tepi laut, lalu berjalan menuju ke arah pegunungan.


Setelah truk berhenti di tengah bukit, Wanda juga ikut turun dari mobil, dia tidak pernah datang ke tempat ini, namun dia tahu kalau tempat ini dulunya daerah yang sedang dikembangkan.


Ketika dia melihat villa mewah yang tadi dibicarakan, dia sekali lagi dibuat terkejut.


“Villa semewah ini berapa harganya?!” dia berseru dengan wajah yang begitu terkejut.


Awalnya Wanda membayangkan villa yang harganya berkisar di angka beberapa miliar saja, namun luas villa dan juga desainnya yang begitu mewah ini, siapapun yang punya mata pasti bisa mengisar harganya, tidak mungkin harganya cukup dengan miliaran saja, paling tidak ratusan miliar!


Pada saat dia terkesima, pintu gerbang villa terbuka secara otomatis, truk masuk ke dalam, lalu… gerbangnya kembali tertutup.


Pantas saja Wanda tidak pernah lagi melihat kemunculan Thomas.


Dia agak mendekat ke arah gerbang untuk menunggu Silvia dan Luna.


Awalnya Wanda ingin mencari tahu alamat tempat tinggal Thomas dengan jelas terlebih dahulu, lalu mencari waktu lain untuk menciptakan pertemuan yang “tidak disengaja”.


Namun villa mewah ini membuat Wanda membatalkan semua rencana yang dia buat, dia benar-benar tidak sabar untuk bisa masuk dan melihat isinya.


Wanda menunggu selama setengah jam.


Sebuah mobil datang dari kaki bukit dan berhenti di depan gerbang villa.


Ketika dia melihat Silvia dan Luna turun dari mobil, dia langsung mencari kesempatan untuk mendekat.


“Loh? Wanda?” Silvia yang pertama kali menyadari keberadaan Wanda.


Begitu Luna melihat, senyum dingin langsung mengembang di bibirnya.


“Ah… Luna, Tante Silvia? Kebetulan sekali?”


Wanda pura-pura sedang lewat disana.


“Iya, kamu kok… bisa ada disini?” Silvia melihat jalan dari atas bukit dan tersenyum.


Meskipun Silvia sangat kesal pada pasangan suami istri Keluarga Ningrat, namun dia sama sekali tidak menjadikan Wanda sasaran kemarahannya.


Bagaimanapun Wanda tetap seorang anak kecil, dan dulu dia pernah menjadi calon istri Thomas.


Wanda tersenyum dan berkata, “Aku sedang jalan-jalan dengan beberapa teman, mereka sudah pulang duluan, jadi aku jalan-jalan di sekitar sini.”


“Oh, begitu.” Silvia berkata dengan senyum ramah, “Ini adalah rumah baru kami, mau mampir?”


Melihat gerbang yang tertutup rapat, Silvia tersenyum dengan wajah tersipu, “Sebenarnya… tante juga baru kali ini datang.”


“Boleh, ternyata Tante Silvia pindah ke rumah baru.”


Wanda diam-diam melirik Luna yang sedang tersenyum sinis ke arahnya, sekalian mencari alasan yang pas untuknya, “Tante, air minumku habis, aku hanya mampir minum lalu pergi.”


“Tidak apa-apa, sudah siang, kebetulan tante beli sayur, makan siang dulu baru pulang.”


“… hm, baiklah.” Wanda mengangguk bagaikan gadis yang penurut.


Luna begitu cerdik, melihat Wanda yang tiba-tiba muncul disini, dia sudah bisa menerka niatnya dengan keakuratan 80~90%  .


Tadinya dia ingin mengkritiknya, namun Silvia sudah mengundang, dia tidak berani melawan, namun dia segera mendapatkan ide yang cemerlang.


Pintu gerbang terbuka, yang menyambut mereka adalah Dimas.


“Tante, biar aku papah ke dalam.”


“Luna, sayurannya biar aku saja yang bawa.”


Wanda bersikap begitu ramah.


Melihat ini membuat Luna hanya bisa tersenyum sinis dalam hati, baru berjalan beberapa langkah, dia melewati samping kolam yang ada di tengah pekarangan, selagi tidak ada orang lain di sekitar, dia langsung menelpon Freya.


“Kakak ipar, hari ini kami pindah rumah, tadinya mau telpon kakak setelah selesai mempersiapkan semuanya, tapi ada sedikit masalah…”


“Aku kasih alamatnya sekarang, ingat untuk datang secepat mungkin, cepetan, aku tunggu!”