
“Memangnya kapan Tuan muda memiliki harapan?” ucap Haris dengan nada mendengus.
......
“Baiklah, anggap aku tidak pernah bertanya.”
Thomas mengibaskan tangannya dengan kecewa, lalu berbaring di atas ranjang dengan murung.
Melihat ini, Dimas langsung memberi isyarat pada Haris, lalu keluar.
Mendengar suara pintu kamar yang tertutup, Thomas sekali lagi memantau diri.
Dia tidak terima.
Pemikiran ini tidak sepenuhnya salah, paling tidak melancarkan seluruh meridian, mencapai tahap penyebrangan dasar, itu bukan hal yang tidak mungkin.
Thomas sekali lagi mencoba.
Alasan meridian robek, tentu saja dia paham, melatih Jurus pelindung meridian dan jiwa, membuat meridiannya jauh lebih keras dari sebelumnya.
Kalau bukan karena berlebihan, tidak melampaui daya tahan meridian, maka kondisi sebelumnya tidak akan terulang.
Meridian yang sempit, wadah energi yang tidak berkembang dengan baik, energi murni yang penuh, membuat alirannya begitu lambat bagaikan semut yang merayap.
Perlahan, energi murni semakin padat dan hampir berhenti, Thomas tetap berusaha keras mengerahkan energi murni dan berusaha menerobos berkali-kali.
Mungkin karena meridian Thomas yang kecil dan sempit, melancarkan seluruh pembuluh darah yang tersumbat sama sekali tidak sesulit yang dibayangkan.
Namun kalau bukan karena Thomas sudah berlatih Jurus pelindung meridian dan jiwa, maka gerakan ini akan menimbulkan ledakan meridian yang begitu fatal.
Tidak lama berselang, bagian yang tersumbat mulai muncul retakan kecil, lalu energi murni berhasil lewat.
"Eh? Sepertinya bisa."
Thomas merasa senang, perasaan sesak karena pukulan kenyataan yang tadi terasa jauh lebih baik.
Waktu lewat dengan cepat.
Ketika Thomas kembali sadar dari memantau diri, sudah jam 4 sore.
Sebenarnya dia terbangun oleh suara dering ponsel.
"Halo? Kak Hans?"
"Iya, ini gue! Begini, barusan gue dapet telepon dari Tuan muda Sebastian, katanya malam dia mau traktir kita minum di Tasty malam ini, bagaimana menurutmu?" Begitu telepon Hans diangkat, dia langsung bicara dengan cepat tanpa berhenti.
Kebetulan suasana hati Thomas juga sudah membaik, dia berpikir sejenak lalu berkata, "Kalau begitu ayo!"
"Tapi, Tuan muda Sebastian mengatakan elu wajib membawa Freya, sepertinya dia masih belum bisa menerima kekalahan dalam balapan minum semalam!"
Thomas tersenyum dan berkata, "Ini gampang, entar gue ajak!"
"Baiklah kalau begitu! Malam ini jam tujuh, jangan telat ya!"
Setelah mengatakannya, Hans langsung mematikan telepon.
Thomas sadar, kemunculan Sebastian di ruang VVIP1 semalam sengaja diatur oleh Santo, dia ingin Thomas menjalin hubungan dengan Sebastian.
Namun bagi Thomas ini bukan apa-apa, apalagi Santo membantunya begitu banyak hal, membicarakan Sebastian yang begitu muda, dia memiliki yang sangat santai, Thomas sama sekali tidak merasa tidak nyaman dengannya.
Apalagi, terlihat jelas Hans dan yang lainnya memiliki niatan tertentu pada Sebastian, dan dia juga dengan senang hati mengikuti alur mereka.
Thomas berdiri dan berjalan keluar, dia mendapati Haris masih belum pergi dan sedang mengobrol dengan Silvia.
"Loh, Thomas, kamu sudah bangun?"
Begitu Silvia melihat Thomas, dia langsung berkata sambil tersenyum, "Tom, kebetulan ada hal yang harus mama diskusikan denganmu."
Karena penasaran, Thomas mendekat, setelah mendengarnya dia baru paham.
Penyakit jantung Silvia sudah hampir sembuh, hanya butuh pemulihan selama 3 bulan, dan Haris juga kebetulan tidak punya tempat tinggal yang tetap.
Jadi, Silvia menyarankan, bagaimana kalau meminta Haris tinggal di sini, dengan demikian dia tidak perlu bolak-balik.
Mengenai hal ini Thomas sama sekali tidak mempermasalahkannya, dan sebenarnya dia sangat berharap demikian, ada banyak kesulitan dalam latihan yang membutuhkan bimbingan Haris.
Thomas melirik Dimas yang sedang menganggur, lalu berkata: "Ma, malam ini aku mengundang beberapa teman makan bersama, jadi biar Tabib Dewa Haris yang menemanimu."
Membiarkan Silvia seorang diri di villa yang begitu besar dan sepi, Thomas memang merasa tidak tenang, namun akan berbeda jika ada Haris.
Selain dia tabib, dia juga pesilat hebat.
Setelah mendapatkan persetujuan Haris, Thomas dan Dimas langsung menuju ke garasi mobil.
"Dimas, gini aja, lu ke Trijaya jemput Luna dan Freya terlebih dahulu, gue coba lari ke Tasty." Tiba-tiba Thomas berkata.
Setelah Dimas pergi dengan King Kalman, Dimas berlari turun gunung.
Ini adalah salah satu cara yang terpikirkan olehnya tanpa sengaja.
Berlari bisa membuat energi murni bergerak semakin cepat, dan seperti yang dibayangkan oleh Thomas, dengan begini efek melancarkan semua peredaran pembuluh darah akan lebih cepat.
Asalkan seluruh peredaran darah berhasil dilancarkan, paling tidak dia masih bisa digolongkan ke dalam golongan petarung tangguh di tahap penyebrangan dasar.
Ketika menghadapi Jenika dia tidak akan merasa terlalu minder.
Ini adalah bayangan Thomas.
Dia berlari sambil mengawasi aliran energi, sekitar 10 menit berlalu, Thomas begitu terkejut mendapati kalau cara berlari memang mempan, ada dua lagi meridian yang berhasil dia tembus.
Thomas berlari seperti itu menyusuri jalan tepi laut sampai ke area perkotaan, ketika dia tiba di kota, waktu sudah menunjukkan pukul 18.30.
......
Dan pada saat bersamaan.
Delapan mobil Benz sudah berjajar dan berjalan perlahan di jalan utama pusat kota.
Martin duduk di kursi belakang mobil Benz urutan keempat.
Dia membuka jendela dan menatap pejalan kaki di pinggir kota dengan angkuh.
Mobil berjalan sangat lambat.
Ini adalah kemauannya.
Dia sedang menikmati sensasi menjadi orang berkelas.
Perasaan berada diatas orang-orang sungguh membuatnya ketagihan.
"Oh iya, Ketua, malam ini Anda berencana pergi ke mana?" Tanya Bon yang ada disampingnya.
"Apa? Bukankah baru selesai kita kelilingi?" Tanya Martin dengan heran.
Setengah hari yang lalu, Martin begitu membenci Bon sampai ingin merajangnya.
Namun ketika dia menyadari para anak buah yang ada di Perkumpulan Naga Hitam sejauh ini hanya mendengarkan perintah Bon, dia langsung menyembunyikan perasaannya.
Apalagi, sejak keluar dari ruang kerja Bos Markus, setiap ucapan Bon, setiap ekspresinya, setiap gerakannya, sama sekali tidak ada kesalahan yang bisa dipermasalahkan.
Sebaliknya, Martin diangkat olehnya sampai melambung tinggi.
"Ketua, jangan bercanda ah..." Bon tersenyum malu, lalu berkata dengan gaya menjilat, "Masih ada dua kasino di bawah kekuasaan Anda, nona disana semuanya blink-blink, tipe yg kalau dicubit sangat juicy, memangnya Ketua tidak mau opening dulu?"
"Hee... Glekk..."
Setelah diingatkan, tenggorokan Martin langsung terasa kering.
Beberapa jam ini, dibawah bimbingan Bon, dia sudah mengelilingi kasino yang diberikan oleh Bos Markus.
Sebenarnya nona yang ada disana, memang begitu mantap...
Dan yang terpenting adalah, dia sebagai Ketua Perkumpulan Cabang Naga Hitam, juga penanggung jawab kedua kasino itu, intinya dia melakukan apapun disana...
...Gratis!
Namun, Martin teringat pada macan betina di rumahnya.
"Ini, sudahlah.
Martin yang mengatakan ini juga merasa sangat galau, iblis dan malaikat sedang berdebat dalam dirinya.
"Ketua, Anda salah kalau begitu, kedua kasino itu kelak akan menjadi rumah Anda, memangnya Anda masih mau kembali ke rumah gembel itu?"
Ucapan Bon begitu pelan dan penuh bujuk rayu.
Dan ternyata, Martin benar-benar tidak tahan lagi.
"Pergi dong! Siapa yang bilang gue gak mau pergi? Putar balik! Cepat putar balik!" Wajah Martin penuh dengan emosi dan wajahnya memerah karena bersemangat.
"Haha, Ketua memang hebat! Mantap! Kalau begitu kita putar balik!"
Bon berhasil menjilat dengan baik, membuat Martin begitu bersemangat, begitu membayangkan beberapa orang nona yang stand by kasino, membuat darahnya bergolak!
Dia baru berniat menutup jendela mobil, sudut matanya menangkap sosok yang tidak seharusnya muncul di sini.
"Heh?" martin berseru kaget.