Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 111


Karena meminum alkohol, kedua pipi Milka merah merona.


"Aku? Aku mau pulang beresin barang bawaan dulu."


"Baiklah, aku juga sudah cukup minumnya, butuh keluar untuk menghirup udara segar, aku ikut kakak deh!"


"Itu...rasanya kurang etis deh." Thomas menggaruk kepalanya dan berkata dengan nada keberatan.


Malam semakin larut, tiba-tiba membawa pulang wanita asing ke dalam rumah. Jika orang lain lihat, bisa muncul salah paham.


Milka tidak banyak kompromi, dia langsung menggandeng Thomas dan menariknya keluar dengan paksa.


......


Winda mengenakan gaun tidur berbahan satin, berdiri di depan jendela dengan kaki telanjang.


Angin malam yang bertiup membuat rambut panjangnya melambai indah, membuat lekuk tubuhnya yang indah terasa ada dan tiada.


Perasaannya terasa kacau.


Proyek bisnis itu sudah selesai dibicarakan.


Hari ini dia kembali ke kantor untuk membereskan urusan lainnya.


Namun, Adrian malah memberitahunya kalau Ivan tertikam, untungnya dia masih selamat.


Mengenai Ivan, Winda tidak ingin berkomentar apapun.


Hubungan persaudaraan mereka sudah memburuk hingga di titik ini. Ditambah dia sama sekali tidak pernah mengakui keberadaan ibu dan adik tirinya itu.


Ibunya mati karena didesak oleh Jacqiun.


Namun, meskipun demikian, Ivan tetaplah adik sedarahnya.


Dia pulang ke rumah bersama dengan Adrian, dan Master Heru.


Sesampainya di rumah, Ivan pun sadar. Adrian  merasa sedikit lega, dan pada saat bersamaan dia juga mencari tahu apa yang terjadi hari itu.


Winda diam membisu di samping mereka, dan dengan cepat memahami apa yang sedang terjadi.


Hal mengejutkan terlontar dari mulut Ivan. Dia mendengar sebuah nama yang begitu tidak asing.


Thomas Widjaja.


Bagaimana mungkin dia orangnya?


Sejak perpisahan dengan Thomas di Tasty, entah kenapa Winda terus teringat padanya...


Terutama kenangan saat dia memanjat ke atas pohon untuk mengambilkan kalungnya hari itu.


Senyumannya yang secerah cahaya mentari.


Dan juga...


Setiap kali dia teringat Thomas, jantungnya berdegup kencang.


......


Setelahnya Winda bertanya pada Adrian, bagaimana dia akan menyelesaikan masalah ini, namun dia malah mendapati kalau Jacquin sudah meminta bantuan Markus.


Oleh karena itu dia sedang bimbang, apakah dia perlu menelepon Thomas dan memintanya untuk lebih waspada.


Malam sudah larut, angin juga jauh lebih kencang.


Winda menghabiskan wine di gelasnya, lalu berbalik menuju ke ruang utama. Ponselnya terangkat, dia bergeming sejenak, namun pada akhirnya dia tetap menghubungi nomor Thomas.


Thomas mengendarai King Kalman pulang ke rumah.


Silvia sudah menyiapkan koper kedua kakak beradik ini sejak tadi.


Sehingga yang perlu Thomas lakukan hanya berpamitan pada Haris dan Silvia, lalu pergi tidak lama setelahnya.


Milka terlihat tidak senang.


Dia tidak menyangka Thomas akan memintanya menunggu di mobil dan tidak boleh pergi ke manapun. Padahal awalnya dia ingin melihat-lihat seperti apa villa milik Thomas.


Sebenarnya kemunculan dia di Tasty malam ini karena Sutrisno yang menyeretnya kemari.


Maksud Sutrisno saat itu ingin membantu Milka mencari pasangan yang kaya. Jika Mika menemukan pasangan yang cocok maka mereka akan menikah. Namun, sebaliknya paling tidak dia bisa mendapatkan relasi yang bermanfaat untu ke depannya.


Ayahnya bukanlah orang yang materialistis, namun seleranya sangat tinggi. Orang yang bisa dipandang oleh ayahnya tentu membuatnya penasaran, sehingga dia ingin lihat orang seperti apa sosok Thomas ini.


Setibanya di sana dia baru mengetahui kalau Luna adik Thomas adalah teman kuliahnya di Universitas Trijaya.


Sementara Thomas adalah Direksi Kehormatan di Universitas Trijaya.


Dengan latar belakang tersebut, tanpa sadar membuatnya penasaran terhadap pria bernama Thomas Widjaja ini.


Di matanya secara fisik Thomas cukup lumayan, dia juga tidak merokok dan tidak minum minuman keras, Dia dikenal dengan anak muda yang sukses.


Milka sudah kebal terhadap godaan materi.


Sehingga yang dipikirkan oleh Milka adalah menjadikan Thomas cadangan. Dia akan mengamati dan mempelajari seperti apa sososk Thomas ini. Kemudian, dirinya akan menentukan pilihan.


Tapi, siapa yang menyangka Thomas malah menyuruhnya menunggu di mobil...?


Apa dia segitu jeleknya?


Dia tidak ingin mengiyakan pertanyaan retoriknya.


Dia bukan gadis yang jelek, parasnya pun terkenal manis dan imut.


Sudah menjadi kebiasaan dia menerima surat cinta dari teman-temannya di masa SMP.


"Jangan-jangan...dia pengen jual mahal? Katanya anak orang kaya paling suka pakai trik ini..."


"Tapi kalau Thomas pengen ngedeketin gue, cuma ngandelin kaya aja gak akan bisa, kalau kepribadian lu gak ok juga pasti bye!"


Milka bergumam dan merasa bangga dengan dirinya. Cara ini ampuh untuk menaikan rasa percaya dirinya.


Tiba-tiba, suara ponsel yang berdering memecahkan lamunan Milka.


"Winda?" ucap Thomas.


"Oh, iya ini aku."


Jantung Winda berdegup kencang, "Oh iya, Thomas, besok kamu punya waktu senggang?"


"Besok? Tidak bisa." Thomas merasa heran.


"Aku ada sedikit urusan." Winda menarik nafas panjang, lalu berkata, "Kalau gak malam ini saja, sekarang kamu ada di mana?"


"Sedang di jalan ke Tasty."


"Baiklah, kamu gak buru-buru mau pulang kan? Gimana kalau aku yang nyemperin ke sana?"


"Oh, boleh."


Setelah menutup telepon, Winda merasa sangat senang namun juga tegang. Dia sempat tersipu sejenak, lalu segera pergi mengganti pakaiannya.


"Siapa yang meneleponmu?" tanya Milka.


Telepon tadi terhubung ke bluetooth mobil sehingga pembicaraan mereka menggunakan loudspeaker, tentu saja Milka bisa mendengar semuanya.


"Seorang teman."


"Teman? Pacarmu ya!" nada bicara Milka terdengar seperti sedang mengintrogasi.


Pacar atau bukan apa hubungannya denganmu!?


Thomas melirik Milka, namun dia menjawab dengan apa adanya, "Bukan, hanya teman biasa saja, tapi...dia cantik."


Sebenarnya Thomas merasa, kalau Winda bisa menjadi pacarnya. Itu adalah pilihan yang lumayan. Bukan hanya parasnya yang cantik, dia juga terlihat seperti seorang wanita karir yang sukses.


Mengenai Jenika, sejak dia mengetahui bakat tenaga dalam yang ada pada dirinya. Dia tidak lagi memikirkannya.


Begitu mendengarnya, Milka langsung merasa tidak senang, "Huh, memangnya lebih cantik dariku?"


"Kamu juga sangat cantik, tetapi dia, jauh lebih girly dari kamu... tunggu, untuk apa aku membicarakan ini denganmu, kamu masih kecil, gak akan paham."


Di mata Thomas Milka hanya teman kuliah Luna. Usianya juga baru berapa?


Mana mungkin paham dengan semua ini.


"Huh!" entah kenapa Milka merasa sangat kesal.


Namun Thomas sama sekali tidak menyadari hal ini, tanpa sadar pikirannya melayang ke arah Winda.


Wajahnya tampak gusar. Winda mencarinya disaat seperti ini, sebenarnya dia ada masalah apa? Thomas terlihat begitu panik.


Setelah kembali ke parkiran basement Tasty.


Thomas mematikan mesin mobil, lalu bertanya pada Milka dengan heran, "Kenapa? Kamu gak mau naik?"


"Aku ingin lihat, siapa cewek yang katanya lebih cantik dariku!" Milka menyilangkan tangannya dengan nada angkuh.


Dia tidak cemburu, hanya merasa tidak bisa menerima kekalahan saja.


Cowok ini bukan hanya mengabaikan keberadaannya, bahkan memuji wanita lain cantik di hadapannya, mana mungkin dia bisa menerima semua ini begitu saja?


"Oh, terserah."


Setelah Thomas melontarkan ucapan ini, dia langsung mengirimkan sebuah pesan pada Winda: Aku tunggu di depan pintu lobby utama.


Lalu dia membawa Milka naik lift ke lantai satu.


Setelah menunggu sekitar 10 menit di depan pintu lobby utama, akhirnya Thomas melihat Winda.


Dia mengenakan gaun panjang merah mawar dengan sepatu heels tinggi. Rambut panjang sebahunya diikat dengan tali berbentuk pita yang berwarna senada dengan gaunnya.