Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Harapan Kepala Dekan(2)


 “Berikutnya, mari kita sambut Ketua dekan kita untuk menyampaikan beberapa patah kata!”


Terdengar suara tepuk tangan yang begitu membahana.


Junaedi berkata dengan penuh semangat, “Kalau begitu Nak Thomas, kita putuskan seperti ini ya?”


“Baik Pak Ketua, pada saat lembaganya sudah berdiri, aku akan memberikan bantuan rutin.” Ucap Thomas sambil tersenyum.


“Bagus sekali kalau begitu!”


Junaedi mengucapkan ini lalu segera naik ke atas panggung.


......


Hari ini Junaedi sangat tegang, perasaan tegang ini jauh melebihi ketegangan saat pertama kali mengajar puluhan tahun yang lalu.


Karena hari ini, adalah hari dimana Universitas Trijaya akan menjadi penolong para mahasiswa tidak berada!


Dan hari dimana Junaedi akan melangkahkan langkah pertamanya menuju kemasyhuran!


Sehingga membuat kedua tangan yang memegang mikrofon dan lembar kata sambutan bergetar hebat.


“Anak-anak sekalian, selamat siang… yang ingin kusampaikan hari ini adalah…”


Ucapan penuh basa basi berlalu, Junaedi berdehem, dan berniat masuk ke topik utama, isi pidato yang akan disampaikan adalah menobatkan Thomas menjadi Direksi kehormatan, juga tentunya tentang lembaga sosial untuk membantu mahasiswa tidak mampu.


Siapa yang menyangka Junaedi baru akan membuka mulutnya, malah terpotong oleh suara yang begitu tiba-tiba.


“Pak Ketua Dekan, tunggu sebentar!”


Suara ini adalah suara Wedy Lemian.


Junaedi tercengang, lalu melihat ke arahnya. Memotong sambutan yang baru akan disampaikan, ini adalah sikap yang sangat tidak sopan. Namun Wedy malah melakukannya.


Junaedi langsung menyadari Wedy ingin mencari masalah dengannya.


“Pak wakil dekan, ada masalah?” tanya Junaedi dengan nada tegas.


Dia sengaja memanggil Wedy dengan Pak Wakil dekan, dan bukannya Pak Wedy, ini sudah memberi kode secara tidak langsung pada Wedy, pada saat kepala dekan bicara, Wakil dekan tidak perlu ikut campur!


Sementara Wedy merasa tidak senang dengan hal ini. dia mengeluarkan jam, lalu berdiri dari tempat duduknya. Kemudian berjalan naik ke atas panggung.


Pak Kepala dekan, hari ini saya merasa sangat senang, karena saya mengetahui ada seorang mahasiswa yang mendonasikan uang dalam jumlah yang begitu besar untuk kampus kita.”


“Uhm, memang ada kejadian seperti ini.”


Junaedi tercengang sejenak, dia baru ingin mengatakan hal ini, namun pada saat seperti ini, kenapa Wedy muncul dan mengatakan ini?


Bahkan membicarakannya di hadapan ribuan mahasiswa.


“Kalau begitu saya ingin bertanya, Pak Kepala dekan, mahasiswa mana yang sudah berdonasi untuk kampus kita? Jangan-jangan hari ini dia tidak datang!”


Wedy berpura-pura melihat ke sekeliling, memperlihatkan senyum penuh kemenangan, merasa begitu sudah merusak rencana Junaedi.


“Kami semua ingin tahu, mahasiswa itu menyumbangkan uang berapa banyak?” tanya Wedy lagi.


Junaedi melihat senyum jahat di wajah Junaedi, seketika paham apa yang ingin dia lakukan.


“Wedy oh Wedy, kamu ingin memanfaatkan acara ini untuk merusak nama baikku, benar-benar jurus yang sangat kejam, tapi kamu tidak tahu kalau ini adalah kuburan yang kamu gali sendiri!”


Pada saat ini Junaedi sama sekali tidak memperlihatkan ekspresi yang berbeda, dia menghadap ke arah ribuan mahasiswa dan menaikkan volume suara, “Anak-anakku sekalian, ini adalah hal yang akan bapak sampaikan selanjutnya.”


“Di antara kalian ada seorang kakak kelas yang seharusnya kini berada di tahun terakhir masa kuliah, tiga tahun lalu dia putus kuliah karena kondisi keuangan keluarga yang tidak memungkinkan.”


“Namun dia sama sekali tidak menyerah, dia mengandalkan kemampuan dirinya sendiri memanfaatkan kesempatan, dan dalam waktu singkat mendirikan bisnisnya sendiri!”


“Sekarang, dia kembali dengan membanggakan, bahkan memberikan donasi sebesar… 2,2 triliun rupiah!”


“Menjadi sejarah pertama di Universitas Trijaya kita, yaitu menjadi Direksi kehormatan generasi pertama!”


Begitu selesai mengatakan ini. Seketika semua menjadi hening, dan berikutnya terdengar suara penuh keterkejutan dari bawah panggung.


Setelah kuliah, semua orang sudah mulai mempersiapkan masalah depan mereka, meskipun mereka yang hanya hidup luntang lantung, tetap mempersiapkan koneksi mereka sendiri.


Mereka yang pandai maka akan sukses saat terjun ke dunia kerja, menjadi orang sukses yang terpandang! Dan ini adalah impian semua orang.


Sekarang, ada seorang mahasiswa yang pernah kuliah di Trijaya dan sukses! Ini membuat mereka merasa selangkah lebih dekat dengan impian mereka.


Ini merupakan sebuah kebanggannya sebagai tenaga pendidik!


Namun, pada saat ini suara Wedy yang menyebalkan kembali merusak suasana hatinya.


“Pak Ketua dekan, saya juga merasa sangat senang, namun yang ingin saya tanyakan adalah, uang 2,2 Triliun ini kenapa sama sekali tidak diumumkan secara terbuka?”


Junaedi tersenyum, dia sudah bisa menebak semua yang ada dalam pikiran Junaedi, namun sayangnya tidak bisa mengikuti harapannya.


“Pak Wakil dekan menanyakan pertanyaan yang sangat bagus, tujuan saya melakukan ini, karena ada sebuah alasan yang sangat penting…”


“Alasan? Hehe, pak Kepala dekan, alasan yang Anda maksud bukan korupsi uang donasi ini bukan!”


Wedy mengatakan ini dengan mikrofon, sehingga ini semua terdengar oleh para mahasiswa melalui pengeras suara.


Mereka yang tadinya merasa penasaran siapa mahasiswa misterius itu, malah dibuat terkejut sampai terdiam karena ucapan ini.


Sangat sederhana, karena wakil dekan mereka menunjuk kepala dekan mereka di depan umum dan mencurigainya melakukan ko~rup~si!


Sebenarnya kecurigaan Wedy sangat masuk akal.


Pihak kampus menerima donasi, maka jumlahnya wajib terbuka, bahkan harus cukup transparan.


Dan Junaedi menerima dana bantuan seorang diri, bahkan sampai sekarang masih belum diumumkan.


Sehingga Wedy punya alasan yang cukup untuk merasa curiga, Junaedi “memakan” sebagian uang ini!


Tidak ada orang yang bersuara, alasan ribuan mahasiswa yang ada di lapangan ini begitu hening, semua karena mereka ingin tahu kebenaran masalah ini.


Kalau Junaedi benar melakukan ini, maka ini akan menjadi berita besar yang menggemparkan seluruh negeri!


Di sana ada begitu banyak wartawan, setelah mereka merasa terkejut, mereka kembali merasa begitu senang!


Junaedi melirik ke arah para petinggi dan dosen yang ada di bawah panggung, dia tersenyum tipis dan berkata, “Pak wakil dekan jangan sembarangan memfitnah orang, maling teriak maling, uang beasiswa dan berbagai dana yang diturunkan dari yayasan, semuanya dipegang oleh Anda, saya rasa Andalah yang bermasalah!”


“Huh! Sem, sembarangan bicara, saya sedang bertanya, jangan mengalihkan topik pembicaraan!”


Ekspresi wajah Wedy langsung berubah, dan menjawab dengan nada tinggi.


Pada dasarnya memang begitu, setiap dana yang diberikan oleh pihak yayasan, memang dia tilep sebagian.


Namun dia melakukan hal ini dengan sangat hati-hati, kalau tidak diselidiki dengan teliti, sama sekali tidak akan bisa terselidiki.


Begitu memikirkan hal ini, dia merasa jauh lebih tenang.


“Pak kepala dekan, kenapa Anda tidak menjawab, apakah ini sikap Anda?” ucap Wedy dengan nada menyudutkan.


“Haha, baiklah, saya akan menjawab pertanyaanmu ini.”


Junaedi tertawa dengan senang, lalu lanjut berkata, “Anak-anak sekalian, para dosen dan para direksi sekalian, dua hari yang lalu, saya menerima sebuah telepon, dia pernah menjadi mahasiswa Trijaya sebelumnya. Kami pernah berbicara beberapa kali, dan pada akhirnya mencapai sebuah kesepakatan, yaitu menggunakan uang ini untuk mendirikan lembaga sosial yang memberikan beasiswa untuk membantu mahasiswa kita! Agar ada lebih banyak anak berprestasi yang kesulitan secara finansial bisa bersekolah di kampus kita ini!”


“Dan di saat bersamaan, saya juga bisa meningkatkan kuota beasiswa yang ada di kampus kita…”


Junaedi begitu tegas dan tanpa ragu menjelaskan harapan yang ingin dia lihat satu per satu, dengan cara ini meningkatkan standar pendidikan Universitas Trijaya, sampai bagaimana mempersiapkan lebih banyak generasi berprestasi yang siap menghadapi dunia kerja.


Kali ini Wedy terkejut sampai tercengang, bahkan matanya membelalak besar dengan mulut yang menganga tanpa sadar.


Tentu saja dia tahu persis, kalau Junaedi berhasil mencapai targetnya, maka namanya di Universitas Trijaya akan melambung tinggi, mencapai puncak kesuksesan!


Dan itu artinya dia akan menjadi orang nomor satu di Universitas Trijaya ini!


Perasaan iri dan dengki menguasai logika Wedy, membuatnya merasa begitu iri terhadap apa yang Junaedi lakukan.


Dia juga sudah berjuang di bidang ini selama puluhan tahun lamanya.


Kenapa dia tidak bisa mendapatkan kehormatan seperti ini?


“Tidak bisa! Aku harus menghentikan Junaedi! Meskipun tidak bisa menghentikannya… aku harus kebagian!”


 Begitu muncul pemikiran seperti ini, Wedy langsung merasa tidak tenang, dan sepenuhnya lupa apa tujuannya naik ke atas panggung ini.


Dia tahu dengan sangat jelas, asalkan dia mendapat bagian dari rencana Junaedi.


Maka akan membuat namanya melambung dan keuntungan yang tidak bisa dibayangkan!


Memandang hal ini, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk berkata.