Kehidupan Miliarder

Kehidupan Miliarder
Chapter 116


Sebenarnya Thomas tidak marah, tapi hanya ingin merusak suasana.


Kalau sepanjang perjalanan Luna mengambek padanya, maka liburan kali ini tidak akan berarti lagi.


Apalagi ini hanya satu hari, sorenya semua akan berkumpul di Besakih Great Temple, nantinya semua bisa mendiskusikan destinasi berikutnya.


Liburan kali ini mereka tidak hanya berlibur ke satu tempat saja, melainkan mereka akan berlibur selama sekitar setengah bulan.


Sehingga yang Thomas pikirkan adalah, setelah bermain satu harian, emosi Luna akan mereda.


Dia sungguh paham bagaimana sifat adiknya.


"Tuan muda, kamu dan Nona Winda berkeliling melihat-lihat pemandangan saja, kalau ada apa-apa telepon aku." ucap Dimas di belakang Thoams.


"Sudah, sudah, iya gue tahu, tolong jaga mereka ya." ucap Thomas dengan acuh sambil melambaikan tangan.


Begitu Luna melihat Thomas berjalan menjauh, dia begitu kesal sampai menghentakkan kakinya, "Huh, gak ada pria yang baik di dunia ini!"


"Jangan ngomong gitu, kakak kamu itu orang yang baik..." ucap Freya dengan lirih.


"Kak Freya, sudah seperti ini, kakak masih membelanya!"


Luna merasa lucu juga kesal, dia begitu marah namun Freya malah tetap membela Thomas, bukankah itu sama artinya dengan 'kepo'.


"Sebenarnya, aku merasa ini bukan hal besar..."


"Apanya yang bukan masalah besar, si Winda itu sepertinya ingin menyerobot, Kak Freya, kamu terlalu santai, aku masih menunggumu untuk menjadi kakak iparku!"


Wajah Freya yang kurus langsung merona, "Jangan bicara sembarangan..."


......


"Jadi, demi aku, kamu tinggalin adik kamu gitu aja?" ucap Winda sambil tersenyum.


"Adikku itu memang gampang emosi, gak masalah, mungkin saat bertemu lagi nanti malam dia sudah tidak kesal lagi." ucap Thomas dengan jujur sambil mengusap dagunya.


"Memangnya kamu gak takut mereka dalam bahaya?" tanya Winda.


Sebenarnya dia cukup tersentuh dengan hal ini, namun dia juga merasa tidak enak hati, karena kemunculannya yang begitu tiba-tiba menyebabkan Thomas dan adiknya bertengkar.


"Untuk hal ini kamu tenang saja, Dimas adalah seorang petarung tangguh, ada dia yang melindungi mereka, meskipun bertemu preman juga bukan masalah."


Mengenai hal ini Thomas cukup percaya diri.


"Kalau begitu, yang namanya Dimas itu juga bisa kungfu?"


Ucapan ini membuat Winda tersenyum, petarung tangguh, memangnya sedang menonton film silat.


Dia merasa Thomas sangat lucu.


"Kamu jangan bicara begitu, meskipun aku tidak melihatnya, tapi aku rasa Dimas pasti bisa melakukannya, siapa tahu dia bisa jurus meringankan tubuh dan berlari diatas air!"


Winda tersenyum dan mengangguk, dia memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan, dia ingin mengetahui keluarga Thomas lebih jauh.


"Oh iya, di keluargamu masih ada siapa lagi?"


"Ibuku, adikku..." setelah Thomas berpikir sejenak, dia terkekeh dan berkata, "Sebenarnya aku juga kurang paham, seharusnya masih ada banyak lagi."


Mengenai pertanyaan ini, Thomas tidak ingin bicara terlalu jauh, namun karena dia khawatir akan membuat Winda tidak nyaman, dia menjelaskan sedikit.


"Aku anak pungut, itu saat aku masih sangat kecil, beberapa waktu yang lalu ada seorang pak tua yang menemuiku dan mengatakan kalau dia kakekku..."


Bicara tentang Chandi Levian, Thomas tiba-tiba ingat kalau dia sudah cukup lama tidak meneleponnya.


"Kalau begitu, keluargamu pasti keluarga bangsawan ya." ucap Winda penuh pengertian.


Namun dia tidak sadar, mana ada bangsawan di Indonesia yang bernama Widjaja, mungkin saja ada yang terlewatkan olehnya, atau mungkin saja keluarga bangsawan yang tidak diketahui umum.


Orang kaya yang tidak memperlihatkan diri bukanlah hal yang mustahil.


"Gak juga kok, kurang lebih sama dengan keluargamu, bisa dibilang seorang triliuner." ucap Thomas dengan asal.


Winda bisa mendengar dari nada bicaranya kalau Thomas sedang merendah.


Sebenarnya bukan Thomas tidak mau bicara, namun karena ada banyak alasan, dan salah satu yang paling penting adalah dia sendiri tidak terlalu paham tentang keluarganya sendiri.


Chandi Levian yang datang mengakuinya hanya memberikannya selembar kartu Black Gold, lalu mendatangkan Harris Anggara, namun sama sekali tidak mengungkit tentang keluarganya.


Baiklah, meskipun dia adalah penerus Levian Group yang sudah ditentukan.


Namun Thomas merasa hal ini tidak perlu membuat semua orang tahu.


"Uhm, begitu ternyata."


Winda mengangguk dan tidak bicara lagi.


Dia tahu, Thomas bisa memiliki pesawat pribadi, sudah pasti latar belakang keluarga dan juga kekayaannya jauh melampaui Bright Property.


"Sepertinya memang harus berdiskusi dengan papa agar jangan mengusik Thomas, kalau tidak, mungkin yang mengancam Bright Property kedepannya adalah kehancuran..."


Meskipun menghilangkan alasan ini, Winda juga tidak ingin ada dendam di antara Thomas dan Adrian.


Namun karena semua sudah terjadi, yang bisa dia lakukan hanya mencari cara untuk menyelesaikannya.


Berpikir sampai disini, Winda tanpa sadar melirik Thomas, dan kebetulan mata mereka bertemu, dia segera mengalihkan pandangan dengan jantung yang berdebar.


Mereka berdua mengobrol sepanjang jalan, setelah berkeliling selama setengah hari, melewati tiga area pemandangan, tanpa sadar sudah siang hari.


Thomas menyarankan untuk makan terlebih dahulu sebelum menuju ke area wisata lainnya.


Mereka berdua masuk ke sebuah restoran, memesan tiga makanan khas Bali.


Restoran ini sangat ramai, begitu jam makan tiba, hampir semua meja dipenuhi oleh tamu, suasana begitu gaduh, membuat suasana semakin ramai.


Thomas merasa cukup cocok dengan suasana seperti ini, namun Winda malah terlihat ragu dengan situasi seperti ini.


Dia makan dengan cepat, lalu duduk di tempat duduknya sambil tersenyum memandangi wajah Thomas.


"Baiklah, aku sudah selesai makan." Thomas mengelap mulutnya dengan tangan dan berkata.


"Kalau begitu tinggal bayar."


Winda tersenyum kecil, dalam hati berpikir ekspresinya saat makan sangat imut, lalu dia menjentikkan jarinya.


"Kamu pasti belum pernah makan ke tempat seperti ini ya, caramu gak bekerja disini." Thomas menggeleng dan berkata, "Kamu harusnya begini..."


Detik berikutnya, Thomas berteriak, "Pelayan! Bill!"


Winda dibuat begitu terkejut oleh teriakan ini, lalu dia segera melihat ke sekeliling dengan wajah panik, namun dia mendapati kalau sama sekali tidak ada yang melirik kemari karena teriakan Thomas.


"Caramu ini kalau digunakan di restoran mewah baru mempan, namun tempat seperti ini kamu harus berteriak, kalau tidak kamu harus tunggu pelayan lewat." jelas Thomas.


Dibawah tatapan pelayan yang aneh, Thomas mengorek giginya dengan acuh, sampai Winda selesai membayar dia baru berdiri dan keluar dengan Winda.


Sebelumnya Winda sudah bilang, dia ingin mentraktirnya, jadi Thomas memberikan kesempatan ini padanya.


Ketika mereka berdua berjalan keluar berdampingan.


ada tiga orang pemuda berusia 28 tahunan berjalan masuk ke dalam restoran, mereka semua mewarnai rambut dengan warna pirang, pada bagian dada dan juga lengannya penuh dengan beraneka macam tatto, hanya meliriknya saja sudah jelas mereka bukan orang baik.


Thomas melihat mereka mendekat, dan ketika mereka masih belum dekat, dia langsung menggandeng tangan Winda dan sengaja menghindar.


Dan detik berikutnya.


"Aduh!"


Thomas menoleh, melihat pemuda yang memimpin sedang mendekati Winda, "Cantik, tadi kamu menabrakku, kenapa begitu gak hati-hati."


"Maaf."


Winda jelas tahu kalau ida sengaja menabraknya, sehingga dia berkata dengan acuh, lalu berniat pergi setelahnya.


Namun pemuda itu malah menghadangnya.


Llalu berkata dengan nada nakal, "Kata maafmu ini rasanya kurang tulus, kalau gak gini aja, makan bareng sama aku, kita anggap sebagai permintaan maaf, gimana?"


Ketiga pemuda ini langsung menganggap Thomas tidak ada.


Namun menggoda Winda dihadapannya membuat Thomas begitu emosi.


Pria manapun tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi.


Sehingga Thomas mengulurkan tangan dan mendorong pemuda itu, lalu menarik Winda keluar dari sana.


"He?" pemuda itu mundur beberapa langkah dan ekspresinya terlihat heran.


Satu orang memapah pemuda itu dan mengejek, "Kak Barin, kenapa, semalam mainnya terlalu cepat yah, jadi kakinya lemas?"


"Prett!" pemuda itu menyentak singkat lalu menatap Thomas dengan wajah heran, "Bocah itu juga berlatih ilmu tenaga dalam, tapi gak tahu dari clan mana..."


"Kak Barin, gimana kalau kita tanyain sekarang?" saran pemuda lainnya.